Written byD74Thursday, April 7, 2022 21:11Saran Agar Prabowo Menang Pilpres
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/saran-agar-prabowo-menang-pilpres/
Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto selalu menempati posisi atas dalam 
setiap survei elektabilitas. Namun, apakah bekal elektabilitas saja cukup 
sebagai modal pemenangan Pilpres 2024? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menjadi salah satu politisi yang 
paling digadangkan akan menjadi pemain kuat dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 
2024.  

Tidak heran, Prabowo memang konstan menempati peringkat pertama setiap polling 
survei elektabilitas kandidat calon presiden (capres). Terakhir, survei yang 
dilakukan Indikator Politik Indonesia (IPI) menunjukkan Prabowo menduduki 
posisi teratas dengan suara sebesar 22,4 persen.  

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memperoleh suara sebesar 
21,6 persen dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memiliki suara 17,1 persen. 

Karena selalu memiliki elektabilitas tertinggi, banyak orang yang kemudian 
menilai Prabowo tidak perlu banyak melakukan kampanye untuk cari pendukung.  

Direktur Eksekutif IPI Burhannudin Muhtadi mengatakan bahwa tingginya 
elektabilitas Prabowo telah membuktikan tanpa perlu tampil di TV pun Prabowo 
tetap populer di pandangan masyarakat. Prabowo juga dinilai sebagai salah satu 
politisi yang tidak perlu menyebar baliho dan melakukan pencitraan di media 
untuk memperkuat elektabilitasnya. 

Burhanuddin pun melihat elektabilitas Prabowo ibarat gelas yang setengah full 
dalam menuju Pilpres 2024. Sementara bagian yang setengah kosong adalah Prabowo 
yang masih harus lebih sering bersosialisasi dengan publik. 

Kepercayaan diri pada elektabilitas Prabowo juga muncul dari Direktur Eksekutif 
Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah, yang mengatakan Ketua Umum 
Partai Gerindra tersebut juga menjadi satu-satunya tokoh yang memiliki 
elektabilitas tinggi yang senada dengan tingkat keterpilihan partainya.  

Menurut Dedi, kondisi itu berbeda dibandingkan nama-nama lain yang 
digadang-gadang ingin maju pada Pilpres 2024. 

Lantas, pertanyaan besarnya adalah, benarkah elektabilitas yang tinggi mampu 
menjamin jalan Prabowo untuk Pilpres 2024? 

Perangkap Elektabilitas 
Meski hasil survei elektabilitas pra-pemilu adalah hal yang penting, sejatinya 
itu tidak menjamin masa depan para politisi yang disurvei. Dalam sejarah 
pemilihan umum, banyak kasus di mana kandidat yang memiliki elektabilitas 
tinggi justru malah kalah setelah pemungutan suara dilakukan. 

Di Indonesia, pada Pilpres 2014, elektabilitas pasangan Prabowo-Hatta sempat 
mengungguli pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. Kala itu, hasil jajak suara yang 
dilakukan Political Communication (Polcomm) menunjukkan elektabilitas Prabowo 
mencapai 46,8 persen, melampaui elektabilitas Jokowi yang berada di kisaran 
45,3 persen. Tapi kemudian akhirnya Jokowi lah yang memenangkan Pilpres 2014. 

Kejadian serupa juga sempat terjadi di Amerika Serikat (AS). Pada Pilpres AS 
2016, Hillary Clinton lebih diunggulkan dari Donald Trump. Terlebih lagi, Trump 
adalah kandidat yang tidak memiliki pengalaman sebagai pejabat pemerintah, 
berbeda dengan Hillary yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri (Menlu) AS. 

Kenapa hal ini bisa terjadi? 
Well, itu adalah salah satu bukti dari apa yang disebut sebagai electability 
trap atau perangkap elektabilitas. Seth Ackerman dan Matt Karp dalam siniar 
berjudul The Electability Trap, mengungkapkan elektabilitas selalu menjadi 
konsep yang sulit untuk dipahami dan cenderung mempersempit kacamata politik 
dari politisi maupun rakyat. 

Dengan terlalu mengandalkan elektabilitas, jumlah para pemegang suara 
seakan-akan diberlakukan layaknya pendukung tim sepak bola, di mana mereka 
menunggu tim jagoannya untuk bertanding dan siap memberikan dukungan, kalah 
ataupun menang. Padahal dalam politik keadaannya tidak seperti itu. 

Memang benar di masyarakat terdapat klaster pemilih setia yang menanti-nantikan 
kandidatnya untuk unggul, tetapi mereka tidak mencakup sebagian besar pemilih. 
Dalam pemilihan, mayoritas pemegang suara justru adalah kelompok yang belum 
tahu akan memilih siapa. 

Fenomena ini dijelaskan dalam satu teori politik yang disebut Bradley effect, 
yang diambil dari pengalaman politik Wali Kota Los Angeles ke-38 AS bernama Tom 
Bradley. Ketika tahun 1982, Bradley mengikuti Pemilihan Gubernur California. 
Awalnya, poling elektabiltias pra-pemilihan menunjukkan Bradley lebih unggul 
dari oposisinya, George Deukmejian. 

Tapi setelah pemilihan dilakukan, Bradley kalah. Di dalam dunia politik, 
perbedaan pemerolehan suara seperti itu sangat umum terjadi akibat adanya 
kelompok pemilih silent majority. 

Silent majority sendiri  adalah sekelompok besar orang atau kelompok yang tidak 
mengekspresikan pendapat atau pilihan politik mereka secara terbuka. Mereka 
adalah kelompok pemilih yang sulit dideteksi bahkan melalui survei pemetaan 
suara sekalipun. 

Daniel J. Hopkins dalam tulisannya No More Wilder Effect, Never a Whitman 
Effect, menilai salah satu faktor yang menyebabkan perubahan angka adalah 
akibat dinamika diskusi tentang isu-isu politik di masyarakat dari hari ke 
hari, di luar waktu survei elektabilitas. 

Oleh karena itu, pengamat politik dari Universitas Houston, Elizabeth Simas 
dalam artikel Why Voter Enthusiasm Is More Important Than Electability in the 
2020 Election, menilai survei elektabilitas sesungguhnya menutupi satu faktor 
penting dalam pemungutan suara, yakni antusiasme masyarakat.  

Berbeda dengan pendukung tim sepak bola, “penonton politik” tidak menunggu tim 
favoritnya untuk bermain, tetapi lebih mengantisipasi momentum di mana seorang 
tokoh politik maju ke publik untuk memposisikan dirinya terhadap suatu isu.  

Karena itu, Simas menilai, alih-alih bersantai di balik gembar-gembor 
elektabilitas, politisi seharusnya mengaktivasi antusiasme masyarakat, karena 
hal itu sesungguhnya akan lebih efektif ketimbang persuasi politik yang biasa 
seperti penyebaran baliho. 
Lantas, jika aktivasi antusiasme publik begitu penting, apa yang perlu 
dilakukan Prabowo? 

Harus Sering Komunikasi Publik 
Pengamat politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro mengatakan 
elektabilitas saja tidak cukup, karena kepopuleran tidak bisa diandalkan. 
Capres, menurutnya, mau tidak mau harus berani menunjukkan diri ke publik. 

Namun seperti yang kita tahu, Prabowo jarang sekali menunjukkan diri ke publik, 
berbeda dengan menteri-menteri lain seperti Menparekraf Sandiaga Uno, dan 
Menteri BUMN Erick Thohir.  

Dengan demikian, jika Prabowo ingin mengamankan faktor silent majority, ia 
harus membenahi komunikasi publiknya, dengan lebih sering tampil di hadapan 
publik.  

Tidak ada salahnya bila Prabowo kembali mengemban jiwa gemar pidatonya seperti 
ketika Pilpres 2019, karena sesungguhnya di Kemhan pun banyak isu-isu yang bisa 
ditanggapi secara cantik oleh mantan Pangkostrad tersebut. Sebut saja isu 
keamanan siber, Laut Tiongkok Selatan, urgensi alutsista, dan banyak hal lain. 

Kemudian, Prabowo pun sepertinya perlu mengikuti gaya komunikasi politik mantan 
Presiden AS Donald Trump. Shari Graydon dan Sarah Neville dalam artikel 
berjudul Trump’s Terrifying Communication Effectiveness, menyampaikan 4 poin 
menarik mengapa komunikasi Trump selalu mengesankan. 

Pertama, menghindari kata-kata rumit dan buat pernyataan secara singkat namun 
sederhana. Kedua, perkuat pesan-pesan kunci pernyataan dengan berulang-ulang 
menyinggungnya. 

Ketiga, hadapi audiens secara langsung, dalam artian pernyataan yang 
disampaikan Prabowo tidak perlu berupa jawaban dari pernyataan wartawan. 
Keempat, ambil perhatian publik dengan memainkan perasaan, contohnya dengan 
memainkan narasi yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme. 

Tentunya, ini semua perlu dilakukan dengan sarana yang apik juga. Seperti yang 
sudah dijelaskan dalam artikel PinterPolitik, Prabowo Harus Lebih Sering 
Nongol?, Prabowo sesungguhnya memiliki platform yang bisa digunakan untuk 
kampanye politik di Kemhan, yakni dengan ikut acara-acara konferensi pers yang 
dilaksanakan bagian hubungan masyarakatnya. 

Akhir kata, jika Prabowo mantap maju di Pemilu 2024, maka dia harus melakukan 
aktivasi dukungan masyarakat, dengan melakukan beberapa pendekatan publik demi 
membangun rasa antusiasme dan kepercayaan dari masyarakat. 

Yang perlu juga diingat adalah, Prabowo dan partainya jangan terlalu merasa di 
atas angin hanya karena selalu unggul dalam survei elektabilitas. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/F493C5C8D3E84D9DB7661C13D721EE75%40A10Live.

Reply via email to