Written byI76Thursday, March 17, 2022 21:18
MUI Rumah Besar 
NU-Muhammadiyah?https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mui-rumah-besar-nu-muhammadiyah/

Banyak yang menganggap Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah selalu rukun dan 
kompak dalam menjaga keislaman yang moderat dikarenakan terdapat peran Majelis 
Ulama Indonesia (MUI) di tengah keduanya. Lantas, seperti apa peran MUI sebagai 
rumah besar kedua organisasi besar Islam ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Anwar Abbas, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengeluarkan surat 
terbuka kepada seluruh warga Nahdliyin. Maksud surat tersebut sebagai respons 
dari adanya surat pengunduran diri KH Miftachul Akhyar dari jabatan Ketua Umum 
MUI yang diajukan sebelumnya.

KH Miftachul Akhyar memundurkan diri karena menjalankan permintaan Ahlul Halli 
Wal Aqdi (AHWA) saat Muktamar ke 34 Nahdlatul Ulama (NU) akhir Desember tahun 
lalu. Hal ini merupakan komitmen KH Miftachul Akhyar untuk menjalankan amanah 
dari NU.

Merespons mundurnya KH Miftachul Akhyar, Anwar Abbas mengaku sedih dan tidak 
tahu harus menyampaikan apa. Sebab, KH Miftachul Akhyar adalah sosok ulama yang 
terpilih sebagai Ketua Umum MUI secara bulat. hal ini begitu luar biasa karena  
MUI punya anggota yang sangat beragam.

Permintaan Anwar Abbas dapat dimaknai sebagai upaya untuk mempertahankan 
kondisi MUI yang dianggap banyak pihak ideal. Dipimpin oleh tokoh NU dan 
didampingi wakil dari Muhammadiyah merupakan komposisi yang sempurna. Dua 
organisasi ini merupakan organisasi Islam yang dominan di Indonesia.

Selain itu, dengan adanya komposisi NU dan Muhammadiyah di posisi puncak MUI, 
ini memperlihatkan soliditas kedua organisasi tersebut. Hal ini penting, 
dikarenakan sering kali kedua organisasi ini terlibat perbedaan pendapat dalam 
berbagai hal.

Salah satu contohnya dalam konteks politik, saat mantan Ketua MPR RI Amien Rais 
dianggap sebagai tokoh utama penjatuhan Abdurrahman Wahid (Gusdur) dari kursi 
Presiden RI. Konflik di antara keduanya, NU dan Muhammadiyah, kemudian tidak 
terelakkan dalam konteks politik.

Tentunya karena Gusdur sebagai tokoh NU dan Amien sebagai tokoh Muhammadiyah. 
Perbedaan pendapat antara Gusdur dan Amien, waktu itu diterjemahkan sebagai 
konflik antara kubu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, dan menjalar ke akar 
rumput kedua organisasi.

Di sinilah dapat dilihat maksud dari Anwar Abbas yang tidak menginginkan KH 
Miftachul Akhyar untuk meninggalkan MUI. Ketokohan keduanya yang mewakili NU 
dan Muhammadiyah akan menepis persepsi pertikaian kedua organisasi tersebut.

Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah pada level akar rumput juga sering 
mengakibatkan banyak pertikaian dan perbedaan pendapat. Lantas, seperti apa 
dasar sosio-kultural dan politik yang mengakibatkan konflik keduanya sering 
terjadi?


  
NU-Muhammadiyah Sulit bersatu?

Secara historis, NU berdiri pada tahun 1926 dan Muhammadiyah berdiri pada tahun 
1912. Kedua organisasi ini sering berbeda pendapat dalam berbagai hal, sehingga 
sulit bagi pengikut kedua organisasi ini untuk “berdamai” dan menjalin 
persahabatan yang langgeng.

Pendiri kedua organisasi ini, seperti KH Hasyim Asyari (NU) dan KH Ahmad Dahlan 
(Muhammadiyah) konon pernah berguru pada ulama yang sama di Mekkah di akhir 
abad ke-19 dan awal abad ke-20, tetapi itu tidak menjadikan pengikut kedua 
ormas Islam ini secara otomatis akur dan bersatu.
Terdapat sejumlah faktor sosial-kultural-keagamaan dan kepolitikan dalam 
sejarah relasi NU-Muhammadiyah yang sangat akut, sehingga menyulitkan kedua 
belah pihak untuk pulih dan damai. Trauma sejarah masa lalu begitu besar 
sehingga sulit dapat diubah.

Sumanto Al Qurtuby dalam tulisannya Mitos Kerukunan Antara Nahdlatul Ulama dan 
Muhammadiyah, menjelaskan bahwa dalam sejarahnya, Muhammadiyah adalah ormas 
Islam yang paling gencar menyerang tradisi, budaya, amalan, dan praktik-praktik 
ritual-keagamaan lokal yang dilakukan warga NU.

Muhammadiyah memerangi semua itu karena dianggap dapat “menyekutukan Allah” 
yang juga menggelincirkan umat Islam ke praktik syirik. Diyakini pula bisa 
menodai kemurnian Islam dan keaslian akidah Islam.

Karena dipandang sebagai bagian dari penyakit TBC, yaitu Takhayul, Bid’ah dan 
Churafat, Muhammadiyah selama berpuluh-puluh tahun dengan derasnya mengkritik 
dan menyerang berbagai praktik ritual-keagamaan yang dipraktikkan dan 
dilestarikan warga NU, seperti tahlilan, sedekahan, kenduri, barzanji, dan 
masih banyak lagi.

Ahmad Najib Burhani dalam tulisannya Benturan Antara NU dan Muhammadiyah, 
mengatakan konflik keduanya didasari oleh cara mengambil tafsir berdasarkan 
referensi yang berbeda. Muhammadiyah berdasarkan referensi kepada Al-Qur’an dan 
Sunnah (orthodoxy based on scripture).

Sementara NU disebut mengacu kepada tradisi dan kitab yang selama ini banyak 
dipegang oleh umat Islam (orthodoxy based on consensus). Menjaga konsensus yang 
menjadi kearifan lokal yang telah dijaga tiap generasi.

Perbedaan ini dijelaskan berdasarkan latar belakang pendirian keduanya. 
Pendirian NU dilatari kemauan para kiai dan ulama pesantren untuk melestarikan 
tradisi dan kebudayaan Islam, serta tradisi bermazhab yang selama ini 
dipraktikkan oleh komunitas santri dan masyarakat Muslim pedesaan yang menjadi 
basis jamaah NU.

Di sisi lain, pendirian Muhammadiyah dilatari untuk melakukan reformasi dan 
modernisasi umat Islam dengan jalan puritanisasi pemikiran dan praktik 
keislaman. Ini dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran modernis-reformis para 
ulama Mesir, seperti Jamaludin Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid 
Ridha.

Nur Al-hidayatillah dan Sabiruddin dalam tulisannya Nahdlatul Ulama (NU) dan 
Muhammadiyah: Dua Wajah Organisasi Dakwah di Indonesia, mengatakan sejumlah 
perbedaan tafsir, pandangan, pemahaman, dan tindakan yang menyangkut 
masalah-masalah sosial-kultural dan ritual-keagamaan, yang telah membuat NU dan 
Muhammadiyah sulit untuk berjalan bergandengan.

Meskipun relasi NU dan Muhammadiyah tampak kurang baik, bukan berarti tidak ada 
secercah harapan bagi kedua organisasi Islam utama di Indonesia  ini untuk 
membangun “rumah besar” yang lebih baik, hebat, bermartabat dan berkemajuan di 
kemudian hari.
Di sinilah peran penting MUI sebagai rumah bersama kedua organisasi besar 
Indonesia. MUI dapat menjadi pengejawantahan konsepsi ummah yang menjadi 
landasan persatuan ummat Islam. Lantas, seperti apa melihat MUI sebagai 
perwujudan konsep politik ummah?

 
MUI Perwujudan Konsep Ummah

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar, menjelaskan konsep ummah 
berasal dari bahasa Hebrew/Ibrani, alef-mem yang arti dasarnya cinta kasih 
(saint lover), kemudian menyeberang menjadi bahasa Arab, umm yang arti dasarnya 
ibu.

Umm diartikan ibu karena ibu memiliki cinta kasih yang paling dalam. Dari akar 
kata alif-mim membentuk kata amam (keterdepanan, keunggulan), imam (imam 
shalat, pemimpin), makmum (pengikut imam, rakyat), imamah (konsep yang mengatur 
antara imam dan makmum, serta pemimpin dan rakyat). Keseluruhan makna dasar ini 
menghimpun suatu komunitas khusus yang bernama ummah.

MUI memiliki peran sangat penting dalam mewujudkan konsep ummah ini. Utamanya 
dalam menjalankan peran sebagai melting pot, titik temu, rumah besar Umat Islam 
yang terdiri dari banyak kamar, namun disatukan dengan dinding ukhuwah 
Islamiyah.

Muhammad Faqih dalam tulisannya Konsep Ummah dan Rakyat dalam Pandangan Islam, 
mengatakan ummah adalah suatu kumpulan masyarakat yang berbeda-beda, baik suku, 
ras, agama, dan budaya yang memiliki visi-misi dan tujuan hidup bersama.

Peran MUI untuk menampung perbedaan pandangan keislaman dari berbagai 
organisasi Islam di Indonesia, khususnya perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, 
dirasa adalah pengejawantahan konsep ashabiyah dalam makna solidaritas umat dan 
bangsa yang dipelopori oleh Ibnu Khaldun.

Seperti yang diketahui, konsep ashabiyah ini sebagai kekuatan kelompok sosial 
yang menunjuk pada ikatan sosial dan budaya. Selain itu dapat menimbulkan 
kesetiaan dan kasih sayang pada suatu kelompok.

Sebagai penutup, diharapkan kesadaran bahwa NU dan Muhammadiyah mempunyai satu 
rumah besar, yaitu MUI. Besar harapan, persepsi bahwa kedua organisasi Islam 
ini tidak  mungkin bersama dapat dihilangkan. MUI layaknya pengertian dasar 
dari ummah, yaitu ibu. MUI dapat merangkul erat kedua organisasi yang punya 
peran besar kepada ummat dan bangsa. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C6319F1F1C064F878F7946498F4FF4DC%40A10Live.

Reply via email to