https://www.disway.id/r/5314/benci-ras#.YgwY_Nx_y38
Rabu 16 February 2022

Benci Ras
Oleh : Dahlan Iskan

WANITA lagi. New York lagi. Pembunuhan lagi.

Pokoknya orang keturunan Asia kini merasa tidak tenang di Amerika Serikat. Kian 
lama kian tidak aman. Setahun terakhir setiap satu dari lima orang mengalami 
kejadian akibat kebencian ras.

Korban terakhir: Christina Yuna Lee. Kejadiannya menjelang subuh hari Minggu 
lalu. Pagi buta itu, pukul 04.30 dia baru pulang. Sendirian. Naik taksi.

Rumah Lee di sebuah apartemen di China Town, Manhattan, New York. Yakni di 
depan taman Roosevelt yang panjang itu. Yang kalau hari Minggu penuh dengan 
pengunjung Tionghoa. Banyak juga yang main musik klasik Tiongkok di sana. 
Menyanyi. Menari. Dan segala macam atraksi kebudayaan Tionghoa.

Lee, 35 tahun, tinggal di lantai 6 apartemen itu. Belum lama di situ. Baru 
setahun terakhir. Yakni sejak dia pindah dari New Jersey ke New York. Dia 
berhenti bekerja sebagai profesional creative di platform musik digital di Jew 
Jersey. Empat tahun dia bekerja di situ –sejak lulus kuliah di Rutgers 
University. Itulah universitas tertua kedua di negara bagian tetangga New York 
itu: didirikan tahun 1766.

Lee keturunan Korea. Yang di Amerika sering dianggap sama saja dengan dari 
Tiongkok. Bahkan pernah ada orang asal India dibunuh di Texas dikira dari 
Tiongkok.

Kalangan tertentu di Amerika menganggap semua orang asal Asia sebagai asal 
Tiongkok.

Peristiwanya sendiri Anda sudah tahu: subuh itu Lee turun dari taksi. Dia 
langsung menuju pintu masuk apartemen. Dia buka pintu itu dengan kartu akses 
miliknyi. Semua penghuni apartemen punya kartu seperti itu.

Lee tidak memperhatikan keadaan. Dia tidak tahu kalau ada orang yang 
menguntitnyi. Begitu membuka pintu Lee langsung naik tangga apartemen. Dia 
tidak menutup pintu itu –otomatis akan menutup sendiri. Mengunci sendiri.

Sebelum pintu itu menutup, seseorang menahan pintu itu. Ia menyelinap. Ia ikut 
naik tangga ke lantai 1 ketika Lee sudah belok naik ke lantai dua. Ia pun mulai 
naik ke lantai 2 ketika Lee sudah membelok naik ke lantai 3. Dan seterusnya: ia 
ikut naik ke lantai 6 ketika Lee sudah terlihat membuka pintu kamar 
apartemennyi.

Sekali lagi terjadi: Lee tidak menutup pintu kamarnya –yang memang akan menutup 
sendiri secara otomatis.

Sebelum pintu itu menutup dengan sempurna, Si Penguntit menahan pintu itu. Ia 
pun memasuki kamar Lee: menyerang wanita sendirian itu.

Rupanya terjadi perlawanan. Si Penguntit terluka sedikit di badan, tangan, dan 
pundak. Lee sendiri tewas. Dengan luka sekitar 40 tusukan.

Mayatnya ditemukan polisi di bak mandi. Ceceran darah di mana-mana. Lee 
terlihat telanjang di bagian pinggang ke atas. Rupanya dia sudah copot atasan 
untuk mandi.

Kelak akan diketahui, siapa yang mengambil pisau dapur di apartemen itu. Apakah 
Lee? Dengan maksud sebagai senjata untuk melawan? Atau Si Penguntit? Yang 
menggunakannya untuk membunuh Lee?

Yang jelas Si Penguntit bingung setelah itu. Ia bermaksud lari lewat pintu 
darurat kebakaran. Tapi sirine polisi terdengar mendekat. 

Tetangga di seberang kamar Lee memang menelepon 911. Ia memang mendengar ada 
teriakan minta tolong dari kamar Lee. Teriakan itu seperti yang sering ia 
dengar di film-film: "Tolong, tolong, telepon ke 911".  

Polisi pun datang. Si Penguntit bergegas balik badan. Ia putuskan untuk kembali 
ke kamar Lee. Lalu mengunci pintu dari dalam. Ditambah barikade seadanya.

Ketika polisi mengetuk pintu kamar Lee itu ada jawaban dari dalam. "Saya tidak 
memerlukan pertolongan polisi," ujar suara dari dalam –seperti suara yang 
dicewek-cewekkan.

Satu jam kemudian, polisi mendobrak pintu kamar Lee. Tidak ditemukan ada orang. 
Polisi menemukan tubuh mati Lee yang tergeletak di bak mandi. Polisi belum bisa 
menyimpulkan mengapa bagian atas Lee telanjang. Apakah Lee sudah siap mandi? 
Atau Si Penguntit yang mencopotnya? Untuk apa? Akan dipotong-potong di bak 
mandi?

Kamar itu sepi. Tapi polisi yakin masih ada orang di dalamnya. Penggeledahan 
pun dilakukan. Ketemu: Si Penguntit bersembunyi di bawah tempat tidur.

Namanya: Assamad Nash.

Umur: 25 tahun. 

Ras: kulit hitam.

Kamera yang merekam semua lantai di apartemen itu bisa menjelaskan banyak. 
Terutama bagaimana Nash menguntit Lee sejak turun dari taksi. Tanpa sedikit pun 
Lee menyadari ada yang menguntitnya.

New York pun kembali heboh.

Ini mengingatkan orang pada peristiwa persis sebulan lalu. Yakni ketika seorang 
wanita keturunan Tionghoa didorong jatuh ke rel kereta bawah tanah. Tubuhnya 
langsung disambar kereta yang lewat di detik itu.

Nama wanita itu: Michelle Alyssa Go.

Umur: 45 tahun.

Dia bekerja di perusahaan keuangan. Hari itu, pukul 9.45, Michelle ke stasiun 
bawah tanah di dekat Times Square. Dia berdiri di pinggir platform menunggu 
kereta jurusan kantornyi tiba. Sambil menunggu itu dia sibuk dengan HP-nya. 
Matanya terus menunduk: asyik menatap ke layar handphone. Tiba-tiba seorang 
laki-laki kulit hitam mendekat di belakangnya: mendorongnya.

Semua itu terekam di kamera stasiun. Termasuk ketika si lelaki sebenarnya akan 
menyasar wanita lain. Gagal. Si Wanita Lain waspada. Dia menjauh dari laki-laki 
itu.

Nama Si Pendorong segera diketahui: Martial Simon.

Umur: 61 tahun.

New York pun heboh.

Tahun lalu, seorang lelaki Tionghoa tua juga jadi korban. Saat itu ia lagi 
mengumpulkan kaleng-kaleng bekas minuman di China Town. Ia dipukuli orang. 
Beberapa waktu kemudian meninggal akibat luka-lukanya.

Baik Nash maupun Simon, sama-sama ditangkap. Mereka sama-sama gelandangan. 
Sama-sama punya gangguan jiwa. Bahkan sama-sama residivis.

Ketika melakukan kejahatan itu, keduanya juga sudah dalam status tersangka: 
untuk kejahatan lain. Bukan pula hanya sekali. Berkali-kali.

Tapi, orang seperti Nash, tidak pernah ditahan. Ia boleh bebas dengan jaminan. 
Bulan depan, harusnya, Nash diadili untuk kejahatan sebelumnya.

Menurut catatan polisi, kejahatan dengan motif kebencian ras naik lebih 300 
persen setahun terakhir. Sasarannya: keturunan Asia. Atau keturunan pulau-pulau 
di Pacific.

"Cukup. Sudah cukup," teriak aktivis anti kebencian ras. "Semua ini akibat 
penjahat dibiarkan tidak dihukum".

Maka nama Jaksa Distrik New York yang baru kembali jadi sorotan: Alvin Bragg. 
Ia yang membuat kebijakan agar penjahat-penjahat kecil tidak dihukum (baca 
Disway: Sesal Istri - Disway).

Kebencian atas ras Asia itu meningkat sejak Presiden Donald Trump punya 
kebijakan anti imigran. Lalu naik lagi ketika Covid-19 melanda Amerika. Banyak 
yang berpendapat pandemi itu merupakan dosa Tiongkok. Bahkan muncul kesan: 
semua orang Asia membawa virus di badan mereka.

Trump sudah lama diganti Joe Biden. Kejahatan kebencian ras ternyata tidak juga 
surut.

Banyak hal, kalau sudah naik, rupanya sulit untuk diharapkan turun. (Dahlan 
Iskan)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/04DEAA760E7F4B91B9EAEC168C270301%40A10Live.

Reply via email to