Dia sembunyi Di basement white house ..

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Tue., Mar. 29, 2022 at 7:53 p.m., Chan CT<[email protected]> wrote:   
Written byR53Tuesday, March 29, 2022 16:14 
Kenapa Putin Tidak Bunuh Zelensky?

Setelah sebulan lebih melancarkan serangan ke Ukraina, mudah menyimpulkan bahwa 
dibukanya meja perundingan merupakan indikasi Rusia mulai kehabisan logistik. 
Pertanyaannya, mengapa Vladimir Putin tidak membunuh Presiden Ukraina Volodymyr 
Zelensky sejak hari pertama? Bukankah kematian Zelensky akan membuat Rusia 
dengan cepat memenangkan pertempuran?

PinterPolitik.com

 
“The amateurs discuss tactics: the professionals discuss logistics.” – Napoleon 
Bonaparte


Dalam bukunya yang terkenal The Art of War, Sun Tzu mewanti-wanti dua hal yang 
paling penting dalam sebuah perang, yakni perencanaan dan logistik. Kita tentu 
akrab dengan nasihat Sun Tzu berikut, “jika mengenali diri dan musuh, maka 100 
pertempuran akan menghasilkan 100 kemenangan.”

Nah, nasihat tersebut berpangkal pada dua hal penting tadi. Untuk memenangkan 
setiap pertempuran, mutlak dibutuhkan strategi yang matang dan logistik yang 
mencukupi. Jika tidak demikian, perang hanya akan berakhir pada kekalahan 
menyedihkan. 

Ada pula nasihat penting Sun Tzu yang cukup jarang dikutip, yakni, “jadikanlah 
perang sebagai opsi terakhir.” Jika suatu konflik dapat diselesaikan melalui 
meja perundingan, maka serangan bersenjata tidak perlu dilakukan. 

Nasihat ini bukan berpangkal pada kebaikan hati, melainkan Sun Tzu sangat 
menyadari betapa besarnya biaya perang. Jika tidak diperhitungkan dengan 
matang, perang dapat menguras kas negara, menciptakan gejolak sosial, hingga 
meningkatkan potensi kudeta.

Apa yang dikemukakan Sun Tzu pada tahun 500 SM itu sangat pas kita refleksikan 
untuk melihat serangan Rusia ke Ukraina. Disebutkan, operasi militer yang 
diluncurkan sejak 24 Februari ini menghabiskan biaya £15 miliar (sekitar Rp280 
triliun) per harinya. Ini belum termasuk kerugian akibat sanksi ekonomi dari 
Amerika Serikat (AS) dan negara-negara  sekutunya.

Per 29 Maret, operasi militer Rusia sudah berlangsung selama 34 hari — sudah 
sebulan lebih. Jika dihitung kasar, Rusia sudah mengeluarkan £510 miliar 
(sekitar Rp9.600 triliun). Bayangkan betapa besarnya biaya ini. Jumlahnya 
bahkan hampir setengah dari produk domestik bruto (PDB) Rusia pada 2020 yang 
mencapai US$ 1,48 triliun (sekitar Rp20.920 triliun).

Besarnya biaya yang dikeluarkan kemudian menjadi argumentasi kuat mengapa Rusia 
saat ini bersiap mengakhiri serangan dengan embel-embel perundingan. 

Kembali pada Sun Tzu, sadar atas besarnya biaya perang, ahli strategi asal 
Tiongkok itu sangat mewanti-wanti agar perang dapat diselesaikan secepat 
mungkin. Ini yang membuatnya merekomendasikan dua taktik. Pertama, lakukan 
spionase dan kamuflase agar serangan tidak diantisipasi optimal oleh musuh. 
Kedua, menyeranglah seperti petir yang menggelegar agar musuh dengan cepat 
dilumpuhkan. 
Di sini letak keanehannya. Dengan status Vladimir Putin sebagai mantan agen 
KGB, mengapa nasihat-nasihat mendasar Sun Tzu tidak dijalankan? Jika Putin 
ingin mengakhiri pertempuran dengan cepat, mengapa Presiden Ukraina Volodymyr 
Zelensky tidak ditargetkan sejak awal? Bukankah kematian Zelensky adalah simbol 
kemenangan? 
Dapat Jadi Backlash?

Membunuh atau menangkap pemimpin musuh adalah salah satu strategi perang yang 
paling tua. Ini misalnya dapat ditemukan pada strategi nomor 18 dalam 
Thirty-Six Stratagems, yakni 36 strategi Tiongkok kuno yang digunakan dalam 
politik, perang, dan interaksi sipil. Strategi nomor 18 berbunyi, “Defeat the 
enemy by capturing their chief” (擒賊擒王, Qín zéi qín wáng). 

Mengutip Stephen T. Hosmer dalam tulisannya Operations Against Enemy Leaders, 
kesadaran atas pemimpin adalah target serangan utama, membuat setiap pemimpin 
dalam konflik mencurahkan perhatian dan sumber daya yang melimpah untuk 
melindungi dirinya. Mereka menyiapkan berbagai langkah pencegahan, seperti 
sering berpindah dan memiliki tempat persembunyian rahasia. 

Namun, seperti yang kita lihat, Zelensky tidak melakukan langkah pencegahan 
semacam itu. Ia bahkan tampil dalam berbagai forum, dan berulang kali 
mengatakan, “saya tidak bersembunyi.” Ketika diisukan meninggalkan Ukraina 
beberapa waktu yang lalu, Zelensky juga langsung membuat video bantahan. 

Nah, kembali pada pertanyaan awal, bukankah itu menunjukkan Zelensky adalah 
target serangan yang mudah? Lantas, kenapa Putin masih membiarkan Zelensky 
hidup? Apalagi, sebagai sosok yang lama berkecimpung di dunia hiburan, Zelensky 
memiliki kemampuan pembangunan narasi dan citra yang baik untuk membuat dunia 
mengutuk Putin dan Rusia.

Untuk menjawabnya, kita dapat melihat pembacaan lanjutan dari strategi nomor 
18. Memang benar disebutkan bahwa membunuh atau menangkap pemimpin musuh akan 
berbuah kemenangan. Namun, strategi itu akan berhasil apabila loyalitas dan 
rasa hormat pasukan musuh rendah terhadap pemimpinnya.

Jika pasukan musuh memiliki rasa keterikatan, loyalitas, dan rasa hormat yang 
tinggi, strategi ini justru dapat menjadi backlash karena memantik perlawanan 
yang lebih besar dengan motivasi balas dendam. 

Nah, kuat dugaan kekhawatiran itu yang menjadi perhitungan Putin. Saat ini, 
dengan berbagai gesturnya, dapat dikatakan Zelensky telah menjadi simbol 
perlawanan Ukraina melawan Rusia. Zelensky adalah martir nasional.

Jika Putin memutuskan untuk membunuhnya, Zelensky akan dikenang sebagai 
pemimpin yang mati untuk melindungi rakyat Ukraina dari Rusia. Kematian 
Zelensky akan semakin memperburuk citra Rusia, dan rekonsiliasi Rusia-Ukraina 
akan semakin sulit untuk dilakukan.
Kembali pada poin awal, jika konflik terus berkepanjangan, besarnya biaya 
operasi militer akan membawa Rusia ke jurang kehancuran ekonomi dan 
ketidakpastian pasar. 
Maju Kena, Mundur Kena

Dalam literatur terkini, strategi nomor 18 yang dapat menjadi backlash terlihat 
banyak diadopsi dalam berbagai analisis atas serangan kepada kelompok teroris. 
Jenna Jordan dalam tulisannya Attacking the Leader, Missing the Mark: Why 
Terrorist Groups Survive Decapitation Strikes, misalnya, menjelaskan bahwa 
kematian pimpinan suatu kelompok teroris tidak serta merta berujung pada 
kehancuran kelompok teroris tersebut.

Menurut Jordan, ada dua faktor yang menentukan hancur tidaknya kelompok teroris 
jika pemimpinnya ditangkap atau tewas. Pertama adalah birokrasi. Seperti 
organisasi pada umumnya, kelompok teroris dapat memiliki struktur birokrasi 
yang lengkap, bahkan kompleks.

Struktur ini memiliki unsur pimpinan, administrasi, keuangan, hingga 
cabang-cabang di daerah berbeda yang memiliki pembagian tugasnya masing-masing, 
namun beraktivitas sesuai dengan arahan dan aturan pimpinannya. Kejelasan 
struktur, aturan, serta rutinitas inilah yang membuat kelompok teroris dapat 
bertahan dan secara cepat mengganti struktur kepemimpinannya yang hilang. 

Kedua adalah dukungan publik terhadap kelompok tersebut. Dukungan ini menjadi 
penting karena bantuan masyarakat memudahkan kelompok teroris dalam melakukan 
rekrutmen, mengumpulkan dana, hingga membantunya bersembunyi dari pemerintah. 
Dukungan ini pada akhirnya juga akan memudahkan kelompok teroris untuk 
melakukan reorganisasi setelah diserang.

Pada konflik Rusia-Ukraina, konteks tulisan Jenna Jordan tentu saja berbeda, 
namun kita dapat menarik dua faktor yang telah dijelaskannya. Pertama, Ukraina 
adalah negara yang tentunya memiliki struktur organisasi dan birokrasi yang 
lengkap dan kompleks. Jika Zelensky dibunuh, pergantian pemimpin akan segera 
dilakukan.

Kedua, saat ini Ukraina mendapatkan dukungan dari masyarakat dunia. Tidak hanya 
mendapat dukungan moril, bahkan sejak sebelum serangan, AS dan negara-negara 
sekutunya juga telah memberikan berbagai bantuan. 

Kembali pada poin sebelumnya, kuatnya citra dan dukungan terhadap Zelensky akan 
semakin mempersulit rekonsiliasi yang tengah diusahakan. 

Sebagai penutup, mungkin dapat disimpulkan, situasi Putin saat ini persis 
seperti judul salah satu film Warkop DKI, Maju Kena Mundur Kena. Jika membunuh 
Zelensky, akan ada backlash yang berpotensi kuat semakin merugikan Rusia. 
Namun, jika dibiarkan hidup, Zelensky memainkan keahliannya untuk semakin 
menenggelamkan citra Putin dan Rusia. (R53) 


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/212064CA3DC5474B89BB4F96F8176010%40A10Live.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1472291440.941375.1648598115898%40mail.yahoo.com.

Reply via email to