Wang Yi dan Lavrov Adakan Pembicaraan
2022-03-31 12:24:39  
https://indonesian.cri.cn/2022/03/31/ARTITWWIa6TyCGWbP1kxF5tn220331.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.19

Anggota Dewan Negara merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, hari Rabu 
kemarin (30/3) mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey 
Lavrov yang menghadiri Pertemuan ke-3 Menteri Luar Negeri Negara-negara 
Tetangga Afghanistan di Tunxi, Provinsi Anhui, Tiongkok. 

Kedua pihak menekankan perlunya mengimplementasi kesepahaman penting yang 
dicapai pemimpin kedua negara dan memajukan hubungan Tiongkok-Rusia ke level 
yang lebih tinggi.


Sergey Lavrov melaporkan keadaan perundingan Rusia-Ukraina, ia menyatakan bahwa 
Rusia berupaya meredakan ketegangan situasi, dan akan terus mengadakan 
perundingan damai dengan Ukraina, serta memelihara komunikasi dengan masyarakat 
internasional.

Wang Yi mengatakan, isu Ukraina memiliki sejarah dan asal-usul yang kompleks, 
merupakan letusan dari konflik keamanan Eropa yang telah lama menumpuk, juga 
merupakan akibat pikiran Perang Dingin dan perlawanan grup. 

Dalam situasi dewasa ini, Tiongkok mendukung Rusia dan Ukraina mengatasi 
kesulitan dan meneruskan perundingan damai, mendukung hasil positif yang telah 
dicapai selama ini, mendukung segera terwujudnya peredaan situasi, serta 
mendukung upaya Rusia dan pihak-pihak lainnya untuk mencegah terjadinya krisis 
kemanusiaan berskala besar. 

Ditinjau dari jangka panjang, berbagai pihak  hendaknya belajar dari krisis 
Ukraina, mempertahankan prinsip saling menghormati dan keamanan tak 
terpisahkan, menanggapi keprihatinan rasional berbagai pihak terhadap keamanan, 
serta membangun  kerangka keamanan Eropa yang seimbang, efektif dan 
berkelanjutan melalui   dialog dan perundingan dalam rangka mewujudkan 
ketenteraman kekal di Eropa.


Kemlu Tiongkok: 
Pemerintah AS: Jangan Terus Menjadi Contoh Negatif Standar Ganda HAM
2022-03-31 12:36:34  

Jubir Kemlu Tiongkok Wang Wenbin dalam jumpa pers hari Rabu kemarin (30/3) 
menyatakan, pihak Tiongkok menyatakan keprihatinan atas masalah diskriminasi 
dan kejahatan kebencian terhadap keturunan Asia di AS, mendesak pemerintah AS  
mendengarkan imbauan masyarakat internasional, dan tidak terus menjadi contoh 
negatif standar ganda HAM.


Menurut laporan, hasil survei Federasi Asia-Amerika menunjukkan, 75% orang 
lansia keturunan Asia di New York City menyatakan tidak berani keluar rumah 
karena kekerasan anti keturunan Asia. Mengenai hal tersebut, Wang Wenbin 
menyatakan, ini adalah noda HAM AS, dan juga sindiran terhadap “kebebasan 
setara” yang dibanggakan oleh AS. Dalam sidang Dewan HAM PBB ke-48, banyak 
negara bersama mengecam AS sebagai “perusak terbesar usaha HAM dunia”, dan 
mendesak AS menyelesaikan masalah HAM-nya sendiri yang serius.


 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5425A0127CD14ADCB6BC02261CB47300%40A10Live.

Reply via email to