Tanggulangi COVID-19, Tiongkok Resmikan Tes Antigen Mandiri
2022-03-16 14:47:18    
https://indonesian.cri.cn/2022/03/16/ARTIGWmldt0ONMNswiYj9fvu220316.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.3

 Berdasarkan kebutuhan terhadap penanggulangan pandem, pemerintah Tiongkok 
baru-baru ini secara resmi merilis skema penggunaan tes antigen untuk 
menambahkan tes antigen sebagai komplementer tes asam nukleat. Pada tanggal 13 
Maret lalu, Administrasi Produk Medis Nasional Tiongkok (National Medical 
Products Administration) kembali meluluskan permohonan pendaftaran lima produk 
antigen, sehingga total terdapat 10 produk tes antigen mandiri baru yang akan 
secara resmi dipasarkan di Tiongkok.








Menurut Kepala Tim Ahli Pengobatan Klinis COVID-19 Shanghai Tiongkok sekaligus 
Direktur Departemen Penyakit Menular Rumah Sakit Huashan Universitas Fudan 
Zhang Wenhong, antigen ibarat ‘pakaian’ di luar virus, sedangkan asam nukleat 
adalah gen di dalam virus.

Tes antigen sama dengan mencari ‘pakaian’, dengan menemukan ‘pakaian’, maka 
sama dengan telah menemukan virus yang ingin dicari. Tes PCR ibarat membuka 
baju untuk melihat bagaimana isi di dalamnya, walaupun metode ini memiliki 
tingkat akurasi yang lebih tinggi, namun prosedurnya sangat kompleks sehingga 
memerlukan waktu yang lebih lama untuk memperoleh hasilnya.

Apa saja keunggulan tes antigen? Salah satu keunggulannya ialah cepat. Selain 
itu, tes antigen tidak memerlukan alat tes yang rumit. Dapat dilakukan sendiri 
di rumah. Keunggulan keduanya ialah, ongkosnya lebih murah dan cara 
menggunakannya sederhana.




Sudah ada tes PCR, mengapa masih ada tes antigen? Jawabannya ialah, untuk 
berlomba dengan waktu agar virus dapat segera terdeteksi. Sebelumnya, Tiongkok 
telah mewujudkan “nol” kasus COVID melalui tes asam nukleat secara massal. Akan 
tetapi, varian Omicron yang telah mengakibatkan lonjakan kasus di Tiongkok saat 
ini memiliki laju penyebaran yang lebih cepat. Karena pemeriksaan PCR 
membutuhkan mesin dan kit deteksi atau reagen yang lengkap, maka penerapan PCR 
tentunya akan membutuhkan waktu persiapan yang lebih lama, apalagi alat-alat 
itu belum tentu dimiliki sejumlah daerah.




Setelah tes antigen diterapkan, maka orang-orang bisa melakukan pemeriksaan 
secara mandiri di rumah. Mereka yang terdeteksi positif melalui tes antigen di 
rumah akan dianjurkan untuk menerima pemeriksaan ulang PCR ke lembaga medis. 
Dengan demikian, tidak hanya akan mengurangi jumlah pemeriksaan asam nukleat, 
namun juga akan lebih menghemat waktu untuk mendeteksi mereka yang terinfeksi.

Apa kekurangan tes antigen? Salah satunya ialah keakuratannya yang relatif 
rendah, virus COVID baru akan terdeteksi hanya apabila orang yang terinfeksi 
berada pada masa infeksi akut di mana muatan virus di tubuhnya mencapai taraf 
puncak. Selain itu, tes antigen juga memiliki kemungkinan risiko ‘negatif 
palsu’, terutama ketika penularan virus sudah berlangsung lama dan muatan virus 
di tubuhnya menurun.




Mengingat adanya kekurangan pada tes antigen tersebut, maka Tiongkok selalu 
menerapkan metode pengujian asam nukleat sebagai dasar diagnosis COVID.

Apakah hasil tes antigen bisa menggantikan hasil tes asam nukleat? Tidak! Hasil 
positif dari tes antigen hanya digunakan untuk pelacakan dan karantina dini 
untuk kelompok yang diduga terinfeksi, namun tidak boleh digunakan sebagai 
dasar diagnosis COVID-19.


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EC642E92A23B493D85270ED54B600675%40A10Live.

Reply via email to