Warga Asia-Amerika di AS Alami Diskriminasi dan Penindasan HAM
2022-04-15 
16:35:37https://indonesian.cri.cn/2022/04/15/ARTIcctU4Kbk4BgZ9Tc7TKpu220415.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.12

Masyarakat Tiongkok untuk Studi Hak Asasi Manusia (CSHRS) mengumumkan sebuah 
laporan penelitian yang berjudul ‘Maraknya Diskriminasi terhadap Warga 
Asia-Amerika Ungkapkan Hakikat Masyarakat AS yang Rasis’ pada Jumat (15/4) hari 
ini. 

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa AS adalah negeri yang dikuasai Protestan 
Anglo-Saxon berkulit putih, warga Asia-Amerika sama seperti warga Afro-Amerika, 
Amerika Latin dan suku pribumi, mereka semuanya mengalami diskriminasi dan 
penindasan dalam berbagai bentuk di bidang hak asasi manusia.

Laporan tersebut dengan sistematis membeberkan tragedi diskriminasi ras yang 
diderita warga Asia-Amerika dalam sejarah, secara mendalam menyingkap penyebab 
semakin seriusnya fenomena diskriminasi yang tertuju pada ras Asia-Amerika, 
termasuk manipulasi rasisme yang dimainkan oleh politikus terkait pandemi 
Covid-19, struktur ras dan suasana masyarakat supremasi orang kulit putih, 
belenggu label ‘contoh minoritas’ Asia-Amerika, perlawanan antar ras yang 
berbeda, serta politikus AS yang merusak hubungan Tiongkok-AS.

Laporan tersebut menunjukkan, meskipun setelah pandemi, diskriminasi rasisme 
masyarakat AS terhadap kelompok Asia-Amerika mungkin dapat menurun, namun di 
bawah pengaruh manipulasi politikus AS yang anti-Tiongkok, serangan rasisme 
yang ditujukan kepada kelompok warga AS keturunan Tionghoa mungkin akan semakin 
meningkat. Hal ini telah memancing kekhawatiran dan kewaspadaan seluruh 
masyarakat internasional.

Mengejutkan! Dia Ternyata Pembela Palsu HAM!
2022-04-15 
16:01:01https://indonesian.cri.cn/2022/04/15/ARTIa6WhA8ZtxLbOFIaySHjo220415.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.13


Pada hari Selasa (12/4) lalu, kantor berita Reuters mengajukan pertanyaan tajam 
kepada pemerintah Biden, “mengapa AS hanya menampung 12 pengungsi Ukraina pada 
bulan Maret lalu?” Pada hari yang sama, Komisi Tinggi PBB untuk Urusan 
Pengungsi (UNHCR) menyatakan, sejak konflik militer Rusia-Ukraina meletus, 
sebanyak 4,65 juta orang Ukraina telah mengungsi ke luar negeri.





Berpura-pura Peduli pada Pengungsi Ukraina

Dengan mengutip data Departemen Luar Negeri AS, Reuters melaporkan bahwa AS 
hanya menerima 514 pengungsi Ukraina pada bulan Januari dan Februari lalu. 
Sedangkan pada bulan Maret lalu, ketika bentrokan Rusia-Ukraina terus 
meruncing, saat para pengungsi Ukraina berbondong-bondong melarikan diri ke 
luar negeri, AS hanya menerima 12 pengungsi Ukraina, padahal Gedung Putih 
berjanji akan menerima 100 ribu pengungsi Ukraina. Ternyata komitmen Washington 
tersebut hanya di bibir saja. 

Sengaja Memicu Gelombang Pengungsi, AS Diliit Hutang Darah

Para pengungsi Ukraina yang berjumlah jutaan orang itu adalah korban terbaru 
dari hegemoni global yang digencarkan AS sejak lama. 

Setelah Perang Dunia II, AS melancarkan serangkaian perang, yang di samping 
mengakibatkan banyak rakyat jelata tewas, juga telah menyebabkan munculnya 
puluhan juta pengungsi. Peperangan yang dilancarkan AS itu telah menimbulkan 
dampak serius terhadap perkembangan ekonomi maupun kestabilan sosial 
negara-negara terkait.









Menurut laporan USA Today pada bulan Februari lalu, hasil penelitian The Watson 
Institute for International and Public Affairs dari Brown University 
menunjukkan, apa yang disebut dengan perang anti terorisme yang dilancarkan 
oleh AS selama 20 tahun terakhir ini telah merenggut jiwa 929 ribu orang. 
Pemerintah Vietnam memperkirakan, sebanyak 2 juta warga sipil Vietnam tewas 
dalam perang Vietnam.

AS telah melakukan kejahatan yang tak terhitung jumlahnya dalam ‘menghasilkan’ 
pengungsi di dunia. Misalnya dalam perang Afghanistan yang berlangsung selama 
20 tahun, kira-kira 11 juta orang Afghanistan terpaksa mengungsi, sebanyak 3,5 
juta orang Afghanistan kehilangan tempat tinggal, dan hampir 23 juta orang 
berada dalam kondisi kelaparan ekstrem, termasuk 3,2 juta anak balita.

Menurut laporan UNCHR, perang mengakibatkan 610 ribu orang di Suriah menjadi 
pengungsi setiap tahunnya, dan gejala ini telah berlangsung selama 6 tahun 
berturut-turut. Akan tetapi, sejak tahun 2016, hanya 23 ribu pengungsi Suriah 
yang diterima oleh pemerintah AS, demikian menurut laporan The New York Times.

Meremehkan Konvensi Internasional

AS memiliki rekam jejak HAM yang sangat buruk di luar negeri, sama halnya di 
dalam negeri AS. Pelanggaran HAM, diskriminasi ras dan kekerasan dalam 
penegakan hukum kerap kali terjadi di AS, salah satu contohnya adalah peristiwa 
George Floyd, seorang warga AS keturunan Afrika yang tewas karena ditindih 
lehernya oleh polisi kulit putih.








Kejahatan AS Akan Terukir dalam Catatan Sejarah untuk Selama-lamanya

Dari pembantaian di Desa My Lai Vietnam hingga penyiksaan terhadap tahanan di 
Penjara Guantanamo, sampai serangan udara terhadap rakyat jelata Suriah, AS 
telah melakukan kejahatan HAM bertubi-tubi di luar negeri, dan kejahatannya itu 
akan terukir dalam sejarah untuk selama-lamanya.




 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/699A113489D94047AE72398FF0B32722%40A10Live.

Reply via email to