Agaknya masih aktual  nii, karena hingga kini partai-partai belum
menyatakan bahwa tidak perlu ada negara berazaskan agama. Dengan
diberlakukan ekonomi syariah, bank syariah etc jurusannya ke mana?

On Tue, Feb 15, 2022 at 2:48 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Narasi Negara Islam, Masih Layak?
> *I76 * <https://www.pinterpolitik.com/author/i76>*- Tuesday, February 15,
> 2022 8:00*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/narasi-negara-islam-masih-layak
> *Spanduk NII Ganti Presiden 2019 di Serang (Foto: detik.com
> <http://detik.com>)*
>
> *7 min read*
>
> *Polemik tentang **negara **Islam sebagai alternatif bentuk pemerintahaan
> ideal, selalu punya cerita da**r**i setiap fase sejarah politik di
> Indonesia. Kisah tentang Kartosuwiryo yang berbeda pandangan dengan *
> *Sukarno **menjadi cerita menarik simbol benturan konsep negara dalam *
> *politik **di indonesia. Lantas, **apakah** narasi **negara **Islam **masih
> belum usang**?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <http://www.pinterpolitik.com/>
>
> Meskipun saat ini Pancasila telah disepakati secara bersama sebagai
> ideologi negara,  cita-cita pendirian negara Islam tidak pernah sepenuhnya
> mati dari narasi politik di Indonesia, setidaknya hingga saat ini.
>
> Impian akan negara Islam jika dilihat dalam perkembangannya pun selalu
> sulit diterima oleh masyarakat Muslim itu sendiri. Meski menjadi mayoritas,
> umat Islam tidak pernah mendukung secara dominan ambisi setiap kelompok
> yang ingin mendirikan negara Islam.
>
> Jika dirunut dari sejarah, gerakan negara Islam tidak diberi tempat oleh
> kolonialisme Belanda, gagal bersaing dengan kelompok nasionalis dan Islam
> tradisional yang mendapat dukungan mayoritas pemilih di masa Orde Lama,
> hingga diberangus oleh rezim Orde Baru.
>
> Ahmet T. Kuru dalam bukunya *Islam, Authoritarianism, and
> Underdevelopment*, mengatakan doktrin tentang negara Islam sebenarnya
> berangkat dari kekeliruan tentang pemahaman hadis yang menyebut bahwa agama
> dan negara adalah saudara kembar, keduanya saling membutuhkan agar dapat
> berkembang, agama merupakan dasar  sedangkan negara adalah penjaganya.
>
> Kuru memberikan penjelasan bahwa tafsir tentang perkataan yang disinggung
> di atas bukanlah frasa hadis melainkan pepatah Sasaniyah, pepatah kuno yang
> telah berkembang lama di negeri Persia. Menurutnya, inilah awal kekeliruan
> besar tentang pembuatan negara Islam.
>
> Impian pembentukan negara Islam, meski keliru sejak dari awal
> kemunculannya, tapi selalu ada dan berusaha untuk mewujudkannya. Ada yang
> berubah menjadi ormas, dan tak menolak kenyataan politik mutakhir, namun
> tetap dengan agenda yang sama. Lainnya, menjadi partai politik dan
> “menyesuaikan” dengan keberadaan Pancasila.
>
> Tentu pertanyaannya, mengapa impian negara Islam tidak pernah terwujud,
> dan bahkan ditolak oleh kelompok atau masyarakat Islam lainnya yang
> mayoritas. Lantas, seperti apa akar sejarah gerakan ini, saat partai Islam
> terbesar di masa Orde Lama, yaitu Masyumi juga pernah diisukan lekat dengan
> pendirian negara Islam, dikarenakan adanya tokoh Kartosuwiryo di dalamnya?
>
> *Baca juga:* *Wiranto, Prahara Negara Islam Indonesia
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/wiranto-prahara-negara-islam-indonesia>*
>   *Kartosuwiryo dan Masyumi*
>
> Kartosuwiryo merupakan tokoh Islam Indonesia yang menginspirasi aksi
> kekerasan dan terorisme berlatar belakang agama. Dalam sejarahnya, dia
> dicatat sebagai tokoh di balik gerakan Darul Islam (DI) yang merupakan
> gerakan politik yang bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia (NII).
> Gerakan ini mempunyai pasukan yang disebut Tentara Islam Indonesia (TII),
> sehingga biasa disebut dengan DI/TII.
>
> C. Van Dijk dalam bukunya *Rebellion Under The Banner of Islam: The Darul
> Islam in Indonesia*, mengatakan Kartosuwiryo mengenyam pendidikan
> kedokteran di *Nederlandsch-Indische Artsen School* (NIAS), tapi tidak
> selesai karena alasan ingin mengikuti aktivitas politik. Ia kemudian pergi
> ke rumah Tjokroaminoto di Surabaya, saat itu menjadi kota pusat pergerakan
> kaum nasionalis.
>
> Menurut Van Dijk, meskipun Kartosuwiryo tiba di Surabaya dua tahun setelah
> kepergian Sukarno ke Bandung, pengalaman politik yang diperoleh
> Kartosuwiryo di sana banyak kemiripan dengan Sukarno. Jika Sukarno pernah
> tinggal di rumah itu pada periode 1916-1921. Kartosuwiryo tiba di Surabaya
> dua tahun setelahnya, 1923.
>
> Kartosuwiryo dan Soekarno satu perguruan dari pemimpin Sarekat Islam (SI),
> Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Keduanya tinggal di rumah yang sama dan
> memperoleh pengalaman perdana ilmu berpolitik dari guru yang sama pula.
>
> Bedanya, Sukarno sempat dekat dengan Tjokroaminoto, tapi kemudian
> hubungannya makin terasing setelah bapak proklamator itu pindah. Saat di
> Bandung, Sukarno bersama Tjipto Mangunkusumo dan sejumlah aktivis
> mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).
>
> Sementara itu, Kartosuwiryo dekat dengan Tjokroaminoto dan patuh terhadap
> kebijakannya. Sampai-sampai Kartosuwiryo sempat menjadi sekretaris pribadi
> Tjokroaminoto. Seperti yang banyak diketahui, Tjokroaminoto dikenal sebagai
> sosok karismatik dengan pemikiran yang sangat fleksibel. Ia mampu menyerap
> kombinasi ide-ide Islam, nasionalis, dan sosialis.
>
> Rumahnya menjadi tempat para aktivis pergerakan anti-Belanda berkumpul,
> termasuk Alimin dan Muso, pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) di
> kemudian hari. Sikap radikal Kartosuwiryo makin mengkristal setelah
> Tjokroaminoto meninggal (1934). Melalui Sarekat Islam yang telah berubah
> menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), Kartosuwiryo
> mempropagandakan konsep jihad terhadap Belanda.
>
> Pada 7 Agustus 1949, Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia
> (NII) di Cilugagar, Tasikmalaya. Melalui DI/TII Kartosuwiryo menggencarkan
> pemberontakan dengan tujuan mendirikan negara Islam di sejumlah daerah
> seperti di Jawa Barat.
>
> Pemberontakan ini juga didukung oleh Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan
> pada 20 Januari 1952, Abu Daud Beureuh di Aceh pada 21 September 1953, Ibnu
> Hajar dari Kalimantan Barat, dan Amir Fatah dari Jawa Tengah. Pemberontakan
> ini sempat menguras banyak tenaga ABRI (Angkatan Bersenjata Republik
> Indonesia), cikal bakal TNI saat ini.
>
> Namun gerakan DI/TII dan lainnya berangsur melemah karena berkurangnya
> pasokan logistik, pendanaan, dan minim dukungan. DI/TII selesai setelah
> Kartosuwiryo ditangkap pada 1962, dan itu adalah akhir dari gerakan DI/TII
> yang digagasnya dalam pentas politik di Indonesia.
>
> Dari catatan Rendy Adiwilaga dalam Jurnal Wacana Politik Vol. 2 terbitan
> tahun 2017, disebutkan bahwa Mohammad Natsir yang mempunyai ideologi yang
> sama dengan Kartosuwiryo membentuk Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII).
> Bahkan mereka sempat aktif di Masyumi, partai Islam terbesar saat itu.
>
> Masyumi adalah fusi partai Islam pertama, jauh sebelum adanya PPP (Partai
> Persatuan Pembangunan). Masyumi adalah organisasi induk berbagai organisasi
> Islam, mulai dari organisasi tertua seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah,
> NU, Persis, dan sebagainya.
>
> Tapi di kemudian hari muncul isu tentang keterlibatan Masyumi terhadap
> pemberontakan DI/TII. Tentunya isu ini tidak lepas dari kedekatan antara
> Natsir dengan Kartosuwiryo yang keduanya bersama mendirikan DDII.
>
> Henri Isnaeni dalam tulisannya *Sikap Masyumi Terhadap DI/TII*,
> menggambarkan gerakan partai Islam seperti Masyumi akhirnya mengambil jarak
> dengan gerakan pendirian negara Islam. Masyumi mengecam segala gerakan
> separatis, dan menyatakan tidak terikat dengan DI/TII.
>
> Perdebatan antara Masyumi dengan DI/TII mempunyai sejarah panjang yang
> masih banyak belum disingkap. Salah satu contohnya adalah resolusi politik
> yang dikeluarkan oleh Masyumi atas penolakannya terhadap  gerakan DI/TII
>
> Beda cara, Natsir tidak menggunakan aksi kekerasan tapi lebih menggunakan
> metode *tarbiyah *(pendidikan) untuk mendapatkan dukungan dalam
> mendirikan konsep negara Islam yang diyakininya sebagai kekuatan politik
> esensial umat Islam.
>
> DDII yang digagas Natsir, kemudian hari mendapatkan simpati dari mahasiswa
> dan menjadi lembaga alternatif dalam membentuk masyarakat yang Islami.
> Lembaga ini kemudian menginisiasi lahirnya KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa
> Muslim Indonesia) dan membangun Partai Keadilan di era Reformasi, partai
> yang menjadi cikal bakal PKS (Partai Keadilan Sejahtera).
>
> *Well*, sejarah perjalanan dari perjuangan Kartosuwiryo dalam mendirikan
> negara Islam dengan cara kekerasan rupanya ditolak secara alami oleh banyak
> pihak. Bahkan di sisi lain, Natsir yang punya cita-cita yang kurang lebih
> sama, juga memilih metode lain untuk menghadirkan nilai-nilai Islam secara
> kompromistis dalam bingkai kebangsaan.
>
> Lantas, seperti apa melihat dua hal ini, di satu sisi nilai keindonesiaan
> sebagai bingkai kebangsaan, dan sisi lain Islam sebagai nilai keagamaan?
> Apakah kedua identitas tersebut sulit untuk menyatu?
>
> *Baca juga:* *Mungkinkah Negara Islam di Bawah Prabowo?
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mungkinkah-negara-islam-di-bawah-prabowo>*
>   *Islam-Nasionalis, Satu Identitas*
>
> Yusuf R. Yanuri dalam tulisannya *Meneguhkan Visi Baru Islam di Indonesia*,
> mengatakan, jika Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika, maka
> Islam memiliki surah Al-Hujurat ayat 13. Ayat tersebut dengan begitu tegas
> membenarkan prinsip kebhinekaan bahwa Tuhan menciptakan manusia berbeda
> suku, ras, bangsa, hingga keyakinan agar manusia saling mengenal dan
> memahami.
>
> Kita hendaknya belajar dari sebagian negara mayoritas Muslim yang gagal
> menjadi sebuah negara. Secara umum, salah satu faktor terpenting yang
> membuat sebuah negara menjadi negara gagal adalah tidak adanya persatuan di
> tengah-tengah masyarakat. Harga yang harus dibayar dari sebuah konflik
> begitu mahal hingga menyebabkan sebuah negara menjadi negara gagal.
>
> Oleh karenanya, jika Indonesia tidak mau masuk ke jurang kegagalan,
> masyarakat Indonesia harus kembali meneguhkan komitmen persatuan. Di saat
> yang sama, umat Islam di Indonesia sebagai mayoritas juga harus meneguhkan
> komitmen persatuan.
>
> Bahkan sejak kemunculannya, Islam dan nasionalisme merupakan satu induk
> yang menyatu dalam satu helaan nafas perjuangan. Tidak ada pendikotomian
> antara keduanya, dikarenakan merasa bahwa terdapat nilai yang lebih tinggi
> dibandingkan identitas belaka.
>
> Anton Timur Djaelani dalam bukunya *Sarekat Islam dan Gerakan
> Nasionalisme di Indonesia,* menjelaskan bahwa gerakan Sarekat Islam sejak
> awal didirikan mengemban misi pembebasan masyarakat pribumi dari
> penjajahan. Hal ini menerangkan nasionalisme yang berada dalam doktrin
> perjuangan Sarekat Islam itu sendiri.
>
> Konsep Nasionalisme yang tertanam di Indonesia sebenarnya bukan konsep
> yang tunggal, tapi memiliki dimensi lain yaitu dimensi *multiple identity*.
> Hanya saja narasi politik seolah mendikotomikan konsep seperti itu.
> Artinya, jika memilih Islam, maka secara sekaligus memilih menjadi seorang
> nasionalis, begitu pula sebaliknya.
>
> Filsuf Amartya Sen menyebut konsep ini sebagai  *plurality i**dentity*
> atau identitas majemuk, di mana sebagai seseorang dalam sebuah masyarakat
> yang kompleks tidak hanya mempunyai satu identitas. Dalam dirinya terdapat
> kemajemukan identitas yang berlapis dan kesemuannya menyatu dalam dirinya.
>
> Pada akhirnya, dalam pendekatan ini kita dapat melihat adanya identitas
> yang berlapis, dapat dijadikan perspektif baru ketika membenturkan antara
> identitas  Islam di satu sisi dengan identitas nasionalis di sisi lainnya.
> Keduanya bisa saling bertautan satu dengan lainnya, termasuk dalam ideologi
> politik dan juga perjuangan akan ide tersebut. (I76)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DFEC9AFFE8BA4773808EB8C50E65B04E%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DFEC9AFFE8BA4773808EB8C50E65B04E%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AaLr%3D2ZgbbiXQu5r2jJ6Qjt-VjsPRSmGgjS236iqypWQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to