Hidup M. H. Lukman, 

Pemimpin PKI Yang Tumbuh di Pembuangan Digul 


Header muhammad hatta lukman. (tirto.id/Fuad) 

Oleh: Petrik Matanasi - 6 Desember 2021 

https://tirto.id/hidup-m-h-lukman-pemimpin-pki-yang-tumbuh-di-pembuangan-digul-glNT

Lukman kecil tumbuh di tanah pembuangan Boven Digul. Ikut PKI sejak era 
Revolusi hingga jadi tangan kanan Aidit. 

tirto.id - Di antara Aidit, Lukman, dan Njoto, trio pimpinan Partai Komunis 
Indonesia (PKI) 1950-an, Lukman-lah satu-satunya yang pernah merasakan hidup di 
pengasingan. Saat kecil, ia hidup bersama keluarganya di Boven Digul, Papua. Di 
sanalah dia tumbuh jadi seorang komunis. 

Pada mulanya adalah Pemberontakan PKI pada 1926-1927. Setelah pemerintah 
kolonial Hindia Belanda berhasil mematahkannya, banyak kader yang ditangkap dan 
dibuang ke Digul. Salah satunya adalah Haji Muchlas, ayah Lukman. Haji Muchlas 
yang asal Tegal dikirim bersama keluarganya pada 1927. Kala itu Lukman berusia 
sekitar sembilan tahun.

Pada 1934, kamp Digul kedatangan interniran baru, Mohammad Hatta dan Sutan 
Sjahrir. Keduanya adalah tokoh Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru). 
Setelah beberapa saat, Hatta dan Sjahrir menjadi cukup akrab dengan Haji 
Muchlas dan keluarganya. Hatta yang terpelajar dan membawa berkotak-kotak buku 
itu pun jadi guru bagi Lukman. 

Kekaguman dan kedekatan Haji Muchlas dengan Hatta kemudian membuat Lukman 
ketambahan dua nama depan sehingga namanya jadi Muhammad Hatta Lukman. 

Terkait hubungan antara Hatta-Sjahrir dan remaja Lukman itu, koran PKI Harian 
Rakjat (7/9/1955) menulis, “Lukman banyak mendapat didikan langsung dari Hatta 
dan Sjahrir, tetapi perkenalannya dari dekat dengan dua orang pemimpin ini 
justru membawa Lukman sampai pada kesimpulan bahwa dia harus menempuh jalan 
yang lain daripada yang mereka tempuh.” 

Baca juga: Cara Hatta Membunuh Kesepian dalam Pembuangan 

Antipenjajah sejak Remaja 

Sedari dini Lukman sudah ikut melawan Belanda. Di umur 16, ia disebut ikut 
menentang kebijakan Wilde Schoolen Ordonantie, yang melarang sekolah-sekolah 
tak berizin dan bukan dikelola pemerintah karena dianggap bakal meningkatkan 
kemampuan masyarakat. Dia bahkan sampai dijebloskan ke penjara Digul. 

Trikoyo Ramidjo dalam Kisah-Kisah dari Tanah Merah (2009) menulis soal Lukman 
dan kawan-kawan kecilnya yang berani memperingati Pemberontakan PKI 1926. Di 
hari peringatan itu, Lukman dan kawan-kawannya berulang-ulang menyanyikan 
lagu-lagu perjuangan macam Dua Belas November, Satu Mei dan Enam Jam Kerja. 
Kontan saja aparat kolonial membubarkannya. 

“Perayaan kami dibubarkan, diobrak-abrik, dan kue-kue yang seharusnya bisa kami 
nikmati berhamburan di tanah […] Anak-anak perempuan menangis […] Mas Suroso 
dan Mas Lukman digelandang serdadu Belanda, walaupun mereka berdua belum dewasa 
mereka berdua dijebloskan ke dalam tahanan,” tulis Trikoyo. 

Lukman pulang ke Jawa pada 1938. Menurut Rex Mortimer dalam Indonesian 
Communism Under Sukarno: Ideology and Politics, 1959–1965 (1974), setelah itu 
Lukman melanjutkan sekolahnya. Harian Rakjat menyebut Lukman kemudian jadi 
petani dan lalu buruh di perusahaan bus hingga Jepang datang menyerbu. Selama 
itu pula dia tak lepas diawasi oleh polisi kolonial. 

Di zaman Pendudukan Jepang, menurut Ben Anderson dalam Revoloesi Pemoeda 
(1989), Lukman sempat bekerja di kantor Poesat Tenaga Rakjat (Poetera) lalu 
Jawa Hokokai di bawah Sukarno dan Hatta. Selain itu, dia juga sering nongkrong 
di Asrama Menteng 31, Jakarta. 

Di masa inilah Lukman berkenalan dengan Dipa Nusantara Aidit. Keduanya lalu 
jadi kawan karib dalam Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindom), sebuah organisasi 
bawah tanah anti-Jepang. Menurut Harry Poeze dalam Madiun 1948: PKI Bergerak 
(2011), Lukman dan Aidit adalah rekrutan Wikana. 

Lukman dan Aidit juga aktif dalam gerakan selama masa jelang Proklamasi 17 
Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka, Lukman aktif di Angkatan Pemuda 
Indonesia (API) dan Barisan Rakyat (Bara). 

Baca juga: (Tiada) Proklamasi Indonesia Tanpa Wikana 

Masuk Lingkaran PKI 

Setelah Indonesia merdeka, M. H. Lukman bersilang jalan dengan Hatta. Ketika 
PKI jadi oposisi Hatta pada 1948, menurut Poeze, Lukman berada di bagian 
Agitasi dan Propaganda bersama Alimin dan Sardjono. Setelah Geger Madiun 1948, 
PKI dibabat oleh tentara pemerintah atas restu Kabinet Hatta. 

Untungnya Aidit dan Lukman tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang 
kemudian dieksekusi. Mereka berdua, bersama Njoto dan Sudisman, menjadi 
kader-kader muda yang turut membangun kembali PKI yang remuk. Pada awal 
1950-an, mereka menerbitkan lagi majalah partai Bintang Merah untuk 
membersihkan stigma antinasional. Mereka kemudian sepakat mengambil jalan 
perjuangan parlementer. 

Langkah maha penting yang mereka lakukan adalah mengambil alih kepemimpinan 
partai dari Tan Ling Jie pada 1951. Sejak itu, Lukman jadi orang penting di 
PKI. 

“Oleh sidang pleno CC Oktober 1953, kemudian diperkuat oleh Kongres Nasional 
ke-V PKI Maret 1954, Lukman dipilih sebagai Wakil Sekretaris Jenderal I CC 
PKI,” demikian tulis Harian Rakjat. 

Lukman adalah orang nomor dua di CC PKI. Trio Aidit-Lukman-Njoto kemudian 
sukses memperbesar kuantitas anggota partai dan membentuk massa yang solid. 
Bahkan mereka berhasil mendudukkan PKI dalam jajaran empat besar pemenang 
Pemilu 1955. Perolehan suara PKI hanya kalah di bawah PNI, NU, dan Masjumi. 

Di luar PKI, Lukman juga menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong 
(DPR-GR) dan merangkap jadi menteri. 

Baca juga: Pemuda Kiri Mendesak Proklamasi 




Setelah kudeta gagal Gerakan 30 September 1965, PKI hancur lebur. Lukman 
bersama tokoh-tokoh teras PKI lain jadi sasaran Angkatan Darat. Sebelum 
huru-hara pun, Lukman sempat diterpa isu miring yang mencoreng karakternya. 

Koran Kompas (23/9/1965), misalnya, merilis berita bertajuk “MH Lukman Korupsi 
25 Djuta Uang Rakjat”. Menurut berita itu itu, “Tanggal 7 September 1965, 
Menteri Wakil Ketua DPR-GR Lukman mengajukan permohonan kepada Menteri Anggaran 
Negara untuk memperoleh uang sebesar Rp 250 juta.” Uang itu sedianya bakal 
digunakan untuk membeli rumah. Berita ini terkait pembelian rumah di Jalan 
Gondangdia Lama seluas 2 ribu meter persegi. 

Nasibnya lalu nahas. Menurut berita dari surat kabar Ampera yang dikutip harian 
Angkatan Bersendjata (4/5/1966), Lukman dikabarkan tertangkap pada 29 April 
1966 dini hari. Dia diciduk saat bersembunyi di rumah seorang dokter Tionghoa 
di Jalan Ciomas, Kebayoran Baru. 

Persembunyian itu rupanya diketahui oleh kelompok mahasiswa antikomunis. Lukman 
sempat diamankan pihak militer dari Kodam Siliwangi, namun dia dikabarkan tewas 
tertembak karena melarikan diri dan melakukan perlawanan. 

Baca juga artikel terkait TOKOH PKI atau tulisan menarik lainnya Petrik 
Matanasi (tirto.id - Humaniora) Penulis: Petrik Matanasi Editor: Fadrik Aziz 
Firdausi

Baca selengkapnya di artikel "Hidup M. H. Lukman, Pemimpin PKI Yang Tumbuh di 
Pembuangan Digul", https://tirto.id/glNT

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/254669B029B644DAA1A24661AA61C83D%40A10Live.

Reply via email to