Written byA43Monday, March 7, 2022 18:00
Membaca Taktik Zelensky Kalahkan Putin
Dunia dihebohkan dengan operasi militer yang dijalankan pemerintahan Vladimir 
Putin di Rusia terhadap Ukraina. Meski Putin dikenal dengan pembangunan citra 
yang baik di dunia internasional, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky justru 
lebih banyak menarik perhatian dunia. Mengapa demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Konflik merupakan sesuatu yang kerap terjadi. Dalam hubungan asmara, misalnya, 
ketidakcocokan tidak jarang akan berujung pada konflik di antara mereka-mereka 
yang terlibat dalam jalinan asmara tersebut.

Ini pun juga terjadi di tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi seperti politik, 
termasuk politik internasional. Namun, seperti yang telah diketahui, konflik 
antarnegara bukanlah konflik yang murah karena harus memakan biaya yang besar, 
termasuk nyawa dan nasib para korban yang terdampak oleh persinggungan 
kepentingan-kepentingan antarnegara.

Baru-baru ini, konflik pun meletus di benua Eropa, yakni antara Rusia dan 
Ukraina. Setelah berbulan-bulan terjadi intensitas politik tingkat tinggi di 
antara Rusia, Ukraina, dan negara-negara Eropa Barat serta Amerika Serikat 
(AS), Presiden Rusia Vladimir Putin akhirnya melancarkan operasi militer khusus 
terhadap Ukraina pada 24 Februari 2022.

Banyak dari mereka akhirnya harus merenggang nyawa. Banyak juga di antara 
mereka akhirnya harus meninggalkan rumah mereka agar dapat bisa melanjutkan 
hidup tanpa ancaman kekerasan bersenjata.

Namun, di tengah berbagai ancaman konflik yang menimpa Ukraina, ada satu 
pemimpin negara tersebut yang justru tampak menjadi semakin dikenal – bahkan 
hingga di luar negaranya sendiri. Sosok tersebut adalah Presiden Ukraina 
Volodymyr Zelensky.

Di media sosial (medsos), banyak dari warganet membandingkan sosok Zelensky 
dengan Putin. Zelensky ditampilkan sebagai sosok yang sederhana sedangkan Putin 
terlihat seperti pemimpin yang angkuh.

Dalam salah satu cuitan di Twitter, misalnya, tampak Putin yang tengah rapat 
berjauh-jauhan di meja panjang dengan para pejabat pemerintahannya. Sementara, 
Zelensky yang mengenakan pakaian perang justru terlihat berbicara akrab dengan 
bawahan-bawahannya sembari makan pada satu meja yang sama.

 
Tidak hanya meme yang beredar, Zelensky juga menampilkan diri sebagai sosok 
yang pemberani yang tidak bersedia meninggalkan Ukraina meski pemerintah AS 
telah menawarkan bantuan untuk keluar dari negaranya. Presiden Ukraina tersebut 
justru langsung mengunggah sebuah video dengan nada sepia sembari mengumumkan 
bahwa dirinya akan ikut berjuang.

Perbandingan sosok Zelensky dan Putin yang ditampilkan di medsos ini setidaknya 
menambah unsur baru dalam konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. Tidak 
hanya di darat – dan medan pertempuran seperti laut dan udara, medan perang 
lain justru menjadi krusial juga, yakni medsos.

Tentunya, muncul sejumlah pertanyaan soal apakah penting peperangan yang 
terjadi di medsos ini. Mengapa Zelensky justru sangat memerlukan kemenangan 
tersendiri di medan perang satu ini? Lantas, apa konsekuensinya terhadap 
konflik Rusia-Ukraina ini?

Mengenal Sosok Zelensky
Untuk memahami bagaimana strategi yang digunakan oleh Zelensky dalam konflik 
ini, tentu perlu juga mengetahui bagaimana latar belakang presiden Ukraina 
tersebut. Bukan tidak mungkin, latar belakang Zelensky turut memengaruhi cara 
ia berpikir dan menanggapi ancaman-ancaman di hadapannya.

Dalam studi Hubungan Internasional, terdapat sejumlah tingkatan analisis (level 
of analysis) dalam mengamati kebijakan luar negeri sebuah negara. Salah satu 
tingkatan tersebut berada pada individu yang menjadi pengambil keputusan di 
pemerintahan.
Zelensky memiliki perjalanan yang cukup panjang sebelum akhirnya menjabat 
sebagai presiden Ukraina sejak tahun 2019. Zelensky lahir dan besar di sebuah 
kota di Ukraina yang sebagian besar penduduknya menggunakan Bahasa Rusia dalam 
kehidupan sehari-hari mereka, yakni kota Kryvyi Rih yang terletak di Ukraina 
bagian tengah.

Trauma atas peristiwa dan sejarah masa lalu tampaknya cukup berpengaruh bagi 
keluarganya. Bagaimana tidak? Zelensky lahir di sebuah keluarga Yahudi. 
Kakeknya, Semyon Zelensky, setidaknya turut mengalami pahitnya perang besar 
yang menjadikan kelompok Yahudi sebagai kelompok yang sangat terdampak, yakni 
Perang Dunia II.

Ayah dan tiga saudara Semyon, misalnya, menjadi korban tragis dari Holocaust 
yang dilancarkan oleh pemeirntah Jerman Nazi. Meski begitu, Semyon terlibat 
aktif dalam militer Uni Soviet dalam melawan Blok Poros.

Bukan tidak mungkin, bagi keluarganya yang berlatarbelakang Yahudi, Perang 
Dunia II merupakan mimpi buruk – memaksa mereka harus pergi dari rumah mereka. 
Pengalaman masa lalu ini bisa jadi mempengaruhi Zelensky dalam menyikapi 
konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.

 
Setidaknya, Zelensky kini menampilkan dirinya bak pahlawan yang tetap hadir 
meskipun nyawanya turut terancam. Kepeduliannya terhadap masyarakat Ukraina 
inipun juga terlihat dari bagaimana istrinya, Olena Zelenska, yang selalu 
berusaha terlibat dalam berbagai program yang mendukung kelompok-kelompok 
rentan.

Tidak hanya berhenti di situ, Zelenska juga aktif dalam mengembangkan kekuatan 
lunak (soft power) Ukraina. Dengan menginisiasi, sebuah pertemuan tingkat 
internasional di Kiev, Zelenska menyebutnya sebagai bentuk baru soft power.  

Tidak mengherankan apabila soft power menjadi andalan Zelensky dan Zelenska. 
Pasalnya, keduanya memiliki pengalaman panjang dalam industri hiburan, media, 
dan komedi. 

Bukan tidak mungkin, pengalaman ini menjadi bekal dasar Zelensky dalam 
menyikapi perang ini – yakni melalui media dan komunikasi publik. Dengan 
konflik yang terjadi, bisa saja Zelensky berusaha membawa pertempuran ke dalam 
dunianya, yakni media.

Bila benar, Zelensky akhirnya berusaha membawa pertempuran dengan Putin ke 
medan perangnya sendiri, mengapa strategi yang diambilnya menjadi penting? 
Lantas, mungkinkah Zelensky telah mengungguli Putin di medan perang ‘baru’ ini?

Information Warfare ala Zelensky
Dengan perkembangan media baru di abad ke-21 ini, medan perang pun meluas. 
Tidak hanya terjadi di medan darat di mana tank dan pasukan dua belah pihak 
saling bertemu, pertempuran pun mulai terjadi di dunia udara, yakni dunia media 
– mulai dari media massa, jejaring internet, hingga medsos.

Peperangan jenis ini kerap disebut sebagai peperangan informasi (information 
warfare). Yevgeniy Golovchenko dan rekan-rekannya dalam tulisan mereka yang 
berjudul State, Media and Civil Society in the Information Warfare over Ukraine 
menjelaskan bahwa peperangan informasi merupakan penggunaan informasi – dan 
disinformasi – secara strategis untuk mencapai tujuan-tujuan politis.

Sederhananya, informasi menjadi senjata dalam peperangan ini. Sementara, garis 
depan yang diperebutkan adalah pikiran individu-individu yang mendapatkan 
informasi dan disiformasi strategis tersebut.
Di sisi lain, peperangan informasi antara Rusia dan Ukraina ini bukan baru saja 
terjadi saat ini, melainkan sudah meletus sejak aneksasi Krimea pada tahun 2014 
silam. Kala itu, Rusia menyebarkan narasi bahwa keterlibatannya di Krimea 
merupakan bentuk dukungan terhadap kelompok marginal di Krimea yang mengalami 
ketidakadilan oleh pemerintah Ukraina.

 
Narasi yang sama pun kembali dilancarkan oleh Rusia kini. Dalam akun-akun media 
milik Rusia, tersebar juga narasi bahwa Rusia ingin melawan neo-Nazisme Ukraina 
yang mengancam kelompok Rusia di wilayah tertentu.

Namun, berbeda dengan peperangan informasi sebelumnya, Ukraina kini bisa jadi 
mengandalkan sosok Zelensky yang mahir dalam mempengaruhi opini publik di depan 
kamera. Di tengah gempuran militer Rusia yang jauh lebih kuat, Zelensky 
menampilkan diri bak judul serial komedinya, yakni Servant of the People (2015).

Ada satu hal yang berbeda dari narasi yang ditampilkan oleh Zelensky, yakni 
serangan Rusia yang disebut mengancam warga-warga sipil Ukraina. Apa yang 
disebut bisa jadi benar dan bisa jadi salah – tergantung fakta apa yang terjadi 
di balik semua informasi yang beredar saat ini.

Namun, satu hal penting yang bisa mempengaruhi bagaimana peperangan informasi 
ini berlanjut, yakni sebuah konsep yang disebut sebagai underdog effect (efek 
tidak diunggulkan). Anat Keinan dari Harvard Business School bersama 
rekan-rekan lainnya dalam tulisan mereka yang berjudul Capitalizing on the 
Underdog Effect menjelaskan bahwa efek ini membuat audiens untuk lebih 
mendukung pihak yang lemah dalam sebuah persaingan.

Ada dua komponen utama dalam narasi underdog, yakni (1) posisi yang tidak 
menguntungkan dan (2) sebuah dorongan (passion) untuk bisa berhasil dalam 
berbagai ketidakmungkinan dan situasi yang sulit. Dua komponen ini membuat 
audiens lebih bersimpati pada underdog (pihak yang lebih lemah).

Bukan tidak mungkin, dua komponen narasi ini terlihat dari informasi yang 
disebarkan oleh Ukraina dan Zelensky – mulai dari korban sipil hingga kritik 
terhadap Rusia yang dianggap sewenang-wenang. Lantas, mengapa efek underdog ini 
menjadi krusial bagi Zelensky?

Bisa jadi, ini disebabkan oleh ketimpangan kekuatan militer antara Rusia dan 
Ukraina. Bila Zelensky memainkan kartu yang sama dengan Putin, sudah jelas 
dirinya akan jauh lebih lemah.

Mungkin, untuk saat ini, peperangan informasi adalah strategi terbaik yang bisa 
diambil oleh Zelensky – mengingat negara-negara Barat dan AS tampak tidak ingin 
terlibat lebih jauh dalam konflik itu. Lagipula, dalam kesempitan seperti ini, 
strategi terbaik yang bisa digunakan adalah menjalankan hal terbaik yang bisa 
dilakukan. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DE6B57EECE0F4F4E8E6736B4FAA51645%40A10Live.

Reply via email to