Kantor Penerangan Dewan Negara 
Tiongkok Rilis Laporan Pelanggaran HAM AS 2021
2022-03-01 10:11:00    
https://indonesian.cri.cn/2022/03/01/ARTIGrkl5NOWglf19O3kgTPo220301.shtml?spm=C77783.PmN9xF4e5AAS.EGdOvrGeKwm1.13Kantor
 Penerangan Dewan Negara Tiongkok hari Senin kemarin (28/2) merilis Laporan 
Tentang Pelanggaran HAM Amerika Serikat (AS) Tahun 2021dalam rangka 
mengungkapkan keadaan pelanggaran HAM di AS.

Teks lengkap laporan itu sekitar 15 ribu huruf. Selain kata pengantar laporan 
itu meliputi 6 bagian, masing-masing adalah “pembayaran mahal akibat 
memanipulasi penanggulangan pandemi Covid-19”, “ancaman terhadap keselamatan 
jiwa akibat bersikeras pada pemikiran kekerasan”, “demokrasi palsu yang 
menginjak-injak hak politik”, “dibiarkannya diskriminasi rasial yang 
memperburuk ketidak-adilan sosial” , “pelanggaran kemanusiaan yang mendatangkan 
krisis imigrasi” dan “poenyalahgunaan sanksi yang melanggar HAM negara-negara 
lain”.



Menurut laporan itu, keadaan HAM AS yang buruk itu menjadi lebih parah lagi 
pada tahun lalu. Manipulasi politik mengakibatkan menanjaknya jumlah kasus 
kematian Covid-19. Jumlah kasus terdiagnosa Covid-19 di AS tercatat 34,51 juta, 
sedangkan jumlah kasus kematian tercatat 480 ribu, yang merupakan nomor pertama 
di seluruh dunia. 

Jumlah korban tewas dalam insiden penembakan menciptakan rekor tinggi lagi, dan 
di seluruh negeri AS totalnya terjadi 693 kali insiden penembakan yang berskala 
besar pada tahun lalu, meningkat 10,1 persen dibandingkan tahun 2020. Demokrasi 
palsu menginjak-injak hak politik publik, 49 negara bagian AS pernah mengajukan 
420 rancangan undang-undang untuk membatasi pemungutan suara, dan tingkat 
kepercayaan rakyat terhadap pemerintah sudah menghampiri titik terendah sejak 
tahun 1958. 

Serangan diskriminatif terhadap etnis minoritas khususnya keturunan Asia 
menjadi semakin parah. Kejahatan kebencian terhadap keturunan Asia di New York 
melonjak 361 persen dibandingkan tahun 2020. Kekerasan dalam penegakan hukum  
memperburuk kehidupan imigran dan pengungsi. Sementara itu, tindakan unilateral 
AS menimbulkan bencana kemanusiaan yang baru di seluruh dunia.

Menurut laporan itu, tahun lalu, citra AS sebagai “Pembela HAM” sudah hancur 
secara total, “KTT Demokrasi Pemimpin” dengan alasan “membela HAM” itu sudah 
menjadi lelucon. Banyak negara di depan sidang ke-48 Dewan HAM PBB mengecam AS 
sebagai “perusak terbesar usaha HAM dunia”, dan mendesak AS memecahkan masalah 
HAM yang sangat parah di dalam negerinya sendiri.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1F70C420914E405BB7EC3D33BDC7FD52%40A10Live.

Reply via email to