Teknologi, Pembunuh Kelas Menengah Indonesia?D74 - Friday, February 25, 2022 
10:11
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/teknologi-pembunuh-kelas-menengah-indonesia
 
Ilustrasi tenaga kerja di Indonesia (Foto: MI/Ramdani)
7 min read

Indonesia sering disebut-sebut akan menjadi negara Asia Tenggara dengan jumlah 
populasi kelas menengah terbanyak. Akan tetapi, sesuai dinamikanya, Indonesia 
tampak kesulitan dalam menjamin kelangsungan hidup kelas menengah, contohnya 
dengan bagaimana sebagian besar orang tidak mampu membeli hunian pribadi di 
perkotaan. Mengapa hal ini bisa terjadi? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Meskipun penting, obrolan seputar keamanan finansial dan perencanaan memiliki 
hunian pribadi barangkali menjadi salah satu topik yang paling sensitif untuk 
didiskusikan bagi mereka yang sedang terjebak dalam usia paruh baya. Ibarat 
mengobrol tentang percintaan, sebagian besar orang hanya mau berbicara tentang 
hal-hal finansial pada mereka yang memang dipercaya, atau sering menjadi tempat 
curhat. 

Tidak heran, meski sekarang lapangan pekerjaan di kota semakin banyak, tapi 
sepertinya hampir semua orang akan setuju bahwa saat ini sangat sulit sekali 
untuk bisa mendapatkan hunian pribadi di lingkungan urban.  

Harga properti yang semakin mahal setiap tahunnya telah membuat orang-orang 
akhirnya memutuskan untuk ngontrak, atau membeli rumah di wilayah pinggiran 
kota. Itu pun belum ditambah beban finansial dalam membiayai keluarga, jika 
memang kita ingin berkeluarga. 

Well, ada benarnya jika kalian merasa cukup relate dengan pendapat itu, karena 
data dari laporan Bank Dunia pada tahun 2021 sendiri menunjukkan bahwa dari 
sekitar 85 juta orang Indonesia yang memiliki penghasilan tetap, ternyata hanya 
13 juta, atau sekitar 15 persen saja yang berpenghasilan cukup untuk membiayai 
keluarga berjumlah empat orang.  

Kenyataan tersebut menjadi ironi ketika kita melihat narasi tentang Indonesia 
yang diprediksi akan memiliki ledakan populasi kelas menengah sampai tahun 2045 
nanti. Pada 2020 lalu kita pun sempat dibuat gembira dengan kabar penobatan 
Indonesia sebagai upper middle income country atau negara berpendapatan 
menengah ke atas oleh Bank Dunia. 

Namun sayang, gelar itu tidak bertahan lama karena pada akhir 2021 Indonesia 
kembali turun menjadi lower middle income country atau negara berpendapatan 
menengah ke bawah. Hal ini karena pada tahun lalu tercatat pendapatan per 
kapita Indonesia hanya sebesar US$3.870, sementara ambang batas minimal negara 
berpendapatan menengah atas adalah US$4.096.  

Lantas, mengapa kehidupan masyarakat kelas menengah tampak semakin sulit? 

Baca juga: Jokowi dan Serangan Balik Kelas Menengah


  
Hilangnya Pasar Kelas Menengah? 
Sebelum membahas lebih lanjut, akan lebih pantas jika kita terlebih dahulu 
mengulas tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan middle income trap. Breda 
Griffith, seorang konsultan ekonomi dari Bank Dunia dalam tulisannya 
Middle-Income Trap, menjelaskan bahwa itu adalah istilah yang mengacu pada 
keadaan ketika sebuah negara berhasil mencapai ke tingkat pendapatan menengah, 
tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju. 

Kegagalan kenaikan kelas ini, menurut Griffith, diakibatkan oleh semakin 
meningkatnya harga barang-barang di pasar, dan juga ketidakmampuan sumber daya 
manusia (SDM) negara tersebut dalam mengejar standar daya saing internasional. 
Bukti yang mendukung bahwa suatu negara terjebak dalam middle income trap 
ditunjukkan melalui penurunan pendapatan per kapita dan penurunan atau stagnasi 
dalam daya saing ekonomi. 

Namun, apakah istilah ini cukup untuk menjelaskan fenomena yang terjadi pada 
kelas menengah di Indonesia? 

Tentu tidak. Karena sesungguhnya ada satu fenomena lain yang menjadi 
permasalahan di Indonesia, yaitu apa yang disebut sebagai market bifurcation. 
Will Kenton, seorang pengamat ekonomi dari Investopedia dan Kapitall Wire, 
menjelaskan bahwa market bifurcation adalah suatu keadaan di mana pasar 
terbelah menjadi dua, yaitu pasar kelas bawah dan pasar kelas atas. 

Sementara itu, dalam fenomena ini, pasar kelas menengah akan semakin mengecil, 
sehingga akan semakin banyak pengusaha yang sulit bertahan jika sasarannya 
adalah konsumen kelas menengah. Hal ini karena pendapatan yang mereka dapatkan 
tidak cukup untuk mengembangkan bisnisnya. Di sisi lain, semakin banyak juga 
pekerjaan kelas menengah yang membutuhkan syarat tinggi, tetapi tidak diiringi 
oleh upah yang juga tinggi.  

Kemudian muncul juga tren di mana konsumen semakin cenderung memilih barang 
yang premium atau justru yang paling murah. Sementara barang-barang yang 
harganya ‘nanggung’ akan semakin tidak diminati, karena dianggap tidak memiliki 
kualitas yang bagus, dan terlalu mahal jika dibandingkan dengan barang murah 
yang kualitasnya tidak jauh berbeda. 

Keadaan seperti inilah yang menjadi ancaman sesungguhnya bagi kelas menengah di 
Indonesia. Abdul Manan Pulungan, Kepala Makro Ekonomi dari INDEF, pernah 
mengingatkan bahwa peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia bukanlah 
sebuah alasan untuk berbangga, karena kelas menengah kita hanya kuat dari sisi 
konsumsi, bukan produksi.  

Oleh karena itu, sesungguhnya Indonesia hanya menjadi pasar impor. Dan tren 
yang terjadi saat ini pun membuktikan itu, orang Indonesia gemar membeli 
barang-barang terkini, yang sesuai dengan perkembangan gaya hidup, tapi 
kemudian mengalami kesulitan jika ingin membeli properti atau rumah. 

Jika benar demikian, maka Indonesia perlu ekstra hati-hati akan perangkap 
‘lanjutan’ yang kemungkinan besar terjadi bila suatu negara mengalami kesulitan 
dalam menjamin kemakmuran populasi kelas menengahnya. Perangkap tersebut adalah 
apa yang kita sebut sebagai barbell effect.  

Jim Blasingame dalam artikelnya Beware The Barbell Effect, Unless You're A 
Small Business, menjelaskan barbell effect adalah sebuah fenomena di mana 
ketidakmampuan kelas menengah dalam mempertahankan dirinya di suatu ekosistem 
ekonomi telah menyebabkan kesenjangan yang mendalam antara kelas miskin dan 
kelas kaya.  

Sesuai namanya, populasi suatu negara yang terlanda barbell effect memiliki 
postur populasi yang menyerupai bentuk barbel. Masyarakat kaya semakin terjamin 
posisinya, masyarakat miskin semakin menancap dalam kemiskinannya, dan 
masyarakat menengah stagnan terjebak di tengah-tengah.  

Lalu, mengapa barbell effect ini bisa terjadi? 

Baca juga: UU Ciptaker, Untuk Kebaikan Siapa?

 
  
Akibat Perkembangan Teknologi? 
Jamie Bartlett dalam bukunya The People Vs Tech: How the Internet is Killing 
Democracy, menjelaskan bahwa alasan mengapa perekonomian sejumlah besar negara 
di dunia saat ini menghadapi permasalahan barbell effect adalah akibat dari 
adanya perkembangan teknologi.  

Kelompok orang-orang yang terdidik, sangat terekspos dengan perkembangan 
pengetahuan di bidang teknologi, mereka sangat pandai menggunakan dan 
mengeskploitasi teknologi. Sementara itu, teknologi telah menjadi salah satu 
kekuatan terkuat dalam abad ke-21.  

Kesenjangan dalam mengakses sumber ‘kekuatan’ ini telah membuat mereka yang 
sudah kaya menjadi lebih kaya. Bartlett mencontohkannya dengan perkembangan 
teknologi kecerdasan buatan, yang merupakan salah satu teknologi paling canggih 
saat ini. Bartlett menilai, jika saat ini kita mengetahui bagaimana cara 
mengembangkan kecerdasan buatan, maka kita dapat menjadi pemimpin industri di 
banyak sektor ekonomi yang berbeda. Sementara itu, uniknya adalah, kita tidak 
perlu pabrik besar untuk melakukannya. 

Lalu ada pekerjaan kelas menengah yang semakin terancam. Saat ini, menurut 
Bartlett, sebagian besar masyarakat yang dilihat sebagai kelas menengah, 
menjadi terfragmentasi. Beberapa dari mereka pergi ke area tingkat tinggi dan 
tersedot ke sektor teknologi. Mereka menjadi manifestasi dari manusia modern, 
keren, dan dibayar dengan upah tinggi. Tetapi mereka yang tidak memiliki akses 
ke pengetahuan teknologi akan terseret ke dalam sektor layanan, yang sebagian 
besar tujuannya adalah untuk melayani orang-orang kaya. 

Sementara itu, seperti yang kita tahu, orang-orang yang memiliki pengetahuan 
lebih dalam teknologi, khususnya di Indonesia masih sangat terbatas. Kita 
memang punya beberapa perusahaan teknologi unicorn, seperti Gojek dan 
Tokopedia, tetapi banyak startup-startup teknologi lain yang namanya tidak 
sempat terekspos, namun mereka tumbang sebelum sempat berkembang lebih jauh 
karena akses teknologi canggihnya masih sangat terbatas. 

Dengan demikian, kunci untuk terlepas dari sejumlah perangkap-perangkap yang 
menjerat kelas menengah di Indonesia sesungguhnya bukanlah untuk menciptakan 
lebih banyak lapangan pekerjaan. Itu akan hanya memberi kelas menengah akses ke 
hasrat konsumerisme, dan awal dari permasalahan baru yang lebih kompleks. Yang 
seharusnya ditekankan pemerintah adalah mendorong adanya ekosistem teknologi 
yang mumpuni, termasuk dari sektor pendidikan. 

Jika pendidikan teknologi di Indonesia bisa terdorong, kita tidak hanya akan 
menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan, tetapi SDM yang ada juga mampu 
menjadi entrepreneur-entrepreneur teknologi yang pada akhirnya mampu menangkal 
perangkap barbell effect, dan dalam jangka panjangnya, juga dampak buruk dari 
market bifurcation. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/51C7ECF4238644B29E6A4AC5B2DDDB7F%40A10Live.

Reply via email to