Salah endili kenapa ngantuk di bus...

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Tue., Jan. 25, 2022 at 9:09 a.m., Sunny ambon<[email protected]> 
wrote:   
Apakah menurut NU yang disebut PKB itu beraaskan ajaran sesat dan oleh sebab 
itu tidak lagi dibutuhkan? Memang dunia ini banyak sesat, kemarin saya mau beli 
sesuatu, naik bus turun di tempat yang salah, karena sudah malam gelat gulita, 
saya tersesat dijalan yang salah. hehehehehehe
On Tue, Jan 25, 2022 at 1:46 AM Chan CT <[email protected]> wrote:


NU Tidak Butuh PKB Lagi?
I76 - Monday, January 24, 2022 20:00 
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/nu-tidak-butuh-pkb-lagi Yahya Cholil 
Staquf. (Foto: Antara)
7 min read

Keinginan Gus Yahya untuk merangkul semua golongan politik disebut sebagai 
upaya menjaga jarak agar stigmatisasi NU adalah PKB tidak kental. Tapi, banyak 
pihak menduga struktur baru NU seolah ingin mereduksi PKB secara total. Lantas, 
apakah ini bukti bahwa NU tidak lagi membutuhkan PKB?

PinterPolitik.com

Seperti yang telah diketahui formasi struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 
(PBNU) periode 2022-2027 telah diumumkan. Namun, hasil struktur PBNU 
mendapatkan atensi publik yang besar, dikarenakan dalam kepengurusan yang 
dibentuk oleh Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) bersama formatur, tidak ada 
satupun orang dekat Ketua Umum PKB (Partai Kebangkitan bangsa) Abdul Muhaimin 
Iskandar (Cak Imin).

Yang menariknya, malah dalam struktur baru tersebut terdapat beberapa nama yang 
justru berasal dari berbagai partai lain. Misalkan, Nusron Wahid yang merupakan 
politisi Golkar menjadi Wakil Ketua Umum, dan Mardani H. Maming politisi PDIP 
yang menjabat Bendahara Umum PBNU.

Selain itu, ada juga Mustofa Aqil Siroj dari PPP, diberi amanah  menjadi Rais 
Syuriah PBNU. Kemudian politisi PDIP Nasyirul Falah Amru yang menjadi salah 
satu Ketua PBNU. Adapun nama yang diafiliasikan masuk sebagai kader PKB yang 
dianggap bukan bagian dari gerbong Cak Imin, seperti Khofifah Indar Parawansa 
dan  Saifullah Yusuf.

Jika kita lihat, keputusan Gus Yahya seolah menegaskan bahwa PBNU di bawah 
nahkodanya ingin memperlihatkan adanya jarak antara NU dengan PKB. Seperti yang 
kita ketahui, sejauh ini  NU dengan PKB selalu diasosiasikan sebagai entitas 
yang tidak terpisah.

Hal ini merujuk secara teoritikal, yang melihat karakteristik partai Islam dari 
dua hal, pertama asas partai dan yang kedua adalah basis massa partai. Dalam 
kategori basis massa, sejauh ini PKB dianggap berafiliasi dengan ormas Islam 
yaitu NU.

Lantas, apakah keputusan tidak mengakomodir orang dekat Cak Imin (dianggap 
sebagai  simbol PKB) di PBNU dapat ditafsirkan bahwa Gus Yahya ingin mengakhiri 
prasangka publik yang menganggap “jika NU maka PKB”?

Baca juga: Yenny Didukung Kalahkan Cak Imin?
  
Khittah Nu atau Oportunisme

Jika kita lihat sejarahnya, pasca rezim Orde baru runtuh dan berganti menjadi 
era Reformasi, peran politik NU mempunyai arah baru. Masykuri Abdilah dalam 
tulisannya NU dan Islam Politik di Era Reformasi, menjelaskan bahwa kondisi era 
Reformasi hampir mirip pada kondisi era demokrasi parlementer, terutama 
kebebasan berekspresi, yang berimplikasi pada berdirinya partai dengan berbagai 
alirannya.

Hal ini membawa akibat munculnya kembali orientasi Islam struktural dan Islam 
politik secara bersamaan, dan tanpa hambatan. Ini kemudian berkulminasi menjadi 
alasan warga NU untuk mendorong terbentuknya PKB. Kebangkitan diambil dari kata 
Nahdlatul yang berarti sama, yaitu kebangkitan.

Tapi di sisi lain, muncul juga argumentasi yang berlawanan dengan konsep bahwa 
PKB merupakan ruang politik bagi NU. Berangkat dari tesis tentang NU yang 
diangkat berdasarkan pernyataan KH Achmad Shiddiq yang menyatakan konsep NU 
kembali ke khittah, dengan mengatakan bahwa NU ada di mana-mana tetapi tidak ke 
mana-mana.

Konsep  ini ditafsirkan bahwa NU kembali Ke khittah bukan berarti netral 
melainkan independen. Independen adalah bebas memilih, tidak dipengaruhi oleh 
salah satu pihak. Sedangkan netral tidak akan mendukung pihak manapun, hanya 
sekadar menjalankan kewajiban.

Kenapa konsep ini dapat tercipta, disinyalir karena sejak NU memiliki kendaraan 
politik PKB, secara signifikan tidak ada peningkatan kualitas pengabdian pada 
umat, bahkan pada NU sendiri. Setelah hampir satu dasawarsa NU melalui PKB-nya 
dapat mencetak banyak pejabat, lembaga pendidikan dan sosial NU dinilai tidak 
bertumbuh pesat.

Selain konsolidasi politik, kegiatan jam'iyah-jam'iyah diniyah (organisasi 
keagamaan) yang sebelumnya menjadi simbol dinamika NU di daerah juga semakin 
merosot, bahkan banyak daerah yang belum memiliki kantor NU yang representatif.

Rahmi Hasyfi Febrina dalam tulisannya Nahdlatul Ulama: Bebas untuk Oportunis?, 
mengatakan bahwa bukan rahasia lagi, pencalonan kepala daerah sangat lekat 
dengan politik praktis, demi keuntungan segelintir orang dalam internal partai. 

Karena itu, tidak mengherankan bila calon yang diusung sering kali bukan 
benar-benar "orang NU" dan bahkan bukan dari PKB, melainkan siapa pun yang 
dapat "mengakses" dukungan pada pengurus dengan segala "biaya" yang harus 
dibayar.

Argumentasi yang disampaikan di atas, meyakini bahwa oportunisme yang 
ditunjukkan itu merupakan strategi agar NU agar tidak terjebak pada satu 
pilihan politik yang kemungkinan merugikan NU sendiri.

Lantas, mungkinkah faktor oportunisme menjadi satu-satunya alasan untuk 
menjelaskan fenomena tidak ikut sertanya orang dekat Cak Imin dalam 
kepengurusan PBNU yang baru ini?

Dedi Kurnia Syah, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion, mengatakan 
bahwa sebenarnya Gus Yahya bukan menjauhkan NU dari PKB, tetapi lebih pada 
upaya menjauhkan NU dari Muhaimin Iskandar.

Argumen ini wajar jika kita lihat secara kronologikal, bahwa saat pemilihan 
Ketua Umum PBNU pada Desember tahun lalu, muncul narasi yang melihat ada 
potensi konsolidasi kekuatan politik untuk menggoyang dominasi Cak Imin. Ada 
upaya untuk menghadirkan konflik lama antara Presiden Abdurrahman Wahid (Gus 
Dur) dengan Cak Imin.

Nalar dari narasi ini bermula dari pandangan bahwa Gus Yahya mempunyai 
kedekatan dengan keluarga Ciganjur, mengingat dia pernah bertugas sebagai juru 
bicara Gus Dur. Jika Gus Yahya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, ada peluang 
keluarga Ciganjur kembali masuk dalam kontestasi kepemimpinan, terutama dalam 
konteks kepemimpinan PKB.

Well, begitu rumit sebenarnya melihat konstelasi politik antara pengurus PBNU 
saat ini dengan PKB di bawah kepemimpinan Cak Imin. Banyak hal yang harus 
dibaca secara jernih, terutama sikap Gus Yahya dalam komposisi kepengurusannya. 
Lantas, ada apa di balik sikap politik Gus Yahya ini?

Baca juga: Cak Imin Ikuti Jejak Puan?
   
Inklusivitas dan Upaya Integrasi

Setidaknya terdapat dua alasan yang dapat ditafsirkan untuk melihat sikap 
politik Gus Yahya saat membuat komposisi kepengurusan PBNU yang dipimpinnya. 
Pertama, upaya menghadirkan kader NU dari berbagai partai politik selain PKB 
adalah upaya merangkul semua kepentingan politik, tentunya ini sikap inklusif 
bagi parti-partai politik lainnya.

Argumentasi ini berangkat dari sikap Gus Yahya yang menyatakan tidak boleh ada 
satu warna dalam NU. Semuanya harus bisa mendapatkan kesempatan sehingga NU 
sendiri bisa jadi semacam warna clearing house untuk menyepakati 
kepentingan-kepentingan yang berbeda.

Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, mengatakan 
setidaknya NU tidak hanya terasosiasi ke PKB, terlihat dari banyak kader partai 
ada di dalamnya, misalnya PDIP, Golkar, PKB, PPP, dan lainnya. Mungkin ini yang 
disebut Gus Yahya bahwa NU jadi rumah besar bersama semua kader yang tersebar 
di banyak partai. Sehingga NU tidak dijadikan alat kepentingan politik tertentu.

Hal ini adalah sikap moderatif sekaligus inklusif bagi partai-partai politik 
selain PKB untuk dapat kesempatan memikat hati pemilih NU yang signifikan di 
beberapa tempat di pulau Jawa. Tentunya secara bertahap dapat memperlihatkan 
politik identitas yang melekat antara NU dan PKB bukanlah sebuah keharusan 
universal yang tak berubah.

Baca juga: Cak Imin Suka Main “Bandul”?

Kedua, tidak melibatkan orang dekat Cak Imin dapat juga ditafsirkan sebagai 
bentuk strategi politik agar dibukanya ruang diplomasi untuk mendapatkan titik 
temu di antara kebuntuan kepentingan yang terjadi di masa lalu.

Hal ini dapat diumpamakan dengan strategi trial balloon, di mana  layaknya 
balon yang diletuskan di depan umum akan menyita dan sekaligus memetakan reaksi 
banyak orang. Letusan wacana akibat tafsir hasil komposisi kepengurusan baru 
PBNU Gus Yahya tidak  hanya ditujukan kepada publik, tapi juga dapat 
ditafsirkan sebagai upaya membuka ruang diplomasi politik.

Suatu narasi sengaja dilempar untuk melihat reaksi lawan politik, mengandaikan 
bahwa apakah mereka tertarik atau tidak dengan narasi yang dibentuk. Jika 
tertarik misalnya, kemungkinan lobi-lobi belakang layar akan dilakukan untuk 
mengkonsolidasikan kepentingan kedua belah pihak.

Akhirnya, kedua tafsiran dari sikap Gus Yahya yang disinggung di atas dapat 
ditafsirkan  dengan nada yang relatif positif. Pertama sebagai upaya untuk 
memperlihatkan inklusivitas NU terhadap partai politik kebanyakan. 

Yang kedua, sikap untuk membuka ruang integrasi antara PBNU dengan PKB agar 
semakin solid dan mengikis permasalahan yang pernah menghantui di masa lalu. 
Dengan demikian, ini bukan permasalahan apakah NU butuh PKB atau sebaliknya, 
tapi ini upaya menyelaraskan kepentingan internal yang lebih besar. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/69A5C765E9BA4C61B3A3917E34D701A2%40A10Live.



-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2ABZz-X70%2BR_jgyD5fTnHsi9F_bTfuyYn2UqpHNwGpDfg%40mail.gmail.com.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1513883299.1123839.1643127766604%40mail.yahoo.com.

Reply via email to