Penamaan Omicron, WHO Khawatirkan Tiongkok?I76 - Saturday, December 18, 2021 
23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/penamaan-omicron-who-khawatirkan-tiongkok
 
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom bersama Presiden Tiongkok Xi jinping 
(Foto: Kompas)
6 min read

World Health Organization (WHO) sebagai lembaga kesehatan dunia, harusnya  
berada di atas segala kepentingan negara-negara. Banyak yang melihat bahwa 
dominasi dua kekuatan dunia, yaitu Amerika Serikat dan Tiongkok berdampak pada 
pegambilan keputusan WHO, salah satunya penamaan varian Omnicron. Lantas, 
benarkah dugaan tersebut?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Munculnya varian baru virus Corona varian B.1.1.529 atau Omicron menjadi atensi 
dunia. Varian ini diketahui telah terindetifikasi di  Indonesia. Varian Omicron 
pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November lalu. 
Meskipun demikian, sampel awal ditemukan pada 11 November 2021 yang menunjukkan 
varian ini ada di Botswana, salah satu negara di Afrika bagian selatan. Virus 
diidentifikasi telah menyebar di Botswana, Belgia, Hong Kong, dan Israel. 
Varian ini disebut lebih berbahaya ketimbang varian Corona lainnya.

Profesor Tulio de Oliveira, Direktur Pusat Respons dan Inovasi Epidemi Afrika 
Selatan, mengatakan,  varian ini mempunyai konstelasi mutasi yang tidak biasa 
dan sangat berbeda dari varian Corona lain yang telah menyebar di seluruh 
dunia. Oliveira melanjutkan bahwa varian baru ini secara keseluruhan memiliki 
50 mutasi, lebih dari 30 mutasi terdapat pada spike protein (taji protein). 
Bagian ini adalah alat yang digunakan virus untuk membuka pintu ke sel-sel 
tubuh manusia sekaligus yang disasar sebagian besar vaksin.

Satu hal yang menarik, selain dari pernyataan Oliveira yang menggambarkan bahwa 
sejauh ini varian Omnicron paling berbahaya, adalah pemilihan nama varian baru 
ini. Banyak yang menilai dalam memilih nama varian ini, World Health 
Organization (WHO) dipengaruhi oleh kekuatan politik. lantas, seperti apa 
politik nomenklatur WHO tersebut?


  
Politik Nomenklatur WHO
Sejak  awal, sekitar tahun 2019 mulai ditemukan beberapa mutasi dari  varian 
virus Corona. Peristiwa ini yang membuat WHO sebagai lembaga internasional yang 
bertanggungjawab dalam penanganan pandemi di dunia, mulai membuat daftar 
nama-nama varian dari virus Corona. Dengan berbagai pertimbangan, ditetapkan 
sistem penamaan sederhana untuk varian baru virus per Mei 2021. Setiap varian 
baru akan diberi nama sesuai huruf berurutan dalam alfabet Yunani.

Tujuan dari penggunaan alfabet Yunani untuk memudahkan bagi komunitas 
non-ilmiah untuk membahas varian Corona. Dengan demikian, salah satu varian 
pertama dengan mutasi signifikan yang pertama kali diurutkan di Inggris yaitu 
B.1.1.7 kemudian diberi nama Alfa. Sedangkan varian berikutnya yang muncul di 
Afrika Selatan pada tahun 2020 bernama Beta.

Dengan metode di atas, WHO menamai varian baru B.1.1.529 sebagai Omicron yang 
merupakan huruf ke-15 dalam alfabet Yunani. Huruf Omicron setara dengan huruf 
bahasa Inggris yang terdengar pendek "O". Istilah varian Omicron digunakan 
memang dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat dunia. Namun, pemilihan 
nomenklatur ini mendapat kritik dari media sosial yang menilai WHO tidak 
konsisten atas kebijakannya.

Hal ini disebabkan karena WHO melewatkan dua alfabet dalam bahasa Yunani 
sekaligus. Dua alfabet tersebut adalah Nu dan Xi, melompat langsung menggunakan 
kata Omicron sehingga tidak urut seperti deretan alfabetnya. Sebagian orang 
menilai dua huruf tersebut dilewatkan agar tidak menyinggung perasaaan Presiden 
Tiongkok Xi Jinping.

Apalagi, telah lama berhembus dugaan, terdapat kedekatan secara politik antara 
WHO dengan Tiongkok. Banyak yang mengaitkan hubungan Dr. Tedros Adhanom 
Ghebreyesus, ahli mikrobiologi asal Ethiopia yang kini menjabat Direktur 
Jenderal WHO, disebut-sebut memiliki koneksi dengan Tiongkok.

Kedekatan Tedros dengan Tiongkok dapat diikuti semenjak masih menjabat sebagai 
Menteri Kesehatan Ethiopia pada tahun 2005-2012 dan sebagai Menteri Luar Negeri 
Ethiopia pada tahun 2012-2016. Kala itu, Dirjen WHO tersebut dianggap telah 
menjalankan banyak kerja sama dan kedekatan diplomatik dengan Tiongkok.

Selain itu, Tedros juga merupakan figur yang didukung oleh Tiongkok dalam 
pemilihan Dirjen WHO pada tahun 2017. Dukungan tersebut tetap kuat meski mantan 
Menkes Ethiopia tersebut dituding melakukan penutupan informasi terkait wabah 
Kolera di negara asalnya.

Tidak menutup kemungkinan, Tedros memunculkan kekuatan personal networking bagi 
Tiongkok untuk memengaruhi WHO. Dalam literasi ilmu politik, personal 
networking merupakan salah satu instrumen dari suatu kelompok kepentingan untuk 
mempengaruhi pengambilan kekuasaan.

Namun, kabar tersebut langsung dibantah WHO yang menilai alfebet Nu dan Xi bisa 
dengan mudah memicu kesalahan penyebutan. Menurut WHO, kata Nu terlalu mudah 
dikacaukan dengan new, dan Xi tidak digunakan karena itu adalah nama belakang 
yang umum. WHO juga menambahkan bahwa penamaan penyakit menurut aturannya 
disarankan untuk menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan pelanggaran 
terhadap siapa pun, termasuk kelompok budaya, sosial, nasional, regional, 
profesional atau etnis.

Meski WHO membantah keterkaitan yang disinggung di atas, tak dapat dipungkiri 
bahwa dalam percaturan politik internasional, dua kekuatan dunia, yaitu Amerika 
Serikat (AS) dan Tiongkok, keduanya saling unjuk pengaruh. Lantas, seperti apa 
persaingan pengaruh kedua kekuatan Timur dan Barat itu?

 
  
Persaingan Timur dan Barat
Dalam sejarahnya, tidak sedikit rezim dan organisasi internasional memiliki 
kecenderungan untuk dipengaruhi oleh beberapa negara, khususnya negara yang 
memiliki kekuatan dominan. Bisa jadi, WHO kali ini juga mendapatkan pengaruh 
serupa dengan tumbuhnya kekuatan Tiongkok di panggung politik dunia.

Stephen D. Krasner dalam tulisannya yang berjudul Structural Causes and Regime 
Consequences, menjelaskan bahwa rezim internasional tetaplah menjadi instrumen 
bagi negara-negara untuk mengoptimalkan kepentingan dan kekuatan mereka.

Rezim internasional sendiri merupakan serangkaian norma, aturan, prinsip, dan 
prosedur pengambilan keputusan yang diyakini bersama oleh negara-negara dalam 
suatu area isu. Biasanya, suatu rezim internasional dibangun melalui institusi 
atau organisasi internasional yang mengatur rangkaian norma tersebut.

WHO, misalnya, merupakan organisasi internasional dalam rezim kesehatan dunia. 
Dengan kehadiran WHO, negara-negara dapat menjalankan kerja sama dalam 
menangani persoalan-persoalan kesehatan. Meski lembaga ini akhirnya terdengar 
seperti tempat terwujudnya tujuan kerja sama antarnegara, WHO tak serta merta 
bisa dianggap sebagai tujuan akhir politik luar negeri bagi beberapa negara.

AS selama bertahun-tahun memang merupakan negara yang memiliki pengaruh yang 
besar di panggung politik internasional. Dengan jumlah kontribusi terbesar, 
bukan tidak mungkin negara tersebut juga memiliki pengaruh yang besar di WHO.

AS merupakan pemberi dana terbesar di lembaga kesehatan dunia itu. Pada tahun 
2017, Paman Sam memberikan kontribusi sebesar US$ 115,4 juta (sekitar Rp 1,56 
triliun). AS menyumbangkan 22 persen dari total kontribusi yang WHO dapatkan 
dari negara-negara anggotanya.

Dana sebesar itu dapat memberikan kekuatan struktural (structural power) bagi 
AS. Mengacu pada pemikiran Susan Strange, kekuatan struktural dapat dipahami 
sebagai kemampuan yang dimiliki oleh suatu negara untuk memengaruhi struktur 
interaksi melalui aturan-aturan yang dapat memodifikasi opsi-opsi yang dimiliki 
oleh aktor-aktor lain.

Bukan tidak mungkin, persaingan kedua kekuataan antara AS dan Tiongkok juga 
terjadi di WHO. Seperti yang disebutkan mantan konsultan WHO, Charles Clift 
pada 2014 lalu, WHO disebutnya terlalu politis dan demokratis. Beberapa waktu 
yang lalu, jurnalis Kai Kupferschmidt juga menyebut Tedros tidak mampu 
menyinggung pemerintah Tiongkok yang terkenal sensitif di masalah penolakan 
negeri Tirai Bambu terhadap delegasi WHO untuk menyelidiki virus Corona di 
Wuhan.

Pada kasus penamaan varian Omnicron, konteks seperti yang disebutkan Kai 
Kupferschmidt bukan tidak mungkin terjadi, yakni WHO tidak ingin menyinggung 
perasaaan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Pada Februari 2020, ketika WHO memuji 
keberhasilan Tiongkok menangani Covid-19, Paman Sam juga diketahui tidak senang.

Pada 27 November, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken memuji Afrika Selatan 
karena cepat mengidentifikasi varian Omicron dan membagikan informasi tersebut 
kepada dunia. Banyak yang menilai pujian itu adalah sindiran AS kepada Tiongkok 
karena menutup-nutupi informasi soal virus Corona.

Well, terlepas dari adanya intensi politik di balik penamaan varian Omicron, 
yang jelas perdebatan soal tarikan politik di WHO telah menjadi diskursus umum. 
Jika benar-benar ada, semoga tarikan-tarikan yang ada tidak menjadi ganjalan 
WHO dalam menjalankan fungsi dan perannya. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D9DF57C8407E48E18FBB834EB19280E8%40A10Live.

Reply via email to