Orang Tionghoa dalam Masa Bersiap
 
Merdeka
30 Januari 2022 pukul 06.17
https://www.merdeka.com/histori/orang-tionghoa-dalam-masa-bersiap.html

Orang-orang Tionghoa saat akan mengungsi ke wilayah yang dikuasai Inggris. 
©2022 Imperial War Museum 



HISTORI | Minggu, 30 Januari 2022 05:07:00 

Reporter : Merdeka 

Merdeka.com - Ratusan orang Tionghoa menjadi korban kekacauan awal revolusi di 
Bandung. Sebagian larut dalam perjuangan membela Republik Indonesia. 

Penulis: Hendi Jo 

Deretan nisan berbentuk salib putih berbaris rapi di Pemakaman Menteng Pulo, 
Jakarta Selatan. Dijelaskan: semua meninggal pada 1945-1947, sebagai korban 
Masa Bersiap. Itu istilah orang-orang Belanda untuk zaman penuh kekacauan yang 
terjadi hampir di seluruh Jawa pada awal revolusi. Salah satu nisan itu tertera 
nama Tan Hoan Kiat, bayi yang belum genap berumur satu tahun. 

Di Bandung, hampir sebagian besar orang Tionghoa menjadi korban kekacauan awal 
revolusi. Menurut sejarawan John R.W. Smail, itu terjadi sejak awal Oktober 
1945. Ketika atmosfer revolusi mulai terbentuk secara cepat dan sporadis. 

"Seruan perang yang revolusiener yaitu 'siap!' mulai membahana (di seantero 
kota)," ungkap Smail dalam Bandung in The Early Revolution, 1945-1946. 

Orang-orang Tionghoa menjadi salah satu sasaran selain kaum Indo dan 
orang-orang Indonesia yang dianggap pro Belanda. Mereka dianggap tidak 
nasionalis dan hanya memikirkan keuntungan sendiri. Sebagai contoh, saat kaum 
pemuda nasionalis menyerukan masyarakat untuk memboikot penjualan kebutuhan 
sandang dan pangan kepada orang-orang Belanda dan Indo, orang-orang Tinghoa 
seolah tak pernah menggubris perintah tersebut. 

"Ada beberapa orang dari mereka yang bahkan terang-terangan menjadi begundalnya 
tentara Inggris dan Belanda," ungkap O.Soedarja, mantan pejuang Republik di 
Bandung. 

Akibatnya, tak jarang terjadi aksi pembunuhan terhadap orang-orang Tionghoa. 
Hampir sebagian besar lokasi pembunuhan terjadi di selatan dan wilayah 
pinggiran utara. Pada puncak kekacauan yang terjadi pada November dan Desember 
1945, kerap kali terjadi insiden penculikan, pembakaran dan penjarahan di dalam 
dan sekitar zona yang dilindungi tentara Inggris. 

Tidak ada catatan lengkap mengenai jumlah korban jiwa. Namun menurut salah satu 
estimasi resmi Sekutu pada April 1946, terdapat lebih dari 800 orang Belanda, 
Eurasia dan Tionghoa yang menjadi korban di Bandung hingga Maret 1946. 

"Sekitar 600 rumah dan toko orang Tionghoa dibakar," ungkap Smail mengutip 
laporan dari Overdijkink, Indonesische Probleem de Freiten. 

Kejadian pembakaran dan pengusiran terhadap orang-orang Tionghoa kembali 
terjadi saat penguasa militer Republik menyerukan kepada seluruh penduduk 
selatan Bandung untuk segera mengungsi ke luar kota. 

Alih-alih menuruti instruksi tersebut, orang-orang Tionghoa malah 
berbondong-bondong pergi ke utara, zona aman yang dikuasai tentara Inggris. 

Tentara dan laskar yang marah lantas membakar rumah-rumah orang Tionghoa. Dalam 
beberapa kasus, ada beberapa orang Tionghoa yang berhasil menyelamatkan tokonya 
dengan menyuap kelompok pemuda yang datang untuk membakar. Sayangnya, anarki 
terlanjur menggila: rumah dan toko mereka pun tetap dihancurkan.

Peran Orang Tionghoa dalam Kemerdekaan RI

Namun kisah orang-orang Tionghoa di Bandung tidak melulu soal cerita 
pragmatisme semata. Banyak dari kalangan mereka yang juga memilih jalan tegas 
di pihak kaum Republik. Mereka menyumbangkan perannya untuk perjuangan 
kemerdekaan. Di antaranya sebagai pemasok logistik, tenaga informan dan tenaga 
kesehatan. Salah satunya adalah Akew, pemuda Tionghoa asal Tegalega, Bandung. 

"Dia pemilik toko yang kerap melindungi pejuang-pejuang kita yang sedang 
menyelundup ke kota," ungkap Soedarja. 

Tidak hanya melindungi keselamatan para pejuang Republik, Akew juga merupakan 
pemasok utama logistik ke markas-markas pejuang di sekitar Bandung. Tak jarang 
dia pun memberikan informasi-informasi penting terkait pergerakan tentara 
Belanda di Bandung kepada para gerilyawan yang diam-diam masuk kota. 

Nasib Akew berakhir buruk. Karena pengaduan seorang tetangganya, dia kemudian 
diciduk oleh serdadu Belanda dan tak pernah diketahui keberadaannya hingga 
kini. Informasi yang didapat Soedarja, Akew dibuang ke Nusakambangan dan 
meninggal sebagai tawanan Republik di pulau dekat Cilacap itu. 

Soedarja pun mengenal seorang petugas perempuan Palang Merah bernama Oting (Oey 
Tiong Li). Gadis peranakan Tionghoa itu terbilang aktif merawat dan mengobati 
para pejuang yang terluka di front Padalarang. 

"Seingat saya dia tergabung dengan lasykar KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia 
Soelawesi)," ujar lelaki yang lahir pada 1924 itu. 


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/AB0E891ACD1345D2AA8437F3704C95FF%40A10Live.

Reply via email to