Koalisi Dini, Strategi Kepung PDIP?G69 - Wednesday, January 5, 2022 14:52
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/koalisi-dini-strategi-kepung-pdip
 
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (Foto: Liputan6.com)
6 min read

Sejumlah partai politik menyerukan pembentukan koalisi sejak dini dengan alasan 
menyatukan visi dan misi menjelang kontestasi politik tahun 2024. Lantas, 
bagaimana peluang terjadinya koalisi partai sejak dini? Apa motif sebenarnya 
dari wacana ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), serta Partai 
Golkar tampaknya sepakat untuk membentuk koalisi sejak dini. Beberapa tokoh 
dari masing-masing partainya sudah mengemukakan hal tersebut. Ketua DPP PKS 
Mardani Ali Sera menegaskan jika pihaknya tertarik untuk membentuk koalisi 
partai nasionalis-Islamis untuk Pemilu 2024.

Hal serupa juga dinyatakan oleh Wakil Ketua Umum PKB dan Golkar, yaitu Jazilul 
Fawaid dan Ahmad Doli Kurnia. Mereka menilai koalisi sudah sepatutnya dibentuk 
sejak dini agar partai-partai tersebut bisa menyatukan visi dan misi.

Satu partai lain juga mengakui pembentukan koalisi sejak dini diperlukan untuk 
membangun kesamaan visi dan misi. Seperti yang dikemukakan oleh Ketua DPP 
Partai NasDem Atang Irawan, upaya pencalonan capres sejak dini penting 
mengingat ambang batas presiden menjadi syarat mutlak harus dipenuhi.

Namun lain halnya dengan beberapa partai lain, seperti PPP dan PAN yang masih 
belum yakin untuk membentuk koalisi sejak dini. Kondisi ini memperlihatkan 
masih ada sejumlah partai yang belum sepakat terkait usulan tersebut.

Adapun hal ini tidak lepas dari isu yang berhembus kencang terkait koalisi 
antara PDIP dan Gerindra. Terlebih dengan adanya wacana atau peluang dari kedua 
partai untuk mengusung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto untuk 
bertarung di Pilpres 2024. Prediksi ini diperkuat dengan pernyataan Ketua DPP 
Partai NasDem Willy Aditya yang tidak mempersoalkan jika PDIP dan Gerindra 
sudah membicarakan koalisi untuk tahun 2024 mendatang.

Namun jika melihat realita di lapangan, strategi pembentukan koalisi partai 
bukanlah sebuah hal yang mudah. Mengingat ongkos politik yang digunakan tentu 
tidak akan sedikit atau akan memakan biaya besar. Mengacu pada buku berjudul 
The Cost of Democracy: Essay on Political Finance in Latin America karya Kevin 
Casas-Zamora dan Daniel Zovatto, ditegaskan jika partai politik membutuhkan 
uang untuk memperkuat struktur partainya.

Hal ini menegasikan faktor uang tidak bisa lepas dari aktivitas politik. Maka 
partai politik pun penuh pertimbangan jika melakukan aktivitas politik yang 
membutuhkan ongkos yang besar.

Melihat potensi keluarnya ‘ongkos politik’, maka partai politik sudah 
sepatutnya mempertimbangkan strategi politik dengan matang. Lantas bagaimana 
dengan wacana pembentukan koalisi sejak dini?  Apa sebenarnya motif dari 
beberapa partai politik tersebut?


  
Meraba Kemungkinan Koalisi
Seperti halnya perang, arena politik juga diibaratkan sebagai medan perang bagi 
para partai politik. Hal ini sesuai dengan penjelasan di sebuah jurnal berjudul 
Politics and War: Clausewitz’s Paradoxical Equation karya Thomas Waldman, yaitu 
perang merupakan sebuah wujud dari kontestasi politik. Intinya adalah alasan 
setiap terjadinya perang selalu disebabkan oleh motif politik. Berdasarkan 
perspektif inilah maka bisa ditarik kesimpulan bahwa motif politik tidak bisa 
lepas dari perang.

Demikian halnya dengan fenomena yang terjadi pada dinamika kontestasi politik 
di Indonesia. Persaingan antar partai politik untuk meraih tampuk kekuasaan 
juga diibaratkan seperti berperang antar satu dengan yang lain. Masing-masing 
partai politik berusaha untuk mengalahkan lawannya dengan menggunakan cara 
apapun termasuk beraliansi.

Dalam sebuah peperangan, aliansi memiliki peran penting dalam studi keamanan 
karena bisa mendorong terciptanya rasa aman. Maka tidak heran bila beberapa 
aktor, baik negara maupun non-negara membentuk aliansi untuk menangkal ancaman 
dari luar.

Sama halnya dalam kontestasi politik menjelang Pemilu 2024, di mana 
partai-parta politik mulai mewacanakan untuk membentuk koalisi sejak dini. 
Meski demikian, hal ini tentu akan memakan biaya yang tidak kecil karena 
politik uang masih belum bisa lepas dari dinamika politik Indonesia.

Hal ini dinyatakan dalam jurnal berjudul Politik Uang dan Dinamika Elektoral di 
Indonesia: Sebuah Kajian Awal Interaksi antara ‘Party-ID’ dan Patron Klien 
karya Burhanuddin Muhtadi. Disebutkan bahwa rezim demokrasi di negara-negara 
berkembang masih erat dengan politik uang, bahkan masih menjadi kunci 
mobilisasi elektoral.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa faktor uang masih memiliki pengaruh besar 
untuk menentukan peta politik. Maka tidak heran jika membahas perihal koalisi, 
setiap partai politik memiliki pertimbangan yang matang supaya perhitungannya 
tidak meleset. Salah satu tokoh politik sekaligus Wakil Ketua Umum Partai 
Gelora Fahri Hamzah pun menegaskan jika kekuatan finansial masih menjadi faktor 
penting untuk menentukan arah koalisi atau sosok yang akan didukung pada 
kontesasi politik.

Kemudian, sangat penting pula untuk membentuk kesamaan visi. Jika dalam 
membentuk suatu koalisi terjadi ketidaksepahaman visi dan misi, maka koalisi 
yang terbangun akan berpotensi pecah. Seperti Koalisi Merah-Putih (KMP) yang 
terbentuk ketika mengusung Prabowo-Hatta di Pilpres 2014 lalu.

Koalisi ini diisi oleh 6 partai, yaitu Gerindra, PAN, PPP, PKS, Golkar, dan PBB 
sehingga mampu mendominasi keputusan di DPR. Meski terlihat kuat, namun 
soliditas KMP akhirnya rontok karena satu per satu partai di dalamnya beralih 
dan merapat ke pemerintahan, seperti Gokar, PAN dan PPP.

Fenomena ini memperlihatkan jika dinamika politik Indonesia tidak ada yang 
permanen. Lantas, dengan kesusahan menjadi soliditas koalisi, mengapa ada 
wacana pembentukan koalisi sejak dini?

 
Strategi ‘Gertak’ PDIP?
Secara hitung-hitungan di atas kertas, saat ini partai politik yang cenderung 
berada di atas angin adalah PDIP. Beberapa hasil survei menunjukkan partai 
berlambang banteng ini masih menempati posisi teratas. Tidak hanya itu, PDIP 
juga telah melebihi ambang batas pencalonan presiden atau presidential 
threshold sebesar 20 persen. Hal ini membuat PDIP menjadi satu-satunya partai 
yang mampu mencalonkan presiden atau calon wakil presiden tanpa harus 
berkoalisi dengan partai lain.

Maka tidak heran jika peluang PDIP untuk kembali mendominasi Pemilu 2024 
mendatang bukan sekadar isapan jempol. Konteks ini mungkin dapat dibaca sebagai 
alasan, mengapa beberapa partai politik berupaya menolak ambang presidential 
threshold sebesar 20 persen, seperti PKS, PKB, dan Demokrat. Selain karena 
menciderai demokrasi, juga karena menghambat partai-partai lain untuk 
mencalonkan kandidat pilihannya di Pilpres 2024.

Melihat peta politik yang diprediksi bakal dikuasai PDIP, tidak heran jika 
beberapa partai mewacanakan untuk membentuk koalisi sejak dini. Dalam jurnal 
berjudul How to Be Sophisticated, Lie, Cheat, Bluff and Win at Politics karya 
Michael Laver, dijelaskan jika ada hubungannya antara strategi dalam 
berinteraksi dengan dinamika politik.

Adapun strategi interaksinya meliputi kecurangan, kebohongan, hingga bluffing. 
Khusus dalam fenomena wacana pembentukan koalisi sejak dini, tampaknya 
tergolong cara bluffing. Dalam jurnal yang sama, dijelaskan jika bluffing 
bertujuan untuk memanipulasi lawan hingga akhirnya lawan mengambil langkah yang 
salah. Selain itu, sebelum melakukan bluffing politik, sepatutnya dipetakan 
ancaman terlebih dahulu sehingga cara ini bisa ampuh untuk memanipulasi lawan.

Pada konteks wacana koalisi dini, mungkin dapat dikatakan itu adalah strategi 
bluffing atau gertakan politik. Tujuannya sederhana, yakni dengan melemparkan 
wacana koalisi, diharapkan PDIP terpancing untuk segera menentukan kandidat 
untuk diusung di Pilpres 2024. Jika berhasil, itu akan dimanfaatkan oleh 
berbagai pihak untuk menyerang kandidat yang diusung PDIP.

Namun sampai sejauh ini, PDIP tampaknya tidak terkena gertakan. Partai banteng 
terlihat konsisten untuk menahan diri membahas kandidat untuk 2024. Seperti 
pola-pola sebelumnya, PDIP tampaknya akan mengusung kandidat di akhir-akhir 
waktu. (G69)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B079A8B565F94F519FDC65DF02BF5857%40A10Live.

Reply via email to