Hahahaa, ... nenek yang mengaku pejuang ML-Mao ternyata gak ada otak! Dasar 
otak-udang, ... yang gak bisa diajak diskusi baik-baik, gak bisa menanggap apa 
yang dibicarakan orang lain! Begitu disenggol pendapatnya cuma bisa nyemprot 
maki-maki orang, ...



From: Tatiana Lukman 
Sent: Friday, February 18, 2022 12:19 AM
To: Chan CT ; GELORA45_In 
Subject: RE: [GELORA45] Pro Penguasa atau pro Rakyat dan Lingkungan?

Preeettt…reaksi anjing jaga budukan revisionis… Mao mengajarkan revisionisme 
adalah ideologi borjuis. Sejarah sudah membuktikan orang-orang revisionis 
adalah kolaborator dari kaum imperialis. Dus REAKSIONER!! Buktinya, 
revisionisme Khrustjov dengan semua teori remonya yang menganjurkan koexistensi 
secara damai dengan imperialisme dan revisionisme Chrustjovnya tiongkok, yaitu 
Liu shao chi serta kliknya yang dengan senang hati minta modal pada IMF/Bank 
dunia, masuk WTO, semuanya adalah Lembaga keuangan imperialis.. Hanya setelah 
menikmati perkembangan yang juga didorong oleh korupsi, utang, macam-macam 
kongkalikong, China keluarkan giginya, karena sudah merasa kuat untuk menuntut 
bagiannya sebagai kekuatan imperialis yang sedang berkembang. 

 

Untuk kesekian kalinya anjing budukan remo STT membelejti dirinya sendiri 
sebagai orang REAKSIKONER ANTI RAKYAT!! NGOCEH tentang manusiawi?? Di mana 
kemanusiawian Jokowi, polisi dan TNI ketika menggusur, merobohkan rumah, 
menghilangkan mata pencaharian penduduk…  mengeluarkan OMNIBUS Law yang membuat 
hidup kaum pekerja semakin terpuruk!! Dimana kemanusiawian Jokowi serta semua 
pendukungnya, kenaikan upah buruh begitu kecilnya dibawah angka inflasi?! . 
Serikat Buruh kuningpun sampai terpaksa memprotes,, karena sudah begitu 
kebangetan pengabdian pemerintah kepada kaum imperialis serta semua Lembaga 
keuangannya..

 

Dimana kemanusiaan Jokowi yang sama sekaoli tidak menggubris para keluarga dan 
korban kejahatan kemanusiaan sejak 1965 yang berdemo tiap hari kamis? Di mana 
kemanusiaan Jokowi ketika tidak menggubris sama sekali wakil dari para 
perempuan yang menyemen kakinya untuk memprotes pabrik semen??

 

Bandingkan dengan kegairahan Jokowi dalam membangun KERAJAAN BISNIS BAGI 
ANAK-ANAKNYA!!!

 

Dasar anjing budukan, tak akan pernah berhenti menjilat pantat kaisar Xi 
jinping!! Memuakkan!!!

 

 

Sent from Mail for Windows

 

From: Chan CT
Sent: Wednesday, February 16, 2022 5:26 AM
To: Tatiana Lukman; GELORA45_In
Subject: Re: [GELORA45] Pro Penguasa atau pro Rakyat dan Lingkungan?

 

Seruaaan “LAWAN, ...!” Aku adalah PEJUANG! Soal KALAH atau MENANG BUKAN 
URUSANKU, TUGASKU adalah BERJUANG! adalah hasutan, provokator yang TIDAK 
BERTANGGUNGJAWAB! SANGAT, SANGAT TIDAK MANUSIAWI!

 

Bagi seorang yang berani menamakan diri PEJUANG, disamping harus BERANI tegak 
berdiri melawan setiap penindasan dan ketidakadilan, juga harus SADAR dan 
CERDAS LAWAN, ... dan BERJUANG itu untuk MENANG! Dan kemenangan itu mutlak 
harus perhitungkan dan menghindari setiap pejuang jatuh korban, ...! Pejuang 
BUKAN untuk BUNUH DIRI, ... tanpa peduli bisa atau tidak kemenangan itu 
dicapai! Jangan main seruduk, dan benturkan kepala pada batu!

 

PEJUANG bukan martir yang digunakan sementara kelompok untuk gebuk kelompok 
kekuatan lain, ...! Pejuang jangan pula seperti “pejuang-pejuang” Gerakan 
Demokrat 4 Juni 1989, pendemo-pendemo dilapangan Tian An Men itu! sebagaimana 
seruan Komandan Lapangan Cai Ling ketika itu, “BERTAHAN, sekalipun darah kita 
membanjiri lapangan Tian An Men!” Cai Ling justru berkehendak membanjiri 
lapangan Tian An Men dengan darah pejuang-pejuang yang polos itu untuk 
mendobrak roboh pemerintah Tiongkok! Dengan jelas menjalankan perintah CIA 
untuk robohkan pemerintah Tiongkok TANPA PEDULIKAN rakyat banyak jatuh korban, 
... Sungguh berdarah dingin dan akhirnya setelah berhasil minggat keluarnegeri, 
di Perancis setelah mengenal Tuhan, Cai Ling nangis menggeru-beru bertobat, 
kalau dia sudah mengenal Tuhan ketika itu, tidak akan menyerukan perintah 
biadab dan terkutuk begitu! 

 

Jadi, untuk menjadi pejuang, berjuanglah baik-baik dengan keberanian tegak 
berdiri tetap harus disertai kecerdasan dan akal memenangkan perjuangan! 
Berjuang bukan serampangan tanpa peduli jatuh korban! Itu namanya BUNUH DIRI, 
... yang tidak ada artinya, apalagi harus menyertakan banyak pejuang jatuh 
korban! Sekarang belum bisa, temukanlah kesempatan lain dan cara lain untuk 
mencapai kemenangan, ...!

 

 

 

From: 'Tatiana Lukman' via GELORA45 

Sent: Tuesday, February 15, 2022 5:58 PM

To: 'Jonathan Goeij' via GELORA45 

Subject: [GELORA45] Pro Penguasa atau pro Rakyat dan Lingkungan?

 



 

SERUAN AKADEMISI PEDULI WADAS UNTUK PEMBATALAN PROYEK PENAMBANGAN DAN 
PEMBANGUNAN BENDUNGAN BENER PURWOREJO

10 Februari 2022

Mengapa pengukuran untuk kepentingan proyek bendungan justru melahirkan bentuk 
kekerasan terhadap warga Wadas? Apakah hukum untuk penangkapan, penahanan, dan 
tindakan kepolisian lainnya dalam KUHAP tak lagi dianggap penting di negeri 
ini? 

Kami, para akademisi dari 31 kampus/institusi riset, menyoroti tindakan 
penerjunan ribuan aparat kepolisian ke Desa Wadas, Purworejo pada 7-8 Februari 
2022. Dari sejumlah informasi yang kami olah, pengerahan aparat tersebut 
disertai dengan berbagai tindakan yang tak jelas legitimasi hukumnya, berkaitan 
dengan jaringan internet, intimidasi, pemukulan, dan penangkapan puluhan warga 
Desa Wadas beserta para pendampingnya. Tindakan sweeping, bahkan kepada warga 
yang sedang melakukan istighosah atau pergi beribadah di masjid, menjadi 
penanda ketidakjelasan aparat penegak hukum bekerja secara profesional. 
Diketahui juga, saat memasuki Desa Wadas, polisi juga merobek dan mencopoti 
poster-poster penolakan penambangan di Desa Wadas. 

Tindakan kesewenang-wenangan aparat kepolisian tidak hanya berhenti sampai di 
sana. Ketika proses pengukuran lahan sedang berjalan pada 8 Februari 2022, 
aparat kepolisian mendatangi ibu-ibu yang sedang membuat besek di posko-posko 
jaga dan merampas _besek_, pisau, dan peralatan untuk membuat besek. 

Kami juga menerima informasi penghalang-halangan tim kuasa hukum LBH Yogyakarta 
untuk melakukan pendampingan warga yang ditangkap di Polsek Bener, dengan 
alasan Covid-19. Terjadi pula peretasan akun Instagram LBH Yogyakarta pada 
tanggal 8 Februari 2022. Tentu ini peristiwa bukanlah yang pertama terjadi. 
Peristiwa serupa terjadi pada tanggal 23 April 2021. 

Atas segala peristiwa di atas, meskipun dikhabarkan warga telah dikeluarkan 
dari penaahanan kepolisian, kami para akademisi mengecam keras dan mendorong 
pertanggungjawaban hukum atas tindakan pengerahan aparat besar-besaran ke Desa 
Wadas dan serangkaian tindak kekerasan yang dilakukan terhadap warga Desa 
Wadas. Tidak boleh ada tindakan hukum negara, termasuk aparat kepolisian, yang 
tak bisa tidak dipertanggungjawaban. Tiadanya pertanggungjawaban atas peristiwa 
tersebut melahirkan ketidakpercayaan publik terhadap Pemerintah dan aparat 
penegak hukum. 

Protes yang dilakukan Warga Desa Wadas terhadap penambangan batuan andesit 
untuk proyek pembangunan Bendungan Bener, Purworejo merupakan hak-hak 
konstitusional, dijamin oleh UUDNRI Tahun 1945 dan jelas bukan merupakan 
pelanggaran hukum. Sedangkan pengerahan pasukan besar-besaran tanpa alasan yang 
jelas, intimidasi, serangkaian tindak pemukulan, perampasan, perusakan yang 
dilakukan aparat, penangkapan sewenang-wenang, penghalang-halangan tim kuasa 
hukum mendampingi warga, pemadaman listrik dan jaringan internet termasuk 
peretasan Instagram LBH Yogyakarta justru bentuk bekerjanya penegakan hukum 
represif, tidak hanya melanggar hukum, melainkan pula melanggar hak-hak asasi 
manusia yang dijamin dalam konstitusi dan perundang-undangan.

Protes warga terhadap rencana Pembangunan Bendungan Bener harus direspon 
pemerintah dengan meninjau kembali rencana pembangunan proyek berdasarkan 
keberatan warga bukan dengan melakukan berbagai tindakan represif.

Kami menilai Gubernur Jawa Tengah dan Kapolda Jawa Tengah harus bertanggung 
jawab atas semua tindakan melanggar hukum yang telah dilakukannya. Tak 
terkecuali, mendesak Kapolda Jateng segera menarik seluruh pasukan dari Desa 
Wadas dan bekerja secara professional, berintegritas, patuh pada 
prinsip-prinsip Negara Hukum demokratis. Intimidasi di lapangan, dalam segala 
bentuknya harus dihentikan, karena tak sejalan dengan perlindungan hak atas 
rasa aman. 

Kami juga mendesak, proyek Bendungan Bener ini merupakan bagian Proyek 
Strategis Nasional (PSN), dan harus ditinjau kembali urgensinya, terlebih 
dengan cara-cara kekerasan yang menyertai proses pembangunannya. Negara wajib 
memberi perlindungan dan pemenuhan HAM, serta memastikan semua proses hukum 
dilakukan tak bertentangan dengan UUDNRI Tahun 1945. 

Kami pula mengingatkan bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapat 
pekerjaan dan penghidupan yang layak, sebagaimana pula menghargai pilihan Warga 
Desa Wadas untuk tetap menjaga menjadikan lahan pertanian dan wilayahnya dari 
proyek pembangunan bendungan. 

Hormat Kami,

Para Akademisi Peduli Wadas

1. Widodo Dwi Putro (FH UNRAM) 

2. Herlambang P. Wiratraman (FH UGM)

3. I Ngurah Suryawan (Universitas Papua, Manokwari, Papua Barat) 

4. Eko Riyadi (FH UII)

5. Purnawan D Negara (FH UWM Malang) 

6. Satria Unggul (FH UM Surabaya)

7. Abdil Mughis Mudhoffir (Sosiologi UNJ)

8. Rafiqa Qurrata A’yun (FH UI)

9. Herdiansyah Hamzah (FH UNMUL)

10. Gede Kamajaya (UNUD)

11. Dian Noeswantari (Pusham UBAYA)

12. Andri G. Wibisana (FH UI)

13. Bivitri Susanti (STHI Jentera)

14. Inge Christanti (Pusat Studi HAM Univ. Surabaya)

15. MHR. Tampubolon (FH. Univ.Tadulako Palu)

16. Dhia Al Uyun (FH UB)

17. Warkhatun Najidah (FH UNMUL)

18. Feri Amsari (FH UNAND) 

19. Cekli S Pratiwi (Pusat Studi Peradaban dan HAM - UMM)

20. Gita Putri Damana (STHI)

21. Riwanto Tirtosudarmo (Peneliti Independen, KIKA)

22. Saiful Mahdi (FMIPA USK)

23. Rina Mardiana (FEMA IPB)

24. Franky Butar-Butar (FH UNAIR) 

25. Rezky Robiatul A.I ( FH UNTAG Samarinda)

26. Hudriansyah (UINSI Samarinda)

27. Orin Gusta Andini (FH Unmul)

28. Nasrullah (FIB Unmul) 

29. Sulistyowati Irianto (FH UI-ASSLESI)

30. Fachrizal Afandi (PERSADA UB-ASSLESI)

31. Awaludin Marwan (FH Ubhara-ASSLESI)

32. Dian Rositawati (STHI Jentera-ASSLESI)

33. Rival Ahmad (STHI Jentera-ASSLESI)

34. Esti H. Hardi (FPIK Unmul)

35. Grizelda (FH Unmul)

36. Haris Retno S. (FH Unmul)

37. Alfian (FH Unmul)

38. Sholihin Bone (FH Unmul)

39. Donny Danardono (PMLP Unika Soegipranata)

40. Idul Rishan (FH UII)

41.Bilal Dewansyah (FH UNPAD)

42. Theresia Dyah Wirastri (FH UI - ASSLESI)

43. Lena Hanifah (FH ULM - ASSLESI)

44. Syukron Salam (FH UNNES)

45. Harry Setya N (FH UNMUL)

46. Santy Kouwagam (FH UNHAS) 

47. Lilis Mulyani (BRIN, ASSLESI)

48. Robertus Robet (Sosiologi UNJ)

49. Rakhmat Hidayat (Sosiologi UNJ)

50. Haris Azhar (Universitas Trisakti)

51. Abdi Rahmat (Sosiologi UNJ)

52. Saleh Sjafei (FH USK)

53. Abdul Rahman Hamid (Sosiologi UNJ)

54. Manneke Budiman (FIB UI)

55. Susi Dwi Harijanti (FH UNPAD)

Narahubung

Rina Mardiana (FEMA IPB) +62 811-8161-800

Herlambang P. Wiratraman (FH UGM) +62 821-40837-025

 

 

 



Sent from Mail for Windows



-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/531575625.150871.1644919111496%40yahoo.com.

-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/8992B7A9518146A48276399E1EA06ED1%40A10Live.

 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E2E8840A61A948C08070BC256BD8836D%40A10Live.

Reply via email to