Waspada Kuda Troya Tiongkok?D74 - Tuesday, December 14, 2021 21:58
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/waspada-kuda-troya-tiongkok
 
Presiden Tiongkok Xi Jinping (Foto: Pikiran Rakyat)
7 min read

Seiring perkembangan teknologi, taktik peperangan semakin kompleks. Tiongkok 
baru-baru ini disebutkan mengembangkan rudal yang bisa diselundupkan dan 
diluncurkan dalam kargo kapal kontainer. Mereka juga diketahui kembangkan 
teknologi lain yang dapat mengintegrasikan fungsi sipil dan militer. Mengapa 
ini dilakukan Tiongkok?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Kalau kalian pernah nonton film Troy yang diperankan aktor Brad Pitt tentang 
perang antara Yunani dan kota Troy, mungkin kalian tidak asing dengan istilah 
“Kuda Troya”. Di film tersebut, Yunani berpura-pura kalah lalu memberikan 
sebuah patung kuda kayu besar sebagai persembahan perdamaian ke Troy.

Patung kuda tersebut sesungguhnya hanyalah tipu daya, karena di dalamnya 
ternyata diselundupkan banyak pasukan Yunani yang pada malam hari keluar untuk 
kemudian membukakan gerbang kota Troy agar pasukan Yunani lainnya bisa masuk, 
dan menghancurkan kota Troy dari dalam.

Secara metaforis, istilah "Kuda Troya" kini mengacu pada strategi tipu daya 
yang membuat sasaran tertipu sehingga mengundang musuhnya ke tempat yang 
seharusnya terlindungi dari ancaman.

Istilah Kuda Troya beberapa waktu ke belakang ini dilekatkan dengan Tiongkok 
karena dilaporkan telah mengembangkan sistem rudal yang mampu diselundupkan ke 
dalam kontainer yang dibawa kapal sipil, dan diluncurkan di wilayah domestik 
negara targetnya. Sistem rudal ini bernama YJ-18C. Menurut Center for Strategic 
and International Studies (CSIS), ini adalah rudal supersonik yang memiliki 
daya jangkau sampai 540 km.

Rudal ini disebutkan mampu membawa hulu ledak eksplosif dan antiradiasi. 
Antiradiasi adalah hulu ledak yang didesain untuk dapat mengganggu sinyal 
radio, kinerja alat elektronik, dan kelancaran komunikasi target serangannya.

Pengamat militer Asia dari International Assessment and Strategy Center, Rick 
Fish mengatakan, teknologi rudal seperti YJ-18C membuat Tiongkok kapan saja 
mampu mengubah kapal sipil menjadi armada militer. Negara akan sangat kesulitan 
dalam membedakan mana kapal yang disusupi rudal dan mana yang tidak, karena 
tidak dapat dibedakan dari kargo lainnya, kecuali memang diperiksa satu-satu.

Namun, ini bukan pertama kalinya Tiongkok mengembangkan teknologi yang sifatnya 
“abu-abu”. Sejumlah pengamat dan negara mulai khawatir dengan pengembangan 
teknologi Tiongkok di berbagai bidang seperti siber dan teknologi roket, yang 
berpotensi digunakan untuk kepentingan militer.

Terlebih lagi, Tiongkok memiliki strategi nasional yang bernama Military-Civil 
Fusion (MCF). Strategi ini secara sistematis mengatur ulang perusahaan sains 
dan teknologi Tiongkok untuk memastikan setiap inovasi baru secara bersamaan 
dapat memajukan pembangunan ekonomi dan militer.

Lantas, mengapa Tiongkok bersikukuh mengintegrasikan fungsi sipil dan militer?


  
Taktik Cerdik Atau Licik?
Pengembangan teknologi yang dapat mengintegrasikan sipil dan militer dalam 
pandangan politik internasional memiliki istilahnya tersendiri, yaitu dual-use 
technology atau teknologi penggunaan ganda. European Commission mendefinisikan 
dual-use technology sebagai barang apapun yang dapat digunakan baik untuk 
tujuan sipil maupun militer.

Dual-use technology juga dapat merujuk pada penggunaan alat yang dapat memenuhi 
lebih dari satu tujuan. Hal ini mencakup beberapa teknologi canggih yang tujuan 
awalnya adalah menguntungkan kepentingan komersial sipil, tetapi juga dapat 
digunakan untuk tujuan militer. Dalam konteks Tiongkok, adalah teknologi siber 
dan penggunaan kapal komersial yang pada awalnya mungkin berfungsi sebagai alat 
sipil, tetapi dengan diselundupkannya rudal YJ-18, mampu menjadi alat militer.

Permasalahan utama dari dual-use technology adalah karena dapat mengaburkan 
alat-alat teknologi apa saja yang sesungguhnya berbahaya bagi keamanan negara, 
dan dampaknya juga bisa membuat suatu negara salah sasaran dalam menentukan 
objek serangannya. Sederhananya, dengan memanfaatkan fungsi penggunaan ganda 
ini, intensi militer dapat “berkamuflase” di balik perangkat-perangkat sipil.

Dalam pandangan hukum internasional, aksi seperti ini berpotensi jatuh kepada 
istilah yang disebut perfidy atau kedurhakaan. Konferensi Jenewa mendefinisikan 
perfidy sebagai tindakan yang berniat mencederai kepercayaan negara-negara yang 
terbentuk berdasarkan payung rezim internasional.

Rezim internasional yang dimaksud adalah kepatuhan negara-negara pada hukum 
internasional yang diambil dari Konferensi Den Haag, yang salah satu bagiannya 
menyatakan bahwa kapal sipil boleh digunakan untuk perang, asalkan terlebih 
dahulu mengonversi kapal sipil tersebut sebagai kapal perang, tidak boleh 
dengan tiba-tiba merubahnya menjadi senjata perang di tengah pertempuran.

Namun, Tiongkok sepertinya justru memang berniat mengembangkan teknologinya ke 
arah ini, karena rudal YJ-18 hanya salah satu dari banyak dual-use technology 
Tiongkok. Meia Nouwens dan Helena Legarda dalam tulisannya China’s Pursuit of 
Advanced Dual-Use Technologies menilai, dalam upaya untuk mendorong Tiongkok 
menjadi negara yang dominan pada tahun 2049, sesuai amanat strategi nasional 
MCF, Presiden Xi Jinping menggunakan kekuatannya sebagai pemutus keputusan 
paling tinggi untuk mendorong perkembangan teknologi Tiongkok ke arah yang 
mampu menjawab kepentingan ekonomi dan sosial, dan di saat bersamaan juga 
dijadikan solusi modernisasi militer.

Nouwens dan Legarda juga mengatakan, tindakan seperti ini perlu dilakukan 
Tiongkok agar dapat mengejar ketertinggalan militer dan teknologinya dari 
negara-negara Barat. Pemerintah Tiongkok dinilai tidak punya waktu untuk tidak 
memanfaatkan segala potensi negaranya demi kemajuan. Tiongkok telah menetapkan 
rencana dan target yang jelas, mereka mendorong inovasi domestik melalui 
keringanan pajak, subsidi, dan cara lain, dan mereka juga telah menerapkan 
kebijakan proteksionis untuk memajukan industri domestik, serta internasional 
Tiongkok.

Di sisi lain, apa yang dilakukan Tiongkok bertepatan dengan pendeskripsian 
perang asimetris sebagai tren abad ke-21, oleh pengamat pertahanan dari 
Universitas George Washington, Robert R. Tomes. Dalam tulisannya yang berjudul 
Relearning Counterinsurgency Warfare, Tomes mendefinisikan perang asimetris 
sebagai sebuah konflik antara dua pihak yang sangat berbeda kepemilikan sumber 
daya dan kapabilitas perjuangannya.

Perbedaan tersebut kemudian melahirkan strategi dan taktik perang yang 
non-konvensional. Pejuang yang lebih lemah akan berupaya untuk menggunakan 
strategi yang tidak wajar dalam rangka mengimbangi kekurangan yang dimilikinya, 
dari segi kualitas ataupun kuantitas.

Lebih lanjut, Tomes mengatakan, pengimbangan yang sukses hanya dapat dilakukan 
jika negara yang tertinggal mengenali adanya saling ketergantungan antara 
faktor ekonomi, politik, psikologis, dan militer. Mereka akan membuat semacam 
sistem komando terpadu yang mampu beradaptasi dan memanfaatkan sumber daya dari 
berbagai faktor yang disebutkan tadi secara efisien.

Kembali ke konteks Tiongkok, ini tergambarkan dengan upayanya untuk mengejar 
dominasi Amerika Serikat (AS) tidak hanya dalam aspek militer, tetapi di saat 
yang bersamaan juga dalam aspek ekonomi dan teknologi sipil.

Lantas pertanyaan besarnya, kenapa hanya Tiongkok yang terlihat berhasil dalam 
hal ini?

 
  
Keunggulan Negara Otoriter?
Untuk melihat mengapa Tiongkok bisa dengan lancarnya mengaplikasikan dual-use 
technology untuk kepentingan negaranya, kita juga perlu melihat alasan kenapa 
Tiongkok bisa dengan cepatnya menjadi negara pesaing AS. Kembali mengutip 
Nouwens dan Legarda, Tiongkok bisa menjadi pesaing negara Barat dengan cepat 
karena sistem yang dianut di negaranya, yaitu one-party system atau sistem satu 
partai.

Mereka berpendapat, dalam aspek pengembangan teknologi, sistem satu partai 
Tiongkok menjadi sebuah keunggulan dibanding para negara-negara pesaingnya. 
Sistem ini memungkinkan Tiongkok untuk mengadopsi pendekatan total dari 
pemerintah untuk menutup kesenjangan teknologi dengan Barat, di bidang-bidang 
seperti AI, teknologi roket, dan antariksa, melalui proses top-down yang sangat 
terorganisir. Kemampuan memobilisasi masyarakat dan industrinya untuk mengejar 
tujuan kepentingan nasional adalah sesuatu yang sulit dilakukan di negara 
demokrasi seperti AS.

Beberapa dari dual-use technology ini mungkin tidak bisa langsung 
dioperasionalkan dalam konteks militer. Namun, sifat penggunaan ganda yang 
inheren dari semua teknologi ini mengartikan, bahkan jika mereka ternyata tidak 
banyak berguna untuk tujuan militer, mereka tetap akan memiliki kegunaan sipil 
lainnya yang akan memiliki dampak besar bagi kehidupan masyarakat Tiongkok dan 
dunia. Singkatnya, apa yang dilakukan Tiongkok adalah pertaruhan win-win 
solution, Tiongkok pada akhirnya akan mendapat keuntungan dari investasinya.

Hal yang kemudian perlu diwaspadai adalah, Tiongkok telah menjadi bukti bahwa 
di masa depan, perang barangkali tidak akan terjadi antara militer dan militer, 
tetapi percampuran antara sipil dan militer. Nathan W. Toronto dalam tulisannya 
Military Learnings and Evolutions in Warfare in the Modern Era, mengatakan 
sejak akhir Perang Dunia 2, dengan adanya perkembangan teknologi, batas-batas 
medan perang telah semakin bercampur ke ruang sipil, sehingga pemahaman umum 
tentang perang konvensional tidak lagi bisa diandalkan untuk mencegah konflik 
di era modern.

Oleh karena itu, berangkat dari pemahaman Toronto, pendekatan yang sekiranya 
tepat untuk mengatasi agresi militer baru dari Tiongkok ini tidak bisa hanya 
dilakukan oleh aparat pertahanan negara saja, tetapi juga butuh adanya 
sinkronisasi yang mendalam dengan bidang teknologi, sains, dan ekonomi, agar 
bisa mengidentifikasi potensi-potensi ancaman apa saja yang sesungguhnya 
tertanam di dalam barang asing yang melintas atau berhenti di negara kita.

Jangan sampai kita kecolongan, Kuda Troya modern barangkali tidak akan 
berbentuk seperti patung kuda layaknya zaman dulu, tetapi bisa berupa kapal 
dagang, aplikasi teknologi, dan perangkat lunak lainnya. (D74)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/24C5C724EFA344CD83B2A4E57FB376C0%40A10Live.

Reply via email to