Written byD74Tuesday, April 26, 2022 10:47
Kemenangan Macron, Jebakan Islamofobia Prancis?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kemenangan-macron-jebakan-islamofobia-prancis/
Emmanuel Macron resmi terpilih kembali sebagai Presiden Prancis, mengalahkan 
pesaingnya Marine Le Pen yang sempat dapat sorotan dunia karena berjanji 
melarang penggunaan hijab di publik. Bagaimana kita memaknai kemenangan Macron? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Prancis baru saja melaksanakan pemilihan presiden (pilpres). Berdasarkan 
penghitungan suara 24 April 2022, calon presiden petahana, Emmanuel Macron 
berhasil terpilih kembali menjadi pemimpin negara tersebut setelah mengalahkan 
lawan politiknya yang berasal dari sayap kanan, Marine Le Pen. Macron menang 
dengan selisih suara yang cukup jauh, yakni 58,2 persen berbanding 41,8 persen. 

Hasil penghitungan suara ini pun tidak hanya menjadi headline di Prancis saja, 
namun banyak media kabar dari seluruh dunia menyoroti kemenangan pemimpin yang 
berusia 44 tahun itu. Utamanya, karena dengan terpilihnya Macron, Prancis batal 
menjadi negara yang “kontroversial”. 

Ya, pesaing Macron yakni Le Pen, adalah politisi partai sayap kanan Prancis, 
Rassemblement National (RN), yang semasa kampanyenya berjanji akan menerapkan 
larangan penggunaan hijab di tempat umum jika mengalahkan Macron. 

Untuk informasi, RN dikenal sebagai partai yang nasionalis, anti-imigran, 
anti-Uni Eropa, serta anti-hijab. Sebagai argumennya, Le Pen menilai hijab 
adalah “seragam” yang dikenakan oleh orang Islam radikal.  

Le Pen mengklaim rencana pelarangan hijab ini tidak diformulasikan untuk 
melawan Islam, melainkan untuk menguatkan kesetaraan antara laki-laki dan 
perempuan. Ideologi Islamis menurutnya telah melemahkan demokrasi dan 
sekularisme di Prancis. 

Namun, pada akhirnya Le Pen berhasil dikalahkan oleh Macron, dan Prancis tidak 
jadi mengemban kebijakan politik yang ekstrem. Menariknya, Macron sadar akan 
hal ini.  

- Advertisement -Dalam pernyataan kemenangannya, ia mengatakan bahwa dirinya 
unggul bukan karena warga Prancis setuju dengan ide-ide yang dibawanya, 
melainkan karena mereka tidak ingin negaranya mengemban ide-ide sayap kanan 
yang tidak hanya dapat memecah Prancis, tetapi juga Uni Eropa (UE) itu sendiri. 

Fenomena ini kemudian melahirkan pertanyaan, mengapa perhatian pada Islam 
begitu besar di Prancis? Dan apa maknanya bagi UE? 

 
Prancis, Mercusuar Islam Eropa? 
Beberapa dekade terakhir, jumlah populasi Islam di Prancis semakin meningkat. 
Menurut data dari Pew Research Center, saat ini setidaknya terdapat 5,7 juta 
penduduk yang menganut agama Islam di Prancis. Ini membuat Negara Baguette itu 
sebagai negara dengan berpenduduk Muslim terbesar di Eropa. 

Farid Hafez, profesor Hubungan Internasional dari Williams College dalam 
artikel wawancara berjudul France May Spread Islamophobia at Rotating Helm of 
EU, menilai bahwa sebagai negara dengan Muslim terbanyak, Prancis berperan 
layaknya pemandu kebijakan terhadap Muslim oleh negara-negara UE lainnya.  

Terlebih lagi, Prancis semenjak 1 Januari 2022 telah menjadi Presiden UE. 
Karena itu, Pilpres yang baru saja terjadi sesungguhnya menjadi batu acuan 
sikap UE terhadap masyarakat Muslim di Eropa secara keseluruhan. 

Baca juga :  Masihkah Amien Rais Bertaring?Shada Islam dalam artikel Why 
Europe’s Muslims are Braced for France’s Stint Running the EU Presidency, juga 
berpandangan sama. Menurutnya, wacana politik anti-Muslim yang telah 
menciptakan semacam belahan politik dalam masyarakat Prancis akan meresap ke 
dalam pembuatan kebijakan Uni Eropa.  

Hal ini kata Shada, karena di Eropa sedang terjadi apa yang disebutnya sebagai 
muslim-panic. Istilah ini menjelaskan tren negara-negara Eropa yang tidak 
kunjung berhenti bersikap diskriminatif terhadap masyarakat Muslim. 

Di Austria, mantan kanselir Sebastian Kurz sempat menggemborkan bahaya 
munculnya politik Islam radikal, dan meluncurkan situs web kontroversial 
bernama “peta Islam”, yang menunjukkan lokasi lebih dari 600 masjid di 
negaranya. Peta tersebut, menurut studi Shada, telah menyebabkan beberapa 
insiden kekerasan terhadap umat Islam. 

- Advertisement -Sementara itu, menurut penelitian Neuer Osnabrücker Zeitung, 
pada tahun 2020 tercatat ada sekitar 900 serangan anti-Muslim di Jerman. 
Serangan ini mayoritas disebabkan oleh rasa ketidaknyamanan pada warga asing 
atau xenophobia, karena memang mayoritas Muslim adalah dari imigran. Jerman pun 
berstatus sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar kedua di Eropa dengan 
4,7 juta orang. 

Menurut penelitian yang dilakukan Shada, Islamofobia yang seakan-akan selalu 
ada di Eropa muncul akibat kegelisahan tentang Islam sebagai agama asing, 
banyak warga Eropa yang melihat imigran Muslim sebagai ancaman bagi kesatuan 
“Kristen Eropa”.  

Shada mengatakan, cacian yang menggabungkan Islam, ekstremisme, dan terorisme 
kemudian menjadi fenomena berulang yang membosankan, baik dalam pertemuan 
formal maupun informal. 

Karena itu, banyak yang khawatir apabila Le Pen terpilih, maka Prancis akan 
menekan tombol anti-Muslim yang lebih dahsyat dampaknya, untuk dapat diterapkan 
oleh negara-negara UE. 

Untungnya, hasil akhir pemungutan suara menunjukkan ambisi besar Le Pen belum 
bisa diwujudkan. Kita pun bisa belajar, meski Islamofobia telah membuat 
kegaduhan di Eropa, kemenangan Macron telah membuktikan bahwa penolakan 
terhadap gerakan anti-Islam masih tetap dominan di Prancis. 

Di sisi lain, sebagian besar penduduk UE pun sepertinya perlu bersyukur bahwa 
kelompok ekstrem kanan tidak menguasai Prancis. Sejarah membuktikan benua Eropa 
memiliki pengalaman yang pahit bila ada superpower-nya menganut aliran “pojok 
kanan”. 

Namun, ada catatan penting yang masih perlu kita pertanyakan, yakni meski meski 
jumlah Muslim di Prancis terus meningkat, mereka hanya mengisi 9 persen dari 
total populasi. Sementara, total Muslim di Eropa hanya berjumlah 44 juta orang, 
atau 6 persen dari total populasi. 

Baca juga :  Biden Panaskan Suasana?Lantas, mengapa politisi Eropa, dan Prancis 
khususnya, masih menganggap Muslim sebagai faktor penting dalam politik mereka? 
Apakah benar Macron benar-benar adalah solusi tepat bagi Prancis? 

Percuma Le Pen Kalah? 
Sebuah proyek penelitian yang dilakukan berbagai peneliti politik dari grup 
think-tank, Brookings, berjudul The One Percent Problem: Muslims in the West 
and the Rise of the New Populists, menghasilkan temuan yang menarik.  

Penelitian yang dipimpin Shadi Hamid dan Sharan Grewal ini, menyimpulkan 
pertumbuhan komunitas minoritas Muslim dan ketakutan seputar peran publik Islam 
telah membentuk identitas dan ideologi “populis” baru di negara-negara Eropa.  

Hal ini terjadi sebagai tanda bahwa para politisi Eropa sudah tidak lagi 
mengandalkan kesenjangan ekonomi sebagai isu menggiurkan untuk pemilihan suara, 
tetapi sekarang telah beralih ke kesenjangan kultural. 

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, pembatasan Muslim di Eropa mungkin 
terlihat sebagai tindakan diskriminatif. Tetapi, banyak warga Eropa yang 
melihat itu wajar ataupun perlu karena mereka memandang para imigran yang 
mayoritas Muslim adalah ancaman bagi lapangan kerja, identitas nasional, bahkan 
jaminan keamanan dalam kehidupan mereka sehari-hari. 

Dengan demikian, layaknya berbagai kasus populisme politik yang memang kerap 
terjadi, politisi Eropa menghebohkan isu keagamaan, dan berharap gembar-gembor 
tentang nasib kaum Muslim di Eropa akan mendapat perhatian utama para calon 
pemilihnya. 

Karena itu, Shadi dan kawan-kawan melihat banyak politisi di Eropa memainkan 
isu agama tanpa sesungguhnya paham terlebih dahulu tentang apa yang ia katakan. 
Contohnya adalah pelarangan hijab ini. Le Pen menyebut bahwa hijab adalah 
identitas Islamis ekstrem, padahal kenyataannya tidak seperti itu. 

Keadaan seperti ini melahirkan sebuah fenomena banalitas kejahatan (banality of 
evil). Didasari konsep yang dipopulerkan filsuf Jerman, Hannah Arendt, 
banalitas kejahatan terjadi ketika pengambilan keputusan atau kebijakan tidak 
didasari oleh pemahaman, melainkan berdasarkan pelumrahan. 

Ini kemudian membuat kebijakan tersebut sering kali tidak ditanggapi secara 
kritis, karena proses pemutusannya tidak dilandaskan pada pengetahuan yang 
mendalam. Bisa jadi, apa yang diperdebatkan sesungguhnya bukan masalah besar. 

Sayangnya, hal ini juga tercermin pada masa kepemimpinan Macron. Pada 2020 
lalu, Macron melumrahkan karikatur Nabi Muhammad SAW, dan mendapat teguran 
internasional. Selain itu, Macron juga beberapa kali dianggap sebagai sumber 
keresahan kaum Muslim di Prancis karena kabinetnya telah mengesahkan 
Undang-Undang (UU) Anti-Separatisme, yang dianggap anti-Muslim. 

Karena itu, kemenangan Macron sesungguhnya juga perlu dimaknai ulang. Bisa 
jadi, hasil pilpres Prancis kemarin adalah penentuan pilihan yang paling bisa 
diterima dari kandidat-kandidat terburuk. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E9A338D0CCF54C3DBD005DB9082512E7%40A10Live.

Reply via email to