Ridwan Kamil dan Ambiguitas 2024B68 - Monday, December 13, 2021 8:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ridwan-kamil-dan-ambiguitas-2024
 
Ridwan Kamil dan Ambiguitas 2024
7 min read

Ridwan Kamil merupakan tokoh politik nasional yang tidak henti dibicarakan. 
Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, beliau mendapatkan tawaran untuk 
bergabung ke berbagai partai. Hal tersebut penting baginya untuk memenuhi 
syarat mencalonkan diri sebagai presiden. Demikian, apa manuver selanjutnya 
yang seharusnya ia ambil?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Sebagai tokoh yang telah mengungkapkan keinginannya untuk menjadi calon 
presiden (capres) dalam pemilihan presiden (pilpres) 2024 mendatang, Gubernur 
Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil (RK) alias Kang Emil berhadapan dengan 
kesempatan partisan yang luas. Hingga kini, kita dapat menemukan bahwa minat 
berbagai partai untuk meminangnya sebagai kader – dengan potensi dimajukan 
sebagai capres dalam pilpres selanjutnya – tidak terbilang rendah. Baru-baru 
ini, tawaran semacam itu dilayangkan oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 
dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).

Melalui anggotanya di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Muhammad Farhan, Nasdem 
mengungkapkan bahwa RK akan diterima dengan baik di dalam partainya apabila 
memutuskan untuk bergabung. Secara lugas, Farhan juga mengatakan bahwa Nasdem 
bisa memberikan identitas kepartaian kepada RK, suatu hal yang sangat 
diperlukan untuk mengikuti rangkaian pilpres. Tidak hanya itu, Farhan juga 
mengatakan bahwa konstituen-konstituen partainya memiliki dukungan yang kuat 
terhadap dirinya.

Sementara itu, Wakil Ketua PPP Arsul Sani mengatakan bahwa partainya juga siap 
untuk menerima RK apabila dirinya memutuskan untuk bergabung. Alasan di 
baliknya terkait dengan latar belakang RK sebagai intelektual dan teknokratis – 
suatu hal yang diklaim jarang ditemukan dalam sosok-sosok yang menjadi kader 
PPP. 

Hanya saja, PPP tidak secara gamblang menunjukkan bahwa mereka akan memajukkan 
RK sebagai calon dalam pilpres 2024. Berbeda dengan Nasdem, mereka hanya akan 
memberikan posisi elit partai kepada RK.

Tidak mengherankan sebetulnya, PPP dan Nasdem memang digadang sebagai dua 
partai yang akan meminang RK. Hal tersebut sudah ditunjukkan dalam Pemilihan 
Gubernur (pilgub) Jabar pada tahun 2018 silam. Keduanya merupakan partai-partai 
yang mengusung RK – dengan PPP yang memberikan dukungannya setelah Nasdem. 

Kemudian, dua partai tersebut juga diprediksi oleh Pengamat Politik Lembaga 
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aisah Putri Budiatri sebagai tempat RK 
berlabuh untuk memperoleh dukungan partisan dalam kontestasi Pilpres 2024.



Baca Juga: Ridwan Kamil ‘Cocok’ Gubernur DKI?

 
Demikian, mengapa partai-partai banyak melirik RK? Kemudian, apakah dirinya 
memang berkualifikasi untuk memperoleh dukungan mereka dalam Pilpres 2024? 

Jawaban terhadap dua pertanyaan tersebut akan menentukan apa langkah yang 
seharusnya diambil oleh RK — di antara menjadi capres atau melanjutkan karier 
politiknya di tataran provinsi sebagai Gubernur Jabar.

Partai Butuh Ridwan Kamil?
Sebelum kita membahas pencalonan RK melalui salah satu partai lebih lanjut, ada 
baiknya untuk mengetahui kebutuhan-kebutuhan partai tersebut yang bisa 
terpenuhi dengan masuknya RK sebagai kader. Hal tersebut disiratkan oleh kader 
Nasdem Muhammad Farhan yang mengatakan bahwa RK memiliki latar belakang 
elektoral yang cukup baik untuk maju dalam pilpres selanjutnya. 

Rekam jejak elektoral milik RK yang baik ditemukan dalam Pilgub 2018 di Jabar. 
Dalam pesta demokrasi tersebut, RK memenangi suara di 14 dari 19 daerah yang 
ada di Provinsi Jabar.

Demikian, tidak salah apabila Farhan berpandangan bahwa RK memiliki potensi 
elektoral yang bagus jika dinilai dari rekam jejaknya selama berkompetisi untuk 
meraih jabatan Gubernur di Jabar. Apalagi, sebagai calon independen yang tidak 
terafiliasi kuat dengan salah satu partai yang ada, konsorsium politik RK 
berhasil mengalahkan pasangan-pasangan lainnya yang dicalonkan oleh berbagai 
partai besar – seperti Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang dicalonkan oleh Gerindra dan 
Partai Keadilan Sejahtera (PKS). 

Hal tersebut menunjukkan bahwa RK memiliki kemampuan untuk membangun konsensus 
yang bisa menyaingi partai-partai besar. Suatu strategi menarik yang 
memenangkannya kursi Gubernur Jabar kendati mendapati berbagai partai besar 
menarik dukungan mereka terhadapnya. Seperti Partai Demokrasi 
Indonesia-Perjuangan (PDIP) yang menarik dukungan mereka terhadap RK saat 
dirinya tiba-tiba mendeklarasikan diri sebagai calon gubernur (cagub) yang 
diusung oleh Nasdem. 



Baca Juga: Ridwan Kamil Sebenarnya Cawapres Ideal?


Cukupkah untuk Nyapres?
Kendati rekam jejak elektoralnya yang mengesankan, RK harus berhati-hati 
apabila ingin melanjutkan karier politiknya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu 
kepresidenan. Apalagi, para pengamat kini menilai bahwa kebanyakan partai 
politik sudah memiliki calonnya masing-masing. 

Direktur Eksekutif Indonesian Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah 
mengatakan bahwa hanya partai-partai yang berada di skala ukur menengah ke 
bawah seperti Nasdem yang berpotensi mengusung RK. Mirip dengan Dedi, Pengamat 
Politik Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin mengatakan bahwa 
partai-partai yang besar sudah memiliki pasangan capres-cawapres yang berasal 
dari kalangan internal. 

Calon-calon tersebut kebanyakan berasal dari jajaran kader partai atau bahkan 
ketua umumnya sendiri. Kecuali mereka ingin memantik suatu konflik internal, 
mereka tidak akan menjadikan RK sebagai capres yang diusung di atas tokoh-tokoh 
internal yang sudah mengantri untuk dinominasikan.

Dengan kata lain, rekam jejak elektoral dan berbagai latar belakang RK lainnya 
– seperti kemahiran akademisi dan teknokrasi – tidak cukup baginya untuk 
dijadikan capres oleh partai-partai yang kini meliriknya. Mungkin saja, 
partai-partai yang kini mengulurkan tangan kepada RK lebih tertarik untuk 
memerangkapnya sebagai kader terlebih dahulu ketimbang menjadikannya sebagai 
capres yang akan dimajukkan untuk berkontestasi dalam pilpres 2024. Selain itu, 
dukungan dari PPP dan Nasdem saja mungkin tidak cukup untuk melawan calon-calon 
lainnya yang sudah memperoleh dukungan partai-partai besar.



Strategi Ambigu Ridwan Kamil?
Akhirnya, meskipun RK memiliki modal berpolitik yang tinggi, beliau masih belum 
cukup berkualifikasi untuk memperoleh dukungan dari partai-partai besar dalam 
suatu kontestasi pilpres. Masih terdapat faktor-faktor internal partai itu 
sendiri yang meredupkan peluang RK untuk mendapatkan dukungan pilpres dari 
partai-partai yang meliriknya. Tepatnya, partai-partai tersebut masih 
mempertimbangkan hierarki dan kader-kader mereka; dan RK bukanlah kader apalagi 
petinggi salah satu partai.

Demikian, apa yang harus dilakukan oleh RK. Salah satu opsi yang bisa diambil 
oleh dirinya adalah untuk melanjutkan karier politiknya di tataran provinsi 
sebagai Gubernur Jabar hingga menyentuh batas maksimal dua periode 
kepemimpinan. Menariknya, sikap beberapa partai juga menunjukkan bahwa para 
elite politik akan lebih mendukung RK apabila dirinya memutuskan untuk terus 
menjadi Gubernur. Wakil Ketua 1 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Jabar Aria 
Girinaya, misalnya,  mengatakan bahwa RK sebaiknya menjadi Gubernur.



Baca Juga: Ridwan Kamil Ketemu Biden?

 
Lebih dari itu, RK sendiri mengakui bahwa dirinya lebih realistis terhadap 
prospek menjabat sebagai Gubernur Jabar untuk periode yang kedua. Di sini, kita 
bisa menemukan suatu ambiguitas. 

Di satu sisi, RK menyatakan dirinya berminat untuk menjadi capres tetapi, di 
sisi lainnya, beliau juga mengatakan bahwa dirinya mungkin akan terus berkarier 
sebagai gubernur. Tentunya, hal tersebut bukanlah suatu hal yang asing bagi 
sosok RK yang memang bermain dalam ambiguitas ketika berpolitik.

Sikap ambigu RK mungkin akan dipandang sinis oleh beberapa pihak. Namun, hal 
tersebut sudah sesuai dengan emphasis-allocation theory tentang ambiguitas 
dalam berpolitik yang dikembangkan oleh Akademisi University of Chicago 
Benjamin I. Page. 

Teori tersebut menegaskan bahwa para politisi tidak akan menunjukkan sikap yang 
tegas dan spesifik apabila hal tersebut akan merugikan mereka; dan sebaliknya, 
sikap ambigu pada saat yang sama akan menguntungkan mereka. Demikian, kita 
harus memahami bahwa terdapat beberapa insentif di balik ambiguitas seorang 
politisi.

Bagi RK, ambiguitas akan memungkinkan dirinya untuk tetap berada di dalam bursa 
transfer politisi yang panas sembari menghindari jeratan komitmen dan loyalitas 
yang menurutnya terlalu berat untuk ditanggung. Jika digabung dengan 
kesabarannya agar terus meniti karier di tataran provinsi, strategi ambiguitas 
mungkin akan mendatangkan hasil yang manis bagi RK. 

Dengan cara itu, RK bisa menjaga pamornya sembari memperoleh lebih banyak 
pengalaman dalam memerintah sebagai gubernur sehingga akan lebih siap untuk 
menghadapi pilpres yang akan diadakan setelah tahun 2024 mendatang. (B68)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A1D28130A2154BB48F42A97C1B6AA6F6%40A10Live.

Reply via email to