*BENARKAH…?* Dr Connie: Joko Widodo dan Prabowo Subianto Giring Indonesia 
Blok Amerika Serikat dan NATO 

https://bergelora.com/benarkah-dr-connie-joko-widodo-dan-prabowo-subianto-giring-indonesia-blok-amerika-serikat-dan-nato/

BENARKAH…? 
Dr Connie: Joko Widodo dan Prabowo Subianto Giring Indonesia Blok Amerika 
Serikat dan NATO 
ByTim Redaksi15 Februari 20220

BANDUNG– Pengamat pertahanan dan intelijen Universitas Jenderal Ahmad Yani, Dr 
Connie Rahakundini Bakrie, mengatakan, Presiden Indonesia, Joko Widodo, dan 
Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, sudah menggiring Indonesia masuk Blok 
Amerika Serikat dan North Atlantic Treaty Organization (NATO).

Connie Rahakundini Bakrie, mengacu kepada pengumuman Menteri Pertahanan, 
Prabowo Subianto, menandatangani dan  mendatangkan 42 jet tempur Rafale dan 2 
unit kapal selam elektrik Scorpene dari Perancis dan 36 unit jet tempur F-15-EX 
dari Amerika Serikat, Kamis, 10 Februari 2022.

“Ini artinya Indonesia akhirnya sudah bukan lagi sebagai negara Non Blok. 
Perancis dan Amerika Serikat, merupakan bagian penggerak Pakta Pertahanan 
NATO,” kata Connie Rahakundini Bakrie, Selasa, 15 Februari 2022.

Implikasi Indonesia masuk blok NATO ini, maka mesti dilakukan amandemen 
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2002, tentang: Pertahanan 
Negara, dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004, tentang: 
Tentara Nasional Indonesia.

“Amandemen tidak sebatas mengubah usia pensiun anggota Tentara Nasional 
Indonesia dari 58 tahun jadi 60 tahun, tapi merubah visi pertahanan Indonesia 
juga peran tugas dan organisasi TNI. Setidaknya ada 6 pasal yang harus 
diamandemen dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004,” ujar Connie Rahakundini 
Bakrie.

“Selain itu Kementerian Luar Negeri, harus mengeluarkan pernyataan resmi 
menegaskan Indonesia secara de facto masuk Blok NATO,” tambah Connie Rahakudini 
Bakrie.

Dikatakan Connie Rahakudini, pembelian 42 unit  jet tempur Rafale dari Perancis 
dan rencana pembelia jet tempur dari Amerika Serikat (F-15EX sebanyak 36 unit) 
sehingga keseluruhan 78 unit periode 2022 – 2024, menyusul pembelian frigates 
dari Italia, United Kingdom dan Jepang, membawa implikasi Indonesia sudah tidak 
lagi bagian dari negara Non Blok.

Pengumuman terkait Rafael juga ditindaklanjuti Memorandum of Understanding 
(MoU) PT PAL dengan Naval Group sudah ditandatangan pembelian dua

kapal selam Scorpene, PT Dirgantara Indonesia dengan Dassault Aviation untuk 
pesawat Prancis Rafale dan dukungan, dan juga ada PT Len dengan Thales, 
kemudian MoU antara PT Pindad dengan Nexter.

“Kebijakan politik luar negeri kita secara de fakcto berubah. Kita sudah tidak 
Non Blok lagi dan ini harus dinyatakan secara de jure agar rencana menyusul 
pembelian massif ini adalah berjalannya Government to Government atau G to G, 
pembelian F-35, misalnya, itu dapat di-deploy keluar batas ruang kedaualatan,” 
ujar Connie Rahakundini Bakrie.

Connie Rahakundini Bakrie mengungkapkan kondisi ini berbeda dengan zaman 
Presiden Soekarno (17 Agustus 1945 – 12 Juni 1967), Indonesia tetap konsisten 
sebagai negara Non Blok, karena belanja senjata dari dua blok bersiteru 
sekaligus, Rusia dan Amerika Serikat. Dikatakan Connie Rahakundini, jika mau 
tetap non blok kita harus beli jet tempur Jian 20 dari China atau Prabowo 
Subianto, Menteri Pertahanan Indonesia, fight seperti Menteri Pertahanan India 
yang berhasil mematahkan Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act 
(CAATSA) dan tetap diijinkan Amerika Serikat membeli Sukhoi

Indonesia mesti waspada

Connie Rahakundini Bakrie, mengingatkan kebijakan langkah politik luar negeri 
Indonesia, pasca pembelian besar besaran alutsista periode 2022 – 2024, untuk 
lebih bersikap hati-hati, waspada, agar nantinya tidak merugikan Presiden 
Indonesia, Joko Widodo dan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Prabowo 
Subianto, baik dalam kapasitas sebagai pejabat negara maupun pribadi, untuk 
terhindar dari potensi abitrase.

“Apalagi Prabowo Subianto, sudah memutuskan Indonesia membeli helikopter 
militer juga dari Jepang,” kata Connie Rahakundini Bakrie.

Pembelian jet temput F-15EX, menurut Connie sebenarnya ‘’tidak nyambung’’ 
dengan  rencana Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, agar Indonesia, suatu saat 
nanti bisa mendatangkan jet tempur yang kualifikasinya lebih canggih, yaitu 
F-35 dari Amerika Serikat.

“Karena bagi sebuah negara aliansi untuk dapat memiliki F-35, Amerika Serikat 
menggariskan harus terlebih dahulu memiliki jet tempur F-16 Blok EF atau F16 
Viper. Bukan F-15EX,” ujar Connie Rahakudini Bakrie.

Gerakan Non Blok

Connie Rahakundini Bakrie, mengingatkan segera dibuat pernyataan resmi 
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia,  terkait perubahan polugri 
meninggalkan posisi negara Non Blok.

Gerakan Non Blok diprakarsai lima tokoh dari masing-masing negara yakni Ir. 
Soekarno (Presiden Indonesia), Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), 
Gamal Abdel Nasser (Presiden Mesir), Josep Broz Tito (Presiden Yugoslavia), dan 
Kwame Nkrumah (Presiden Ghana).

Gerakan Non-Blok bermula dari Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika di Bandung, 
Indonesia, 1955.

“Menurut sumber yang sama di atas, Gerakan Non-Blok memiliki tujuan: (1) 
mengembangkan solidaritas antarnegara berkembang untuk mencapai kebersamaan, 
kemakmuran, dan kemerdekaan, (2) meredakan ketegangan dunia akibat munculnya 
perseteruan antara Blok Barat dengan Blok Timur,” kata Connie Rahakudini Bakrie.

Indonesia sudah menerbitkan road map rencana strategis pertahanan, yaitu Sea 
Control Capabilitiies Brown Water Navy Air Control (2020), Sea Denial 
Capabilities Green Water Navy Air Supremacy (2035), Maritime Projection 
Capabilities Blue Water Navy Air Superiority (2050). Rencana strategis road map 
Indonesian defense, 2020 – 2050, menurut Connie Rahakundini Bakri, memiliki 5 
implikasi.

Pertama, visi Presiden Joko Widodo, menuntut Indonesia memiliki proyeksi 
kekuatan yang lethal, efektif dan efisien.

Kedua, berimplikasi pada perubahan struktur sistem dan doktrin pertahanan dari 
inward ke outward looking defence (perubahan pasal-pasal pada Undang-Undang 
Nomor 34 Tahun 2004, tentang: Tentara Nasional Indonesia).

Ketiga, mmembutuhkan perombakan doktrin inward looking defence/defensive active 
menjadi outward looking defence/offensive pasive (perubahan pasal-pasal pada 
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004).

Keempat, postur adalah struktur yang diisi oleh kekuatan, maka utamakan 
perubahan struktur sebagai dasar kekuatan (perubahan pasal-pasal pada 
Undang-Undang Nomor  34 Tahun 2004).

Kelima, potensi Indonesia merupakan comparative advantage (tidak dimiliki 
banyak negara) – manusia, ruang maritim, permukaan serta dirgantara Indonesia 
(geostrategis dan geostasioner) harus bisa menjadi nilai tawar.

Dengan kondisi sekarang, Indonesia masuk Blok NATO, implikasinya, ujar Connie 
Rahakundini Bakrie, segera wajib dibatalkan belanja pertahanan model Sistem 
Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) Menteri Pertahanan 
Republik Indonesia, Prabowo, mencakup dua hal.

Pertama, program bela negara, anggaran, program dan aksi.

Kedua, program ketahanan pangan, anggaran, program dan aksi.

“Negara kita, Republik Indonesia, dengan pembelian massif dan menjadi aliansi 
NATO ini sudah menjadi outward looking defence. Tidak lagi inward looking 
defence dengan Sishankamrata-nya,”ujar Connie Rahakundini Bakrie.

Sikap Pemerintah Rusia

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Pemerintah Rusia memastikan hingga 
kini tidak ada pernyataan pembatalan rencana pembelian pesawat Sukhoi SU-35 
dari Indonesia sehingga proyek tersebut tetap dilanjutkan.

Namun, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmilla Vorobieva, mengakui belum ada 
perkembangan lebih lanjut mengenai pengadaan pesawat tempur tersebut.

“Tidak ada respons negatif dari Indonesia sehingga kita lanjutkan,” kata Dubes 
Lyudmila, Senin, 14 Februari 2022.

“Kerja sama bidang pertahanan dengan Indonesia hingga kini tetap berjalan 
positif,” ujar Lyudmila.

Pada Rabu, 14 Februari 2018, Indonesia sepakat membeli 11 unit jet tempur 
Sukhoi SU-35 senilai 1,14 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp16 
triliun, untuk melengkapi SU-27 dan SU-30 yang sudah dimiliki Tentara Nasional 
Indonesia Angkatan Utara.

Sebagai imbal dagang, Indonesia mewajibkan Rusia membeli produk-produk dari 
Indonesia senilai 570 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp8 triliun. 
Rusia membangun fasilitas Maintenance, Repair, and Operating Supplies (MRO) di 
Indonesia senilai 35 persen dari transaksi.

Indonesia saat itu menargetkan dua Sukhoi SU-35 tiba di Indonesia pada Agustus 
2019, tetapi hingga kini, 2022, proses pengadaan itu tidak jelas kabarnya.

Pembelian Sukhoi SU-35 terus dibahas karena ada ancaman sanksi dari Amerika 
Serikat jika Indonesia meneruskan pembelian. (Aju)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D42D57686E964E2AA6CDB38C35223A47%40A10Live.

Reply via email to