Written byI76Thursday, April 28, 2022 09:12
Jokowi Buka Pintu Buat Anies?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-buka-pintu-buat-anies/
Sejauh ini, posisi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Gubernur DKI Jakarta 
Anies Baswedan kerap dianggap bersebrangan. Namun, semua berubah setelah 
kunjungan Jokowi untuk meninjau persiapan Formula E yang digarap oleh Anies. 
Lantas, mungkinkah pertemuan tersebut dapat dianggap sebagai simbol Jokowi 
membuka pintu buat Anies untuk dapat dukungannya di 2024?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Gubernur DKI  Jakarta Anies 
Baswedan dalam rangka peninjauan persiapan Jakarta menjadi tuan rumah Formula E 
mendapat banyak  sorotan publik.

Pertemuan ini dianggap sebagai pertemuan yang tidak biasa oleh sebagian orang. 
Hal ini dikarenakan dalam beberapa pekan terakhir, Jokowi sering memperlihatkan 
pertemuan dengan beberapa tokoh politik yang digadang-gadang akan menjadi calon 
pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

Tokoh-tokoh yang dimaksud antara lain, Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan 
yang terakhir adalah Anies. Pertemuan Jokowi dengan sejumlah tokoh tersebut 
digadang-gadang menjadi semacam isyarat politik dukungan yang akan diberikan 
saat kompetisi di 2024.

Ketiga orang yang digadang menjadi kandidat, sering kali mendominasi urutan 
teratas lembaga survei politik jelang Pilpres 2024. Artinya, kehadiran mereka 
saat mendampingi Jokowi di berbagai kegiatan bisa bermakna politis, semacam 
tanda membuka ruang komunikasi politik.

Lain dibandingkan Prabowo dan Ganjar, Anies sejauh ini masuk dalam kategori 
pesaing langsung Jokowi (direct competitor). Hal ini ditengarai faktor 
perubahan angin politik pasca masuknya kelompok yang dianggap dapat menjadi  
oposisi seperti Prabowo dan Sandiaga Uno dalam kabinet.

Kelompok yang tidak sejalan dengan Jokowi akibat Pilpres 2019, tidak 
terkanalisasi sehingga Anies mendapat angin dukungan mereka. Anies dinilai jadi 
sosok  yang dapat diandalkan untuk bersaing dengan Jokowi, bahkan seolah 
terjadi pembelahan dua matahari, yaitu Jokowi dan Anies.

- Advertisement -Berlainan dengan pandangan ini, Partai Gerindra yang merupakan 
partai pendukung Anies Baswedan saat Pemilihan Gubernur 2017, melihat pertemuan 
Jokowi dan Anies merupakan sesuatu yang biasa saja.

Melalui Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Harian Partai Gerindra, dikatakan bahwa 
kunjungan Jokowi merupakan bentuk dukungan agar ajang balap mobil listrik itu 
berjalan lancar. Jokowi sebagai kepala negara tentu ingin acara-acara 
internasional yang diadakan di Indonesia berlangsung lancar dan sukses.

Pernyataan ini seolah ingin memperlihatkan bahwa penyelenggaraan Formula E yang 
merupakan proyek Gubernur DKI, dan dikunjungi oleh Presiden merupakan peristiwa 
yang normatif dan normal terjadi, sebatas hubungan struktural biasa antara 
presiden dan  gubernur.

Namun, dalam politik sulit melihat peristiwa terjadi sebatas fenomena yang 
normatif belaka, seolah pasti ada sesuatu di balik itu. Lantas, melihat 
gejala-gejala politik  yang terjadi, maka fenomena apa yang dapat dibaca di 
balik kunjungan tersebut?

Baca juga :  Anies-AHY Bisa Menangi 2024 
Jokowi Ingin Ambil Peran?
Dhimam Abror Djuraid dalam tulisannya Anies dan Jokowi, meminjam ucapan 
presiden ke-32 Amerika Serikat (AS), Franklin Delano Roosevelt, mengatakan 
seolah tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan dalam politik. Jika pun ada, 
maka yang dianggap kebetulan sejatinya telah direncanakan sebelumnya.

Djuraid menilai Anies dan Jokowi sebagai matahari kembar, yang satu matahari di 
Balai Kota DKI dan satunya lagi berada di Istana Negara. Kedua matahari itu 
saling bersaing, atau banyak yang menyebut saling terlibat perang dingin.

Setelah Anies berhasil menjadi Gubernur DKI, seolah menjadi front runner atau 
pelari terdepan pada perhelatan Pilpres 2024. Serangkaian kabar ini wajar dalam 
politik, karena politik penuh dengan rumor dan spekulasi. Bahkan bukan politik 
jika tidak lekat dengan rumor dan spekulasi. Selain itu, politik juga dimaknai 
dengan simbol dan interpretasi.

Politik adalah seni dari berbagai kemungkinan, the art of possibility. Terlihat 
saat Anies dan Jokowi bertemu di track sirkuit Formula E, yang pertemuan ini 
tetap dianggap sebagai kejutan politik penting.

- Advertisement -Jika mengacu pada konsep tidak ada yang tidak mungkin dalam 
politik, maka dapat dibaca bahwa Jokowi juga ingin memainkan peran dalam 
perhelatan Formula E di Jakarta, tentunya karena ini adalah event internasional.

Peran yang dimaksud tentunya bagaimana Jokowi mampu mengakumulasi persepsi 
positif terhadap event yang dianggap sukses. Peristiwa semacam ini juga pernah 
dilakukan pada perhelatan MotoGP di Mandalika, Lombok yang menjadi catatan 
proyek Jokowi yang berhasil dilaksanakan.

Tidak hanya Jokowi, bagi Anies berhasilnya Formula E juga menjadi kredit 
positif bagi dirinya. Seolah kedua matahari ini dipertemukan oleh kepentingan 
yang sama. Meski berbeda tantangan yang dihadapi oleh Anies dibanding Jokowi.

Konsep dramaturgi Erving Goffman, menginspirasi  pendekatan politik yang dapat 
menjadi pisau analisis kita  melihat fenomena di atas. Pendekatan yang dimaksud 
adalah pendekatan pilihan rasional elite politik.

Menariknya, pendekatan rasional ini lahir dari sebuah fenomena politik yang 
disebut dengan  perilaku politik ala selebritis. Sebuah perilaku politik yang 
memotret maraknya kalangan politik bermanuver dengan menjadikan pencitraan 
sebagai komoditas politiknya.

Namun, pencitraan yang dibentuk dalam konsep ini bukan hanya media promosi. 
Meminjam konsep ilmuan politik Lipset dan Rokkan, terdapat asumsi pilihan 
rasionalitas elite untuk mengambil kebijakan merupakan kalkulasi untung-rugi.

Baca juga :  Jokowi-Anies, PSI Gigit JariDalam konteks kunjungan Jokowi, dapat 
dimaknai bahwa pilihan Jokowi untuk ikut Formula E merupakan pilihan rasional 
untuk mendapat simpati publik.

Selain sekadar kepentingan citra Jokowi, perlu juga kiranya membaca 
kemungkinan-kemungkinan lain yang terjadi di balik peristiwa pertemuan ini. 
Berbagai pihak misalnya menilai pertemuan ini sebagai sinyal politik, yakni 
restu Jokowi untuk Anies di Pilpres 2024.

Lantas, jika kemungkinan itu terjadi, maka seperti apa efek domino dari 
tafsiran bahwa Jokowi akan mendukung Anies?

 
Membaca Kemungkinan Poros
Meski dianggap berseberangan dengan Jokowi, sikap Anies yang tidak pernah 
melawan secara frontal, bahkan sebaliknya Anies selalu kompromistis, akan 
menjadi kalkulasi tersendiri bagi Jokowi untuk berpaling mendukung Anies.

Oleh karenanya, Anies punya peluang besar menjadi tokoh baru di 2024 mendatang. 
Jokowi tentu tahu akan hal itu, dan dia tidak ingin melawan siklus. Jokowi 
tampaknya memilih untuk bersikap akomodatif terhadap kemunculan siklus baru itu.

Jika benar terjadi, maka ramalan yang pernah disajikan oleh Saiful Mujani, 
pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), yang memberikan gambaran 
tiga skenario yang mungkin terjadi pada Pilpres 2024 sekiranya dapat berubah.

Menurut Saiful Mujani, skenario pasangan calon pertama adalah duet Prabowo 
dengan Puan, kemudian Anies dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan terakhir 
Ganjar Pranowo berpasangan dengan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Komposisi di atas diambil berdasarkan survei persaingan ketat yang muncul 
ketika dilakukan head to head antar beberapa pasangan berdasarkan tiga partai 
besar pemilik suara terbanyak, yakni PDIP, Partai Gerindra, dan Partai Golkar. 
Saiful melihat ketiga partai tersebut akan menjadi poros utama koalisi dalam 
Pilpres 2024.

Jika terjadi dukungan Jokowi kepada Anies, maka suara pendukung Jokowi bisa 
saja mengarah pada komposisi baru antara Anies dengan Airlangga. Ini poros lain 
yang bisa terbentuk atas pengaruh Jokowi.

Dan jika skenario itu berubah, maka duet Ganjar-Airlangga kemungkinan akan 
digantikan dengan duet Ganjar-AHY.

Kemudian poros ketiga mungkin saja tidak berubah, yaitu Prabowo-Puan. 
Kemungkinan narasi tentang Perjanjian Batu Tulis jilid II akan menjadi pemicu 
pasangan ini bisa terbentuk. Tentunya yang akan menjadi skenario utama adalah 
Prabowo sebagai calon presiden.

Perubahan ini sebenarnya ingin perlihatkan bahwa politik adalah seni 
kemungkinan, dan siapa saja dapat berinterpretasi  berdasarkan gejala-gejala 
politik yang telah tercipta. Tidak ada yang mengetahui seperti apa yang akan 
terjadi ke depan, tapi satu yang pasti, kontestasi 2024 akan memunculkan 
drama-drama politik baru yang punya preseden bagi perkembangan demokrasi di 
Indonesia. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/B2D6A098F6BE4C0A9959DEE483B3E1F7%40A10Live.

Reply via email to