Sang “Pembela HAM” Melanggar Komitmennya Lagi
2022-03-24 15:11:15    
https://indonesian.cri.cn/2022/03/24/ARTIVCilt3oVuGnTCDiHfrvE220324.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.13


Menteri Luar Negeri AS Blinken belakangan ini mengeluarkan pernyataan bahwa AS 
akan melaksanakan pembatasan pemberian visa terhadap sebagian pejabat Tiongkok 
di dalam dan luar wilayah Tiongkok serta di wilayah AS dengan dalih HAM. 

Politisi AS yang berutang besar dibidang hak asasi manusia di seluruh dunia 
memutarbalikkan fakta dan melimpahkan kesalahan kepada orang lain, dan ini 
memperjelas kenyataan bahwa hegemoni yang dilakukan atas nama HAM dan 
sepenuhnya memperlihatkan kemunafikan dengan standar ganda apa yang disebut 
“pembela HAM”.


Dalam pernyataan yang dirilis dalam situs web Departmen Luar Negeri AS, Blinken 
mengatakan, AS berupaya membela HAM di berbagai daerah di dunia dan akan terus 
menggunakan semua langkah diplomatik dan ekonomi untuk mendorong akuntabilitas. 
Satu pernyataan ironis, bukankah ini merupakan sikap dan tindak AS atas 
kejahatan HAM yang dicela seluruh dunia?

Sehari sebelum Blinken mengeluarkan pernyataan, yaitu tanggal 20 Maret, adalah 
peringatan 19 tahun tercetusnya Perang Irak. Terkait perang yang mengakibatkan 
sekitar 200 ribu rakyat sipil tewas, sampai sekarang AS masih belum dapat 
mengeluarkan bukti untuk mencetuskan perang.

Jumlah rakyat yang menderita kesengsaraan akibat perang yang dilancarkan oleh 
AS tak terhitung, dari Irak, Afghanistan, Suriah, sampai Ukraina, banyak fakta 
membuktikan, AS adalah pelanggar HAM terbesar di dunia. Mereka bermantelkan apa 
yang disebut pandangan nilai ala AS, menimbulkan perang dan kekacauan, dan 
membawa kesengsaraan serius kepada rakyat di banyak daerah di dunia.



Situasi HAM di dalam negeri AS boleh dikatakan sangat mengerikan. Dalam 
sejarah, AS memusnahkan orang Indian dari fisik dan budaya mereka dan melakukan 
kejahatan genosida. Sampai sekarang, di AS masih terdapat diskriminasi ras 
sistematis. Dalam sidang ke-49 Dewan HAM PBB yang sedang diadakan, banyak 
negara mengecam sejarah berdosa AS yang melakukan pelanggaran terhadap kaum 
pribumi secara sistematis, mendesak AS untuk mawas diri, mengadakan investigasi 
dan dituntut pertanggungjawaban.

Di dalam dan luar negeri AS, satu kasus demi satu kasus, kejahatan AS di bidang 
HAM terlalu banyak, tapi mereka justru mengenakan sanksi terhadap Tiongkok 
dengan dalih HAM, apa alasannya?

Yang patut dicatat, sebelum Blinken megeluarkan pernyataan, kepala negara 
Tiongkok dan AS sekali lagi mengadakan pertemuan virtual. Presiden AS Joe Biden 
menegaskan kembali komitmennya, yaitu  AS tidak akan mengupayakan Perang Dingin 
yang baru, tidak akan berupaya mengubah sistem Tiongkok, tidak akan berupaya 
menentang Tiongkok dengan mengintensifkan persekutuannya, tidak mendukung 
Taiwan Merdeka, dan tidak berniat berkonfrontasi dengan Tiongkok. 

Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan jelas menunjukkan, penyebab langsung 
terjadinya keadaan hubungan Tiongkok dan AS masa kini adalah segelintir orang 
AS yang tidak melaksanakan kesepahaman penting kedua pemimpin negara, dan tidak 
melaksanakan sikap positif Joe Biden. Blinken yang memfitnah dan mencoreng 
Tiongkok dengan dalih HAM dan menekan pejabat Tiongkok tanpa alasan telah 
melanggar kesepahaman kedua pemimpin negara dan mengabaikan komitmen Presiden 
Joe Biden, apakah ia ingin melanggar komitmennya lagi?

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D25BD276AD3E4D17A9EB30308C362AB1%40A10Live.

Reply via email to