https://www.antaranews.com/berita/2781069/pakar-ugm-nilai-indonesia-berpeluang-jadi-juru-runding-rusia-ukraina?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=category_home



Pakar UGM nilai Indonesia berpeluang jadi juru runding Rusia-Ukraina

Kamis, 24 Maret 2022 23:45 WIB

Dokumentasi tank Angkatan Darat Rusia melintas pada latihan militer di wilayah 
Leningrad, Rusia, dalam gambar selebaran yang disiarkan pada 14 Februari 2022. 
ANTARA/Kementerian Pertahanan Rusia/HO via Reuters
Yogyakarta (ANTARA) - Pakar perdagangan ekonomi dunia dan politik internasional 
dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riza Noer Arfani, menilai Indonesia dalam 
posisinya sebagai ketua G20 berpeluang menjadi juru runding penyelesaian 
konflik Rusia-Ukraina.

"Ini sekaligus saatnya menunjukkan secara nyata prinsip politik bebas aktif 
kita, apalagi dalam pembukaan UUD 1945 kita berkomitmen menjaga perdamaian dan 
ketertiban dunia," kata dia, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, 
Yogyakarta, Kamis.

Baca juga: Wakil Ketua DPR dorong perang Rusia dan Ukraina dihentikan

Pernyataan Presiden Joko Widodo di twitter yang meminta peperangan dihentikan, 
menurut dia, masih memerlukan sikap berkelanjutan dengan mempertemukan 
negara-negara yang berkonflik dalam meja perundingan.

Menurut dia, Indonesia sebagai ketua G-20 periode ni bisa mengajak Turki, 
China, dan Rusia untuk duduk bersama membahas progres perbaikan ekonomi jika 
konflik itu berlarut-larut.

Baca juga: Kabar Ukraina: Dari kejahatan perang hingga saling usir diplomat

Arfani mengatakan Indonesia dapat memanfaatkan kedekatan dengan China atau 
Rusia untuk mengupayakan gencatan senjata dan mendudukan keduanya di meja 
perundingan.

"Jika perlu menggandeng India yang akan memegang keketuaan G-20 berikutnya 
setelah Indonesia atau Brazil sebagai ketua berikut G-20 setelah India, jadi 
diperlukan langkah-langkah luar biasa untuk diplomatik," ujar dia.

Baca juga: Paus Fransiskus: Lebih banyak senjata tak akhiri konflik di Ukraina

Menurut dia, jika konflik berlarut-larut maka kondisi geopolitik dan geoekonomi 
secara global bisa terdampak cukup serius, termasuk dampaknya bagi 
negara-negara di Asia Tenggara. "Dari sisi geopolitik persaingan negara-negara 
barat dengan Rusia akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Selama ini 
kita melihat Rusia sebagai pewaris negara adikuasa Uni Sovyet. Mereka nampaknya 
menginginkan status itu tetap ada," kata dia.

Baca juga: Pemerintah antisipasi dampak ekonomi karena perang Rusia-Ukraina

Meski tidak secara langsung, kata dia, konflik itu bisa berdampak pada 
perekonomian Indonesia karena suplai bahan makanan terutama gandum masih 
bergantung pada kedua negara yang tengah berkonflik.



 

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2022

    TAGS:
    rusia-ukraina
    Indonesia juru runding









-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220324230606.a0967db43ea825a371601fcd%40upcmail.nl.

Reply via email to