https://www.pikiran-rakyat.com/kolom/pr-013244592/radikalisme-islam-di-indonesia-mencari-akar-masalahnya-pasca-orde-baru


Radikalisme Islam di Indonesia; Mencari Akar Masalahnya Pasca-Orde Baru

[image:
https://assets.pikiran-rakyat.com/crop/0x0:0x0/60x60/photo/2021/08/24/4113908901.jpg]

Masduki Duryat
<https://www.pikiran-rakyat.com/kolom-author/5282/masduki-duryat>

- 16 Desember 2021, 06:32 WIB



*PIKIRAN RAKYAT - *Pada akhir 2020 yang lalu, ‘kado’ dibubarkannya FPI oleh
pemerintah dan 6 (enam) kematian laskarnya, betul-betul menjadi trending
topic di media  sosial. Seolah mengalahkan isu nasional—atau sengaja
dialihkan oleh pemerintah—kasus korupsi yang dilakukan oleh mantan Menteri
Sosial Juliari Batubara.

Beritanya hilang, walau kita tentu berharap kasusnya tetap diproses—tidak
seperti kasus Harun Masiku yang hilang bak ditelan bumi—karena kasus maling
uang rakyat Juliari Batubara pada dana bantuan untuk masyarakat yang
terempas krisis ekonomi akibat pandemi jelas merupakan kejahatan level
tertinggi. Pelakunya tak hanya merugikan keuangan negara, tapi juga
mengancam hidup banyak orang.

Seperti yang pernah saya tulis, penyidikan sementara Juliari telah memungut
sedikitnya Rp. 10 ribu dari setiap kemasan bantuan sosial korban pandemi di
Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Tapi kuat dugaan, maling uang
rakyat oleh Juliari sebenarnya lebih dahsyat.

*Baca Juga: Beri Arahan pada 20 Pemuda yang Terpapar Doktrin NII, Ridwan
Kamil: Pancasila Kesepakatan yang Agung
<https://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/pr-013213315/beri-arahan-pada-20-pemuda-yang-terpapar-doktrin-nii-ridwan-kamil-pancasila-kesepakatan-yang-agung>*

Majalah Tempo memberitakan bahwa anggaran pemerintah untuk proyek bansos
sekitar Rp300.000 per kemasan untuk 21,6 juta kemasan yang dibagikan dalam
12 gelombang. Artinya, total nilai uang yang dirampok Menteri Sosial
mencapai setidaknya Rp21 miliar. Ada kesaksian yang menyebutkan nama
sejumlah elite PDIP yang menitipkan perusahaan tertentu agar mendapat jatah
proyek. KPK harus menelusuri semua petunjuk itu. Bagi banyak orang,
kejahatan semacam itu mungkin tidak terbayangkan—yang pasti menyakiti hati
rakyat kecil—yang konon menjadi jargon PDIP, partainya wong cilik.

Kembali ke persoalan FPI, pada versi pemerintah dianggap sebagai ormas
keagaamaan radikal—seperti juga HTI dulu—yang dianggap membahayakan negara,
dengan paling tidak 6 (enam) pertimbangan; *Pertama,* ormas konsensus
menjaga keutuhan negara; *Kedua*, Anggaran Dasar yang tidak boleh
bertentangan dengan Pasal 2 Undang-Undang ormas; *Ketiga*, SKT sebagai
ormas sesuai keputusan Mendagri No. 01-00-00/010/D.III.4/VI/2014; *Keempat*,
Ormas tidak boleh bertentangan dengan pasal-pasal yang tercantum pada UU
Ormas: *Kelima*, pengurus/anggota berdasarkan data terlibat tindak pidana
terorisme; dan *Keenam*, terjadi pelanggaran ketentuan hukum oleh pengurus
dan atau anggotanya yang kerap melakukan berbagai razia atau *sweeping* di
masyarakat.

*Baca Juga: BNPT: Tokoh Agama Itu Jadi Pintu Masuk Sekaligus Potensial
Menjadi Pintu Keluar Radikalisme dan Terorisme
<https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-013133468/bnpt-tokoh-agama-itu-jadi-pintu-masuk-sekaligus-potensial-menjadi-pintu-keluar-radikalisme-dan-terorisme>*

*Radikalisme dan indikatornya*

Sejarah telah mencatat, bagaimana *track record *Islam dalam mewujudkan
perdamaian dalam realitas. Pada awal kemunculan Islam di bawah panji-panji
kepemimpinan Nabi Muhammad SAW., Islam berhasil meredam perang antarsuku
dan golongan di jazirah Arab. Masa itu adalah masa yang paling ideal dalam
sejarah ummat Islam, karena ketika itu Nabi Muhammad SAW.,--yang merupakan
refresentasi dari Islam itu sendiri—masih mendampingi para ummatnya
sehingga Islam bisa berkaku secara efektif.

Islam yang dulunya menjadi pemersatu, belakangan dipandang sebagai penebar
teror—bahkan di beberapa negara Barat dan AS—muncul Islamophobia, Perancis
bahkan sebagai negara liberal secara terang-terangan membuat kartun
‘penghinaan kepada Nabi’ sebagai bentuk ekspresi kebebasan. Terlepas dari
berbagai motif yang dilakukan para pelaku kekerasan dan radikalisme
<https://www.pikiran-rakyat.com/tag/radikalisme>, stigma negatif pada Islam
sebagai agama *rahmatan lil’alamin* akibat berbagai tindakan kekerasan itu
cukup membuat resah masyarakat muslim.

Dalam buku “Kritik Ideologi Radikal”, dijelaskan bahwa radikalisme
<https://www.pikiran-rakyat.com/tag/radikalisme> adalah gagasan serta
tindakan kelompok yang bergerak untuk menumbangkan tatanan politik yang
sudah mapan; negara, kelompok, atau rezim yang bertujuan untuk melemahkan
otoritas politik dan legitimasi negara atau rezim lain. Maka, radikalisme
<https://www.pikiran-rakyat.com/tag/radikalisme> direlevansikan dengan
kelompok Islam adalah golongan yang membawa doktrin Islam serta bertujuan
seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Pemahaman tentang gerakan Islam radikal paling tidak disebabkan oleh dua
hal. *Pertama* secara internal, ada pemahaman bahwa di luar pengikut mereka
yang tidak sepaham adalah *thagut*, *thagut* adalah kafir. Maka memerangi
mereka adalah perintah agama. Oleh karena itu paham turunannya adalah
bentuk negaranya harus berdasarkan Islam. Dalam sejarah Islam pernah muncul
gerakan sempalan yang berpahaman seperti itu, yaitu khawarij. *Kedua* secara
eksternal, munculnya gerakan-gerakan radikal efek dari penyerangan Amerika
dan sekutunya terhadap negara-negara mayoritas berpenduduk Islam, misalnya
Afganistan, Pakistan, Irak dan negara lainnya. Testimoni mantan PM Inggris
Tony Blair yang mengatakan bahwa “saya menyesal dan berdosa telah ikut
sekutu untuk menyerang dan menghancurkan Irak yang pada akhirnya
memunculkan gerakan radikal seperti ISIS.”

Dalam buku “Gerakan Salafi Radikal di Indonesia”, kriteria Islam radikal
adalah: (1) kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatik
yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang
sedang berlangsung; (2) dalam kegiatannya mereka sering menggunakan
aksi-aksi kekerasan, bahkan tidak menutup kemungkinan kasar terhadap
kegiatan kelompok lain yang dinilai bertentangan dengan kelompok mereka,
(3) secara *sosio-kultural* dan *sosio-religius,* kelompok radikal
mempunyai ikatan kelompok yang kuat dan menampilkan ciri-ciri penampilan
diri dan ritual yang khas, (4) kelompok Islam radikal seringkali bergerak
secara bergerilya, walaupun banyak juga yang bergerak secara
terang-terangan.

Definisi Islam radikal dalam buku ini menurut Dr. Adian Husaini diambil
dari buku Jhon L. Esposito yang berjudul Islam: *The Straight Path.* Muslim
radikal adalah mereka yang (1) berpendapat bahwa Islam adalah sebuah
pandangan hidup yang komprehensif dan bersifat total, sehingga Islam tidak
dapat dipisahkan dari politik, hukum, dan masyarakat, (2) seringkali
menganggap bahwa ideologi masyarakat Barat yang sekuler dan cenderung
materialistis harus ditolak, (3) cenderung mengajak pengikutnya untuk
’kembali kepada Islam’ sebagai sebuah usaha untuk perubahan sosial, (4)
memandang bahwa regulasi-regulasi sosial yang lahir dar tradisi Barat, juga
harus ditolak, (5) tidak menolak modernisasi sejauh tidak bertentangan
dengan standar *ortodoksi* keagamaan yang telah mereka anggap mapan, dan
tidak merusak sesuatu sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran yang
sudah final, (6) berkeyakinan bahwa upaya-upaya Islamisasi pada masyarakat
muslim tidak akan berhasil tanpa menekankan aspek pengorganisasian ataupun
pembentukan sebuah kelompok yang kuat.

*Radikalisme Islam; Pasca Orde Baru
<https://www.pikiran-rakyat.com/tag/Orde-Baru>*

Ini menarik, analisis yang dilakukan oleh Martin van Bruinessen ada sisi
yang berbeda yang disampaikannya, bahwa munculnya kelompok-kelompok radikal
dalam Islam yang menggunakan terma *jihadis
<https://www.pikiran-rakyat.com/tag/jihadis>* dan menggerakkan para
pengikutnya untuk berjihad di wilayah-wilayah konflik antar agama di
Indonesia misalnya Maluku, Poso adalah fenomena yang cukup mencolok.

Pada pemerintahan pasca Presiden Soeharto terjadi pembiaran seolah militer
serta polisi tidak mampu, atau tidak bersedia untuk menghalangi para *jihadis
<https://www.pikiran-rakyat.com/tag/jihadis>. *Bertentangan dengan perintah
tegas presiden, kelompok-kelompok tentara jihad dapat meninggalkan pulau
Jawa menuju Maluku tanpa ada pemeriksaan oleh polisi atau militer, bahkan
saat tiba di Maluku mereka diberikan senjata modern oleh beberapa perwira
militer yang bersimpati pada perjuangan mereka.

Nyaris, masih menurut Martin terdapat mufakat di kalangan para pengamat
politik Indonesia bahwa semua kekerasan antar suku dan agama selama
beberapa tahun belakangan ini dipicu oleh perebutan kekuasaan  antara
faksi-faksi elite yang bersaing, atau didalangi secara sengaja oleh
beberapa faksi yang bertujuan menggoyahkan pemerintahan Presiden
Abdurrahman Wahid (dan kemudian Megawati). Sangat jelas persaingan antar
elite merupakan faktor penggoyah utama dan sebagian besar kekerasan itu
didanai oleh kelompok-kelompok kepentingan sipil dan militer.

Tetapi, ini tentu tidak berarti kelompok-kelompok radikal yang melakukan
kekerasan tersebut semata-mata boneka, alat di tangan dalang politik.
Minimal sebagian kelompok ini berakar dari gerakan yang sudah ada sebelum
krisis yang terjadi saat ini.  Akar kelompok-kelompok muslim radikal di
Indonesia saat ini bisa dirunut pada dua gerakan politik. Muslim yang
relatif ‘asli’, gerakan Darul Islam dan Partai Masyumi serta jaringan Islam
tradisional yang lebih baru.

Akankah munculnya gerakan-gerakan Islam radikal ini sebagai bentuk
konsekuensi logis akibat ‘dipeliharanya’ dulu karena kepentingan politik
dan elite tertentu demi mengejar kekuasaan—khususnya pasca Presiden
Soeharto—dan sekarang menerima akibatnya? Sekali lagi pada analisis Martin
di bawah kepresidenan Habibie kaum Islam radikal dipersenjatai dan
dipekerjakan sebagai tenaga bantuan paramiliter untuk polisi dan tentara.
Presiden Abdurrahman Wahid harus menghadapi kelompok-kelompok radikal ini
dan berusaha mengekangnya, namun gagal karena kendalinya yang lemah pada
angkatan bersenjata. *Wallahu a’lam bi al-sawab.****

**)Penulis adalah dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon, tinggal di Kandanghaur
Indramayu*

*Disclaimer: Kolom merupakan bentuk komitmen Pikiran Rakyat memuat opini
atas berbagai hal. Artikel ini bukan produk jurnalistik tetapi murni
merupakan opini kolumnis.*

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2Czjoq%3D6L_zsX-DXHLRS7BNu%2BZFpF45hW8u5v4t2ExDSQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to