Written byS13Monday, April 18, 2022 17:19Menggugat Logika Denny Siregar
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/menggugat-logika-denny-siregar/
Denny Siregar menuduh kehadiran para pelajar di demonstrasi 11 April 2022 
sebagai cara oposisi untuk meningkatkan tensi politik dari aksi protes 
tersebut. Ia juga spesifik menunjuk pelibatan pelajar ini mirip dengan 
peristiwa yang terjadi di Mesir kala Arab Spring bergejolak sejak tahun 2010 
lalu. Di akhir, ia menyebut para pelajar seharusnya fokus belajar dan tak perlu 
ikut aksi yang membuat khawatir orang tua mereka.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “To sin by silence, when we should protest, makes cowards out of men”.

  ::Ella Wheeler Wilcox (1850-1919), penyair asal Amerika Serikat::

Demonstrasi 11 April 2022 memang meninggalkan banyak cerita. Walaupun fokus 
isunya kemudian teralihkan akibat adanya peristiwa pengeroyokan terhadap dosen 
sekaligus pegiat media sosial Ade Armando, demonstrasi yang sempat berujung 
kericuhan ini memang menjadi ajang penyampaian kritik kepada pemerintah dan 
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Sayangnya, tak semua orang sepakat demontrasi yang dilakukan oleh para pelajar 
dan mahasiswa itu menjadi sebuah hak politik yang sangat penting untuk 
dijalankan – terutama oleh para pelajar. Pandangan ini salah satunya 
disampaikan oleh pegiat media sosial Denny Siregar.

Lewat video yang dipublikasikan oleh channel YouTube CokroTV, Denny menyebut 
demonstrasi yang “menggunakan” pelajar – misalnya anak-anak STM atau kini SMK – 
sebagai penggerak utamanya, mirip dengan fenomena yang terjadi saat Arab Spring 
yang berujung pada revolusi di beberapa negara Timur Tengah sejak tahun 2010 
lalu.

Ia menunjuk secara spesifik kelompok macam Ikhwanul Muslimin di Mesir yang 
menggunakan pelajar sebagai pendorong narasi protes. Ikhwanul Muslimin memang 
menjadi organisasi global yang pengaruhnya sudah ada di banyak negara, termasuk 
Indonesia.

Ujungnya, ketika ada korban jiwa yang jatuh dari kalangan pelajar ketika 
demonstrasi dilakukan, efek politiknya menjadi sangat hebat dan menyebabkan 
revolusi di Mesir. Denny kemudian menyinggung gerakan Ikhwanul Muslimin ini 
diduga sebagai induk semang Partai Keadilan Sejahtera alias PKS di Indonesia.

Hal itulah yang menurut Denny, menyebabkan rezim kepemimpinan selanjutnya di 
Mesir menetapkan bahwa demonstrasi mahasiswa yang merusak gedung atau fasilitas 
umum akan diadili lewat mahkamah militer. Ia kemudian merefleksikan fenomena 
itu terhadap aksi-aksi protes di Indonesia.

Denny juga menyebutkan bahwa para pelajar ini masih muda, masih dalam proses 
pencarian jati diri dan emosi mereka masih labil. Para pelajar juga dijadikan 
sebagai pertahanan karena aparat atau polisi menjadi kebingungan ketika 
mengamankan aksi demonstrasi. Ini mengingat status para pelajar itu yang masih 
anak-anak.

Denny kemudian menyebutkan bahwa pelibatan anak-anak STM dalam demo di 
Indonesia “sudah pasti” pekerjaan Ikhwanul Muslimin. Ini karena pola yang 
digunakan identik dengan gerakan di Mesir. Ia menyebut khawatir jika para 
pelajar ini kemudian dijadikan sebagai alat agar eskalasi demo menjadi semakin 
bisar, katakanlah jika ada pelajar yang menjadi korban dalam aksi.

Di akhir, Denny meminta para pelajar untuk fokus belajar dan memikirkan 
bagaimana orang tua mereka sudah susah payah membiayai sekolah mereka dan sudah 
sewajarnya mereka tidak membuat pusing orang tua dengan ikut-ikutan aksi serta 
demonstrasi.

Secara keseluruhan, bangunan rasionalitas yang dibuat oleh Denny Siregar memang 
meyakinkan. Tapi, apakah benar demikian?

 
Logika Konflik dan Pelajar
Dari penjelasan yang panjang lebar, perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud 
Denny sebagai pelajar adalah anak sekolah. Dalam KBBI, pelajar diartikan 
terutama untuk anak sekolah dasar dan sekolah lanjutan. Dengan demikian, ini 
membedakan statusnya dengan mahasiswa.

Nah, inti dari garis pemikiran yang dibangun oleh Denny Siregar adalah ingin 
membangun argumentasi bahwa para pelajar atau anak STM seharusnya tidak ikut 
demonstrasi. Mengapa?

Alasan pertama karena demonstrasi yang melibatkan pelajar seperti anak STM 
hanyalah agenda politik dari kelompok tertentu – dalam hal ini kelompok 
Ikhwanul Muslimin – yang ujung-ujungnya hanya akan memperkeruh suasana.
Alasan kedua adalah karena para pelajar yang masih muda dan mencari jati diri, 
lebih baik fokus belajar di sekolah dan tak ikut aksi-aksi di jalan.

Memang, kalau kita telusuri banyak kasus aksi demonstrasi yang melibatkan 
anak-anak STM di Indonesia, berawal karena ingin “meramaikan” situasi. Karena 
ada pesan berantai di media sosial atau lewat WhatsApp misalnya, para pelajar 
ini seolah menganggap demonstrasi yang ada “kekacauannya” adalah ajang untuk 
menunjukkan kebolehan.

“Gua kemarin ikut demo di DPR. Anjir, ikut berantem sama polisi juga ampe 
dikejar-kejar”, demikian kira-kira kalau ada yang bercerita soal pengelaman 
ikut demo tersebut. Cerita-cerita yang demikian ini tentu menjadi semacam 
narasi untuk mendapatkan pengakuan di antara teman-teman sebayanya.

Apalagi, anak-anak STM kerap diidentikkan sebagai para pelajar yang suka 
tawuran. Ini menjadi semacam stereotip yang melekat di masyarakat, mengingat 
dulu kebanyakan anak STM adalah laki-laki. Dengan demikian, memang fenomena 
keterlibatan pelajar yang sekedar ikut ramai tanpa tahu intisari dari 
demonstrasi yang dilakukan menjadi hal yang memprihatinkan. Benar poin Denny di 
sini.

Namun, apakah dengan demikian semua keterlibatan pelajar dalam demonstrasi 
menjadi hal yang salah? Tentu saja tidak. Faktanya, sejarah pergerakan dan 
perubahan yang terjadi di masyarakat banyak negara sering melibatkan pelajar.

Di Amerika Serikat misalnya, ada nama Barbara Rose Johns Powell yang ketika 
berusia 16 tahun memimpin aksi protes pelajar untuk kesetaraan pendidikan pada 
tahun 1951. Aksi Powell ini menjadi simbol dari keseluruhan gerakan protes 
pelajar di AS yang ikut memperjuangkan kesetaraan di masyarakat negara tersebut.

Profesor Ilmu Sejarah dari Indiana University Bloomington, Dionne Danns, dalam 
salah satu tulisannya di Historians juga menyebutkan bahwa para pelajar ini 
memang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gerakan protes dan aktivisme, 
misalnya terkait isu rasial dan kesetaraan kesempatan.

Lalu di tahun 1968 ada aksi “Black Monday” yang diprakarsai oleh 
aktivis-aktivis pelajar di Chicago yang memprotes isu-isu diskriminasi. Di 
tahun yang sama, protes-protes juga dilakukan oleh para pelajar di berbagai 
kota di Eropa, misalnya di London, Paris, Berlin dan Roma. Mereka memprotes 
Perang Vietnam yang di tahun-tahun tersebut sedang jadi isu utama.

Di Singapura, pada tahun 1950-an terjadi protes para pelajar terkait National 
Service Ordinance yang berujung pada peningkatan simpati pada perjuangan 
melawan pemerintahan pendudukan Inggris. Peristiwa ini menandai babak baru di 
masyarakat Singapura dan menjadi momentum menguatnya pengaruh Lee Kuan Yew yang 
di kemudian hari menjadi pemimpin negara tersebut.

Dengan demikian, agaknya kurang tepat untuk menggeneralisir bahwa para pelajar 
tidak punya hak untuk mengemukakan pendapat dan melakukan protes karena mereka 
masih muda dan masih mencari jati diri seperti yang dibilang oleh Denny 
Siregar. Pasalnya, sebagai negara demokrasi, sudah seharusnya hak setiap orang 
dilindungi untuk berpendapat, termasuk bagi para pelajar.

Justru harus menjadi catatan bahwa dalam keluarga dan sekolah misalnya, 
prinsip-prinsip berdemokrasi harus didorong agar tumbuh kembang anak dan 
pelajar yang berani berpendapat dan tampil memperjuangkan nilai-nilai yang 
penting bisa didorong dengan sepenuhnya.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh Denny adalah sebuah generalisasi yang 
keliru. Karena ada anak STM yang sekedar gaya-gayaan berdemo dan merusuh, bukan 
berarti semua pelajar kemudian harus melepaskan hak politiknya dan sekedar 
fokus belajar serta diam saja jika ada hal-hal yang dirasa tidak benar. Sejarah 
sudah membuktikan bagaimana demo pelajar menjadi bagian dari perkembangan 
peradaban.

 
Denny Siregar Simbolisme Post-Truth?
Kemudian, tuduhan soal adanya keterlibatan Ikhwanul Muslimin dalam menggerakkan 
pelajar untuk berdemo seperti yang disebut oleh Denny Siregar, sifatnya masih 
sebatas asumsi. Denny sekedar membandingkan fenomena yang terjadi di Mesir 
dengan konteks di Indonesia tanpa memberikan bukti relasi Ikhwanul Muslimin 
dengan para pelajar itu riil-nya seperti apa.

Denny mengambil kesimpulan bahwa menggunakan pelajar sebagai bagian dari demo 
adalah pola yang sama dengan yang terjadi di Mesir. Dengan demikian, menurut 
Denny, sudah pasti yang terjadi di Indonesia adalah aksi Ikhwanul Muslimin 
seperti yang terjadi di Mesir. Padahal, ia tak menyertakan bukti relasi para 
pelajar Indonesia tersebut dengan Ikhwanul Muslimin seperti apa. Ia sekedar 
menunjukkan pola yang terjadi di Mesir dan fenomena yang terjadi di Indonesia.

Pada titik ini, Denny sebetulnya terjebak dalam kekeliruan berpikir atau 
fallacy kategori generalisasi. Tidak ada kesesuaian antara hal yang ia sebut 
sebagai “kebenaran soal Ikhwanul Muslimin di Indonesia” dengan fakta-fakta yang 
ia sampaikan. Padahal, jika merujuk pada Aristoteles, kebenaran harus ada di 
sekitaran fakta. Dalam bentuk teori, hal ini sering disebut sebagai 
correspondence theory of truth.

Fakta dan kebenaran itu sendiri adalah dua hal yang berbeda. Fakta adalah 
sesuatu yang 100 persen tidak bisa dibantah kebenarannya. Sementara kebenaran 
adalah persepsi mengenai fakta.

Contoh, Ketua Umum PDIP Megawai Soekarnoputri berusia 75 tahun. Itu adalah 
fakta yang tak terbantahkan jika menghitung dari tanggal lahir yang tertera 
dalam akta lahir Bu Mega. Sedangkan menyebut “Bu Mega sudah tua” adalah sebuah 
kebenaran karena usia 75 tahun umumnya dianggap sudah sepuh dan masuk kategori 
lanjut usia dalam UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia.

Intinya, fakta dan kebenaran harus selalu beriringan.

Dengan demikian, tanpa menyertakan bukti dan fakta, pernyataan Denny soal 
Ikhwanul Muslimin seolah menjadi tuduhan tak berdasar. Hal ini kemudian menjadi 
makin kuat indikasinya jika melihat track record sikap Denny terhadap 
kelompok-kelompok yang kerap dianggap “garis keras”.

Sebagai sosok influencer, Denny jelas punya pengikut. Dengan demikian, boleh 
jadi Denny sedang membuat apa yang disebut sebagai alternative fact atau fakta 
alternatif. Terminologi ini marak diperbincangkan sejak era Donald Trump 
memimpin AS dan kerap dianggap sebagai salah satu hal yang mendefinisikan era 
post-truth atau era pasca kebenaran.

Post-truth adalah era ketika penilaian atau perasaan atau agenda pribadi 
mempengaruhi seseorang membentuk persepsi terkait apa yang ia yakini sebagai 
kebenaran. Tidak salah menyebut Denny menjadi simbol dari era ini karena 
seperti itulah pertarungan yang terjadi di era ini.

Dalam bahasa yang berbeda, Profesor Tone Kvernbekk dari University of Oslo 
menyebut istilah war narrative atau narasi perang sebagai intisari dari 
pertempuran di ranah kognitif. Mungkin, inilah yang sedang dijalankan oleh 
Denny Siregar.

Pada akhirnya, yang terpenting bagi masyarakat adalah untuk selalu bersikap 
kritis. Sebab, apa yang Denny Siregar dan kawan-kawan katakan tak 100 persen 
benar, dan tak 100 persen salah. Apapun itu, yang jelas jangan sampai kebebasan 
orang-orang untuk berpendapat direbut hanya karena alasan: “Kamu masih belum 
cukup dewasa untuk berbicara”. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/81B62813C2A1401196B8D75533EDE110%40A10Live.

Reply via email to