Agaknya satu-satunya kepala negara di dunia yang kalau bicara selalu pakai
jari petunjuk adalah Jokowi. Apakah itu sesuai etika kalangan diplomatik?

On Mon, Feb 21, 2022 at 1:35 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Trauma Xi Jinping Hantui Jokowi?
> *A43 * <https://www.pinterpolitik.com/author/a43-162>*- Sunday, February
> 20, 2022 17:00*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/trauma-xi-jinping-hantui-jokowi
> *Presiden Joko Widodo (Jokowi) (dua dari kanan) dan Presiden Republik
> Rakyat Tiongkok (RRT) Xi Jinping (dua dari kiri) menghadiri Peringatan
> Tahunan ke-60 Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Jawa Barat, pada tahun
> 2015. (Foto: AFP)*
>
> *8 min read*
>
> *Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mengalami perubahan politik luar negeri di
> bawah kepemimpinan Xi Jinping. Bukan tidak mungkin, ini pun berdampak
> kepada pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang kerap berhadapan dengan
> Tiongkok di Laut Natuna Utara. Apakah Xi memegang peran penting di balik
> memanasnya isu Laut China Selatan (LCS)?*
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/>
>
> Tahun 1815 menjadi awal perubahan besar bagi negara Prancis – setidaknya
> untuk seseorang yang bernama Jean Valjean. Ia merupakan seorang mantan
> narapidana yang akhirnya bebas pada tahun itu.
>
> Namun, kebebasannya itu tidak berarti membawa kebebasan sepenuhnya.
> Masa-masa saat ia harus menjalani kerja paksa saat menjadi tahanan turut
> dibawanya hingga tahun-tahun berikutnya.
>
> Ketika sukses membangun bisnis sendiri, misalnya, Jean selalu berusaha
> untuk memberikan yang terbaik kepada buruhnya yang dianggapnya membutuhkan
> bantuan-bantuan dalam kehidupan. Tentu, momen dan memori masa lalu saat ia
> masih hidup miskin turut menjadi motivasi dan inspirasi untuk memberikan
> lebih kepada yang membutuhkan.
>
> Setidaknya, itulah sepotong kisah dari seorang karakter Jean Valjean yang
> muncul dalam sebuah novel legendaris asal Prancis yang berjudul *Les
> Misérables* yang terbit pada tahun 1862. Novel karya Victor Hugo ini
> bukan tidak mungkin menunjukkan bagaimana masa lalu satu individu bisa
> mempengaruhi segala keputusannya di masa depan.
>
> Lagipula, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa apapun yang terjadi di masa
> lampau turut membentuk diri kita di masa kini dan masa mendatang. Entah itu
> masa kecil saat masih kanak-kanak atau masa-masa muda yang penuh kegalauan,
> ketakutan-ketakutan soal momen-momen itu akan mempengaruhi apa yang kita
> lakukan di masa kini.
>
> Trauma dan memori soal masa lampau ini tentunya tidak hanya berpengaruh
> pada orang-orang biasa saja. Para politisi dan pemimpin negara pun tidak
> luput dari persoalan ini.
>
> Krisis yang terjadi antara Rusia dan Ukraina pada awal tahun 2022 ini,
> misalnya, disebut-sebut juga dipengaruhi dari bagaimana Presiden Rusia
> Vladimir Putin memimpikan kejayaan Uni Soviet di masa kecilnya. Bukan hanya
> Putin, ambisi Adolf Hitler untuk Jerman Nazi kala Perang Dunia II pun
> disebut banyak dipengaruhi oleh masa-masa mudanya.
>
> Tentu, ini menjadi menarik bila dikaitkan dengan Republik Rakyat Tiongkok
> (RRT) di masa kini. Pasalnya, setelah lama memegang prinsip *tao guang
> yang hui* (sembunyikan kapabilitas dan tetap *low profile*) dari era Deng
> Xiaoping, pemerintahan Xi Jinping kini mengambil kebijakan luar negeri yang
> lebih agresif dengan prinsip *fen fa you wei* (berjuang untuk pencapaian).
>
> *Baca Juga: **Biden Tantang Xi Jinping, Jokowi?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/biden-tantang-xi-jinping-jokowi>
>
>
> Tidak hanya itu, Tiongkok kini disebut menerapkan *wolf warrior diplomacy*
>  – sebuah istilah untuk menggambarkan gaya diplomasi yang lebih koersif.
> Ini pun terlihat dari bagaimana Tiongkok mulai agresif dalam isu Taiwan dan
> Hong Kong.
>
> Ini pun berdampak juga pada Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara
> lainnya. Laut Natuna Utara – yang mana menjadi zona ekonomi eksklusif (ZEE)
> – pun sempat diprotes oleh Tiongkok karena Indonesia melakukan pengeboran
> minyak di bagian kecil dari Laut China Selatan (LCS) yang diklaim
> pemerintahan Xi.
>
> Perubahan Tiongkok di bawah Xi ini tentu menimbulkan pertanyaan. Mengapa,
> di bawah Xi, negeri Tirai Bambu itu menjalani perubahan kebijakan luar
> negeri secara 180 derajat? Lantas, mengapa pemerintahan Joko Widodo
> (Jokowi) di Indonesia perlu merasa khawatir?
>
>
> *Ambisi Besar Xi untuk Tiongkok*
>
> Jika berbicara soal politik luar negeri Tiongkok di bawah kepemimpinan Xi,
> mungkin nama Wang Yi tidak bisa begitu saja luput dari pembahasan. Wang
> merupakan seorang diplomat yang kini menjadi Menteri Luar Negeri (Menlu)
> bagi pemerintahan Xi.
>
> Bisa dibilang, Wang adalah sosok yang dipercaya Xi untuk mewujudkan mimpi
> dan ambisinya – khususnya dalam kebijakan luar negeri. Peter Martin dalam
> tulisannya yang berjudul *The Man Behind Xi Jinping’s Foreign Policy* 
> menjelaskan
> bahwa, di bawah Wang, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Tiongkok ingin
> melepaskan citra “lemah” dari negara mereka.
>
> Wang pun mengaku terinspirasi dengan berbagai gagasan dan idealisme Xi
> dalam mewujudkan politik luar negeri Tiongkok. Baginya, idealisme itulah
> yang memandu jalan hidupnya – termasuk dalam merumuskan kebijakan luar
> negeri Tiongkok.
>
> Tidak hanya Wang, sosok lain juga berperan dalam memainkan citra Tiongkok
> di panggung politik internasional. Dia adalah Peng Liyuan yang merupakan
> Ibu Negara Tiongkok alias istri dari Xi.
>
> Berkarier sebagai selebriti dan penyanyi terkenal, Peng disebut bisa
> menjadi ikon Tiongkok dalam banyak kesempatan di berbagai momen
> internasional Tiongkok. Bagaimana tidak? Dalam berbagai acara internasional
> yang besar, Peng selalu tampil dengan pakaian yang menawan – menjadi ikon 
> *soft
> power* (kekuatan lunak) bagi Tiongkok.
>
> Dua peran yang diisi oleh Peng dan Wang ini juga sejalan dengan perubahan
> kebijakan luar negeri pemerintahan Xi. Seperti yang telah dijelaskan
> sebelumnya, arah politik luar negeri Tiongkok berubah dari yang awalnya
> cenderung pasif menjadi jauh lebih aktif sebagai bagian dari apa yang
> diimpikan oleh Xi dalam konsep *Chinese Dream* yang diinginkannya.
>
> *Baca Juga: **Balapan Antariksa: Biden vs Xi Jinping*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/balapan-antariksa-biden-vs-xi-jinping>
>
>
> Dalam konsep ini, Xi menginginkan Tiongkok agar bisa tampil sebagai negara
> yang kuat, yakni sebagai kekuatan besar global baru. Bukan tidak mungkin,
> dua peran yang menonjolkan kekuatan Tiongkok ini terbagi antara Wang dan
> Peng.
>
> Namun, tentu, dukungan Wang dan Peng ini tidak bisa muncul secara
> tiba-tiba saja. Bisa jadi, ada hal lain yang melatarbelakangi visi Xi soal
>  *Chinese Dream*. Mengapa Xi – dibantu oleh Wang dan Peng – merasa perlu
> untuk mewujudkan *wei da fu xing* (kebangkitan besar) Tiongkok?
>
>
> *Trauma Masa Lalu Xi*
>
> Baik Xi, Wang, dan Peng memiliki pengalaman yang mirip di masa lalu –
> khususnya peristiwa besar yang mempengaruhi masa muda mereka. Peristiwa
> besar ini disebut sebagai Revolusi Kebudayaan (*Cultural Revolution*)
> yang diluncurkan oleh pemerintahan Mao Zedong pada tahun 1966 hingga
> kematian Mao pada tahun 1976.
>
> Peristiwa ini memiliki dampak yang besar secara nasional. Bagaimana tidak?
> Dengan tujuan untuk memberantas unsur-unsur kapitalis dan tradisional dari
> Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan masyarakat Tiongkok pada umumnya,
> keluarga Xi, Wang, dan Peng malah sempat menjadi sasaran dari pemerintahan
> Mao.
>
> Ayah Xi yang bernama Xi Zhongxun, misalnya, ditahan dan dipersekusi oleh
> pemerintahan Mao karena dianggap mendukung kelompok internal anti-PKT.
> Padahal, Xi Zhongxun sebelumnya menduduki jabatan-jabatan tinggi di PKT –
> salah satunya sebagai kepala departemen di departemen yang membidangi
> propaganda.
>
> Tidak hanya ayahnya, keluarga Xi sempat didatangi dan dirampas isi
> rumahnya oleh para militan. Akibat berbagai tekanan ini, saudara perempuan
> Xi yang bernama Xi Heping sampai bunuh diri.
>
> Xi sendiri akhirnya dikirim ke Desa Liangjiahe di Provinsi Shaanxi dan
> terpaksa hidup di sebuah rumah yang dibangun di dalam gua. Di daerah
> pinggiran inilah, Xi akhirnya belajar mengembangkan diri di bawah paksaan
> bekerja di bawah pemerintahan Mao.
>
> Bukan hanya Xi, Wang sendiri menjadi pemuda yang dipaksa untuk bekerja di
> Provinsi Heilongjiang selama delapan tahun. Hal yang sama juga dirasakan
> oleh anggota-anggota keluarga Peng.
>
> *Baca Juga: **Olahraga, Harga Diri Xi Jinping?*
> <https://www.pinterpolitik.com/in-depth/olahraga-harga-diri-xi-jinping>
>
>
> Trauma yang berakar dari peristiwa besar di masa lalu ini bisa saja
> berdampak kepada Xi dan lingkaran kekuasaannya di masa kini. Mengacu pada
> penjelasan Roderick MacFarquhar dari Harvard University, trauma masa lalu
> inilah yang akhirnya membentuk diri Xi seperti sekarang yang selalu
> menganggap dirinya sebagai antitesis dari kata “lemah”.
>
> Inilah mengapa Xi ingin memiliki kontrol penuh terhadap berbagai perubahan
> dan reformasi yang dilakukannya terhadap Tiongkok. Salah satunya adalah
> upayanya untuk memegang kekuasaan penuh atas PKT.
>
> Ini dilakukan Xi dengan cara melancarkan kampanye anti-korupsi yang
> disebut menyingkirkan berbagai lawan politik di dalam internal PKT. Tidak
> hanya itu, berdasarkan salah satu sumber *PinterPolitik.com*
> <https://www.pinterpolitik.com/>, kampanye anti-korupsi Xi ini juga
> menyingkirkan elemen-elemen pendukung Mao dengan memaksa mereka
> menandatangani sebuah kesepakatan agar tidak ikut campur dalam urusan
> politik Tiongkok lagi.
>
>
> *Saatnya Jokowi Hati-hati?*
>
> Upaya Xi untuk menampilkan diri sebagai sosok yang kuat ini tampaknya juga
> berdampak pada politik luar negeri Tiongkok yang semakin agresif. Bagaimana
> tidak? Ada trauma masa lalu juga dalam konsepsi kejayaan Tiongkok ala Xi –
> di mana negaranya telah lama menjadi “korban” kekuasaan negara-negara lain,
> mulai dari Kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II, Britania Raya (Inggris)
> yang menganeksasi Hong Kong pada 1860, hingga Portugis yang menganeksasi
> Makau pada 1887.
>
> Di masa kontemporer, perasaan akan adanya ancaman asing seperti ini tentu
> tidak sejalan dengan visi Xi. Mengacu pada penjelasan Geoff Dyer dalam
> bukunya yang berjudul *The Contest of the Century*, ini juga yang menjadi
> alasan mengapa Tiongkok kini ingin menguasai lautan kembali – khususnya
> Laut China Selatan (LCS) yang kini diklaim berdasarkan sembilan garis batas
> (*nine-dash line*).
>
> Apa yang terjadi di masa lalu juga sebagian besar terjadi akibat diplomasi
> kapal perang (*gunboat diplomacy*) di mana Tiongkok secara historis kalah
> dengan negara-negara lain. Kelemahan ini berujung pada kemuncuan
> ancaman-ancaman dari negara-negara yang lebih kuat.
>
> Selain itu, LCS dan Taiwan juga menjadi strategi Tiongkok untuk menguasai
> rantai kepulauan pertama (*first island chain*) yang terdiri atas Jepang,
> Taiwan, Filipina, Malaysia, Brunei, dan sebagian wilayah Indonesia.
> Setidaknya, ini bisa menihilkan ancaman dari pesisir Tiongkok secara
> langsung.
>
> Dengan trauma masa lalu Xi dan visinya terhadap Tiongkok, bukan tidak
> mungkin pemimpin terkuat sepanjang sejarah Tiongkok itu tidak akan pernah
> menyerah untuk mewujudkan hegemoni negaranya di kawasan Indo-Pasifik,
> termasuk di Asia Tenggara. Pertanyaan yang kemudian harus dijawab adalah,
> siapkah Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi menghadapi Xi? (A43)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4E6968E1B01F40F59B89808756D07230%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4E6968E1B01F40F59B89808756D07230%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2BLhR%2BSGUYz1qWfT3UXSOXXG2U%2B171688UGjTfq1Xiznw%40mail.gmail.com.

Reply via email to