Secara DNA Orang Jawa itu  blasteran India.....

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Sat., Dec. 11, 2021 at 6:54 p.m., Chan CT<[email protected]> wrote:   
Ramalan Jayabaya, Haruskah Presiden Jawa?
R53 - Saturday, December 11, 2021 23:00 
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ramalan-jayabaya-haruskah-presiden-jawa 
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama dengan Ketua Umum Partai Golkar 
Airlangga Hartarto (Foto: Gatra.com)
6 min read

Terkait pengganti Presiden Jokowi, Arief Poyuono menilai jawabannya terletak 
pada ramalan Jayabaya. Mengacu pada notonegoro, sosoknya mengerucut pada 
Airlangga Hartarto dan Ganjar Pranowo. Seperti kata Arief, haruskah jabatan 
RI-1 ditempati oleh orang Jawa?

PinterPolitik.com

 
“Myth is the facts of the mind made manifest in a fiction of matter.” – Maya 
Deren, sutradara 


Isu terkait Presiden Indonesia haruslah orang Jawa telah menjadi pembahasan 
lama di tengah masyarakat. Melihat faktanya, semua presiden memang memiliki 
darah Jawa. Ada pula desas-desus soal nama presiden yang harus berakhiran 
singkatan notonegoro, yang notabene merujuk pada nama Jawa. Begitulah kira-kira 
yang tertuang dalam ramalan Jayabaya, sebuah ramalan yang kembali disinggung 
oleh Arief Poyuono baru-baru ini.

Menurut mantan Wakil Ketua Partai Gerindra ini, ramalan Jayabaya merupakan 
kunci dalam melihat siapa pengganti Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia haruslah 
orang Jawa, yang lahir di Jawa Timur atau Jawa Tengah. Mengacu pada akronim 
notonegoro, maka kandidatnya mengerucut pada dua sosok, yakni Ketua Umum Partai 
Golkar Airlangga Hartarto dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Kedua sosok 
ini memang digadang-gadang akan maju di kontestasi pilpres mendatang.

Terkait Presiden Jokowi, Arief mengungkap fakta menarik, yakni nama lahir sang 
RI-1 adalah Mulyono, yang mana itu memenuhi akronim notonegoro karena 
akhirannya “No”. Ini sama dengan Soekarno dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Menurut Arief, ketika Indonesia tidak dipimpin oleh presiden dengan nama 
akhiran notonegoro, yakni pada tahun 1999-2004, terjadi berbagai konflik di 
Tanah Air. Selain itu, masa kepresidenan mereka juga diketahui tidak lama.

Apa yang diungkapkan Arief sekiranya mengingatkan pada pernyataan Jusuf Kalla 
(JK) pada 25 Juli 2018.  "Di Amerika butuh 170 tahun untuk orang Katolik jadi 
presiden di Amerika, butuh 240 tahun untuk orang hitam jadi presiden di 
Amerika, jadi mungkin butuh 100 tahun dari kemerdekaan orang luar Jawa jadi 
presiden [Indonesia]," ungkap JK.

Tentu pertanyaannya, apakah Presiden Indonesia haruslah orang Jawa? Kemudian, 
seperti kata Arief, apakah akan terjadi konflik jika presiden tidak mengikuti 
ramalan Jayabaya?
   
Panah Relasi

Sebelum membahas haruskah presiden dari orang Jawa, kita perlu membedah 
terlebih dahulu asumsi Arief yang menyebut terjadi konflik ketika presiden 
tidak berakhiran notonegoro memimpin. Untuk kepentingan ini, kita perlu membaca 
buku Nassim Nicholas Taleb yang berjudul The Black Swan: Rahasia Terjadinya 
Peristiwa-Peristiwa Langka yang Tak Terduga.

Dalam pembahasannya mengenai Kesalahan Naratif, Taleb memperkenalkan istilah 
menarik yang disebut dengan arrow of relationship – kita dapat menerjemahkannya 
menjadi panah relasi. Ini adalah kekeliruan bernalar yang terjadi ketika kita 
keliru dalam melihat rangkaian fakta, sehingga memaksakan sebuah keterkaitan 
logis. Sederhananya, kita kerap menyebutnya sebagai cocoklogi.

Ada dua alasan kuat kenapa asumsi Arief merupakan panah relasi. Pertama, 
faktanya, setiap era kepemimpinan selalu mengalami turbulensi dan konflik. Di 
era Soekarno, misalnya, terjadi instabilitas politik tak berujung. Ada pula 
berbagai pemberontakan, seperti Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia 
(PRRI) pada tahun 1958. Di era SBY juga terjadi berbagai konflik. Di awal 
pemerintahannya bahkan terjadi tsunami yang sangat besar. Ada pula konflik di 
berbagai daerah, seperti di Aceh dan Ambon.

Kedua, konflik yang terjadi antara tahun 1999-2004, lebih disebabkan karena 
Indonesia sedang mengalami transisi dari masa Orde Baru. Kepemimpinan Habibie 
sangatlah berat karena mengemban misi Reformasi yang begitu sulit. Pun demikian 
dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), terlalu banyak PR yang harus dikerjakan. 
Era-era ini memang penuh ketidakstabilan politik, hal yang umum terjadi pada 
masa transisi.

Kembali mengutip Taleb, gambaran yang disampaikan Arief bahwa terjadi konflik 
jika tidak dipimpin presiden berakhiran notonegoro juga disebut dengan 
kesalahan naratif (narrative fallacy). Ini adalah kesalahan yang terjadi karena 
kita memiliki kecenderungan membuat tafsiran berlebihan, serta membuat cerita 
menjadi lebih ringkas dan padat.  

Sebuah jam rusak pun masih menunjukkan waktu yang benar dua kali sehari. Begitu 
pula dengan kesalahan naratif, selalu ada tendensi untuk mencocokkan suatu 
fakta dengan keyakinan yang telah kita miliki. Secara khusus, ini disebut 
dengan confirmation bias.

Singkatnya, kita dapat memberi bantahan meyakinkan terhadap asumsi Arief 
tersebut. Kemudian, lanjut ke pertanyaan terpenting, apakah presiden harus 
orang Jawa?
    
Fakta Tak Terbantahkan?

Terkait ramalan Jayabaya, mengacu pada adagium jam rusak sebelumnya, mudah 
mengatakan itu hanyalah ramalan, suatu hal yang tidak rasional dan tidak 
memiliki bukti ilmiah. Jika memahami ramalan tersebut sebagai preseden atau 
penyebab, kita dapat 100 persen setuju. Namun beda halnya jika ramalan tersebut 
dipahami sebagai konsekuensi atau selubung narasi.

Untuk ini, kita perlu membaca buku Rolf Dobelli yang berjudul The Art of 
Thinking Clearly. Di dalamnya, Dobelli memperkenalkan istilah menarik yang 
disebut dengan swimmer’s body illusion atau ilusi tubuh perenang. Ini adalah 
kekeliruan bernalar yang terjadi ketika kita keliru dalam menentukan mana yang 
menjadi penyebab, dan mana yang menjadi akibat.

Sekarang kita perlu meluruskan, apakah ramalan Jayabaya merupakan preseden, 
atau merupakan selubung narasi? 

Untuk menjawabnya, kita perlu membangun analisis terkait mengapa presiden 
selalu memiliki darah Jawa. Dan yang terpenting, mengapa para kandidat Pilpres 
2024 merupakan orang Jawa?

Pertama, tentunya terkait populasi, yakni 41 persen penduduk Indonesia 
merupakan suku Jawa. Selain itu, penduduk Indonesia masih terkonsentrasi di 
Pulau Jawa, sebesar 151,59 juta jiwa atau 56,10 persen dari total penduduk. 
Terkait data ini, kita mudah merujuknya pada konsep mimikri, yakni manusia 
memiliki kecenderungan untuk memilih sesuatu yang sama dengannya. 

Kedua, alasan para kandidat didominasi oleh kepala daerah dari Pulau Jawa 
adalah garis start yang tidak sama. Dengan fakta kegiatan ekonomi dan industri 
masih berpusat di Pulau Jawa, kepala daerah dari Pulau Jawa mestilah memiliki 
keunggulan terkait jumlah anggaran yang dimiliki. Ini jelas berimbas pada 
jumlah dan terobosan program, sehingga peluang untuk tampil menonjol menjadi 
lebih besar.

Ketiga, mengutip Ross Tapsell dalam bukunya Media Power in Indonesia, 
berkumpulnya hampir semua pusat kantor media di Jakarta, telah membuat isu-isu 
regional Jakarta, seolah menjadi isu nasional. Ini membuat kepala daerah yang 
berada dan bersinggungan dengan ibu kota mendapat atensi media yang lebih besar 
daripada luar Jakarta, khususnya luar Pulau Jawa.

Keempat, melihat datanya, mayoritas pemimpin partai politik merupakan orang 
Jawa. Sedikit tidaknya, ini membuat cara penentuan kandidat merujuk pada 
kacamata Jawa. Seperti pernyataan Aris Huang dalam tulisannya Jokowi-Prabowo 
political reconciliation as Javanese strategy, dominasi Jawa di Indonesia telah 
membentuk lanskap politik di Tanah Air.

Keempat faktor ini kemudian menjadi pertimbangan yang berkonsekuensi pada 
dominannya para kandidat berasal dari Pulau Jawa. Dengan kata lain, ramalan 
Jayabaya bukanlah preseden atas presiden dari Jawa, melainkan sebagai selubung 
narasi atas fakta dan variabel yang menunjukkan kandidat memang idealnya dari 
Pulau Jawa.

Jika ingin keluar dari dominasi presiden Jawa, solusinya adalah membangun 
Jakarta-Jakarta baru di luar Jawa. Gap pembangunan dan ekonomi harus ditekan 
agar kepala daerah dari luar Pulau Jawa memiliki kesempatan untuk memulai dari 
garis start yang sama. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B20445B81AF8478C8224A5295D91E48D%40A10Live.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1076575619.524789.1639301300077%40mail.yahoo.com.

Reply via email to