Empat Penunggang Kuda ReformasiI76 - Wednesday, December 8, 2021 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/empat-penunggang-kuda-reformasi
 
Dari kiri ke kanan, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), 
Megawati Soekarnoputri, Amien Rais (Foto: Kumparan)
6 min read

Layaknya empat penunggang kuda Reformasi, yaitu Gus Dur, Amien Rais, Megawati, 
dan Sri Sultan Hamengkubuwono X bersinergi menghasilkan daya dorong dan daya 
hentak politik yang kuat menjelang pergantian rezim Orde Baru. Banyak yang 
menilai mereka merepresentasikan kolaborasi politik aliran. Lantas, seperti apa 
peran keempat tokoh dan politik aliran mereka?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Dua puluh tiga tahun reformasi telah dilewati, tidak terasa perjalanan panjang 
bangsa ini memasuki dunia baru, sebuah era yang diharapkan melahirkan kebebasan 
berpendapat, berekspresi dan menjunjung tinggi keadilan menjadi sesuatu yang 
lumrah untuk dilakukan.

Cerita tentang Reformasi menjadi bingkai sejarah romantik para tokoh politik, 
hal ini terlihat saat memperjuangkan keruntuhan Orde baru, tokoh-tokoh politik 
dari berbagai latar belakang mengikat diri untuk menjadi oposisi rezim saat 
itu. Empat yang paling berpengaruh saat itu adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), 
Amien Rais, Megawati, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Keempatnya, jika diamati merupakan representasi dari politik aliran, sebuah 
tesis antropologis dari Clifford Geertz saat meneliti keragaman aliran dalam 
masyarakat jawa.

Jika demikian, lantas, bagaimana cara melihat representasi dari empat tokoh 
politik Reformasi ini dalam konteks politik aliran?



Meraba Politik Aliran
Tiga varian religius muncul sebagai kekuatan oposisi yang menentang rezim Orde 
Baru Soeharto. Seperti jamak diketahui, rezim ini pernah mengubur tradisi 
politik aliran, yang pernah hadir di era  sebelumnya,  Orde Lama, dengan alasan 
stabilitas politik dan pembangunan ekonomi.

Konsep tentang politik aliran bersandar pada penelitian lapangan yang dilakukan 
oleh Clifford Geertz di Mojokuto (nama desa samaran) yang dilakukan mulai bulan 
Mei 1953 sampai bulan September 1954. Geertz menyihir perhatian para akademisi 
dan intelektual dari hasil penelitiannya ini.

Konsep masyarakat Jawa dalam tesis Geertz dianggap cukup representatif dalam 
menggambarkan stratifikasi sosial masyarakat Jawa yang dilihat dari sisi 
religiusitasnya, sehingga dapat dijadikan kerangka teori dalam melihat pola 
keberagamaan masyarakat Jawa.

Cliffort Geertz dalam bukunya The Religion of Java, menggambarkan tiga varian 
religius dalam masyarakat Jawa. Pertama, varian santri yang merupakan kalangan 
masyarakat Jawa yang dalam sikap perilaku sosial masyarakatnya menitikberatkan 
pada segi-segi Islam. Pada umumnya berhubungan dengan unsur santri yang belajar 
ajaran agama Islam di pondok pasantren,  pedagang, dan juga sebagian petani.

 
Kedua, varian abangan yang diidentifikasikan sebagai kalangan masyarakat yang 
sikap dan perilakunya menitikberatkan pada segi-segi sinkritisme Jawa Sebagaian 
dari mereka juga beragama Islam, tetapi tidak melakukan ibadah seperti kalangan 
santri yang disinggung di atas, kebanyakan mereka  secara luas berhubungan 
dengan unsur-unsur petani di antara penduduk.

Ketiga, varian priyayi yang diidentifikasi sebagai masyarakat kelas atas. 
Sesuai dengan namanya, priyayi merupakan istilah dalam kebudayaan Jawa untuk 
kelas sosial dalam golongan bangsawan, suatu golongan tertinggi dalam 
masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. Geertz melihat 
varian ini berhubungan dengan unsur-unsur birokrasi.

Bahtiar Effendy, dalam tulisannya Bersatunya Politik Santri dan Abangan, 
menegaskan, bahwa temuan Geertz memudahkan para pengamat politik dalam 
mengidentifikasi kecenderungan ideologis politik masyarakat Jawa. Berdasarkan 
temuan Geertz, para peneliti dan ilmuan politik dengan cukup nyaman sampai pada 
kesimpulan bahwa kalangan santri cenderung memberikan dukungan politik mereka 
kepada parpol Islam.

Di sisi lain, abangan dan priyayi cenderung menyalurkan suara mereka kepada PNI 
dan PKI, yaitu partai-partai dengan ideologi nasionalis sekuler. Tentu, 
sebagaimana dikatakan Herbert Feith, pandangan seperti ini tidak 100 persen 
tepat, tetapi garis besarnya kira-kira seperti itu. Hanya saja beberapa 
modifikasi terjadi karena terdapat perubahan sosial yang mengikuti perkembangan 
sejarah.

Jika menarik varian-varian politik aliran Geertz yang disinggung di atas, tokoh 
santri dapat diatribusikan kepada dua orang yang merepresentasikan dua sub 
kultur santri sekaligus, yaitu Gus Dur representasi santri tradisional dan 
Amien Rais yang merepresentasikan tokoh santri modernis.

Jamak diketahui, Gus Dur adalah mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 
(PBNU), seorang tokoh yang juga merupakan cucu Kyai Hasyim Asy’ari dan anak 
Kyai  Wahid Hasyim. Amien Rais di sisi lain merupakan kader Muhammadiyah yang 
merupakan kelompok Islam modernis di Indonesia.

Sedangkan Megawati dan Sri Sultan Hamengkubuwono X merupakan representasi dari 
kelompok abangan dan priyai. Atribusi  Megawati dengan kelompok  abangan bukan 
tanpa alasan, seperti yang dijelaskan oleh Bahtiar Effendi yang di singgung di 
atas, bahwa kelompok abangan cenderung menyalurkan suara mereka kepada PNI, 
yang kita tahu PDIP adalah metomorfosis dari partai yang menjadikan 
nasionalisme menjadi ide perjuangannya. Begitupula untuk Sri Sultan, atribusi 
priyayi pasti melekat kepadanya karena menjadi  pemimpin Kesultanan Yogyakarta.

Well, seperti apa peran empat tokoh ini dalam proses Reformasi?


  
Peran Empat Tokoh
Empat tokoh yang merupakan representaasi dari politik aliran yang disinggung di 
atas, mengandalkan kekuatan identitas kelompok yang sifatnya masif dalam 
mendorong terjadinya Reformasi. Dan juga kepemimpinan kharismatik yang dimiliki 
oleh masing masing tokoh-tokoh tersebut.

Jika kembali ke masa dimulainya gerakan Reformasi, tak bisa dipungkiri salah 
satu tokoh yang paling vokal menyuarakan pergantian kekuasaan adalah Amien 
Rais, yang juga menjadi idola para mahasiswa saat itu. Setidak-tidaknya Amien 
Rais sudah bicara tentang suksesi pergantian Soeharto sejak 1993.

Sementara Megawati yang menjadi pemimpin Partai Demokrasi Indonesia (PDI) kala 
itu menjadi oposan pemerintah. Satu hal yang tak bisa dinafikan, Megawati dan 
Amien Rais telah mempunyai pendukung setia. Sedikit konteks, tidak seperti 
Megawati yang cenderung pendiam, Amien Rais lebih aktif. Sejak awal Januari 
1998, Amien Rais sudah mengeluarkan pernyataan-pernyataan untuk mendekat pada 
Megawati dan Gus Dur.

Menurut Amien Rais, dirinya dan Gus Dur serta Megawati memiliki kesamaan 
cita-cita, yaitu ingin menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Jika kerja 
sama itu berhasil akan menghasilkan daya dorong dan daya hentak politik yang 
kuat.

Peran Gus Dur saat Reformasi mulai tampak ketika terjadi larangan oleh rezim 
untuk membuat dialog-dialog akbar di pesantren-pesantren Jawa Timur dan Jawa 
Tengah. Hal ini diterangkan oleh Abdul Hamid, yang merupakan peneliti senior 
LP3ES dan juga merupakan anak KH. Abdul Fattah pendiri Pondok Pesantren Al 
Fatah Lamongan, menceritakan kedatangan Gus Dur untuk mengisi dialog akbar di 
pesanteren Al Fatah dihalang-halangi oleh pihak keamanan setempat. Tindakan 
persekusi Gus Dur memicu kemarahan warga NU yang akhirnya menjadi salah satu 
kekuatan pendorong Reformasi kala itu.

Peran Sri Sultan di Jogja tidak kalah pentingnya, seperti yang kita tahu protes 
mahasiswa menjelang Reformasi berawal dari kota pelajar ini. Sri Sultan yang 
merupakan pemimpin keraton Yogyakarta memberikan ruang-ruang protes mahasiswa 
di daerahnya. Demonstrasi mahasiswa yang awalnya di Jogja tersulut hingga ke 
ibu kota Jakarta.

Melihat pada ketokohan, karisma, serta kemampuan menghimpun kekuatan yang 
dimiliki oleh tokoh-tokoh di atas saat perjuangan meruntuhkan rezim Orde Baru 
dan melahirkan era Reformasi, tidak berlebihan jika mengatakan mereka adalah 
empat penunggang kuda Reformasi. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B30A38C7ED34440FAD9970BF2ABF57DE%40A10Live.

Reply via email to