Written byD74Thursday, April 14, 2022 22:20NATO Akan Provokasi Asia?

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/nato-akan-provokasi-asia/
Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO, Jens Stoltenberg mengatakan NATO tengah 
persiapkan strategi untuk ekspansi di kawasan Asia. Hal ini diklaim perlu 
dilakukan demi meredam pengaruh Tiongkok. Akankah ini menjadi masalah baru di 
Bumi bagian Timur? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Imbas konflik Rusia-Ukraina tampak semakin kompleks. Setelah harga minyak dunia 
dicederai akibat sejumlah sanksi ekonomi yang dijatuhkan pada Rusia, kini 
perhatian dunia tertuju pada NATO yang berencana ingin berekspansi ke kawasan 
Asia. 

Pada sebuah konferensi pers di Belgia pada tanggal 5 April 2022, Sekretaris 
Jenderal (Sekjen) NATO, Jens Stoltenberg mengatakan bahwa saat ini pihaknya 
tengah persiapkan strategi untuk memperdalam kerja sama dengan negara-negara 
Asia-Pasifik. Termasuk di bidang-bidang seperti pengendalian senjata, siber, 
dan teknologi. 

Wacana ini tentu direncanakan bukan tanpa alasan, Stoltenberg menjelaskan bahwa 
NATO saat ini memiliki kekhawatiran khusus pada Tiongkok. Hal ini karena sampai 
saat ini Tiongkok terlihat enggan untuk mengutuk serangan yang dilakukan Rusia 
pada Ukraina.  

Kalau kita perhatikan, ini menjadi langkah selanjutnya terkait perselisihan 
Barat dengan Tiongkok terkait konflik Ukraina. Sebelumnya, Tiongkok pernah 
mendapatkan tuduhan besar telah memberikan jaminan keamanan ekonomi pada Rusia 
agar tidak terlalu terdampak oleh sanksi ekonomi. Tiongkok juga disebut 
memberikan bantuan militer pada Rusia di Ukraina. 

Yang menariknya, Stoltenberg menyebut ini menjadi pertama kalinya pengaruh 
politik internasional Tiongkok menjadi perhatian utama NATO. Ia mengatakan 
Tiongkok belakangan ini menjadi semakin koersif dan NATO berhak “mempertahankan 
demokrasi” yang telah memberi dunia kedamaian dalam beberapa dekade terakhir. 

Ide ekspansi ini sontak mendapat respon sinis dari Tiongkok. Melalui Jubir 
Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Zhao Lijian, Tiongkok mengatakan kerja sama 
yang ingin dibangun NATO dengan negara-negara Asia-Pasifik akan merusak 
perdamaian dan stabilitas di kawasan.  

Tidak tanggung-tanggung, Zhao juga menyebutkan ide ekspansi aliansi tersebut 
tidak lain adalah untuk melayani kepentingan hegemoni Amerika Serikat (AS). Di 
beberapa kesempatan, Tiongkok juga selalu mengatakan NATO saat ini dijalankan 
berdasarkan mentalitas ala Perang Dingin, maka sesungguhnya hal seperti ini 
sepertinya sudah diprediksi oleh Tiongkok. 

Lantas pertanyaannya adalah, mengapa sebenarnya NATO ingin menebar jalanya ke 
Asia? 

 
Untuk Memuaskan Dahaga Bisnis? 
Sebelum mengkaji lebih lanjut, kita terlebih dahulu perlu mengetahui kerja sama 
seperti apa yang biasanya dilakukan NATO dengan negara-negara yang bukan berada 
di Eropa ataupun Amerika Utara.  

Dikutip dari situs NATO, program kerja sama umumnya dilakukan oleh NATO secara 
bilateral dengan negara-negara non-Eropa, melalui program bernama Partnership 
for Peace (PFP). Aktivitas yang ditawarkan di bawah program PFP disebutkan 
menyentuh hampir setiap bidang aktivitas NATO, meski tidak dijelaskan secara 
rinci. 

Meski begitu, Mircea Geoană, Wakil Sekjen NATO dalam artikel berjudul The 
Evolving Role of NATO in Latin America menjelaskan negara yang menjadi rekan 
PFP NATO akan mendapatkan suntikan dana untuk memerangi terorisme dan juga 
akses ke beberapa kompetensi militer NATO.  

NATO juga dikatakan dapat berbagi pandangannya tentang bagaimana membangun 
pertahanan negara yang kuat, memerangi korupsi, membangun integritas, mengatasi 
perubahan iklim, dan, ini yang paling menarik, membantu menghadapi kebangkitan 
negara “musuh” Barat seperti Tiongkok dan Iran. 
Selain itu, kerja sama juga mencakup membuat program-program pelatihan yang 
sifatnya ad-hoc, dan penerapan mekanisme pertukaran informasi antara 
profesional dan politisi dari bidang-bidang yang terkait dengan sektor 
pertahanan.  

Berdasarkan tulisan W. Bruce Weinrod yang berjudul NATO and Asia’s Changing 
Relationship, sampai saat ini negara-negara yang menjadi mitra NATO di Asia 
seperti Jepang dan Singapura, diajak untuk mengirimkan personel militernya ke 
wilayah konflik seperti Afghanistan. Korea Selatan tadinya juga termasuk, namun 
setelah tahun 2007 mereka menarik pasukannya dari Afghanistan. 

Akan tetapi, penjelasan tadi lebih menjelaskan tentang keuntungan yang 
diperoleh dua pihak, secara abstrak. Lantas, apa manfaat konkrit yang kira-kira 
diincar NATO dengan berekspansi ke wilayah non-Eropa? 

Well, pengamat pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies 
(ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, untuk memprediksi apa yang sebenarnya ingin 
dilakukan NATO, kita hanya perlu menyadari bahwa pakta pertahanan tersebut 
terdiri dari negara-negara produsen senjata terbesar di dunia. 

Perusahaan pertahanan yang ada di AS dan Eropa, seperti Lockheed Martin dan BAE 
Systems menempati posisi teratas sebagai kontraktor pertahanan terbesar.  

Oleh karena itu, sangat wajar bila tujuan utama NATO ingin ekspansi ke kawasan 
Asia adalah untuk kepentingan bisnis, terlebih lagi, Asia adalah wilayah yang 
memiliki sejumlah benih konflik yang bisa dipermainkan, seperti persaingan 
antara Pakisan dan India, Tiongkok dengan Taiwan, serta Jepang dan Rusia. 

Dengan demikian, bukan tidak mungkin bila NATO nantinya memiliki andil dalam 
“memperjelas” ancaman-ancaman yang ada di Asia.  

Hal ini bukanlah spekulasi yang jauh, karena seperti yang pernah dibahas dalam 
artikel PinterPolitik Sudah Saatnya NATO Dimusnahkan? NATO secara nyata telah 
memperkeruh konflik Ukraina, padahal sebenarnya mereka bisa menciptakan 
perdamaian hanya dengan menjamin Ukraina menjadi negara yang netral dan tidak 
akan bergabung dengan NATO. 

Tentunya, dengan mempromosikan ancaman konflik, negara-negara sekitar akan 
merasa butuh meningkatkan kapabilitas pertahanannya, dan ini jelas menjadi 
ladang bisnis bagi para pegiat industri pertahanan. 

Motif demikian bukanlah hal yang asing dalam dunia militer, karena itu adalah 
salah satu bukti penerapan teori military-industrial complex.  

Alex Roland dalam bukunya The Military-Industrial Complex: Lobby and Trope, 
menjelaskan bahwa industri pertahanan memiliki vested interest atau kepentingan 
pribadi yang ditanamkan pada kebijakan luar negeri negara, khususnya negara 
yang memang memiliki industri pertahanan maju seperti AS. 

Dengan melakukan sejumlah lobby, para kontraktor pertahanan bisa mendapatkan 
keuntungan yang besar melalui kebijakan luar negeri yang mendorong perlombaan 
senjata, contohnya seperti kebijakan CAATSA atau Undang-Undang Melawan Musuh 
Amerika Melalui Sanksi, yang dimiliki AS. 

Dengan kebijakan semacam itu, AS sebagai negara ekonomi kuat bisa memberikan 
sanksi ekonomi pada negara yang membeli persenjataan dari negara “musuh AS”, 
seperti Rusia. Secara efektif, ini memastikan AS dapat mengatur alur 
perdagangan senjata dunia. 
Lantas, jika benar NATO berkeinginan untuk melakukan bisnis besar di Asia, 
bagaimana dampaknya pada stabilitas keamanan kawasan? 

NATO Menyulut Api? 
NATO adalah traktat pertahanan yang awalnya didirikan murni untuk menangkal 
pengaruh Uni Soviet dan Pakta Warsawa. Setelah Soviet runtuh, NATO bisa 
dikatakan sudah tidak memiliki musuh, tetapi uniknya mereka tetap melakukan 
ekspansi. 

Ted Galen Carpenter, seorang pengamat internasional dari Cato Institute dalam 
tulisannya Many Predicted Nato Expansion Would Lead to War, mengatakan bahwa 
ekspansi NATO setelah Perang Dingin telah menjadi penyebab utama tragedi 
bersenjata di Eropa. Ini dibuktikan tidak hanya dengan konflik Ukraina, tetapi 
juga konflik Georgia yang terjadi pada tahun 2008. 

Carpenter juga mengatakan konflik-konflik yang terjadi adalah akibat dari 
arogansi AS yang selalu ingin menyetir NATO berdasarkan kepentingan pribadinya, 
yang kalau kita coba cerminkan dari pembahasan sebelumnya, juga merupakan 
ambisi dari industri pertahanannya. 

Dari pandangan ini, bisa kita interpretasikan hal serupa juga kemungkinan akan 
terjadi di Asia. Kembali mengutip Khairul Fahmi, agar bisnis senjata laku, maka 
situasi politik kawasan terlebih dahulu perlu dikondisikan.  

Bukan tidak mungkin, teror akan gentingnya polemik Taiwan dengan Tiongkok, 
Jepang dengan Rusia, dan Pakistan dengan India akan diperuncing. Jika ada satu 
negara saja di Asia-Pasifik diyakinkan untuk memperkuat pertahanannya, maka ia 
akan memulai efek domino pada negara-negara sekitarnya untuk ikut berlomba 
memperkuat senjata. 

Hal ini karena di dalam teori realisme dalam studi hubungan internasional, 
diyakini adanya efek deterrence atau pencegahan. Teori ini meyakini bahwa suatu 
negara yang memiliki superioritas militer pasti akan dipandang sebagai ancaman 
oleh negara tetangganya.  

Nah, untuk mencegah adanya ketidakseimbangan kekuatan, maka negara yang berada 
di sekelilingnya juga perlu untuk memperkuat pertahanannya sendiri, demi 
membatalkan keunggulan negara tetangganya tadi. 

Bagaimana kemudian dengan Indonesia? Well, meski saat ini Indonesia bisa 
dikatakan tidak memiliki musuh bebuyutan, potensi peruncingan konflik bisa 
terjadi dalam aspek domestik.  

Seperti yang kita tahu, permasalahan konflik di Papua sampai saat ini belum 
bisa diselesaikan. Jika kita belajar dari sejarah, maka kita pun harus 
mewaspadai adanya potensi upaya memanas-manasi gejolak di wilayah-wilayah yang 
memiliki sejarah konflik di Indonesia.  

Kekhawatiran ini umumnya berangkat dari suatu konsep yang disebut 
“balkanisasi”, yakni fragmentasi atau pembagian suatu wilayah atau negara 
menjadi beberapa wilayah atau negara kecil yang pada dasarnya bertentangan atau 
tidak kooperatif dengan satu sama lain. 

Pada akhirnya, ini hanya interpretasi belaka. Tentu harapannya wacana ekspansi 
NATO ke Asia hanyalah gertakan semata untuk menakut-nakuti Tiongkok. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/379AC59E6E4A4E93AE0B30CB9E1E18B3%40A10Live.

Reply via email to