Written byG69Wednesday, March 2, 2022 21:21PDIP-NasDem Perebutkan Jokowi?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pdip-nasdem-perebutkan-jokowi/

Intrik antara PDIP-NasDem terus memanas bahkan ekskalasinya kian meningkat. 
Terlebih pada saat momentum pertemuan antara Jokowi dan Surya Paloh di kantor 
NasDem. Alhasil, peristiwa tersebut menuai reaksi miring dari PDIP, mengingat 
Presiden Jokowi masih merupakan kader partai berlambang banteng tersebut. 
Lantas mengapa kedua partai ini terus saling serang terutama pasca pertemuan 
Jokowi dan Surya Paloh?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pertemuan antara Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan Ketua Umum Partai 
NasDem Surya Paloh rupanya menuai perhatian publik. Keduanya memperlihatkan 
keakraban layaknya ‘saudara’ yang memiliki hubungan yang romantis. Hal tersebut 
terlihat dari kedua tokoh yang saling melempar pujian dan sanjungan, bahkan 
Jokowi sempat menyebut Surya Paloh sebagai sahabat dan saudaranya.

Begitu pula dengan Surya Paloh memberikan kesempatan bagi Jokowi untuk 
‘menjajal’ kursi Ketua Umum Partai NasDem dan memberikan kartu anggota 
perpustakaan untuk dua cucu Jokowi, yaitu Jan Ethes dan Sedah Mirah.

Romantisme antar keduanya ternyata menjadi sorotan khususnya bagi partai 
pengusung Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019, yakni PDIP. Ketua DPP PDIP Andreas 
Hugo Pareira menilai momentum tersebut dengan komentar miring. Ia 
mempertanyakan keputusan Surya Paloh yang mempersilakan Jokowi duduk di 
kursinya sekaligus memberikan saran supaya NasDem lebih baik fokus untuk 
mendukung pemerintahan Jokowi hingga selesai.

Terlepas dari intrik antara kedua partai ini, memang sosok Presiden Jokowi 
masih populer di tengah masyarakat. Terbukti dari beberapa lembaga survei yang 
mempublikasikan jika elektabilitas Jokowi masih mendominasi bursa capres 
menjelang Pilpres 2024. Survei Litbang Kompas menunjukkan tingkat kepuasan 
publik terhadap kinerja pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin mencapai 73,9 
persen. Angka ini meningkat dari 66,4 persen dibandingkan survei pada Oktober 
2021 lalu.

Sementara lembaga survei lain seperti Saiful Mujani Research and Consulting 
(SMRC) mengemukakan jika tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Joko 
Widodo mencapai 71,7 persen. Lembaga survei Indikator Politik Indonesia pun 
juga mempublikasikan hasil survei yang hampir serupa, yaitu 70 persen 
masyarakat puas terjadap kinerja Jokowi. Adapun kepuasan masyarakat ini tidak 
lepas dari sejumlah kebijakan yang diterapkan selama menangani pandemi Covid-19.

Kepuasan masyarakat tidak hanya diperlihatkan melalui hasil survei, namun juga 
dari munculnya wacana presiden 3 periode. Direktur Eksekutif Indikator Politik 
Burhanuddin Muhtadi menilai mayoritas masyarakat masih mendorong Jokowi untuk 
menjadi capres di 2024 mendatang meski secara konstitusi tidak dapat dilakukan. 
Jika mengacu pada kondisi ini, terlihat antusiasme terhadap Jokowi masih cukup 
tinggi.

Namun, dengan adanya konstitusi membuat Presiden ke-7 RI ini tidak bisa kembali 
mencalonkan diri sebagai presiden. Maka tidak heran jika popularitas seorang 
Jokowi kian diperebutkan oleh partai politik termasuk PDIP dan NasDem.

Lantas dengan adanya pertemuan antara Jokowi dengan Surya Paloh beberapa waktu 
lalu, apakah itu membuat intrik antara PDIP dan NasDem semakin memanas?

Baca juga :  Kok Bisa Masyarakat Puas? 
Puncak Konflik?
Perseteruan antar kedua partai politik ini sepertinya semakin memanas daripada 
sebelumnya. Intrik yang terjadi antara PDIP dan NasDem awalnya bermula dari isu 
perekrutan kader PDIP oleh NasDem. Tindakan ini ternyata sangat berpengaruh 
terhadap hubungan dua petingginya, yaitu Megawati Soekarnoputri dan Surya 
Paloh. Hal ini terlihat jelas saat momentum rapat paripurna pelantikan anggota 
DPR/MPR/DPD pada tahun 2019 lalu ketika Megawati tidak menyalami Surya Paloh.

Berbagai spekulasi bermunculan dan isu yang berhembus adalah seputar perekrutan 
kader PDIP oleh NasDem. Pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio 
menilai jika Megawati kecewa karena banyak kepala daerah dari PDIP yang pindah 
ke NasDem. Tercatat beberapa kader yang berpindah dari PDIP ke NasDem, mulai 
dari anggota DPRD hingga Gubernur. Pada tahun 2018, misalnya, Gubernur Papua 
Barat Dominggus Mandacan berpindah ke partai pimpinan Surya Paloh tersebut.

- Advertisement -Jika melihat fenomena ini, tidak heran jika PDIP dan NasDem 
terlibat dalam ‘perang dingin’ yang berkepanjangan. Gesekan antar keduanya bisa 
semakin tajam dengan adanya pertemuan antara Jokowi dan Surya Paloh karena 
mantan Wali Kota Solo ini merupakan kader dari PDIP. Tindakan yang dilakukan 
oleh NasDem ini ternyata langsung menuai reaksi dari partai pengusung Jokowi, 
yakni PDIP.

Karena salah satu kader terbaiknya, yaitu Jokowi yang saat ini menjabat sebagai 
orang nomor satu di Indonesia didekati oleh partai NasDem, maka tidak heran 
jika PDIP segera bereaksi melihat hal tersebut. Hubungan kedua partai kian 
panas dan pertemuan antara Jokowi dan Surya Paloh ini bisa menjadi momentum 
berakhirnya hubungan baik antar kedua partai tersebut. Layaknya sebuah perang, 
kedua partai ini tengah berperang secara tidak langsung atau disebut juga 
sedang menerapkan perang psikologis.

Dalam tulisan berjudul Psychological Warfare: Call out Adversaries’s Designs 
karya V.K Ahluwalia, dijelaskan bahwa psychological warfare atau perang 
psikologis merupakan sebuah pilihan dalam berperang untuk mempengaruhi lawan 
sehingga pihak lawan akan bereaksi. Respons dari pihak lawan diharapkan bisa 
sesuai dengan keinginan subjek yang hendak melakukan perang psikologis. Hal ini 
pun sesuai dengan postulat Sun Tzu dalam bukunya yang berjudul The Art of War, 
yaitu menundukkan tanpa sekalipun bertempur adalah yang terbaik.

Perang psikologis antar kedua partai ini tidak hanya tersaji pada momentum 
pertemuan antara Surya Paloh dan Jokowi di kantor NasDem. Tercatat sudah 
beberapa kali kedua partai saling lontarkan pernyataan terkait manuver politik 
yang mereka lakukan. Misalnya saat Surya Paloh merangkul Presiden PKS Sohibul 
Iman yang akhirnya menuai reaksi dari Presiden Jokowi. Alhasil pernyataan 
Jokowi dibalas oleh Paloh dalam pidato di Kongres II Partai NasDem.

Baca juga :  Masyarakat Puas dengan Kinerja PresidenTidak hanya itu, manuver 
perang psikologis juga dilancarkan NasDem ketika menyatakan dukungannya 
terhadap Anies Baswedan untuk maju dalam Pilpres 2024 mendatang. Momentum ini 
pun menuai reaksi dari PDIP yang menyebut jika partai koalisi Jokowi-Ma’ruf itu 
memiliki agenda sendiri. Saling tuding menuding antar kedua partai ini 
memperlihatkan sebuah perpisahan bisa menjadi jalan yang dipilih menjelang 
kontestasi politik tahun 2024. Lantas mengapa meski terus melakukan perang 
psikologis, NasDem tidak ragu mendeklarasikan dukungan terhadap Jokowi yang 
notabene adalah kader PDIP?

 
Butuh Endorsement Jokowi?
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengemukakan jika partainya sudah memiliki 
kandidat untuk capres di 2024. Setidaknya ada tiga nama yang akan disiapkan 
untuk maju oleh NasDem, namun belum bisa dipastikan dengan jelas. Konvensi 
partai yang bertujuan untuk menyaring kader-kader dari berbagai latar belakang 
juga masih menemui hambatan di berbagai faktor sehingga pelaksanaannya pun 
masih tentatif.

Meski belum jelas, komitmen NasDem untuk terus mendeklarasikan dukungan 
terhadap Jokowi tetap konsisten hingga menjelang 2024. Tampaknya NasDem ingin 
mengulang keberhasilannya ketika menjadi partai pertama yang mendeklarasikan 
dukungan terhadap Jokowi di Pilpres 2014. Gerak cepat ini membuahkan hasil. 
Pada 16 Juli 2019, Surya Paloh menyatakan jika partainya mampu mendapatkan 59 
kursi karena dukungan Jokowi.

Tampaknya keberhasilan ini ingin kembali diulang menjelang momentum Pilpres 
2024 mendatang. Efek ekor jas yang disebabkan oleh figur Jokowi tampaknya 
dilihat sebagai peluang bagi NasDem, khususnya sebagai pendorong elektabilitas 
bagi kandidat capres yang hendak diusung. Endorsement atau promosi yang 
didukung oleh sosok Jokowi dinilai mampu menggerakkan masyarakat untuk 
mendukung capres yang diusung NasDem.

Hal ini bisa dijelaskan melalui konsep political marketing dalam buku berjudul 
Political Marketing As Party Management-Thatcher karya Jennifer Lees-Marshment. 
Intinya bagaimana cara untuk memenuhi kepuasan pemilih sehingga bisa meraup 
dukungan. Hal ini bisa direalisasikan jika melihat elektabilitas Jokowi yang 
masih tinggi.

Sama halnya dengan buku berjudul Political Marketing: An Approach to Campaign 
Strategy karya Gary Mauser yang menjelaskan jika konsep pemasaran politik 
merupakan cara untuk memengaruhi perilaku massa atau publik dalam situasi yang 
kompetitif. Maka wajar saja jika NasDem tidak perlu berlama-lama 
mendeklarasikan dukungan terhadap Jokowi. Harapannya, pengaruh Jokowi bisa 
memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perolehan suara Partai NasDem, 
baik di pemilihan legislatif maupun eksekutif.

Jika melihat tren Partai NasDem yang selalu menjadi yang terdepan mendukung 
Jokowi setiap menjelang kontestasi politik, bukan tidak mungkin ini juga 
manuver yang sama untuk mendongkrak elektabilitas, khususnya bagi kandidat 
capres yang diusung NasDem. Fenomena ini menarik untuk terus diikuti 
kelanjutannya. (G69)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/BAFE6FE538194709BFD4825014B7473C%40A10Live.

Reply via email to