Selain Artemisinin, Masih Banyak Sumbangan Tiongkok Bagi Dunia
2022-04-27 11:59:56  
https://indonesian.cri.cn/2022/04/27/ARTISIwa4NqhflasIgyyKISx220427.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.5



Tahun 2022 adalah peringatan 50 tahun penemuan artemisinin, obat anti-malaria 
yang dikembangkan berdasarkan pengobatan herbal Tiongkok. Pada 50 tahun yang 
lalu, para ilmuwan dengan Tu Youyou sebagai wakilnya menemukan dan mengekstrak 
artemisinin yang membantu Tiongkok sepenuhnya membasmi malaria di Tiongkok. 
Obat manjur itu telah diperkenalkan oleh Tiongkok kepada seluruh dunia dengan 
murah hati.

Menurut keterangan para ahli, artemisinin sangat ampuh dalam mengobati penyakit 
malaria, apalagi efek sampingnya minim dan harganya pun terjangkau. Oleh karena 
itu, obat ini sangat populer di dunia. Dari Asia hingga Afrika, dari Eropa 
hingga benua Amerika, obat itu telah berhasil menyelamatkan sejumlah besar 
nyawa. 

Sejak tahun 2000, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan artemisinin 
sebagai obat prioritas anti-malaria. Menurut statistik kasar WHO, obat tersebut 
kini telah menyelamatkan nyawa jutaan orang, dan setiap tahun ratusan juta 
orang dirawat dengan obat tersebut. Hanya di sebelah selatan Sahara Afrika 
saja, kurang lebih 240 juta orang dirawat dengan obat artemisinin. Penduduk 
setempat menjuluki artemisinin sebagai ‘obat manjur’ dari Timur yang jauh.



Terhitung hingga akhir 2021, Tiongkok telah melatih puluhan ribu teknisi 
anti-malaria dari negara-negara berkembang, mendanai pembangunan pusat 
pencegahan dan pengobatan malaria di 30 negara, dan mengirim 28 ribu anggota 
tim medis ke 72 negara berkembang. Artemisinin yang ‘mungil tapi ampuh’ adalah 
sebuah hadiah berharga yang diberikan Tiongkok kepada dunia. Dari hal ini 
terlihatlah akuntabilitas Tiongkok yang selalu senasib sepenanggungan dengan 
negara-negara berkembang untuk mendorong pembentukan komunitas kesehatan 
manusia.

Selain artemisinin, masih banyak warga Afrika yang mengingat bahwa Tiongkok 
adalah negeri pertama yang mengirim tim medisnya ke Afrika untuk membantu 
mereka mengatasi wabah Ebola yang sangat menular. Padahal, waktu itu banyak 
negara lain yang berturut-turut menarik dirinya dari daerah epidemi. Mereka 
tidak akan melupakan bahwa Tiongkok adalah negara yang secara tepat waktu 
mengirimkan barang bantuan yang sangat dibutuhkan Afrika, bahkan berjuang bahu 
membahu dengan mereka sampai titik terakhir.




Kini, ketika manusia menghadapi pandemi terparah dalam seabad ini, Tiongkok 
sekali lagi mengulurkan tangannya untuk melaksanakan aksi kemanusiaan darurat 
massalnya di banyak negara. Hingga saat ini, Tiongkok telah menyediakan 
miliaran barang bantuan kepada 153 negara dan 15 organisasi internasional untuk 
mengatasi pandemi COVID-19. Selain itu, Tiongkok telah mengirim 2,2 miliar 
dosis vaksin kepada 120 negara dan organisasi internasional untuk memberikan 
kontribusinya, demi mengatasi ‘kesenjangan vaksin’ dan membantu sesama manusia 
menanggulangi pandemi.



Wakil Menteri Kesehatan Mesir Mohamed Hassani mengatakan, Tiongkok aktif 
mengirimkan bantuan vaksinnya kepada negara-negara lain, dan berkat kerja sama 
kedua negara, tingkat vaksinasi di Mesir telah mencapai 70 persen ke atas.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E35EE5C270034B17B346C778524CD711%40A10Live.

Reply via email to