Pengamat dan pelaku itu beda.
Perlawanan bisa dlm berbagai bentuk. Biarkan bergulir. Yg penting NKRI msh ada. 
Aspirasi selalu hrs disalurkan. Inilah pendapat bung Karno sejak dulu dlm 
Nasakomnya. Skrgn setelah KOM nya sdh dihapus, tinggal NAS dan A nya. Yg lbh 
dominan skrg adalah A nya. Inilah wajah Indonesia yg hidup  lagi setelah 
dibredel oleh Orba.
Siapa yg menang? Bisa2 ujung2nya militer naik lagi kalau sipil nasionalis tidak 
kuat. Memang banyak PR yg hrs diselesaikan. Belum lagi pandemic yg bikin tambah 
rusuh. Ya semoga indonesia bisa bangkit walaupun jalannya lambat terserat2.

Nesare


From: [email protected] <[email protected]> On Behalf Of 
Chan CT
Sent: Wednesday, April 13, 2022 8:12 AM
To: GELORA45_In <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Bang Ade Armando dan Pergerakan Indonesia Untuk Semua (PIS)


Siauw Tiong Djin
Ilmuwan - Pemerhati Politik Indonesia
Siauw Tiong Djin adalah pemerhati politik Indonesia. Ia bermukim di Melbourne, 
Australia

Bang Ade Armando dan Pergerakan Indonesia Untuk Semua (PIS)
13 April 2022   15:34 Diperbarui: 13 April 2022   16:26  223  2 0

[Activist Ade Armando Attacked, Stripped by Protesters He Intends to Join]
Ade Armando diselamatkan 2 polisi setelah babk-belur dikroyok sekelompok aksi 
unjuk rasa didepan Gedung DPR/MPR RI, Senin (11-04-2022)

Walaupun saya aktif dalam berbagai organisasi sosial, pendidikan, maupun 
komersial, saya tidak bisa dikatakan seorang aktifis. Saya tidak akan 
menyatakan bahwa saya berpengalaman dan mahir dalam membangun barisan 
organisasi yang kuat dan efektif.

Akan tetapi, pengalaman dalam berbagai kegiatan tersebut, mendorong saya untuk 
menuaikan logika bagaimana para penggiat, terutama mereka yang masuk dalam 
kategori pemimpin, seharusnya bersikap dalam menggalang dukungan.

Ini hanya sebagai bahan pertimbangan. Saya sama sekali tidak “qualified”  untuk 
menggurui.

Apa yang terjadi dengan Bang Ade Armando pada 11 April yang lalu membangkitkan 
kemarahan dan kekecewaan. Kelompok yang melakukan tindakan keji dan tidak 
ber-prikemanusiaan, apalagi dengan menggunakan dalih-dalih agama, harus 
dituntut dan dihukum.  Mereka telah melanggar dasar kasih sayang ke-agama-an 
dan sekaligus melanggar hukum.


Kelompok tersebut dan para penggerak intelektual-nya melakukan tindakan teror.  
Mereka menganggap Ini jalan ampuh untuk memperingati dan mengancam  para teman 
sealiran Bang Ade Armando dan para pendukungnya,  untuk menghentikan gerakan 
mereka. Respons Bang Ade di rumah sakit, yang menyatakan tidak akan berhenti 
berjuang demi kebaikan Indonesia, pasti mengecewakan para penggerak intelektual 
tindakan ini.

Saya mendukung aneka pendapat dan analisis yang diuraikan oleh Bang Ade, Bang 
Denny, Bang Eko dkk di dalam berbagai acara Cokro TV maupun berbagai tulisannya.

Mereka mendorong berkembangnya akal sehat dan logika positif dalam 
mempertahankan NKRI dan dalam mengembangkan pluralisme – sesuai dengan 
cita-cita para pejuang kemerdekaan kita.


Barusan saya menerima program Pergerakan Indonesia untuk Semua (PIS) dari 
sekjen-nya, ibu Nong Darol Mahmada.  Isinya luar biasa dan penuh dengan sikap 
politik dan kebijakan yang membangun.

PIS dengan jitu dan akurat menguraikan dasar kebangsaan Indonesia – Nasion 
Indonesia - yang berdasarkan pluralisme. Kebangsaan Indonesia tidak mengenal 
istilah Indonesia Asli atau pribumi. PIS menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika 
– kesatuan yang berdasarkan keaneka-ragaman etnisitas, kebudayaan dan aliran 
agama. Salah satu program PIS mengetengahkan konsepsi bahwa suku Tionghoa – 
dengan latar belakang etnisitas dan kebudayaannya - merupakan bagian yang tidak 
terpisahkan dari bangsa Indonesia.

Sebagai seorang Indonesia Tionghoa yang mendukung paham multikulturalisme dan 
pluralisme, dengan sendirinya saya menerima  dasar dan program kerja PIS dan 
mengajak sebanyak mungkin orang yang mencintai Indonesia untuk mendukungnya 
pula.

Kejadian yang menimpa Bang Ade pada 11 April yang lalu dan pembicaraan saya 
dengan beberapa teman baik, mendorong saya untuk menulis berbagai ajakan untuk 
dipertimbangkan:

1.    Hendaknya para penggiat yang bergabung dalam kelompok PIS dan Cokro TV 
lebih bersikap hati-hati dan waspada ketika berada di lokasi-lokasi di mana 
berada kelompok-kelompok yang menentang pandangan mereka. Saya yakin para tokoh 
yang merasa dimusuhi kalian akan terus menerus mencari jalan untuk 
menghancurkan gerakan kalian, baik dengan cara halus maupun kasar.
2.   Timbul pertanyaan dalam benak saya dan terus terang ini cukup lama 
mengganggu saya: Apakah bijaksana meneruskan penggunaan istilah “kadrun”?
Pertanyaan ini bukan membenarkan tindakan keji kelompok orang yang menganiaya 
bang Ade. Sikap saya terhadap mereka jelas.
Akan tetapi para pendukung Bang Ade segera meng-kategorikan kelompok orang 
tersebut sebagai “kadrun” yang jelas mengandung definisi tertentu.
Saya menganggap istilah “kadrun” mengandung konotasi rasis – karena secara 
langsung berhubungan dengan Arab.  Saya mengerti bahwa istilah ini lahir karena 
adanya berbagai kelompok orang yang mengagungkan kebudayaan Arab, berjubah 
putih dan menganggap kemurnian Islam sinonim dengan konsepsi Islam yang 
dipatuhi oleh gerakan Islam radikal/ekstrim di Timur Tengah, yang kerap 
dihubungkan dengan ISIS.
Kalau memang istilah “kadrun” mengandung konotasi rasisme (seperti misalnya 
istilah Cina Loleng), menurut saya, sebaiknya penggunaannya dihentikan.  Kalau 
tidak, barisan yang ingin dibangun oleh kelompok Bang Ade dkk akan mendorong 
banyak orang merasa dirinya pengikut Islam murni, apapun definisinya, termasuk 
mereka yang moderat, untuk bukan saja tidak mendukung, tetapi ikut memusuhinya. 
Banyak istilah lain yang bisa dipergunakan.

3.   Ada sebuah pembentukan opini yang mengkhawatirkan saya. Ada  kecendrungan 
yang menganggap semua orang Islam yang menentang Jokowi, apapun alasannya, 
sebagai  “kadrun”.
Saya yakin PIS menjunjung tinggi prinsip demokrasi.  Tidak semua yang menentang 
Jokowi mendukung perwujudan khilafah di Indonesia atau mendukung kehadiran 
ISIS.  Banyak dari mereka merupakan Islam moderat bahkan dalam batas-batas 
tertentu mendukung konsepsi yang diusung oleh PIS.  Mereka masuk dalam kelompok 
besar yang mencintai Indonesia dan menjunjung tinggi prinsip Bhinneka Tunggal 
Ika.
Jokowi adalah seorang presiden yang memiliki kekuatan dan kelemahan. Jokowi 
tidak sinonim dengan Indonesia. Ia merupakan simbol sebuah aliran, yang dalam 
alam demokrasi bisa saja ditentang oleh banyak orang yang mencintai Indonesia 
dari aliran yang berbeda.
Tidak semua yang menentang Jokowi merupakan musuh PIS. Mereka bisa diajak masuk 
dalam barisan PIS demi membangun Indonesia maju dan kuat.

4.   Radikalisme Islam: Menurut saya kelompok Bang Ade dkk perlu berhati-hati 
dalam menelurkan definisi “radikalisme”, sehingga tidak mendorong rakyat jelata 
untuk memusuhinya.
Kita pernah mengenal istilah radikalisme di zaman-zaman sebelumnya. Ada 
misalnya “radikalisme kiri” yang menyandang paham komunisme dan sosialisme. 
Pada 50-an hingga 60-an, Partai Komunis Indonesia (PKI) sempat tumbuh sebagai 
salah satu partai politik terbesar di Indonesia. Ini terjadi karena paham yang 
ditawarkan mereka didukung oleh rakyat jelata – para buruh dan petani, yang 
meng-idam-idami kemakmuran hidup.  Kini, tanpa komunisme dan sosialisme dalam 
dunia politik praktis, kemana rakyat jelata harus menumpukan harapannya?
Kelompok-kelompok yang ingin membentuk khilafah, apapun bentuknya, menawarkan 
hal serupa: kemakmuran di masa hidup  dengan tambahan, “Kebahagiaan” setelah 
orang meninggal.

Pimpinan PIS dan para pendukungnya tentu menginginkan sebagian besar rakyat 
jelata sebagai basis pergerakan membangun Indonesia. Untuk mencapai ini, PIS 
perlu menelurkan sebuah tawaran realistik yang membuahkan dukungan luas.

Bilamana butir-butir di atas diterima, ada baiknya para penggiat yang bergabung 
dalam PIS dan Cokro TV mengubah cara berkomunikasi sehingga lebih mendorong 
dukungan dan mencegah berkembangnya sikap “hantam kromo”, yaitu memusuhi siapa 
saja yang dianggap tidak mendukung program dan dasar pergerakan.

Banyak yang kini menentang karena kurang penjelasan atau pengaruh orang lain.  
Tidak semuanya merupakan musuh yang harus dienyahkan.

Pembangunan barisan sebuah pergerakan yang kuat dan efektif dalam mencapai 
tujuan utama,  merupakan sebuah perjuangan jangka panjang.  Ia memerlukan 
kesabaran, sikap demokratis dan  kebijaksanaan  yang mengundang dukungan.

Sekali lagi, di atas merupakan sebuah bahan pertimbangan, bukan “kuliah” 
tentang cara berorganisasi. Saya yakin Bang Ade dkk jauh lebih mahir dan 
berpengalaman dalam bidang ini.




Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bang Ade Armando dan 
Pergerakan Indonesia Untuk Semua (PIS)", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/siauw43513/62568b2abb44865d347bf8c2/bang-ade-armando-dan-pergerakan-indonesia-untuk-semua-pis?page=3&page_images=1

Kreator: Siauw Tiong Djin



--
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke 
[email protected]<mailto:[email protected]>.
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FDC8E1261D384D0F9898B8C8401F09DA%40A10Live<https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FDC8E1261D384D0F9898B8C8401F09DA%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/BL0PR07MB54414255FB86CF6B6653CF4AF0EF9%40BL0PR07MB5441.namprd07.prod.outlook.com.

Reply via email to