Written byR53Tuesday, March 8, 2022 10:45
NasDem Batal Berkoalisi dengan Golkar?
Isu penundaan pemilu dikeluarkan oleh Partai Golkar, PKB, dan PAN. Di sisi 
lain, partai besar seperti PDIP, NasDem dan Gerindra telah menegaskan penolakan 
wacana. Dengan tanggal Pemilu 2024 sudah ditetapkan, mengapa wacana penundaan 
masih bergulir? Apakah ini untuk memetakan koalisi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “In politics, nothing happens by accident. If it happens, you can bet it was 
planned that way.” – Franklin D. Roosevelt, Presiden ke-32 Amerika Serikat

Jika boleh jujur, awalnya penulis tidak begitu tertarik pada isu penundaan 
pemilu. Awalnya, penulis mengira isu ini hanyalah salah satu mainan elite, 
dalam artian, ini hanya bagian manajemen isu. Seperti yang disebutkan Ed Rogers 
dalam tulisannya The politics of noise, merupakan praktik yang lumrah bagi 
politisi untuk menciptakan kebisingan politik dengan melempar isu tertentu.

Namun, setelah berbagai petinggi partai secara kompak bersuara, penulis mulai 
menaruh perhatian serius. Pasalnya, mestilah Golkar, PKB, dan PAN memiliki 
perhitungan matang di balik keluarnya dukungan terhadap penundaan Pemilu 2024. 
Menimbang pada wacana penundaan pemilu sangat tidak populis alias berlawanan 
dengan dukungan publik, hampir dapat dipastikan terdapat intrik politik serius 
di balik dukungan yang disampaikan. 

Tidak hanya masyarakat umum dan akademisi, berbagai elite politik juga 
memberikan suara keras penolakan. Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah, 
misalnya, menegaskan bahwa keluarnya tanggal pemilu serentak pada 14 Februari 
2024 seharusnya menutup skenario-skenario yang selama ini diserukan. Ada pula 
penolakan wacana penundaan pemilu dari Ketua DPP PDIP Puan Maharani dan Ketua 
Umum Partai NasDem Surya Paloh.

Namun, seperti yang diketahui, setelah tanggal Pemilu 2024 ditetapkan, isu 
penundaan pemilu faktanya tetap bergulir. Bukankah keluarnya tanggal pemilu 
seharusnya menjadi penutup wacana? Lantas, dengan berbagai kejanggalan yang 
ada, mengapa isu ini masih hangat terbaca publik? 

 
Tes Ombak?
Mengacu pada pola-pola sebelumnya, kita dapat memahami isu ini sebagai trial 
balloon. Ini adalah teknik komunikasi politik yang dilakukan dengan cara 
sengaja melempar suatu isu untuk melihat dan memetakan reaksi publik. 

Dengan kata lain, tengah dicoba untuk dilihat apakah publik mendukung atau 
justru resisten terhadap wacana penundaan pemilu. Namun, kembali pada premis 
awal, dengan wacana ini sangat tidak populis, bukankah sangat mudah 
menyimpulkannya pasti ditolak publik? Apalagi, untuk mewujudkan wacana ini 
membutuhkan amendemen UUD 1945.

Menimbang pada kejanggalan tersebut, kita perlu bertolak pada pola yang terjadi 
di Indonesia. Yang menarik adalah, pada kebanyakan kasus, trial balloon tidak 
ditujukan kepada masyarakat luas, melainkan kepada politisi dan partai politik. 
Ini adalah diplomasi terbuka untuk melihat ketertarikan politisi dan partai 
lain terhadap isu yang dilemparkan. Jika tertarik, lobi-lobi belakang layar 
kemudian akan dilakukan.

Ini terlihat jelas dari kronologis keluarnya isu penundaan pemilu. Ketua Umum 
PKB Muhaimin Iskandar yang pertama melempar isu pada 23 Februari. “Dari semua 
(masukan) itu saya mengusulkan Pemilu 2024 ditunda satu atau dua tahun,” ungkap 
Muhaimin.
Sehari setelahnya, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto juga 
menyampaikan dukungan. “Aspirasinya kami tangkap tentang keinginan adanya 
kebijakan berkelanjutan dan juga ada aspirasi kebijakan yang sama bisa terus 
berjalan. Tentu permintaan ini, yang menjawab bukan Menko, karena Menko tadi 
menjawab urusan sawit,” ungkap Airlangga pada 24 Februari. 

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) juga merespons sehari setelahnya. “PAN 
setuju bahwa pemilu perlu dipertimbangkan untuk diundur,” ungkap Zulhas pada 25 
Februari. Bertolak pada respons yang hanya berselang sehari-sehari, dapat 
disimpulkan bahwa pernyataan sesudahnya adalah respons dari pernyataan 
sebelumnya.

Ross Tapsell dalam bukunya Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens and 
the Digital Revolution, memberikan penjelasan menarik yang menjadi elaborasi 
penting. Menurut Tapsell, munculnya era digital di media massa telah mengubah 
wajah politik di Indonesia. 

Menurutnya, media massa, khususnya media arus utama, telah menjadi wadah bagi 
elite politik untuk mengkonsolidasikan agenda politik mereka. Artinya, media 
arus utama merupakan arena terbuka para politisi untuk menunjukkan agenda, 
persepsi, dan pandangannya. Kita dapat melihat isu apa yang tengah dibahas 
elite melalui pengentalan isu di media arus utama.

Lantas, jika benar wacana penundaan pemilu sebenarnya tidak ditujukan kepada 
publik, apa kira-kira motif dari isu ini? 

 
Petakan Koalisi?
Sedikit berspekulasi, menimbang pada kecilnya potensi wacana mendapat dukungan 
publik, sepertinya wacana ini ditujukan untuk melihat elite politik atau partai 
mana yang memiliki persepsi yang sama. Simpulan ini penulis tarik dari buku 
Annelies Kusters dan kawan-kawan yang berjudul Sign language ideologies: 
Practices and politics. 

Dijelaskan, setiap tanda dan bahasa bersifat spesifik karena hanya bisa 
dipahami oleh mereka yang memahaminya. Terdapat tanda-tanda yang hanya bisa 
dipahami ketika kita sudah dekat atau mengetahui cara berpikir seseorang. 
Contohnya, Anton sangat paham Andri sedang bersedih ketika Andri tidak 
mengunggah status di Facebook pada hari ini. Anton sangat paham bahwa Andri 
pasti membuat status setiap hari. 

Begitu pula pada tanda dan bahasa politik. Sinyal-sinyal politik tidak 
ditujukan kepada publik, melainkan kepada para elite politik yang memang 
memahaminya. Nah, di titik ini, kita dapat membuat spekulasi bahwa isu 
penundaan pemilu digunakan untuk melihat partai yang memiliki persepsi yang 
sama guna memetakan koalisi untuk Pemilu 2024. 

Persoalan kesamaan persepsi ini menjadi vital. Ivan Doherty dalam tulisannya 
Coalition Best Practices menyebut ada empat faktor esensial dalam membentuk 
koalisi partai politik. Pertama, koalisi harus bermanfaat bagi semua partai 
penyusunnya. Kedua, harus ada rasa saling menghormati dan pengertian. Setiap 
partai harus menunjukkan kemampuan untuk memahami sudut pandang partai lain, 
bahkan ketika ada ketidaksepakatan. 
Ketiga, harus ada kemauan untuk berkompromi. Keempat, harus ada rasa kemitraan, 
bahkan jika ukuran partai berbeda. Kemitraan tidak berarti semua tanggung jawab 
dan posisi dibagi secara merata, melainkan setiap kelompok dihormati karena 
atribut unik yang dimilikinya, sehingga suara koalisi diambil secara bersama.

Dari keempat faktor esensial tersebut, semuanya membahas soal kesamaan atau 
titik temu. Nah, konteks kesamaan terhadap penundaan pemilu dapat menjadi titik 
temu pembicaraan koalisi. Sekalipun nantinya penundaan pemilu kandas, 
partai-partai yang bertemu setidaknya sudah merasakan kesamaan persepsi dan 
visi. Jika spekulasi tersebut tepat, kita dapat memetakan dua poros koalisi 
dini, yakni yang mendukung dan menolak penundaan. 

Yang mendukung ada tiga partai, yakni PKB, Golkar, dan PAN. Sedangkan yang 
menolak ada enam partai, yakni NasDem, PDIP, PPP, Demokrat, PKS, dan Gerindra. 
Yang menarik, kita dapat memetakannya menjadi tiga poros jika partai 
non-koalisi pemerintah dibedakan.

Pertama, ada PKB, Golkar, dan PAN, yang dipimpin oleh partai beringin selaku 
yang memperoleh suara terbesar. Kedua, ada PDIP, Gerindra, PPP, dan NasDem, 
yang dipimpin oleh partai banteng. Ketiga, ada Demokrat dan PKS.

Terkait benturan PDIP dan Golkar, ini sudah diungkit berbagai pihak. Sudah 
berkali-kali pula dibahas dalam artikel PinterPolitik. Di satu sisi PDIP ingin 
mencatatkan hat-trick alias kembali menang di Pemilu 2024. Sementara di sisi 
lain, Golkar disebut ingin kembali menjadi partai penguasa. Untuk tujuan ini, 
partai beringin tidak boleh satu gerbong dengan PDIP lagi.

Yang menarik dari peta poros dini ini adalah, Golkar dan NasDem yang awalnya 
disebut berkoalisi justru menunjukkan sikap yang berbeda. Bahkan Surya Paloh 
turun langsung memberikan suara-suara tegas untuk menolak penundaan pemilu. 
Mungkin dapat dikatakan, poros Golkar-NasDem tampaknya urung terjadi di Pilpres 
2024.

Well, kita lihat saja bagaimana kelanjutan isu penundaan ini. Sebagai penonton, 
kita hanya dapat menikmati dan menilai, sejauh mana keindahan orkestra politik 
yang sedang dimainkan. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D68D342DC4AD4D8484A7CE474ADB7BC8%40A10Live.

Reply via email to