Written byA43Tuesday, April 19, 2022 18:30Jokowi Bukan Presiden Pendongeng?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-bukan-presiden-pendongeng/
Dongeng dan cerita akan negeri yang jaya di masa lampau kerap mengisi 
kisah-kisah rakyat di banyak kebudayaan dan, bahkan, terkadang menjadi 
inspirasi di masa kini. Perlukah pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) membuat 
kisah dan dongeng serupa?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “We are, as a species, addicted to story. Even when the body goes to sleep, 
the mind stays up all night, telling itself stories.” – Jonathan Gottschall, 
The Storytelling Animal (2012)

Kisah, dongeng, cerita, atau story kerap mengisi banyak aspek dalam kehidupan 
manusia. Setiap kebudayaan bahkan memiliki cerita-cerita rakyatnya sendiri yang 
kemudian diwariskan dari generasi ke generasi secara turun-temurun.

Sebagian besar cerita memiliki pola yang hampir sama. Kebanyakan dimulai dari 
satu sosok atau kelompok yang menghadapi sebuah persoalan atau lawan.

Dalam perjalanannya, tokoh utama ini akhirnya menghadapi sejumlah hambatan 
dalam upayanya untuk mencapai sebuah tujuan. Tidak jarang, tokoh-tokoh 
antagonis muncul untuk menghadang.

Kisah dalam seri komik dan film Avengers, misalnya, juga diisi oleh dua pihak 
yang saling bermusuhan, yakni antara para pahlawan super dan Thanos yang ingin 
membasmi separuh makhluk hidup di alam semesta. Namun, banyak dari penonton 
pastinya akan mendukung para pahlawan yang dianggap memperjuangkan kebaikan.

Dari sini, dapat dipahami bahwa kebanyakan kisah yang ada selalu diisi oleh 
narasi permusuhan antara sisi yang dianggap baik melawan sisi yang dianggap 
buruk atau jahat. Inilah mengapa, dalam naratologi – ilmu yang mempelajari 
struktur narasi, ada sebuah konsep yang disebut hero’s journey (petualangan 
sang pahlawan) dalam melalui berbagai tantangan.

Bukan tidak mungkin, petualangan sang hero ini juga dipahami oleh Presiden Joko 
Widodo (Jokowi). Dalam sejumlah pidatonya, misalnya, Jokowi seakan-akan 
membayangkan dirinya – bersama para pemimpin negara lainnya – menghadapi sebuah 
hambatan besar seperti perlambatan ekonomi global.

Lawannya pun beragam. Meski sering menggunakan analogi seperti Thanos ala 
Avengers atau the Winter ala seri Game of Thrones (2011-2019), Jokowi melihat 
ada ancaman bersama – mulai dari keputusan unilateral dalam perang dagang 
antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) hingga pandemi 
Covid-19 yang membayangi banyak negara.

 
Apa yang dilakukan Jokowi dalam pidatonya di berbagai forum dunia pada tahun 
2018 dan 2019 silam itu sebenarnya masuk akal. Seperti kutipan di awal tulisan, 
kisah dan cerita selalu mengisi berbagai aspek kehidupan manusia.

Lantas, bagaimana dengan dimensi politik? Apakah narasi dalam kisah dan cerita 
juga memiliki kekuatan tersendiri dalam politik – khususnya politik 
internasional? Bila benar demikian, mengapa bisa?

Menyingkap Kekuatan Para Pendongeng
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, hampir setiap aspek kehidupan kita 
merupakan sebuah cerita. Bahkan, setiap individu kita merupakan karakter dalam 
kisah yang kita jalankan sendiri.

Bukan tidak mungkin, ini berlaku juga dalam dunia politik. Bila kisah sering 
diisi dengan konflik antara pihak baik dan pihak buruk, persaingan antarkubu 
juga menjadi esensi dari politik itu sendiri – di mana satu entitas berusaha 
memperebutkan kekuasaan.

Mengacu pada tulisan Linus Hagström dan Karl Gustafsson yang berjudul Narrative 
Power, narasi seperti kisah dan cerita merupakan bagian integral dari politik 
internasional. Hampir setiap aktor politik internasional membangun kisahnya 
sendiri-sendiri.
Kelompok-kelompok teroris yang merupakan aktor non-negara seperti Islamic State 
of Iraq and Syria (ISIS), misalnya, membangun sebuah kisah yang mana kelompok 
Muslim mengalami ketidakadilan akibat globalisasi yang dijalankan oleh tatanan 
dunia ala Barat. Alhasil, dengan kisah ini, ISIS mampu menarik simpati sejumlah 
orang yang akhirnya rela bergabung sebagai pasukan asing (foreign fighters).

Tidak hanya ISIS, negara pun membangun kisah mereka sendiri sebagai identitas 
mereka dalam mengarungi panggung politik internasional. Tiongkok di bawah 
kepemimpinan Xi Jinping, misalnya, selalu mendasarkan kebijakan luar negerinya 
berdasarkan identitas mereka sebagai Kerajaan Tengah (Middle Kingdom).

  
Alhasil, berbagai manuver luar negeri yang dilakukan Tiongkok juga didasarkan 
pada kejayaan kerajaan di masa lalu – seperti klaim atas Laut China Selatan 
(LCS) yang didasarkan pada sejarah masa lalu. Tidak hanya LCS, negara Kerajaan 
Tengah tersebut juga mengklaim pakaian tradisional Korea (hanbok) sebagai 
bagian dari budaya mereka karena memiliki unsur pengaruh budaya Tiongkok di 
masa lampau (kurang lebih pada abad ke-7 M).

Selain Tiongkok, pembangunan cerita dan kisah seperti ini juga digunakan oleh 
AS dan Jepang di masa lampau. Pada abad ke-19 silam, misalnya, AS memiliki 
sebuah konsep yang disebut sebagai Manifest Destiny – yang mana di dalamnya 
mereka dianggap ditakdirkan untuk menduduki seluruh wilayah Amerika Utara.

Di Indonesia, Jepang pun membangun kisah yang dianggap propaganda kala era 
Perang Dunia II. Kisah itu disebut sebagai Gerakan 3A (Cahaya Asia, Pelindung 
Asia, dan Pemimpin Asia) – membangun narasi bahwa Jepang adalah penyelamat 
Indonesia dari ancaman kolonisasi Barat.

Secara tidak langsung, kisah-kisah seperti inilah yang akhirnya membangun 
identitas dan citra nasional sebuah negara di panggung politik dunia. Bila 
mengacu pada perspektif konstruktivisme dalam studi hubungan internasional, 
masyarakat internasional dijalankan berdasarkan peran dan identitas yang 
dibangun oleh mereka sendiri.

Bila kisah ini akhirnya mampu membangun peran negara-negara tersebut di 
panggung politik dunia, lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia 
memiliki kisah, cerita, dan dongeng yang akhirnya mampu menginspirasi para 
pengambil kebijakan luar negeri kita?

Mencari Presiden Pendongeng
Dari presiden ke presiden, Indonesia sebenarnya telah membangun narasi yang 
akhirnya mengisi peran dan identitas nasional di panggung politik 
internasional. Identitas inilah yang akhirnya turut mengisi arah politik luar 
negeri Indonesia sebagai salah satu anggota masyarakat internasional.

Presiden Soekarno yang memimpin di masa awal-awal kelahiran Indonesia sebagai 
negara-bangsa, misalnya, menempatkan negara kepulauan ini sebagai kekuatan 
anti-imperialisme. Di tengah persaingan antara Blok Barat yang dipimpin AS dan 
Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet, mengacu pada tulisan Ardhitya Yeremia 
yang berjudul Sukarno and Colonialism, Soekarno berusaha menampilkan Indonesia 
sebagai negara yang tidak bisa dipengaruhi oleh kedua belah pihak.

Selain Soekarno, Soeharto pun membangun narasi dan kisahnya sendiri 
pasca-Peristiwa 1965 – yang mana Partai Komunis Indonesia (PKI) dianggap 
sebagai aktor pemberontakan. Dalam banyak narasi sejarah, Soeharto akhirnya 
dilihat sebagai pahlawan yang memberantas komunisme di Indonesia – terbawa pada 
arah kebijakan luar negeri Indonesia yang anti-komunis.
 
Lantas, bagaimana dengan pembangunan kisah oleh para presiden pasca-Orde Baru? 
Setelah Soeharto lengser, Indonesia dianggap membangun narasi dan citra bahwa 
negara ini adalah negara yang mendukung prinsip-prinsip demokrasi – seperti 
pluralisme yang didorong Abdurrahman Wahid (Gus Dur), anggapan soal penegakan 
konstitusi oleh Megawati Soekarnoputri, hingga perdamaian internasional oleh 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Namun, narasi Indonesia sebagai promotor demokrasi mengalami perubahan di bawah 
pemerintahan Jokowi. Anna Grzywacz dalam tulisannya yang berjudul Democracy in 
Indonesian Strategic Narratives menilai muncul inkoherensi akan narasi tersebut 
dengan anggapan soal kemunduran demokrasi yang terjadi saat ini.

Ini yang akhirnya membuat Indonesia kesulitan untuk mendapatkan apresiasi yang 
sama dari negara-negara Barat seperti pada era-era pemerintahan sebelumnya. 
Alhasil, bukan tidak mungkin minimnya kisah kuat yang mendasari politik luar 
negeri Indonesia membuat negara ini kehilangan arah. 

Mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Marty Natalegawa bahkan menilai Indonesia 
kini kerap tidak punya posisi dalam memberikan reaksi terhadap apa yang terjadi 
di panggung politik internasional. Seakan-akan, Indonesia tidak lagi menjadi 
“pemain utama” dalam kisahnya sendiri.

Lantas, siapakah sosok yang bisa membangun kisah dan dongeng akan posisi dan 
peran Indonesia di panggung internasional? Tentu, ini tidak bisa dijawab secara 
pasti.

Namun, apabila sejarah berjalan berbeda pada tahun 2019 silam – kala Pemilihan 
Presiden (Pilpres) digelar, bukan tidak mungkin narasi dan kisah soal 
ke-Indonesia-an akan terbangun. Terlepas dari kubu yang mana yang lebih baik, 
jargon dan narasi nasionalisme ala Prabowo Subianto – mulai dari “Make 
Indonesia Great Again” hingga penguatan pertahanan nasional – bukan tidak 
mungkin turut membangun kisah dan cerita soal Indonesia di masa mendatang.

Lagipula, dengan cerita yang tepat, masyarakat pun akan merasa lebih mengenal 
siapa diri mereka sebagai sebuah negara-bangsa di mata internasional. Aspirasi 
ini pula yang akhirnya dapat menjadi arahan bagi para pengambil kebijakan dalam 
politik luar negeri Indonesia.

Seperti kutipan tulisan Jonathan Gottschall di awal tulisan ini, kita semua 
selalu suka dengan kisah dan cerita – bahkan termasuk saat tengah tertidur dan 
bermimpi. Jadi, kisah yang seperti apa yang ingin ditulis oleh Indonesia saat 
ini? (A43)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0373CDCDCF4D431AB207D22092AAC752%40A10Live.

Reply via email to