Written byD74Friday, March 11, 2022 21:31
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/xi-jinping-juru-selamat/
Xi Jinping, Juru Selamat Ukraina?
Konflik Ukraina-Rusia tampak masih belum memiliki solusi. Di tengah kemelut, 
Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk pertama kalinya terlihat terlibat langsung 
dalam meredam konflik dengan mengajak Prancis dan Jerman mencari solusi 
perdamaian. Mampukah Xi Jinping menjadi ‘juru selamat’ konflik Ukraina, 
sekaligus Eropa? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Konflik antara Rusia dan Ukraina sampai saat ini masih belum menemukan titik 
terang. Terakhir, pertemuan antara Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei 
Lavrov dan Menlu Ukraina Dmytro Kuleba di Turki, untuk membahas perjanjian 
perdamaian, gagal mencapai kesepakatan. Oleh karena itu, Lavrov mengatakan 
Rusia akan tetap melanjutkan serangan sampai tujuannya tercapai. 

Dari sejumlah pemimpin dunia yang sudah bersuara tentang invasi Rusia, terdapat 
satu sosok yang menarik untuk disorot, yakni Presiden Tiongkok Xi Jinping. Pada 
awal Maret ini, pemimpin Negeri Tirai Bambu tersebut mengadakan pertemuan 
virtual dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Olaf 
Scholz.  

Selesai pertemuan, Xi menegaskan bahwa Tiongkok mendukung adanya pembicaraan 
damai antara Moskow dan Kyiv. Ia juga mengatakan pihaknya akan berkomunikasi 
dan berkoordinasi dengan Prancis, Jerman dan Uni Eropa (UE), termasuk bekerja 
sama secara aktif dengan masyarakat internasional untuk penyelesaian konflik 
Ukraina. 

Melihat Xi yang akhirnya ‘turun tangan’ ke konflik yang tengah menyita 
perhatian dunia ini, sejumlah pengamat kemudian berspekulasi tentang peran 
besar yang bisa dimainkan Tiongkok dalam politik luar negeri Eropa.  

Contohnya adalah Stephen Roach, seorang ekonom senior dari Amerika Serikat 
(AS), yang mengatakan bahwa keterlibatan Xi adalah apa yang ditunggu-tunggu 
oleh Eropa, khususnya Prancis dan Jerman. Hal ini karena Xi dianggap sebagai 
satu-satunya pemimpin yang akan didengar Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Roach pun mengatakan, dari segi ekonomis, memang sudah saatnya bagi Tiongkok 
untuk meredam ambisi Rusia. Justru akan menjadi kesalahan besar bagi Beijing 
untuk mempertahankan kemitraannya dengan Moskow ketika dunia memberikan tekanan 
luar biasa pada Rusia, karena tidak ada jaminan, sanksi yang diberatkan dunia 
pada Rusia tidak akan ikut memberatkan dan bahkan mungkin merembet ke Tiongkok. 

Oleh karena itu, mulai muncul anggapan bahwa Xi adalah ‘juru selamat’ dari 
konflik Ukraina, dan jawaban atas dilema yang dihadapi oleh negara-negara Eropa 
dalam menghadapi ambisi politik Rusia. 

Lantas, mengapa sang Sekjen Partai Komunis Tiongkok tersebut bisa dianggap 
sebagai juru selamat? 

 
Tiongkok, Jawaban Eropa? 
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, pertama-tama kita perlu mencari tahu 
mengapa Prancis dan Jerman bisa-bisanya ingin bertemu dengan Tiongkok, yakni 
salah satu negara rival terbesar dari sekutu dekat mereka, AS, di tengah 
panasnya politik internasional.  

Well, ketika kita bicara tentang Tiongkok, tentu alasannya pasti berkaitan 
dengan kepentingan ekonomi. Berdasarkan temuan ekonom bernama Max Zenglein dari 
Mercator Institute for China Studies (MERICS), dalam 20 tahun terakhir, 
Tiongkok telah berkembang menjadi salah satu mitra dagang terbesar bagi UE. 
Nilai perdagangan antara Tiongkok dan UE dari tahun 2000 sampai 2019 ditemukan 
telah mencapai angka €560 miliar. 

Peningkatan nilai dagang ini telah menjadikan Tiongkok sebagai negara mitra 
dagang terpenting kedua UE setelah AS. Banyak perusahaan di UE dan Tiongkok 
yang kemudian bergantung pada hubungan yang sehat antara dua entitas politik 
tersebut. Bahkan, Zenglein menyebutkan ada 103 kategori produk elektronik, 
kimia, mineral/logam, dan produk farmasi/medis, di mana UE memiliki 
ketergantungan strategis yang kritis terhadap impor dari Tiongkok. 
Dengan demikian, Zenglein menyimpulkan, mempertahankan hubungan ekonomi saling 
ketergantungan yang sehat telah menjadi kepentingan utama dari UE dan Tiongkok. 
Ikatan ekonomi yang kuat juga dinilai dapat menciptakan peluang untuk 
eksploitasi politik, yang bisa digunakan untuk mencegah munculnya sebuah 
eskalasi politik. 

Ini kemudian membawa kita ke pembahasan selanjutnya. Direktur Institute for 
Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, menduga bahwa Jerman dan 
Prancis, sebagai representasi de facto dari UE, sesungguhnya tengah berupaya 
memanfaatkan hubungan ekonominya yang kuat dengan Tiongkok untuk meredam ambisi 
militer Rusia yang semakin sulit dijangkau oleh negara-negara Barat. 

Seperti yang kita ketahui, Rusia pun merupakan salah satu mitra dagang paling 
penting bagi EU. Menurut data dari European Commission, hingga tahun 2020, 
sebanyak 26% impor minyak bumi UE berasal dari Rusia, sementara itu, jumlah 
impor gas UE 40% berasal dari Rusia.  

Oleh karena itu, dengan menggunakan kedekatan ekonomi dengan Tiongkok, dan 
mengandalkan kedekatan politik Beijing dan Moskow, Prancis dan Jerman bisa 
disebut sedang mencari jaminan agar kepentingan ekonomi mereka bisa terjaga di 
balik ketidakpastian konstelasi politik akibat konflik antara Ukraina dan Rusia 
ini. 

Xi Jinping di sisi lain, memiliki alasan yang kuat untuk mendengarkan 
permintaan tolong dari Prancis dan Jerman, karena seperti yang diungkapkan 
ekonom Stephen Roach, Tiongkok perlu menyadari bahwa sanksi ekonomi yang 
dijatuhkan sejumlah negara pada Rusia bisa kapan saja merembet ke Tiongkok. Xi 
Jinping pun sepertinya menyadari bahwa ia harus mendapatkan kepastian hubungan 
ekonominya dengan Eropa tidak ikut terancam.

Tentunya, kesepakatan antara Prancis, Jerman, dan Tiongkok bisa dipastikan 
tidak semata-mata terjalin hanya dengan motivasi perdamaian saja. Khairul Fahmi 
menyebutkan, pasti ada perundingan yang tentunya menguntungkan multipihak, 
terlebih lagi, Tiongkok dikenal sebagai negara yang sangat mementingkan 
hubungan ekonomi. 

Lantas, apakah Tiongkok memang satu-satunya jawaban bagi Eropa, khususnya 
Prancis dan Jerman? 

 
Jawaban Akibat Kesalahan NATO? 
Filsuf Slovenia, Slavoj Žižek dalam tulisannya What Does Defending Europe Mean? 
menilai bahwa saat ini, satu-satunya cara bagi UE untuk mempertahankan dirinya 
adalah dengan mempersuasi negara-negara untuk dapat berkontribusi lebih besar 
bagi Eropa, daripada apa yang sanggup ditawarkan oleh Rusia dan Tiongkok. 
Melihat fenomena sekarang, tampaknya mustahil bila ada negara yang mampu 
berperan seperti itu. 

Meskipun AS masih memiliki peran politik yang besar di kawasan UE, bisa 
dipastikan AS tidak akan bisa berbuat banyak dalam memastikan kepentingan UE 
tetap berjalan dengan lancar jika AS semakin melibatkan dirinya dalam konflik 
Rusia-Ukraina. 
Kita bisa lihat sendiri, setelah Presiden Joe Biden melemparkan wacana untuk 
menyetop impor energi dari Rusia, Eropa langsung menggeliat kepanasan, Jerman 
dan Hongaria secara spontan menolak wacana tersebut. Menteri Ekonomi (Menkeu) 
Jerman Robert Habeck bahkan mengatakan bahwa jika pelarangan impor disetujui, 
maka itu akan membuat Jerman jatuh dalam krisis ekonomi, dan ini tentu juga 
akan berimbas pada keseluruhan aktivitas ekonomi Eropa. 

Dari sisi Rusia pun terlihat bahwa Putin kapan saja siap untuk mengeskalasi 
keadaan jika AS ataupun NATO mulai terlihat ingin campur tangan langsung dalam 
konflik Ukraina. Karena hal itu, meski Prancis, Jerman, atau negara UE manapun 
sangat ingin meminta pertolongan ke AS, maka pilihan itu sesungguhnya akan 
menghasilkan kerugian lebih dari apa yang terjadi sekarang. 

Dengan demikian, secara rasional, Xi Jinping sepertinya memang menjadi jawaban 
mutlak bagi Jerman dan Prancis untuk meredam ambisi Putin, sekaligus untuk 
mencari jalan agar kepentingan ekonomi Eropa bisa mendapatkan kepastian. 

Sangat menggelitik untuk kemudian merefleksikan kesimpulan ini dengan apa yang 
dikatakan oleh John J. Mearsheimer dalam tulisannya Why the Ukraine Crisis Is 
the West’s Fault, di mana di dalamnya Mearsheimer mengatakan bahwa sejarah 
ekspansi NATO telah mewariskan sejumlah variabel-variabel yang bisa 
dijustifikasi oleh negara rising power, seperti Rusia, untuk menggaungkan 
kepentingan-kepentingan keamanannya, dan bergerak ke Ukraina. 

Padahal, NATO seharusnya berupaya menjadikan Ukraina sebagai wilayah neutral 
buffer zone atau zona penyangga yang netral antara kubu Barat dan Rusia, 
bukannya bertindak seakan-akan mereka masih memiliki kepentingan di sana, tapi 
terlihat malu-malu untuk bertindak apapun. Tetapi saat ini kesempatan untuk itu 
sepertinya sudah jauh terlambat. 

Sebagai penutup, dinamika merapatnya Tiongkok dengan Rusia, lalu Eropa, 
sesungguhnya menjadi tamparan nyata pada AS bahwa mereka telah melewatkan 
sejumlah kesempatan untuk memantapkan hegemoninya.  

AS pun seharusnya bisa lebih mengantisipasi kemungkinan Rusia dan Tiongkok 
“beraliansi”, dengan tidak memosisikan Rusia sebagai antagonis utama di Eropa. 
Tidak terlihatnya strategi yang efektif dalam meredam ketergantungan Eropa pada 
negara-negara besar Timur juga pada akhirnya membuat sekutu-sekutu AS di Eropa 
terjebak dalam dilema besar. 

Ini lalu mengantarkan kita pada pertanyaan besar, apakah AS justru malah 
merelakan Rusia dan Tiongkok semakin kuat di panggung internasional? Well, itu 
akan jadi topik yang menarik untuk kita diskusikan selanjutnya. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/871CECF50C8046D187C169B02EA0A6BB%40A10Live.

Reply via email to