Mengapa PDIP Usung Ganjar di DKI?R53 - Wednesday, January 12, 2022 18:40
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mengapa-pdip-usung-ganjar-di-dki
 
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (Foto: VOI.id)
7 min read

Setidaknya sejak 2019 akhir, sudah beredar wacana Ganjar Pranowo merupakan 
pengganti Joko Widodo (Jokowi) sebagai RI-1. Saat ini, ada ketegangan memanjang 
di internal PDIP karena Puan Maharani disebut-sebut yang akan diusung. Lantas, 
dengan munculnya wacana Ganjar menjadi Gubernur DKI Jakarta, apakah itu cara 
PDIP agar sang Gubernur Jawa Tengah tidak maju di 2024?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “There are no solutions; there are only trade-offs.” — Thomas Sowell, ekonom 
Amerika Serikat

Sinyal keretakan hubungan Ganjar Pranowo dengan PDIP sudah tercium baunya sejak 
Pilkada 2020 lalu, tepatnya Pemilihan Bupati (Pilbup) Purbalingga 2020. Saat 
itu, alih-alih mendukung pasangan Dyah Hayuning Pratiwi dan Sudono yang diusung 
PDIP, Ganjar justru mendukung adik iparnya, Zaini Makarim, yang menjadi wakil 
dari Muhammad Sulhan Fauzi. 

Pada 4 Desember 2020, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, 
Ujang Komarudin, juga  menyebut ada informasi bahwa Ganjar tidak mendapat restu 
dari Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Kemarin saya dapat kabar dari orang dalam PDIP, dalam satu pertemuan dengan 
Megawati dan Ganjar, di situ ada Effendi Simbolon, dan ketika Ganjar masuk, 
Effendi Simbolon mengatakan, 'ini calon Presiden kita'. Lalu, Megawati mukanya 
langsung merah. Artinya tidak berkenan dalam konteks itu," begitu tutur Ujang.

Setidaknya sejak Maret 2021, isu ketegangan ini kemudian meledak di tengah 
publik. Berbagai media menyoroti soal Ganjar yang disebut mengincar tiket 
pilpres PDIP. Seperti yang diketahui, konteksnya menjadi panas karena Puan 
Maharani disebut-sebut merupakan pilihan partai banteng untuk 2024. 

Melihat wacananya, pengusungan Puan untuk kontestasi pilpres sebenarnya sudah 
tercium sejak 2011. "Banyak kelebihan yang dimiliki Mbak Puan sehingga dia 
layak menjadi calon presiden untuk merebut posisi kepala negara," ungkap 
Sekretaris PDIP Jawa Tengah saat itu, Agustina Wilujeng, pada 5 Januari 2011 
silam.

Setelah melalui ketegangan intens di media, tensi pertarungan Ganjar vs Puan 
tampaknya mereda seiring dengan tebaran baliho sang Ketua DPR. Konteks baliho 
ini sudah dibahas rinci dalam artikel PinterPolitik sebelumnya yang berjudul 
Operasi Intelijen di Balik Baliho Puan. 

Berbagai pihak menilai bahwa baliho tersebut adalah pesan bahwasanya PDIP 
merapatkan barisan untuk mendukung Puan Maharani. Simpulan ini juga dapat 
ditarik dari sikap terbaru Wakil Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP 
Kecamatan Temanggung Fajar Nugroho yang mengembalikan bantuan Ganjar karena 
tidak ingin dijadikan objek pencitraan. 

“Ini ya seperti kemiskinan saya itu malah dibuat pencitraan, tapi kok 
embel-embelnya dengan partai," ungkap Fajar pada 12 Januari.

Nah, yang menarik adalah, baru-baru ini ada wacana dari Ketua DPP PDIP Eriko 
Sotarduga yang menyebut Ganjar bisa saja ditarik untuk Gubernur DKI Jakarta. 
Seperti yang diketahui, masa kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan 
akan berakhir pada 2022.

“Tetapi bisa saja tiba-tiba dari Jawa Tengah diberikan ke sini kan bisa saja. 
Misalnya Mas Hendi (Wali Kota Semarang), ya kan. Bisa juga Mas Ganjar, kenapa 
tidak. Kan semua tidak ada yang tertutup dalam hal itu,” ungkap Eriko.

Lantas, apakah wacana itu adalah cara PDIP untuk menutup peluang Ganjar maju 
pada tahun 2024 mendatang?


  
Uji Reaksi?
Desas-desus Ganjar maju di DKI Jakarta sebenarnya bukan kali ini terdengar. 
Pada 2016 lalu, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok disebut menawari Ganjar 
sebagai wakilnya tetapi Ganjar menolak tawaran tersebut.

Mengaitkan konteksnya dengan tiket capres, berbagai pihak kemudian menilai 
wacana yang dimunculkan Eriko adalah trade-off agar Ganjar tidak maju di 
Pilpres 2024. Menimbang seksinya posisi ibu kota, asumsi tersebut terbilang 
sangat masuk akal. 

Pasalnya, jika menjadi DKI-1, Ganjar akan semakin menjadi pusat pemberitaan. 
Simpulan ini bertolak dari buku Ross Tapsell yang berjudul Media Power in 
Indonesia. Menurutnya, dengan berkumpulnya hampir semua kantor pusat media di 
Jakarta, ini menyebabkan pemberitaan media berkiblat pada “kepentingan 
Jakarta”, yang mana ini membuat isu regional Jakarta seolah-olah menjadi isu 
nasional.

Namun, asumsi tersebut memiliki satu ganjalan besar. Dengan fakta telah 
memimpin Jawa Tengah sebagai Gubernur sebanyak dua periode, tidak mungkin 
Ganjar kemudian dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta, kecuali ada perubahan 
undang-undang. Dengan kata lain, asumsi trade-off tersebut tampaknya keliru.

Lantas, jika bukan trade-off, lalu apa? Apakah mungkin Eriko hanya mengeluarkan 
pernyataan iseng? 

Untuk menjawabnya, tampaknya kita dapat merujuk pada Thirty-Six Stratagems, 
yakni 36 strategi Tiongkok kuno yang digunakan dalam politik, perang, dan 
interaksi sipil. Dalam strategi nomor 13, disebutkan stomp the grass to scare 
the snake (打草驚蛇, Dǎ cǎo jīng shé). Artinya, kagetkan ular dengan memukul rumput 
di sekitarnya.

Strategi nomor 13 dilakukan ketika kita tidak mengetahui dengan jelas rencana 
musuh. Untuk kepentingan itu, kita perlu melakukan serangan untuk mempelajari 
reaksi musuh, di mana ini akan membongkar strateginya. Tentunya, ini bukan 
serangan penuh, melainkan lebih ke serangan gertakan.

Nah, strategi nomor 13 tampaknya sedang dilakukan oleh PDIP melalui pernyataan 
Eriko Sotarduga. Wacana Ganjar akan ditarik ke DKI dimunculkan untuk mengetahui 
reaksi sang Gubernur Jawa Tengah dan mereka yang berdiri di belakangnya. 

Jika muncul sinyal ketertarikan, itu menjadi pesan bahwa Ganjar atau para 
pendukungnya tidak 100 persen kukuh untuk Pilpres 2024. Mereka dapat mundur 
jika mendapatkan tawaran yang menarik. 

Namun, melihat tanggapan Ganjar yang menjawab singkat, “Aku ngurus Jawa Tengah 
dulu.” Tampaknya Ganjar tidak begitu tertarik dengan wacana tersebut. Jika 
tertarik, besar kemungkinan akan muncul pernyataan, “Saya mengikuti arahan 
partai atau Ibu Ketum Megawati.”  

 
  
PDIP Masih Berhitung?
Nah, di titik ini konteksnya menjadi begitu menarik. Pasalnya, jika mengacu 
pada matematika pemilu, ada kemungkinan PDIP masih menjaga kemungkinan Ganjar 
untuk maju di Pilpres 2024. Artinya, Puan belum 100 persen akan diusung.

Bagaimana mengetahuinya? Sederhana, dari pernyataan Sekretaris Jenderal 
(Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto pada 9 Januari kemarin. Dalam tanggapannya 
terhadap survei elektabilitas Ganjar, alih-alih memberi bantahan, Hasto justru 
memberi apresiasi karena itu menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat 
terhadap kader PDIP. Namun, tentunya ada catatan bahwa elektabilitas bukanlah 
faktor utama untuk mengusung kandidat.

Terlepas dari ada tidaknya catatan tersebut, pernyataan Hasto menunjukkan PDIP 
tidak berniat untuk mendepak Ganjar, meskipun menunjukkan indikasi ingin 
merebut tiket dari Puan Maharani. Bukan tanpa alasan kuat, jika PDIP mengusung 
Ganjar, dapat dikatakan 30-40 persen tugas partai sudah diselesaikan. Simpulan 
itu mengacu pada strategi pemenangan yang mengadopsi operasi penggalangan 
intelijen.

Dalam operasi penggalangan intelijen, umumnya melalui tiga tahapan utama, yaitu 
tahap infiltrasi, intensifikasi/eksploitasi, dan diakhiri tahap 
evaluasi/konsolidasi. Nah, seperti yang telah ditegaskan dalam artikel Operasi 
Intelijen di Balik Baliho Puan, tahap infiltrasi adalah tahap pengenalan 
kandidat ke hadapan publik. Tujuannya untuk mempopulerkan kandidat seluas 
mungkin dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Setelah populer, kemudian lanjut ke tahap intensifikasi/eksploitasi yang 
bertujuan untuk meningkatkan elektabilitas atau tingkat keterpilihan kandidat. 
Nah, dengan Ganjar yang memiliki elektabilitas tinggi, dapat dikatakan tugas 
PDIP sudah menyentuh tahap intensifikasi/eksploitasi. Sisanya tinggal 
meningkatkan variasi strategi kampanye, dan terakhir membangun konsolidasi 
dukungan, baik dengan partai politik maupun kelompok masyarakat.

Sebagai penutup, ada beberapa kemungkinan yang dapat dipikirkan. Pertama, PDIP 
akan mengusung Ganjar jika ia mampu menjaga elektabilitasnya tetap tinggi dalam 
satu setengah tahun ke depan. Kedua, jika PDIP ternyata memutuskan mengusung 
Puan, maka Ganjar dapat didepak jika tetap bersikeras ingin maju. 

Ketiga, jika tidak ingin mendepak Ganjar dan ingin mengusung Puan, PDIP dapat 
memberikan trade-off atau pertukaran yang tepat. Seperti pernyataan Thomas 
Sowell di awal tulisan, tidak ada solusi, yang ada hanyalah pertukaran.

Well, apa pun yang terjadi di balik pernyataan Eriko Sotarduga, yang jelas saat 
ini PDIP masih berhitung. Seperti pernyataan Direktur Eksekutif Voxpoll Center 
Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago, PDIP adalah partai rasional yang 
melihat dan membaca realitas secara objektif.

Kita lihat saja kelanjutannya. Hanya waktu yang dapat menjawab pertanyaan soal 
siapa sosok yang menjadi jagoan partai banteng untuk bertarung di Pilpres 2024. 
(R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/857FCD58A047471BBAF3CEAE5662CE7E%40A10Live.

Reply via email to