Rupiah dan Surat Utang RI Stabil di Tengah Tapering Fed
Selasa , 21 Desember 2021 | 18:35 
https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/54491/rupiah_dan_surat_utang_ri_stabil_di_tengah_tapering_fed
 
Sumber Foto : Istimewa
Menteri Keuangan Sri Mulyani.Listen to this
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkapkan rupiah dan suku 
bunga Surat Berharga Negara (SBN) tercatat stabil di tengah pengurangan 
pembelian obligasi alias tapering bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve 
(Fed).

"Dengan adanya tekanan di Amerika karena inflasi yang tinggi, maka Fed 
mengomunikasikan bahwa mereka akan lakukan tapering dan ini terlihat 
memengaruhi emerging market dan domestik," ucap Menkeu Sri Mulyani dalam 
Konferensi Pers APBN KiTa edisi Desember 2021 secara daring di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan langkah Fed tersebut menyebabkan aliran modal asing yang masuk 
ke negara emerging market menurun, termasuk ke Indonesia.

Kendati demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih tercatat stabil 
dengan koreksi yang hanya 2,3 persen per 17 Desember 2021, dibanding depresiasi 
mata uang negara lain yang cukup tinggi seperti Turki yang terkoreksi hingga 
120,6 persen dan Argentina 21,2 persen.

"Ini terjadi barangkali karena di Turki sedang terjadi krisis," kata Menkeu Sri 
Mulyani.

Namun Sri Mulyani mengatakan beberapa negara yang tidak mengalami krisis pun 
seperti Thailand dan Brazil pun mengalami penurunan mata uang yang cukup 
signifikan yakni masing-masing 11 persen dan 9,4 persen.

Suku bunga SBN Indonesia juga tercatat stabil dengan tidak adanya koreksi untuk 
surat utang tenor lima tahun, namun untuk SBN dengan jangka waktu 10 tahun 
sedikit naik 55 basis poin (bps).

Meski begitu Sri Mulyani menjelaskan suku bunga surat utang negara lain justru 
mengalami koreksi yang begitu besar, seperti Turki dengan kenaikan di atas 1000 
bps untuk tenor lima tahun dan 800 bps untuk tenor 10 tahun.

Stabilnya instrumen surat utang Pemerintah Indonesia tak lain disebabkan oleh 
semakin turunnya kepemilikan asing yang cukup tajam dari 38,5 persen pada 
Desember 2019 menjadi 19,7 persen per 16 Desember 2021.

"Ini berarti kepemilikan SBN oleh domestik lebih mendominasi dan ini 
menumbuhkan stabilitas yang cukup baik," tutur Menkeu Sri Mulyani. (E-3)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B7949C6FF5544098BE6F4ABCA68DAA4D%40A10Live.

Reply via email to