Written byA43Saturday, May 7, 2022 16:00
Terawan dan Strategi Mimikri 
IDIhttps://www.pinterpolitik.com/in-depth/terawan-dan-strategi-mimikri-idi/

Beberapa waktu lalu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memutuskan untuk memecat 
mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto dari profesi 
kedokteran. Kini, muncul asosiasi kesehatan “tandingan” yang bernama 
Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI).


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Para penggemar seri komik pahlawan super dari DC Comics mungkin tidak asing 
lagi dengan sebuah kelompok yang bernama Injstice League. Kelompok ini 
berisikan karakter-karakter antagonis – seperti Joker dan Lex Luthor – dari 
kisah-kisah pahlawan super di DC Comics.

Dari namanya pun, sudah bisa ditebak bagaimana kelompok ini bisa terbentuk. 
Nama Injustice League sendiri bisa dibilang mirip dengan kelompok tandingannya 
yang telah muncul terlebih dahulu, yakni Justice League yang berisikan para 
pahlawan super yang siap melawan berbagai kejahatan dan ketidakadilan.

Tentu, kisah kemunculannya pun bermacam-macam. Salah satu yang kisah kelahiran 
Injustice League yang paling awal adalah pendiriannya oleh Major Disaster – 
lawan dari pahlawan super Green Lantern. Injustice League versi Major Disaster 
ini dibentuk untuk menandingi Justice League International.

Boleh jadi, kisah-kisah kemunculan organisasi dan kelompok tandingan seperti 
ini tidak hanya eksis di dunia komik dan kartun, melainkan juga di dunia nyata 
– khususnya dalam dinamika politik. Bagaimana tidak? Dalam sejarah perpolitikan 
Indonesia, misalnya, beberapa kali dijumpai lahirnya kelompok-kelompok 
tandingan. 

Kisah seperti ini pun datang dari salah satu partai politik (parpol) terbesar 
di Indonesia, yakni PDIP. Kemunculan parpol satu ini pun awalnya merupakan kubu 
tandingan dari parpol yang sudah ada sebelumnya, yakni PDI.

Tidak hanya PDIP, kubu-kubu tandingan seperti ini juga pernah terjadi di dunia 
persepakbolaan Indonesia, yakni terjadinya dualisme liga kala ada perebutan 
kekuasaan di tubuh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Pada tahun 
2010-2011, muncul lah Liga Primer Indonesia (LPI) yang tidak diakui PSSI – di 
luar liga formal Liga Super Indonesia (ISL).

Kini, hal yang sama kembali muncul. Namun, kali ini, organisasi yang disebut 
sebagai “tandingan” ini muncul di dunia kedokteran – setelah terjadi polemik 
pemecatan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto oleh Ikatan 
Dokter Indonesia (IDI). Dalam deklarasinya, organisasi ini menyebut diri mereka 
sebagai Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI).

Mengapa fenomena kemunculan kelompok-kelompok “tandingan” ini kerap terjadi – 
khususnya dalam dinamika politik Indonesia? Mungkinkah kemunculan berbagai 
kelompok “tandingan” ini merupakan fenomena yang biasanya sudah direncanakan?

 
Politik Mimikri ala Terawan?
Bukan tidak mungkin, fenomena kemunculan entitas-entitas tandingan seperti ini 
merupakan bentuk mimikri. Pasalnya, mimikri telah lama digunakan sebagai salah 
satu mekanisme untuk mempertahankan diri di alam.

Mengacu pada tulisan David W. Kikuchi dan David W. Pfennig yang berjudul 
Imperfect Mimicry and the Limits of Natural Selection, mimikri terjadi ketika 
satu organisme berevolusi dengan kemiripan (resemblance) terhadap organisme 
lain akibat dari perilaku selektif. Salah satu alasannya adalah agar dapat 
bertahan hidup dalam seleksi alam.

Ini sejalan dengan teori evolusi dari Charles Darwin yang menjelaskan bahwa 
makhluk hidup akan melalui evolusi agar bisa beradaptasi. Adaptasi ini dianggap 
perlu agar bisa bertahan hidup agar bisa lolos dari seleksi alam.
Dalam biologi, mimikri pun bermacam-macam ragamnya. Mimikri Batesian, misalnya, 
menjelaskan soal mimikri yang ada di antara kupu-kupu yang berasal dari famili 
yang berbeda. 

Mimikri ini dijalankan melalui warna tubuh guna memberi sinyal kepada predator 
agar tidak dimakan. Berdasarkan mimikri Müllerian, mimikri semacam ini membuat 
predator belajar mengenai pola warna soal mangsa mana yang bisa dikonsumsi.

Selain Batesian, ada juga mimikri agresif yang justru dilakukan oleh predator. 
Mimikri jenis ini dilakukan dengan meniru spesies ketiga atau mangsanya – 
sehingga membuat predator lebih mudah dalam menangkap mangsanya.

Dari jenis-jenis mimikri yang ada di alam, bisa disimpulkan bahwa mimikri – 
baik defensif maupun ofensif – merupakan mekanisme yang digunakan untuk 
bertahan hidup (survive). Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana hubungan 
antara mimikri yang ada di alam dengan apa yang ada di ruang sosial manusia.

Dalam politik, mimikri pun sering terjadi. Dalam politik internasional, 
misalnya, mengacu pada tulisan karya Matt Andrews, Lant Pritchett, dan Michael 
Woolcock yang berjudul Looking Like a State: The Seduction of Isomorphic 
Mimicry, suatu negara memiliki kecenderungan untuk meniru keberhasilan dari 
kebijakan negara lainnya – dengan meniru proses, sistem, dan bahkan produk 
kebijakan tersebut.

 
Dalam politik domestik, strategi untuk survive melalui mimikri pun bisa juga 
terjadi. Apa yang terjadi antara PDI dan PDIP, serta LPI dan ISL, merupakan 
mekanisme mereka agar bisa bertahan dalam ekosistem politik yang ada.

Mungkin, mekanisme politik mimikri ini bisa diamati dengan mengacu pada tulisan 
Hannah Philp yang berjudul The Semiotics of Authority. Seperti yang dijelaskan 
sebelumnya, mimikri kerap mengambil pola atau bentuk yang ada pada entitas lain.

Bukan tidak mungkin, pola dan bentuk yang mirip ini akhirnya menimbulkan makna 
yang ditimbulkan dari tanda atau simbol. Dari sini, makna dari tanda-tanda 
tersebut akhirnya diperebutkan untuk menciptakan otoritas (authority) dari 
entitas yang melakukan mimikri.

Perebutan otoritas inilah yang bisa jadi berjalan di antara kelompok-kelompok 
yang memiliki kemiripan ini. PDIP, misalnya, pada masa lalu, berusaha 
memperebutkan otoritas yang sebelumnya PDI – parpol yang disebut lebih diakui 
oleh pemerintahan Soeharto pada era Orde Baru.

Spin-off ala Terawan terhadap IDI?
Kini, bukan tidak mungkin, PDSI juga melakukan hal yang sama terhadap IDI yang 
memiliki otoritas di dunia kedokteran nasional Indonesia. Bagaimana pun, 
otoritas kedokteran inilah yang turut menentukan kekuasaan dan pengaruh atas 
siapa yang bisa menjadi dokter atau tidak – misalnya dalam kasus pemecatan 
Terawan.

Namun, benarkah politik mimikri yang dilakukan oleh PDSI ini hanya terjadi 
secara alami layaknya mimikri yang ada di alam luar sana? Mengapa mimikri ala 
PDSI terhadap IDI ini bisa saja terjadi by-design?
Meskipun mimikri bisa dibilang menjadi mekanisme alami agar bisa lolos dari 
seleksi alam yang keras, bukan tidak mungkin mimikri juga bisa terjadi 
by-design karena intervensi manusia. Dalam biologi, sudah bukan rahasia lagi 
bahwa manusia kini bisa mengembangkan teknologi dan metode untuk mempengaruhi 
evolusi yang terjadi pada makhluk hidup lain.

Tentunya, dalam politik, intervensi manusia merupakan hal yang terjadi. 
Lagipula, seperti yang pernah diungkapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) 
ke-32 Franklin Delano Roosevelt (FDR), tidak ada hal yang terjadi secara 
kebetulan dalam politik. Bila pun hal tersebut terjadi, pasti sudah 
direncanakan demikian.

 
Mari kita terapkan asumsi FDR ini kepada dinamika politik yang terjadi dalam 
fenomena kemunculan kelompok-kelompok tandingan ini. Apapun yang terjadi dalam 
kemunculan PDIP, misalnya, bisa jadi merupakan bentuk fenomena by-design – 
dengan peran Megawati Soekarnoputri yang dianggap sebagai oposisi dari 
pemerintahan Soeharto.

Lantas, bagaimana dengan kemunculan PDSI sebagai “tandingan” terhadap IDI? 
Mungkinkah kemunculan organisasi “sempalan” (spin-off) ini terjadi karena telah 
direncanakan sedemikian rupa?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi menarik untuk diulik. Pasalnya, seperti yang 
dijelaskan dalam artikel PinterPolitik.com yang berjudul Bukan IDI, Siapa Musuh 
Terawan?, Terawan merupakan sosok yang sebenarnya too big to fall (sulit untuk 
jatuh) dengan berbagai koneksi politik dan militer yang dimilikinya.

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), misalnya, sudah 
mengesahkan PDSI sebagai sebuah badan hukum. Padahal, mengacu pada IDI, pada 
prinsipnya, organisasi profesional biasanya hanya ada satu di setiap negara.

Pengesahan dari Kemenkumham ini pun memunculkan pertanyaan akan kemungkinan 
bahwa pemerintah membiarkan dualisme organisasi kedokteran ini terjadi. Belum 
lagi, orang-orang PDSI kabarnya adalah mereka-mereka yang bekerja untuk dan 
dekat dengan Terawan.

Di sisi lain, kemunculan organisasi-organisasi spin-off di organisasi profesi 
seperti ini pun sebenarnya tidak hanya terjadi pada kasus IDI dan PDSI. 
Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), misalnya, juga sempat mengalami 
perpecahan hingga menimbulkan tiga kubu yang berbeda.

Pada akhirnya, gerak-gerik politis di balik kemunculan organisasi-organisasi 
spin-off seperti ini bisa jadi membuat mimikri seperti ini tidak terjadi secara 
alami layaknya seleksi alam ala Darwin. Lagipula, kemunculan Justice League dan 
Injustice League juga terjadi karena adanya tokoh tertentu yang membuat 
inisiatif. (A43) 


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D270FAF44AE9498D961E82991C395959%40A10Live.

Reply via email to