Written byD74Wednesday, April 6, 2022 16:00Sudah Saatnya NATO Dimusnahkan?

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sudah-saatnya-nato-dimusnahkan/
Peran NATO kerap kali dipertanyakan. Runtuhnya Uni Soviet ketika Perang Dingin 
berakhir, membuat pakta pertahanan tersebut kehilangan maknanya. Baru-baru ini, 
pemerintah Tiongkok bahkan menyebutkan sudah seharusnya NATO dibubarkan. 
Bisakah anggapan tersebut dibenarkan? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Peran North Atlantic Treaty Organization atau NATO menjadi salah satu sorotan 
utama dalam konflik Rusia-Ukraina. Sebagai aliansi militer yang terdiri dari 
negara-negara besar seperti Prancis, Jerman, dan tentunya Amerika Serikat (AS), 
NATO diharapkan dapat menggunakan pengaruhnya untuk meredam konflik secepat 
mungkin. 

Namun, yang terjadi malah sebaliknya. 

Sikap negara-negara anggota NATO terpecah. Di satu sisi, AS ingin menghukum 
Rusia sekuat mungkin dengan menjatuhkan sejumlah sanksi ekonomi, tetapi ini 
malah melahirkan permasalahan krisis energi, dan menyengsarakan warga Eropa 
yang selama ini bergantung pada sumber energi Rusia. 

Namun di sisi lain, Prancis dan Jerman bersikap setengah-setengah dalam 
menunjukkan sikap yang keras pada Rusia karena mereka pun sadar Eropa masih 
membutuhkan hubungan diplomatis yang sehat dengan negara pimpinan Vladimir 
Putin tersebut. 

Yang tidak kalah menariknya adalah, NATO sendiri sebagai suatu kesatuan tidak 
bisa terjun langsung ke tengah konflik, dengan alasan berpotensi memperparah 
keadaan.  

Tapi, mereka pun enggan membuka dialog damai untuk memastikan pada Rusia bahwa 
Ukraina tidak akan masuk NATO. Banyak orang melihat ini karena adanya dorongan 
dari AS untuk tidak tunduk pada Rusia. 

- Advertisement -Kritik pada NATO yang paling pedas barangkali berangkat dari 
pernyataan pemerintah Tiongkok. Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) 
Tiongkok, Zhao Lijian mengatakan NATO seharusnya sudah dibubarkan sejak 30 
tahun yang lalu.  

Hal tersebut masuk akal, mengingat NATO sendiri awalnya didirikan untuk 
menjawab ancaman yang muncul dari Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Setelah Uni 
Soviet runtuh, bisa dikatakan saat ini NATO sudah tidak memiliki musuh.  

Tidak hanya itu, Lijian juga menilai keberlangsungan NATO di era modern perlu 
dikritisi, karena menurutnya AS telah menggiring NATO sebagai penyulut konflik 
di Eropa Timur, termasuk kasus Ukraina.  

Lantas, dapatkah pernyataan Tiongkok kita benarkan, bahwa sudah saatnya NATO 
dibubarkan? 

 
Sudah Ketinggalan Zaman? 
Sebelum mengarahkan pasukannya ke Ukraina, Putin selalu mengatakan NATO perlu 
lebih membatasi ekspansinya, khususnya ke wilayah Eropa Timur. Tetapi, apakah 
pernyataan Putin tersebut benar, atau hanya klaim sepihak? 

Well, kalau kita selidiki, faktanya memang NATO telah memperluas pengaruhnya ke 
seluruh benua Eropa, hampir setiap tahun. Semenjak tahun 2000 sampai sekarang, 
NATO telah mendapatkan 11 negara anggota baru. Terakhir, NATO merekrut 
Makedonia Utara pada tahun 2020. 

Meski barangkali NATO tidak benar-benar akan menjadikan Ukraina sebagai 
anggota, kenyataan bahwa NATO selalu menggantungkan nasib Ukraina sebelum 
invasi Rusia terjadi membuktikan bahwa eksistensialisme NATO itu sendiri tetap 
berpotensi menciptakan konflik. 

Baca juga :  Zelensky Jadikan Ukraina “Kuba” Berikutnya?Pandangan seperti ini 
juga diisyaratkan oleh John J. Mearsheimer dalam tulisannya Why the Ukraine 
Crisis is the West’s Fault. Di dalamnya, Mearsheimer berargumen bahwa hanya 
dengan tidak berambisi menjadikan Ukraina sebagai negara netral, NATO 
sesungguhnya terang-terangan menghadirkan ancaman pada Putin. 

- Advertisement -Dengan sikap yang demikian, bahkan mungkin kita juga bisa 
mengatakan bahwa NATO secara sadar menjadikan Rusia sebagai musuh.  

Terkait itu, Anthony Matthew dalam artikelnya It’s Time NATO Came to an End, 
menilai runtuhnya Uni Soviet dan Pakta Warsawa telah membuat NATO tidak lagi 
memiliki musuh. Hal itu menurut Matthew menjadikan NATO sebagai aliansi yang 
ketinggalan zaman. 

Seiring perkembangan waktu, NATO menemukan dirinya terjebak dalam krisis 
eksistensialisme. Bagaimana cara mengatasinya? Tentu dengan menciptakan musuh 
baru, yang tidak lain adalah Rusia. 

Cukup mudah untuk memprovokasi Rusia menjadi musuh baru Barat. NATO hanya perlu 
melakukan sejumlah provokasi seperti dengan memperluas keanggotaan hingga ke 
perbatasan Rusia, dan menempatkan pasukan tidak jauh dari Moskow.  

Situasi kemudian diperparah dengan bagaimana NATO itu sendiri dijalankan. Rami 
Rayess dalam artikelnya The Proposed European Army with Global Influence will 
Replace NATO, mengatakan selalu ada pandangan yang bertentangan dalam internal 
NATO tentang perumusan strategi, penempatan pasukan, dan siapa yang harus 
berkontribusi pada apa. 

NATO pun disebut terlalu bergantung pada AS, mulai dari anggaran, sampai 
personel militer. Sebagai dampaknya, hal itu telah menghambat potensi Eropa 
untuk muncul sebagai kekuatan geopolitik yang mandiri, karena mereka harus 
terus disetir oleh AS.  

Padahal secara politik dan ekonomi, saat ini Eropa tampak mulai memiliki 
agendanya sendiri. Eropa memiliki nilai perdagangan yang krusial dengan Rusia, 
khususnya dalam sektor energi. Begitu juga dengan Tiongkok yang dalam lima 
tahun terakhir telah menjadi mitra dagang terbesar Eropa setelah AS.  

Seperti yang kita tahu, kedua negara tadi adalah rival besar AS, dan karenanya, 
AS mempunyai justifikasi untuk membujuk Sekutunya di NATO untuk sewaktu-waktu 
memusuhi Rusia dan Tiongkok. 

Menariknya, dalam beberapa tahun terakhir Eropa mulai memunculkan kembali 
wacana European Army, yaitu sebuah satuan pasukan imajinasi Uni Eropa. Pertama 
kali dimuculkan pada tahun 1950, wacana ini diharapkan dapat membuat pertahanan 
Eropa lebih mandiri dan tidak bergantung pada AS. Tujuan utama lainnya adalah 
agar Eropa tidak diajak ke konflik-konflik yang merugikan mereka. 

Ide pasukan imajinasi ini digaungkan salah satunya oleh Presiden Prancis 
Emmanuel Macron. Pada tahun 2018, Macron menyebutkan sudah saatnya Eropa 
mewujudkan European Army. 

Baca juga :  Konflik Ukraina Buat TimTeng Revolusi?Dengan demikian, bisa 
disimpulkan bahwa ketidak bergantungan  pada NATO sesungguhnya adalah hal yang 
sangat diinginkan oleh Eropa. Dan melihat perkembangannya sekarang, tidak sulit 
untuk meyakini bahwa ini adalah momennya NATO dibubarkan. 

Lantas, jika Eropa perlu ‘dimerdekakan’ dari NATO, bagaimana kemudian kira-kira 
respons AS? 

 
Eropa, Musuh AS? 
Dalam sebuah artikel hasil wawancara dengan The Economist berjudul Emmanuel 
Macron Warns Europe: NATO is Becoming Brain-Dead, Macron menyampaikan pandangan 
yang menarik.  

Menurutnya, selama Eropa bergantung pada AS, NATO akan menjadi organisasi yang 
“brain-dead” atau tidak berguna. Macron menilai, AS berulang kali menunjukkan 
bahwa mereka tidak lagi memihak Eropa. 

Ini dicontohkan dengan keluarnya AS dari perjanjian nuklir bernama 
Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty (INFT), menjatuhkan sanksi ekonomi 
pada Rusia, dan menghambat hubungan ekonomi dengan Rusia dan Tiongkok.  

Karena itu, Macron menilai Eropa saat ini tengah berdiri di “tepi jurang”, dan 
mereka perlu mulai memikirkan dirinya sendiri secara strategis sebagai kekuatan 
geopolitik, bukan sekadar untuk jadi pemain internasional, tetapi juga untuk 
keberlangsungan hidupnya. Jika tidak, Eropa tidak akan mampu mengendalikan 
nasibnya sendiri. 

Pandangan untuk memisahkan Eropa dari AS sesungguhnya sudah muncul dari era 
Perang Dingin oleh mantan Presiden Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, dengan 
istilah Common European Home. Meski pada saat itu konsep tersebut lebih 
bersifat propaganda, demi menjauhkan pengaruh AS di Eropa. 

Walau begitu, tampaknya untuk saat ini ide tersebut kembali menjadi solusi yang 
menggiurkan bagi Eropa. Tapi sayangnya, hal itu sepertinya sudah disadari AS. 

Noam Chomsky dalam artikel hasil wawancara Truthout, Chomsky: Peace Talks in 
Ukraine “Will Get Nowhere” If US Keeps Refusing to Join, menilai sangat mungkin 
AS memanfaatkan konflik Ukraina untuk meredam bangkitnya Eropa. 

Karena itu, Chomsky menyebut, sepertinya bisa diasumsikan bahwa AS dan Rusia 
telah bergerak ‘seirama’ di belakang layar. Dengan terus memanas-manasi konflik 
Ukraina, Eropa yang sejak Perang Dingin ingin menjadi entitas politik yang 
bebas dari kekangan kekuatan AS, menjadi terhambat. 

Sebagai kesimpulan, bisa dikatakan bahwa memang sudah saatnya NATO dibubarkan, 
organisasi tua tersebut berpotensi untuk menciptakan musuh yang sesungguhnya 
tidak perlu dilawan. Ke depannya, ini tentu dapat merusak kestabilan politik 
dunia.  

Di sisi lain, jika AS mengizinkan pembubaran NATO, maka itu dapat memperkuat 
Eropa, sehingga segenting apapun keadaannya, bubar atau tidaknya NATO 
bergantung pada keputusan AS. 

Tapi kalau kita lihat perkembangannya sekarang, sepertinya AS belum 
menginginkan Eropa menjadi pemain kuat. (D74) 


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CA1B725925F2410EA4ACB53DC5CA9259%40A10Live.

Reply via email to