https://news.detik.com/kolom/d-5998595/invasi-rusia-dan-langkah-otoritas-moneter


Kolom

Invasi Rusia dan Langkah Otoritas Moneter

Fathya Nirmala Hanoum - detikNews

Kamis, 24 Mar 2022 13:30 WIB
0 komentar
BAGIKAN
URL telah disalin
Protesters hold posters during a rally against Russias invasion of Ukraine in 
Tokyo, Monday, March 21, 2022. (AP Photo/Koji Sasahara)
Warga Jepang demo tolak invasi Rusia ke Ukraina (Foto: AP/Koji Sasahara)
Jakarta -

Sudah lebih dari tiga pekan Rusia menginvasi Ukraina. Perang di abad ke-21 ini 
menjadi semakin mengancam pemulihan ekonomi. Apalagi, pandemi Covid-19 belum 
berakhir. Korban akibat invasi masih terus bertambah. Lebih-lebih, belum ada 
tanda untuk gencatan senjata.

Konflik geopolitik ini menimbulkan dampak di berbagai macam tatanan ekonomi 
dunia. Pertama, invasi ini meningkatkan harga minyak dunia. Dibuka dengan USD 
76,08 per barel pada awal 2022, harga minyak dunia meroket mengikuti 
perkembangan konflik. Usai Amerika Serikat melarang impor minyak Rusia, WTI 
Global Price mencatatkan nilai tertingginya sejak 2008 yakni sebesar USD123,7 
per barel pada 8 Maret 2022.

Kenaikan harga minyak itu berakibat pada kenaikan harga di beberapa komoditas 
lain. Gandum misalnya, menyentuh level tertinggi dalam pada 14 tahun terakhir, 
yakni USD1.273 per bushel. Faktanya, Rusia dan Ukraina merupakan penyuplai 29 
persen gandum dunia. Invasi ini berpotensi menyumbat suplai gandum global.

Tidak hanya itu, sesaat setelah terjadi invasi, indeks harga saham beberapa 
negara masuk dalam zona merah. IHSG ditutup merosot 1,48 persen. Bahkan selama 
sebulan terakhir Dow Jones Industrial Average (DJIA), S&P 500, dan Nasdaq 
Composite terkoreksi sebesar 2,23%, 2,93% dan 3,42%. Nilai tukar Rusia, Rubel 
juga mengalami tekanan besar dalam sejarahnya. Nilanya terdepresiasi hingga 
menyentuh level 143 per Dollar AS pada 7 Maret 2022.

Negara-negara seperti Uni Eropa, Amerika Serikat bahkan Jepang dan Australia 
memberikan sanksi sebagai bentuk kecaman pada Rusia. Di antaranya berupa 
pembekuan aset Rusia dan pemblokiran akses pasar keuangan oleh negara-negara 
tersebut. Dampaknya, S&P Global Ratings, perusahaan pemeringkat atas saham dan 
obligasi global, memangkas peringkat kredit Rusia menjadi "Junk", dari BB+ 
menjadi CCC- seminggu setelah invasi berlangsung. Ini artinya tingkat gagal 
bayar utang pemerintah maupun swasta Rusia semakin tinggi.

Tingginya ketidakpastian akan berakhirnya invasi Rusia dalam waktu dekat 
membuat investor global gigit jari. Eskalasi perang diprediksi membuat ekonomi 
dunia semakin suram. Salah satu skenario terburuk yang dapat terjadi apabila 
kondisi ini masih terus berlangsung adalah larinya aliran modal (greenback) 
pada negara (pemilik) asalnya. Kondisi ini akan membuat sektor keuangan bahkan 
nilai tukar semakin tertekan akibat potensi tingginya capital outflow, terutama 
pada negara berkembang.

Dalam kondisi genting saat ini, investasi pada saham yang cenderung high risk 
mulai kehilangan pesonanya. Para investor akan banyak yang memilih investasi 
pada emas untuk portofolio investasi. Terbukti dalam dua minggu terakhir harga 
emas berjangka tercatat di level USD 2.051 per troy ons. Nilai ini telah naik 
15 persen hanya dalam kurun waktu tiga bulan.

Menyusun Langkah Tepat

Indonesia juga akan menghadapi ketidakpastian besar akibat adanya konflik 
geopolitik ini. Sebagai salah satu negara berkembang yang pernah mengalami 
taper tantrum pada 2013 saat keluarnya aliran modal asing dalam jumlah besar. 
Potensi tekanan pada nilai tukar dan inflasi bisa terjadi. Namun demikian 
apakah kemudian hal ini akan berdampak pada nilai tukar rupiah yang akan 
terdepresiasi sangat dalam dan inflasi yang melonjak tinggi? Belum tentu juga!

Jika dilihat dari kepemilikan efek, kondisi pasar saham dan obligasi Indonesia 
saat ini sudah berbeda dari satu dekade terakhir. Saat ini pasar saham maupun 
obligasi didominasi oleh investor domestik. Porsi kepemilikan asing terpantau 
mengalami penyusutan. Porsi kepemilikan asing di pasar saham Indonesia per 
akhir Maret 2021 sebesar 41,4 persen, turun dari tahun 2019 yang mencapai 44,29 
persen dan pada 2013 lalu yang mencapai 60 persen. Alhasil, ancaman akan 
capital outflow seharusnya sudah dapat diperhitungkan dengan baik.

Di sisi lain, Rupiah masih terkendali pada rentang Rp 14.300 - Rp 14.400 per 
dolar AS. Meskipun nilainya memang masih fluktuatif namun amunisi BI cukup jika 
diperlukan untuk melakukan intervensi ketika rupiah mulai melemah. Hal ini 
dilakukan BI dengan memanfaatkan cadangan devisa. Sekitar 90 persen sumber 
cadangan devisa merupakan aset likuid yang dapat digunakan sewaktu-waktu oleh 
BI.

Pada Februari 2022, ini cadangan devisa mencapai USD 141,4 miliar. Nilai ini 
yang meningkat dari bulan sebelumnya akibat penerimaan pajak dan jasa dan 
penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Hanya saja akan ada kemungkinan 
bahwa cadangan devisa akan menurun karena intervensi BI untuk meredam tekanan 
Rupiah akibat ketidakstabilan dari invasi.

Seiring dengan nilai tukar yang tetap dijaga, harapannya adalah inflasi tetap 
sesuai dengan target BI. Meskipun sudah banyak faktor di luar dari tekanan 
invasi ini yang mengisyaratkan kenaikan inflasi ke depan. Salah satunya adalah 
meningkatnya harga barang-barang domestik, kenaikan tarif Pajak Pertambahan 
Nilai (PPn) serta isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Belum lagi 
potensi imported inflation akibat harga logistik yang meningkat.

Pada akhirnya, invasi ini mengarahkan para pengambil kebijakan untuk menyusun 
langkah yang tepat agar tidak berdampak negatif di tengah pemulihan ekonomi 
akibat pandemi. Penting sekali lagi bagi pemerintah untuk menjaga kepercayaan 
dan ekspektasi investor dan konsumen. Terutama BI sebagai otoritas moneter.

Upaya mencegah keluarnya aliran modal sekaligus menjaga nilai tukar dan inflasi 
terjaga di tengah pemulihan ekonomi tentu tidaklah mudah. Belum lagi The Fed 
kini telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25bps yang berada pada rentang 
1,75%-2%. Tentunya, BI pun tidak akan secara cepat mengubah arah kebijakan yang 
berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia akan berusaha untuk 
mengambil langkah akomodatif dalam mendukung pemulihan ekonomi.

Fathya Nirmala Hanoum peneliti CORE Indonesia

(mmu/mmu)
perang rusia-ukraina
pemulihan ekonomi
0 komentar

Baca artikel detiknews, "Invasi Rusia dan Langkah Otoritas Moneter" 
selengkapnya 
https://news.detik.com/kolom/d-5998595/invasi-rusia-dan-langkah-otoritas-moneter.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220324224836.f812d3b60b3fcf55781c6574%40upcmail.nl.

Reply via email to