Written byR53Saturday, March 12, 2022 10:40Jokowi, Motor, dan Politik Kegagahan

Dalam banyak kesempatan Presiden Jokowi kerap menunjukkan diri mengendarai 
motor. Ada motor listrik, motor custom, hingga motor gede alias moge. Terbaru, 
Presiden Jokowi direncanakan melakukan parade bersama 20 pembalap MotoGP untuk 
menyambut MotoGP Mandalika 2022. Pertanyaannya, mengapa Presiden Jokowi kerap 
menunjukkan gestur mengendarai motor?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “We don’t really talk politics so much when we’re on the motorcycle,” – Joni 
Ernst, politisi Amerika Serikat 

“Ngeng, ngeng”, suara laju motor Kawasaki W175 custom Presiden Joko Widodo 
(Jokowi) ketika menjajal Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) 
pada 12 November 2021. Jika melihat gestur politik Presiden Jokowi sejak awal 
menjabat, mengendarai motor sekiranya menjadi ciri yang tak terlepaskan. 

Tidak hanya menunjukkan berbagai motor custom buatan anak bangsa, dalam 
berbagai kunjungan kerjanya, seperti di Papua dan Kalimantan, tampak mantan 
Wali Kota Solo ini menunggangi kuda besi dengan wajah sumringah.

Pada 8 April 2018, sebuah fenomena menarik terjadi saat Presiden Jokowi 
blusukan dengan sepeda motor di Sukabumi, Jawa Barat. Ini menarik bukan karena 
tengah mengendarai motor Chopper Royal Enfield 350 cc, melainkan sebuah 
tangkapan kamera ketika seorang pemuda bertelanjang dada berlari mendekati 
Presiden Jokowi.

Pemuda itu bernama Ariyanto. “Lagi duduk, lagi nunggu Jokowi. Ketika pas lewat, 
(saya) kejar, tapi enggak kepegang,” ungkapnya. Pemuda berusia 19 tahun itu 
ingin bersalaman dan memeluk Presiden Jokowi, sosok yang selama ini hanya 
dilihatnya di televisi.

Foto: ANTARA/Puspa Perwitasari
- Advertisement -Yang terbaru, dalam rangka menyambut MotoGP Mandalika 2022, 
Presiden Jokowi akan melakukan parade bersama dengan 20 pembalap MotoGP. Ya, 
mungkin ini kali pertama sebuah event MotoGP dimulai dengan parade motor pucuk 
tertinggi pemimpin negara.

Atas berbagai gestur mengendarai motor yang diperlihatkan, sekiranya muncul 
satu pertanyaan menarik. Mengapa Presiden Jokowi kerap menampilkan diri 
menunggangi kuda besi? Apakah ini sekadar hobi atau memiliki intrik politik 
tertentu?

Untuk Milenial atau Kegagahan?
Pertama-tama kita perlu memahami gestur menampilkan motor bukan khas dilakukan 
oleh Presiden Jokowi. Politisi di berbagai penjuru dunia juga kerap melakukan 
gestur ini dengan pesan yang berbeda. 

Di Amerika Serikat (AS), misalnya, berbagai politisi Partai Republik lumrah 
menampilkan gestur mengendarai motor pada tahun 2010-an. Mengutip Time, gestur 
tersebut merupakan simbol konservatisme, khususnya metafora untuk menampilkan 
kebebasan dan individualisme yang didukung Partai Republik. 

Seperti kutipan pernyataan Joni Ernst di awal tulisan. Politisi Partai Republik 
yang sekarang menjadi Senator untuk Iowa ini menyebut, “kita tidak banyak 
membahas politik ketika sedang mengendarai motor”. Itu adalah ungkapan 
kebebasan. Melepaskan diri dari kerangkeng politik.

Baca juga :  Jokowi: Persiapan Pemilu Harus MatangNamun tentunya, beda AS beda 
lagi Indonesia. Pesan yang ditampilkan Presiden Jokowi dengan mengendarai motor 
sekiranya bukanlah nilai-nilai kebebasan maupun individualisme. Pada April 
2018, pakar komunikasi politik dari Universitas Jayabaya, Lely Arrianie 
mengatakan gestur ini bisa dibaca untuk menggaet generasi milenial. 

- Advertisement -Lebih lanjut, menampilkan diri menggunakan motor, dinilai Lely 
Arrianie sebagai pesan politik kepada pemilih, khususnya generasi milenial 
bahwa mantan Wali Kota Solo ini tidak berubah.

Pandangan senada juga diungkapkan oleh Direktur Populi Centre, Usep S. Ahyar 
pada 21 Agustus 2018. Menurutnya, aksi Presiden Jokowi dan sembilan Sekretaris 
Jenderal partai politik Koalisi Indonesia Kerja (KIK) mengendarai motor gede 
(moge) ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) merupakan bentuk konstruksi simbol 
politik. 

Ini bermakna bahwa terdapat seorang pemimpin yang menunjukkan kedekatan dan 
keberpihakan kepada anak-anak muda atau kelompok milenial. “Moge ini sebenarnya 
simbol anak muda, simbol ini dikonstruksi oleh mereka untuk menunjukkan 
kreativitas, energik, pemimpin kita pro anak muda, dan tak kolot,” ungkap Usep.

Lantas, apakah mengendarai motor semata-mata adalah cara Presiden Jokowi untuk 
mendekati kelompok milenial? Jika motifnya adalah elektoral atau suara pemilih, 
bukankah di periode kedua motif itu tidak berlaku? 

Jawaban atas pertanyaan tersebut mungkin dapat ditarik dari tulisan Matthew W. 
Rofe dan Hilary P. M. Winchester yang berjudul Masculine Scripting and the 
Mythology of Motorcycling. Menurut mereka, secara meyakinkan, motor dan 
tentunya mengendarai motor telah melahirkan stigma maskulinitas yang telah 
ternaturalisasi.  

Telah tercipta mitos yang kuat, bahwa mengendarai motor, khususnya moge adalah 
bentuk dari maskulinitas, atau yang akrab kita sebut dengan “kegagahan”. Yang 
menarik, persepsi kegagahan ini tidak hanya berlaku pada laki-laki, melainkan 
juga pada perempuan. Mitos ini semakin diperkuat dengan berbagai iklan serta 
film yang menampilan laki-laki berotot mengendarai motor-motor besar.

Dengan demikian, mungkin dapat dikatakan bahwa Presiden Jokowi tengah 
menampilkan dirinya sebagai individu yang gagah. Lantas, jika benar demikian, 
mengapa itu dilakukan?   

 
Tutupi Kekurangan?
Komentar Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute, Hanta Yuda pada Juni 2013 
sekiranya dapat menjadi basis argumentasi untuk menjawab pertanyaan tersebut. 
Ungkapnya, Jokowi merupakan antitesa dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Baca juga :  Penundaan Pemilu, Siapa Dirigennya?Tentu bukan tanpa alasan kuat, 
tidak seperti SBY yang merupakan petinggi militer, Presiden Jokowi tidak 
menampilkan gestur garang, gagah, ataupun mimik muka tegas. Selain itu, gaya 
komunikasi yang digunakan juga sangat kontras. Dibanding Prabowo Subianto, 
misalnya, gaya komunikasi Presiden Jokowi sangat lembut, tidak tegas, tidak 
berapi-api, dan terkesan lemah.

Pada 15 November 2018, pakar komunikasi politik dari UIN Jakarta, Gun Gun 
Heryanto pernah menjelaskan perbedaan gaya komunikasi keduanya. Menurutnya, 
berbeda dengan Prabowo yang menggunakan dynamic style, gaya komunikasi Presiden 
Jokowi merupakan egalitarian style. Ini terlihat dari pidato-pidatonya yang 
tidak pernah menggunakan kata-kata yang tinggi dan susah dimengerti oleh publik.

Lanjutnya, Presiden Jokowi bukan seorang orator yang handal, namun merupakan 
seorang komunikator yang sangat baik. Mantan Wali Kota Solo ini mampu mengelola 
power di sekitarnya tanpa menggunakan bahasa-bahasa yang terlalu tinggi atau 
power berlebihan.

Dengan demikian, mungkin dapat dikatakan, gestur mengendarai motor yang kerap 
ditampilkan Presiden Jokowi memiliki dua motif. Pertama, seperti pernyataan 
berbagai pihak, itu untuk menggaet pemilih milenial. Kedua, ini mungkin sebagai 
cara untuk menutupi kekurangan Presiden Jokowi pada aspek kegagahan.  

Karena bukan merupakan orator handal seperti Soekarno, ataupun memiliki mimik 
muka tegas seperti Prabowo, menggunakan simbol mengendarai motor ditujukan 
untuk menampilkan kesan tegas dan gagah.

Jika analisis ini tepat, maka ini adalah afirmasi atas tulisan Kimly Ngoun yang 
berjudul What Southeast Asian Leaders Can Learn from Jokowi. Menurutnya, 
Presiden Jokowi memiliki kemampuan memainkan dan mengonstruksi simbol politik 
mumpuni, yang membuatnya berbeda dari pemimpin di Asia Tenggara lainnya.

Keberhasilan gestur mengendarai motor ini dapat kita lihat pada tingginya likes 
dan komentar pada akun Instagram Presiden Jokowi (@jokowi). Per 12 Maret, foto 
ketika menjajal Sirkuit Mandalika telah mendapatkan 957 ribu likes, dan 
dikomentari sebanyak 19,6 ribu kali. Membandingkan dengan unggahan lainnya, 
foto tersebut mendapatkan respons yang jauh lebih tinggi. 

Pada unggahan foto ketika Presiden Jokowi bersama Perdana Menteri Malaysia, 
Dato’ Sri Ismail Sabri bin Yaakob di Istana Bogor pada 10 November 2021, 
misalnya, hanya mendapatkan 234 ribu likes dan 842 komentar.

Well, sebagai penutup, analisis Kimly Ngoun sekiranya tepat. Presiden Jokowi 
adalah politisi yang piawai memainkan dan mengonstruksi simbol politik. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6F690EAF7C2C472BA5918F4F18643DCB%40A10Live.

Reply via email to