Dilema Reshuffle Akhir Pemerintahan Jokowi?I76 - Friday, January 7, 2022 21:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/dilema-reshuffle-akhir-pemerintahan-jokowi
 
Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin sedang memimpin 
Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Merdeka, Jakarta. (Foto: kominfo.go.id)
6 min read

Setelah muncul survei tentang ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja menteri 
kabinet Jokowi, respons pun mulai datang dari Istana untuk lakukan kocok ulang 
atau reshuffle kabinet. Pengamat menilai Presiden tersandera antara efektivitas 
dan politik akomodasi dalam memilih menteri. Apakah di periode kedua Jokowi 
masih tersandera dengan gaya politik akomodatif?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Layaknya seorang manajer tim sepak bola, Presiden harus cermat menentukan 
pilihan strategi dan pergantian pemain untuk mendapatkan kemenangan. Terlebih 
lagi, jika kondisi pertandingan sangat tidak menguntungkan tim, pilihan 
strategi yang tepat akan membalikkan kondisi permainan. Hal serupa mungkin 
tengah dialami oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena banyak kritik yang 
menilai kinerja menteri di periode kedua tidak memuaskan.

Sebut saja hasil survei Charta Politika Indonesia yang menggambarkan kinerja 
kabinet Jokowi di periode kedua bersama Ma'ruf Amin turun ketimbang kinerja 
kabinet di periode pertama. Dalam surveinya, sebanyak 51,7 persen responden 
menilai kinerja kabinet periode 2014-2019 lebih baik. Sementara hanya 36,5 
persen melihat kinerja kabinet periode kedua lebih baik. Sisanya 11,8 persen 
tak menjawab.

Bukan hanya itu, Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, 
mengatakan bahwa mayoritas responden setuju bila Jokowi melakukan kocok ulang 
atau reshuffle kabinet saat ini. Ia mengatakan bahwa sudah cukup lama Jokowi 
belum melakukan kocok ulang kabinet. Terakhir, Jokowi melakukan reshuffle pada 
Desember 2020 lalu.

Senada dengan data survei di atas, Saiful Anam, Direktur Pusat Riset Politik 
Hukum dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), mengatakan Jokowi perlu segera 
melakukan perombakan kabinet supaya kerja pemerintahan di periode keduanya bisa 
meninggalkan bekas yang positif. Reshuffle menteri Kabinet Indonesia Maju oleh 
Presiden Jokowi masih ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Saiful Anam melanjutkan, bahwa belakangan isu reshuffle memang bergeser dari 
sekadar soal kinerja, tetapi dikaitkan dengan masuknya Partai Amanat Nasional 
(PAN) ke dalam koalisi pemerintah, yang mana dirasa akan mendapat jatah kursi 
menteri kabinet.

Jika memang ada pertimbangan politik akomodatif, maka narasi itu bisa saja 
menjadi persepsi negatif publik terhadap Jokowi karena memiliki kesan "politik 
dagang sapi" kepada barisan pendukungnya. Dalam benak publik, reshuffle 
seharusnya sebagai sebuah instrumen yang harus dijalani Presiden untuk bisa 
memperbaiki kinerja pemerintahannya yang tersisa kurang dari tiga tahun.

Lantas, apakah reshuffle tidak kunjung dilakukan Jokowi lantaran masih 
mempertimbangkan komposisi menteri bagi partai koalisi?

Baca juga: Mencari Menteri ‘M’ Reshuffle Jokowi


  
Dilema Efektivitas dan Akomodasi
Jika merujuk pada argumentasi Anam yang disinggung di atas, tentang periode 
kedua Jokowi dapat meninggalkan bekas yang positif, ini memperlihatkan, meski 
reshuffle kabinet adalah hak prerogatif presiden, namun perlu menekankan soal 
prinsip tata kelola dan efektivitas pemerintahan yang harus dijalankan. Dalam 
pandangan manajerial, pemerintahan yang efektif adalah tujuan seorang pemimpin.

Chester Barnard dalam bukunya The Functions of the Executive, menggambarkan 
sebuah teori organisasi dalam rangka merangsang orang lain untuk melihat 
perbedaan antara motif pribadi dan organisasi. Barnard menjelaskan dikotomi 
antara efektif dengan efisien. Menurut Barnard, efektivitas berkaitan dengan 
pencapaian tujuan, dan efisiensi adalah sejauh mana motif-motif individu dapat 
terpuaskan.

Jika Jokowi tidak memilih efektivitas pemerintah, maka akan mendapat respons 
yang negatif dari masyarakat. Dalam hal ini, pertukaran atau pengurangan 
menteri dari kalangan parpol dilakukan hanya untuk menjaga efisiensi yang 
bersandar pada stabilitas koalisi pemerintah.

Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, 
menyarankan agar sebaiknya Presiden melakukan reshuffle terhadap sejumlah 
menteri yang dianggap memiliki masalah terkait integritas, kapasitas, dan 
kompetensi.

Tiga hal yang disebut oleh Burhanuddin itu, semacam Key Performance Indicator 
(KPI). Dengan adanya KPI, diharapkan perombakan kabinet tidak menjadi politik 
dagang sapi.

Namun sayangnya, menurut berbagai pihak, selama ini reshuffle dinilai jadi 
ajang tawar-menawar antara beberapa partai politik dalam menyusun kabinet. Jika 
benar demikian, ini menegaskan politik akomodasi begitu kental di perpolitikan 
Indonesia.

Secara umum, politik akomodasi dapat didefinisikan sebagai sebuah strategi 
politik seorang pemimpin dalam merangkul tiap orang yang dianggap punya 
kekuatan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pemerintahan tetap 
terjaga.

Dalam konteks ini, sayangnya pemilihan menteri bukan disandarkan pada perkara 
kebutuhan, tapi semata bagi-bagi kue kekuasaan agar semua orang dan kelompok 
yang mendukungnya terpuaskan.

Jika demikian, maka dalam kasus reshuffle yang tak kunjung terjadi, mungkin 
Presiden Jokowi sedang bimbang untuk menentukan sikap antara menjaga kinerja 
pemerintahan dengan menyandarkan keputusan pergantian menteri berdasarkan 
prinsip efektivitas. Atau bisa juga, Presiden Jokowi lebih mempertimbangkan 
stabilitas politik, yaitu dengan cara mengakomodasi kepentingan partai politik 
sebagai acuan pergantian para menterinya nanti.

Namun, benarkah Presiden Jokowi tengah dilema saat ini? Atau ada alasan lain 
belum terjadinya reshuffle?

Baca juga: Ada Biden di Reshuffle Jokowi?

 
  
Kembalinya Saham Politik Jokowi
Untuk menjawab ini, kita perlu memahami terlebih dahulu, bahwa politik bukan 
hanya tentang kekuasaan tetapi juga distribusi kekuasaan. Ini merupakan 
postulat politik yang seolah digunakan oleh Jokowi saat memegang kekuasaan 
sebagai Presiden. Jokowi tidak hanya dapat merebut kekuasaan, melainkan dapat 
mendistribusikannya kepada aktor lain, sehingga politik yang dilakukan dapat 
kita tafsirkan sebagai politik distributif.

Layaknya sebuah permainan saham, pada periode pertama, saham Jokowi sudah 
didistribusikan kepada kelompok lain yang kemudian bergabung dalam koalisi, 
tentunya dengan dalih keseimbangan politik pemerintahannya. Tapi periode kedua 
ini, saham politik Jokowi tampaknya telah kembali diambil sepenuhnya.

Pada periode kedua kepemimpinannya, Jokowi terlihat lebih percaya diri. Setelah 
melewati fase krusial pertarungan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang 
membawa politik nasional ke titik krusial, situasinya saat ini terlihat mulai 
terkendali. Hal ini adalah simbol pengembalian kembali saham politik Jokowi.

Baca juga: Misteri Rabu dan Reshuffle Jokowi

Tidak hanya pada aspek hubungan dengan partai politik, aspek hubungan dengan 
militer juga mengalami perubahan. Menurut Evan A. Laksmana dalam tulisannya 
Civil-Military Relations under Jokowi: Between Military Corporate Interests and 
Presidential Handholding, di periode kedua ini, Presiden Jokowi sudah memiliki 
pengaruh dan pengalaman yang cukup untuk mengelola hubungan dengan militer.

Menurut Evan, ini kontras dengan di periode pertama. Karena belum memiliki 
pengalaman untuk mengelola hubungan dengan militer, di periode pertama mantan 
Wali Kota Solo itu mengandalkan purnawirawan berpengaruh seperti Luhut, 
Moeldoko, Wiranto, dan Hendropriyono.

Senada, Stephen Wright dalam tulisannya Indonesia: Army’s influence sparks fear 
for democracy, dengan mengutip pernyataan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional 
(Lemhanas) Agus Widjojo, menyebut Presiden Jokowi kurang percaya diri tanpa 
tentara di sisinya pada periode pertama.

Kemudian terdapat kecenderungan kepercayaan diri Presiden Jokowi di periode 
kedua didasari karena sudah tidak memiliki beban politik di periode kedua 
kepemimpinannya. Jokowi tidak terbebani untuk terpilih lagi maupun beban untuk 
mendapatkan dukungan masyarakat.

Sehingga memungkinkan Jokowi leluasa dalam mengambil keputusan sesuai dengan 
keinginannya. Hal ini menandai sebuah narasi baru dalam melihat karakter Jokowi 
dalam mengambil keputusan politik. Alih-alih akan mempertimbangkan politik 
akomodasi, seperti yang diperkirakan para pengamat, Jokowi dengan kepercayaan 
diri di periode kedua, akan merasa penting untuk menjadikan dasar  efektivitas 
dalam memilih menteri di reshuffle.

Hal ini positif, karena dengan kembalinya saham politik Jokowi, akan menjadi 
semacam upaya untuk memberikan warisan politik di masa akhir kepemimpinannya. 
Pada akhirnya, masyarakat pula yang akan mendapatkan dampak dari kinerja 
pemerintahan yang efektif. Begitu harapan kita semua. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/81CFB2989CD34915BE97F58DE994D619%40A10Live.

Reply via email to