Indonesia Butuh Ridwan Kamil di 2024?S13 - Monday, February 7, 2022 17:50
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/indonesia-butuh-ridwan-kamil-di-2024
 
Ridwan Kamil (Foto: PinterPolitik)
6 min read

Nama Ridwan Kamil menjadi salah satu figur publik paling dibicarakan di tingkat 
nasional. Memimpin Jawa Barat yang populasinya hampir 50 juta jiwa memang 
membuat Kang Emil – demikian ia kerap disapa – menjadi sosok yang 
diperhitungkan untuk maju di Pilpres 2024 berkat kinerja dan popularitasnya. 
Namun, modal mantan Wali Kota Bandung tersebut sesungguhnya terletak pada 
background-nya sebagai arsitek dan cara berpikir penyelesaian masalah yang ia 
aplikasikan ketika memimpin. Akankah ini bisa mengantarkan Emil jadi yang 
terdepan di 2024?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  "The water is your friend...you don't have to fight with water, just share 
the same spirit as the water, and it will help you move."

  ::Alexander Popov, perenang Rusia – perenang sprint terbaik sepanjang 
sejarah::

Presiden ke-3 Amerika Serikat (AS), Thomas Jefferson, adalah salah satu 
founding fathers negeri Paman Sam yang punya andil besar menentukan arah negara 
tersebut. Jefferson adalah salah satu dari panitia yang merumuskan Declaration 
of Independence – dokumen yang menjadi awal lepasnya 13 koloni Inggris di 
Amerika Utara dari Kerajaan Inggris. Kontribusi Jefferson terhadap dokumen ini 
demikian besar, sehingga beberapa sumber bahkan menyebutnya sebagai sosok yang 
literary menulis dokumen tersebut alias menjadi pengarangnya.

Jefferson kemudian terpilih menjadi Presiden AS ketika Perang Napoleonic 
(1803-1815) sedang memuncak di Eropa dan ia berusaha agar AS tak ikut terlibat 
dalam kekacauan tersebut. Ia jugalah yang disebut sebagai tonggak awal AS 
sebagai negara modern digariskan, utamanya ketika mengemukakan pentingnya 
negara dan agama dipisahkan.

Pandangan tersebut bukan tanpa alasan, kekacauan yang timbul di Eropa selama 
berabad-abad tidak lepas dari tumpang tindihnya kuasa agama dan negara. 
Hasilnya? Well, kini AS adalah negara yang kita lihat saat ini dengan segala 
kebesarannya.

Namun, terlepas dari semua pandangan dan kebijakan yang pernah dibuatnya, salah 
satu hal yang menarik dari Jefferson – yang mungkin relevan untuk kita kaitkan 
dengan topik kali ini – adalah latar belakangnya yang juga adalah seorang 
arsitek. Yes, Thomas Jefferson adalah seorang arsitek yang desain-desainnya 
menandai era awal AS. Beberapa contoh bangunan yang ia desain adalah yang kini 
ada di University of Virginia.

Baca juga: Mencari "Jalan Ketiga" Ridwan Kamil

Nah, konteks background arsitek inilah yang menarik untuk kita lihat pada diri 
tokoh yang kini tengah populer juga di Indonesia, yakni Gubernur Jawa Barat 
Ridwan Kamil. Sudah jadi rahasia umum, Kang Emil adalah seorang arsitek dan 
pengusaha yang memutuskan banting setir masuk ke dunia politik. Kini namanya 
masuk dalam jajaran teratas kandidat yang punya peluang untuk maju di Pilpres 
2024.

 
Pertanyaannya adalah akan seperti apa peruntungan Emil? Akankah ia menjadi 
cerita sukses lain tokoh arsitek di panggung politik? Lalu, seberapa signifikan 
sebenarnya pengaruh dunia arsitek dalam kepemimpinan seseorang dalam politik?



Indonesia Butuh Pemimpin Arsitek
Dalam perbincangannya bersama PinterPolitik beberapa waktu lalu, Kang Emil 
menyebutkan alasan utama ia masuk ke politik adalah karena “kemarahannya” pada 
tata kelola kota dan kebijakan publik – saat itu di Bandung – yang menurutnya 
jauh dari baik. Ia menyebutkan bahwa sebagai arsitek yang membuat rancang 
bangun di banyak kota di luar negeri, ia merasa terpanggil untuk membenahi 
banyak hal dalam tata kelola Bandung. Itulah yang menjadi titik awal 
keterlibatannya dalam politik pemerintahan.

Setelah sukses di Bandung, ia kemudian maju dan bertarung di Pilgub Jawa Barat 
dan berhasil memenangkannya. Lalu, dari perbincangan bersama PinterPolitik itu, 
Kang Emil juga berbagi soal bagaimana cara berpikir dan background-nya sebagai 
arsitek mempengaruhi cara pengambilan kebijakan dan mencari solusi atas 
persoalan. Ia menyebutkan pola pikir mencari solusi yang umumnya menjadi 
keseharian arsitek mempengaruhinya mengambil kebijakan dan 
keputusan-keputusannya ketika memimpin.

Pendekatan melihat arsitektural dalam kacamata hidup sehari-hari ini – termasuk 
dalam konteks pembuatan kebijakan publik dan politik – sebetulnya sesuai dengan 
pemikiran filsuf Prancis, Henri Lefebvre. Lefebvre dikenal sebagai sosiolog dan 
pemikir arsitektural yang memang melihat cara pikir arsitektur dalam kehidupan 
keseharian – termasuk bagaimana pembangunan kota atau bahkan negara secara 
keseluruhan harus diletakan dalam konteks gerak masyarakat industrial modern 
yang hanyut dalam ekonomi kapitalistik.

Artinya, pembangunan, kepemimpinan politik, kebijakan publik dan lain 
sebagainya, harus diletakkan dalam rangka melayani masyarakat, terutama 
masyarakat kelas bawah. Bangunan ataupun fasilitas-fasilitas umum atau 
kebijakan tata kelola pemerintahan harus melayani kepentingan bersama 
masyarakat.

Di titik ini memang konteks kepemimpinan politik kemudian menjadi sangat 
penting. Pasalnya, politik sudah seharusnya diletakkan dalam posisi sebagai 
jalan menuju terwujudnya kesejahteraan masyarakat banyak. Dari sudut pandang 
itu, kacamata arsitektur jelas memampukan siapapun yang terpilih menjadi 
pemimpin, akan menempatkan kebahagiaan masyarakat sebagai hal yang mendasar 
untuk dipenuhi.

Inilah yang membuat sosok seperti Kang Emil menjadi figur yang punya narasi dan 
kapasitas yang memadai untuk menjadi pemimpin Indonesia selanjutnya. Bukan 
hanya karena kemampuannya yang mampu mengikuti semangat zaman alias kekinian – 
well, pemimpin mana lagi yang bisa setara ikut trend yang sedang berkembang 
dibandingkan dengan yang Kang Emil lakukan – tetapi juga karena cara berpikir 
arsitektural yang bisa diaplikasikan dalam kebijakan-kebijakan publik untuk 
mencari solusi dan menyentuh masyarakat bawah.

Karena dunia arsitektur juga banyak menyinggung bagian per bagian struktur dan 
desain dari sebuah rancang bangun, maka cara berpikir ini memang akan sesuai 
dengan konsep problem solving misalnya dalam pemikiran A. Newell dan H. Simon 
soal relasi metode dan tujuan yang ingin dicapai. Ini juga akan sesuai dengan 
pemikiran psikolog Austro-Hungaria, Max Wertheimer, soal relasi antar bagian 
dalam mencari solusi permasalahan.

Dari sudut pandang itu, jelas cukup ideal jika menempatkan Kang Emil sebagai 
calon yang akan maju pada Pilpres mendatang. Secara kapasitas ia jelas memenuhi 
unsur ideal seorang pemimpin.

 
Dalam konteks politik Indonesia, Kang Emil juga memenuhi rumusan Nasain: 
nasionalis, agamais dan insan bisnis. Ia jelas sosok nasionalis – menyebut 
dirinya mengidolakan Soekarno. Ia juga mengaku pernah belajar di pesantren – 
tentu membuatnya memegang prinsip-prinsip agama. Dan berbekal pengalamn di 
dunia bisnis, Kang Emil jelas memahami seluk beluk gerak ekonomi negara.

Persoalannya adalah apakah semua modal itu cukup?



Partai Politik: Ganjalan Terbesar Kang Emil
Bisa dibilang ganjalan terbesar Kang Emil adalah dukungan partai politik. Dalam 
wawancaranya dengan PinterPolitik dalam program Cross Section pada Agustus 2020 
lalu, Kang Emil bisa dibilang adalah salah satu sosok yang cukup idealis. Kala 
itu ia menyebut masih nyaman menjadi “sosok independen” – yang artinya belum 
terikat partai politik.

Namun, setelah setahun lebih berlalu, agaknya konteks keterikatan dengan partai 
politik ini perlu menjadi catatan tersendiri bagi Kang Emil. Pasalnya, bukan 
rahasia lagi bahwa parpol menjadi kunci utama politik di Indonesia, utamanya 
jika ingin maju menjadi presiden.

Baca juga: Mungkinkah Ridwan Kamil Pimpin IKN?

Tanpa dukungan partai, niscaya sulit untuk bisa bersaing dan memenangkan 
pertarungan politik. Konteks dukungan partai politik ini juga akan menentukan 
akan seperti apa perjalan politik Kang Emil di masa yang akan datang.

Dalam konteks itu, mungkin Kang Emil perlu belajar dari Presiden Joko Widodo. 
Sama-sama punya garis karier politik yang berangkat dari wali kota, Jokowi 
berani pragmatis dan mendekatkan diri ke partai politik. Kebetulan, partai yang 
didekati adalah PDIP yang adalah partai besar, sehingga jalan perjuangan Jokowi 
menjadi mulus.

Jika mampu menemukan jalan yang demikian, maka mimpi mengulang kisah Thomas 
Jefferson bukan tidak mungkin akan terwujud. Dengan segudang tantangan 
pembangunan Indonesia ke depannya, visi dan cara berpikir Kang Emil cocok untuk 
kepemimpinan Indonesia. Tinggal langkah awal apa yang akan dilakukan untuk 
mendekat ke partai politik.

Sebab, seperti kata Alexander Popov di awal tulisan: “…you just share the same 
spirit with the water”. And yes, it will help you move forward. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/816C38613F5A4093865844D99E033734%40A10Live.

Reply via email to