Written byI76Monday, May 9, 2022 21:52

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ditinggal-nu-cak-imin-santuy/
Ditinggal NU, Cak Imin “Santuy”?

Sebagian pengamat politik menilai komentar Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa 
(PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menunjukkan rasa percaya diri yang 
berlebihan sehingga perseteruan Cak Imin dengan NU berpotensi menggerus suara 
PKB di Pemilu 2024. Lantas, benarkah komentar Cak Imin buat PKB melemah?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Komentar Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak 
Imin), yang mengatakan mempunyai dukungan solid 13 juta pemilih PKB, menyulut 
api pertentangan yang semakin panas antara PKB dengan Pengurus Besar Nahdlatul 
Ulama (PBNU).

Cak Imin percaya bahwa konstituen PKB merupakan pendukung yang ideologis, sulit 
untuk berpaling. Dalam komentarnya, Cak Imin juga mengatakan bahwa pendukungnya 
tidak terpengaruh siapapun, termasuk Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus 
Yahya).

Seperti yang diketahui sebelumnya, kebijakan PBNU di bawah kepemimpinan Gus 
Yahya yang menempatkan NU berada di atas partai politik manapun, memberi angin 
segar bagi warga dan santri NU.

Meski keputusan ini mengembalikan NU ke marwahnya yang suprematif di atas semua 
kekuatan partai politik, pada saat yang sama juga ditafsirkan sebagai upaya 
membatasi diri dengan PKB yang selama ini dianggap punya ikatan ideologis di 
antara keduanya.

Sikap PBNU mempertegas saluran politik NU tidak lagi dimonopoli oleh hanya satu 
partai saja, sebagaimana yang selama satu dasawarsa kepemimpinan NU sebelumnya 
dimonopoli oleh PKB. Seolah satu suara, suara PKB adalah suara NU dan 
sebaliknya.

Jadi, komentar Cak Imin yang bernada sindiran bagi pengurus PBNU bisa dianggap 
wajar. Karena dengan sikap dari kepengurusan PBNU  yang baru ini, seolah ingin 
“membuang” PKB dari arena kultural NU.

Sebagian pengamat politik menilai komentar Cak Imin menunjukkan rasa percaya 
diri yang berlebihan. Akibatnya, perseteruan Cak Imin dengan NU berpotensi 
menggerus suara PKB di Pemilu 2024. Suara Warga Nahdliyin berpotensi beralih ke 
Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Jika perseteruan ini tetap berlanjut dan semakin memanas, tentu akan menjadi 
angin segar bagi partai lainnya, khususnya PPP. Lantas, langkah seperti apa 
yang membuat PPP dapat merebut suara dari kalangan Nahdliyin?


PBNU Penentu Nasib Cak Imin 
Meraba Kemesraan NU-PPP
Banyak indikator-indikator yang mengarah kepada pernyataan, bahwa saat ini NU 
dan PPP sedang mengupayakan konsolidasi politik di antara keduanya. Dalam 
penilaian NU, PPP merupakan partai yang sempat menjadi media perjuangan para 
tokoh NU di masa lalu.

Pada tahun 1973 saat rezim Soeharto berkuasa, NU yang sebelumnya juga merupakan 
partai politik kemudian dilebur ke dalam PPP sebagai fusi partai-partai Islam. 
Unsur NU memiliki kedudukan yang cukup menentukan di awal-awal keberadaan PPP.

Namun, sejak 1984, NU telah mendeklarasikan diri untuk kembali ke khitah 1926 
sehingga keluar dari arena politik praktis. Selanjutnya, dalam perkembangannya, 
terjadi dualisme dalam internal PKB yang berujung didepaknya Abdurrahman Wahid 
(Gus Dur) oleh Cak Imin.

PKB versi Cak Imin kemudian diakui sebagai PKB yang sah yang di masa depan 
menjadi akar konflik yang membekas hingga saat ini. Konflik ini memuncak 
setelah terpilihnya Gus Yahya menjadi ketum PBNU yang dianggap merupakan 
pendukung setia Gus Dur – membuat Cak Imin mulai resah.
Di sisi lain, PBNU gencar melakukan silaturahmi dengan PPP. Kunjungan Gus Yahya 
bersama Sekjen PBNU Gus Saifullah Yusuf beserta sejumlah pengurus PBNU yang 
hadir dalam harlah PPP di Malang. Dinilai oleh sebagian pihak sebagai momentum 
yang memperlihatkan signal politik mereka.

Upaya yang dibangun oleh keduanya – yaitu NU dan PPP – seolah ingin mengikat 
kembali persaudaraan yang telah lama terjalin. Konsep ini rupanya terdapat pula 
dalam teori perilaku politik yang menggambarkan sebagai bentuk ikatan familisme.

Sederhananya familisme dapat didekatkan dengan konsep patron-klien, dalam hal 
kepemilikan  privilege (keistimewaan) yang dimiliki sekelompok orang yang  
memiliki hubungan dekat, baik karena aspek kekeluargaan maupun aspek sosial 
yang lain.

Fenomena familisme ini adalah konsekuensi dari ajaran nilai-nilai Islam, yaitu 
saling menjaga  silaturahmi. Menariknya, dalam partai Islam, hubungan 
kekeluargaan tersebut tidak hanya dimaknai secara sempit sebagai hubungan 
genealogis.

Hubungan itu juga terbentuk secara sosiologis melalui relasi historis dan 
ideologis. Jejak rekam perjuangan PPP melalui jalur politik mengkonfirmasi 
tentang kesamaan semangat dan pandangan dalam melihat persoalan kebangsaan, 
ke–Indonesia–an dan ke–Islam–an dengan NU.

Choirul Sholeh Rosyid dalam tulisannya Relasi PPP dan NU mengatakan bahwa 
pluralitas unsur di PPP yang merepresentasikan kelompok Islam di Indonesia tak 
menyurutkan posisi NU sebagai faktor penting dalam dinamika dan gerak partai. 
NU telah menginternalisasi dalam pikir, sikap, dan laku partai.

Hal ini dapat dilihat dari pengisian pucuk jabatan partai baik di pengurus 
harian partai maupun di majelis syariah partai yang senantiasa diisi oleh kader 
atau ulama NU – menjadikan PPP dan NU secara substansial memiliki hubungan 
batin yang lekat dan dekat.

Terlihat jelas bahwa indikator sejarah, ideologi, dan bahkan konflik internal 
PBNU dan PKB membuat arah politik NU seolah menuju ke PPP. Namun, apakah 
kedekatan yang dibangun simbolik ini akan berpengaruh pada tataran operasional?

Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menilai 
pernyataan Cak Imin soal 13 juta suara loyal masuk akal. Hal itu mungkin 
terjadi lantaran suara warga Nahdliyin di PKB sudah digarap sejak lama sehingga 
tidak akan tergoyahkan.

Artinya, komentar Cak Imin tidak bisa dianggap hanya sebagai upaya menggertak. 
Sangat terbuka dan memungkinkan komentar tersebut punya basis data dan 
informasi yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain.

Lantas, apa strategi tersembunyi dibalik komentar Cak Imin tersebut?


Manuver Cak Imin 
Strategi Paradoks Cak Imin?
Terlihat naif jika menilai komentar Cak Imin hanya sebagai pernyataan harfiah 
belaka. Sebagai aktor politik, pernyataan Cak Imin mestinya ditafsirkan dengan 
berbagai nada yang berbeda, hal ini dikarenakan dalam dunia politik seni tafsir 
perilaku merupakan instrumen penting memahami kepentingan politik.

Sikap politik yang ditampilkan oleh Cak Imin dalam komentarnya bisa jadi 
merupakan pesan politik yang ditujukan bagi petinggi  NU lainnya, yaitu mereka 
yang masih melihat bahwa PKB merupakan kekuatan politik yang paling realistis 
bagi kepentingan NU.

Bisa jadi, Cak Imin melakukan strategi yang diistilahkan dengan reverse 
psychology, sebuah teknik di mana maksud dari pesan, posisi atau tindakan 
adalah kebalikan dari apa yang dinyatakan atau dilakukan.

Sinha dan Foscht dalam tulisannya Reverse Psychology Tactics in Contemporary 
Marketing, menjelaskan reverse psychology melibatkan metode yang digunakan 
secara paradoks dari sudut pandang teoritis, artinya upaya paradoksal menjadi 
poin dari sikap psikologis ini.

Seseorang dianggap bereaksi dengan cara yang tidak diminta, sehingga tampak 
paradoks. Reverse psychology menampilkan kontras dan reaktansi, keduanya 
merupakan konsep yang terkenal di bidang psikologis. dalam banyak situasi, 
orang secara psikologis berkeinginan untuk bereaksi terhadap stimulus untuk 
menentangnya atau mengambil sikap kebalikannya.

Kesimpulannya, reverse psychology adalah teknik manipulasi yang membuat orang 
melakukan sesuatu dengan mendorong mereka untuk melakukan yang sebaliknya. 
Reverse psychology dapat berbentuk seperti melarang perilaku, mendorong 
kebalikan dari perilaku, dan mempertanyakan kemampuan seseorang untuk melakukan 
sesuatu.

Akhirnya para kader NU yang masih punya simpati terhadap PKB akan berpikir 
ulang dengan adanya komentar Cak Imin ini. Jangan-jangan komentar Cak Imin 
bukan pernyataan yang berlebihan tentang suara PKB yang solid.

Meskipun kenaikannya tidak signifikan, tetapi PKB berhasil naik satu tingkat 
dari yang sebelumnya berada pada urutan kelima menjadi keempat. Suara PKB pada 
Pemilihan Legislatif  (Pileg) 2014 yaitu 9,04 persen. Sementara, pada Pileg 
2019 mendapatkan 13 juta suara atau 9,69 persen.

Sementara, perolehan suara PPP pada Pileg 2019 mengalami penurunan. Pada Pileg 
2019, PPP mengantongi 8 juta atau 6,53 persen suara. Kini, perolehan suaranya 
menurun menjadi 6 juta atau 4,52 persen suara. Perolehan suara PPP nyaris 
berada pada ambang batas parlemen.

Apalagi menurut beberapa riset, mengatakan suara NU selama ini juga banyak 
tersebar ke partai lain, bukan hanya PKB. Bahkan PKB tidak mendapat 50 persen 
suara dari warga NU. JIka data ini benar, maka wajar PKB semakin percaya diri 
pisah dengan NU.

Sebagai penutup, bisa jadi wacana PBNU dekat dengan PPP tidak akan merugikan 
PKB secara harfiah, dikarenakan prestasi PKB dari dua pemilu terakhir dan juga 
data yang menunjukkan bahwa PKB tidak tergantung terhadap pemilih NU. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7C223BCB3B3045499676B271DE4AA064%40A10Live.

Reply via email to