Written byI76Wednesday, May 11, 2022 20:11

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-ahy-duet-dua-dinasti/
Puan-AHY, Duet Dua Dinasti
Di tengah ramainya spekulasi tentang komposisi pasangan kandidat calon presiden 
(capres), wacana duet Puan Maharani dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dapat 
menjadi kejutan politik yang menantang setiap pendapat umum. Lantas, bagaimana 
jika pasangan Puan-AHY ini benar-benar terjadi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pemberitaan pasangan bakal calon Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 menjadi 
atensi warganet akhir-akhir ini. Hal ini tidak lepas dari semakin intensnya 
akrobat politik yang dipertontonkan para kandidat di berbagai macam platform 
media sosial.

Merujuk dari regulasi, partai politik (parpol) yang dapat mencalonkan pasangan 
presiden dan wakil presiden hanyalah parpol atau koalisi parpol hasil pemilu 
sebelumnya yang mendapat kursi 20 persen di DPR atau 25 persen suara pemilih 
nasional.

Jika merujuk pada regulasi ini, maka parpol yang memenuhi syarat itu hanya 
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Sedangkan partai-partai lain 
harus berkoalisi untuk mencapai ambang batas pencalonan tersebut.

Saiful Mujani, pendiri Saiful Mujani Research and Consulting, meramalkan akan 
muncul beberapa nama yang didorong menjadi calon presiden. Ada nama Prabowo 
Subianto dari Partai Gerindra, Puan Maharani dari PDIP, Airlangga Hartarto dari 
Partai Golkar, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari Partai Demokrat.

Saiful melanjutkan, karena syarat batas minimal partai untuk bisa mencalonkan 
sangat tinggi, maka hanya PDIP yang bisa mencalonkan tanpa koalisi. Karena itu, 
jumlah calon maksimal hanya empat atau tiga pasangan.

Puan dinilai telah melakukan sosialisasi masif untuk mempromosikan dirinya di 
tengah masyarakat. Oleh karena itu, Puan dianggap berpeluang akan menjadi calon 
kuat, hanya saja perlu pasangan yang cocok mendampinginya nanti.

Sebagian besar orang menilai pasangan yang cocok dengan Puan adalah Prabowo 
karena faktor-faktor kedekatan dan sejarah yang memungkinkan kedua kandidat ini 
dapat berlaga di Pilpres 2024.

Tapi, mungkinkah peluang lain yang dapat terjadi nanti? Bukan berpasangan 
dengan Prabowo, Puan bisa jadi berpasangan dengan AHY. Wacana ini pasti ditolak 
karena banyak pertimbangan ketidakcocokan keduanya.

Lantas, seperti apa argumen yang mendasari ketidakmungkinan Puan dan AHY 
berpasangan pada Pilpres 2024 mendatang?


Puan: Dia Saja Asal Ganteng 
Terjebak Masa Lalu?
Cerita tentang sulitnya pasangan Puan dan AHY berakar dari konflik kedua orang 
tua mereka, yaitu Megawati Soekarnoputri dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 
Sebagai anak kandung dari dua tokoh yang berseteru, seolah menjadikan dosa 
turunan itu berlanjut ke mereka.

Derek Manangka dalam buku Jurus dan Manuver Politik Taufiq Kiemas: Memang Lidah 
Tak Bertulang, memaparkan penyebab utama Megawati tak mau bertemu SBY adalah 
karena merasa dibohongi. Meski tak pernah diungkapkan secara terbuka, gestur 
Megawati yang kesal terhadap SBY sudah menjadi rahasia umum.

Jika dilacak, benih konflik antara Megawati dan SBY dimulai pada tahun 2003. 
Saat itu SBY masih menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan 
(Menko Polkam) di era Presiden Megawati. Karena jabatan strategis, SBY  pun 
sering tampil di televisi untuk sosialisasi pemilu.

Kekecewaan Megawati terlihat saat SBY mundur dari jabatan Menko Polkam. Di 
tengah memanasnya situasi, Sekretaris Menko Polkam Sudi Silalahi mengungkapkan 
keluhan SBY yang tak diajak rapat kabinet dan merasa dikucilkan dari pihak 
Megawati.
Tjipta Lesmana dalam bukunya Soekarno Sampai SBY Intrik dan Lobi Politik Para 
Penguasa, menceritakan bagaimana kelompok Megawati mencium ‘gelagat politik’ 
SBY yang semakin tampak, karena itu SBY kemudian dikucilkan oleh kelompok 
Megawati.

Merespons kondisi politik yang rumit saat itu, Taufiq Kiemas kemudian angkat 
suara. Dia menyebut SBY sebagai ‘anak kecil’ karena dianggap tak berani bicara 
langsung dengan Megawati ketika tidak diajak rapat kabinet. Sebaliknya, SBY 
dianggap hanya bisa berkoar di media massa.

Akibat pernyataan Taufiq, mulai muncul simpati banyak orang kepada SBY sebagai 
pihak yang terzalimi. Kemudian popularitas SBY melejit naik, dan bersama Jusuf 
Kalla (JK) memenangkan Pilpres 2004 mengalahkan Megawati yang juga maju bersama 
Hasyim Muzadi.

SBY memerintah sebagai presiden selama dua periode, dan selama itu hubungan 
keduanya seolah terus berseberangan tanpa ujung. Megawati  bersama PDIP 
konsisten menjadi partai oposisi pemerintah hingga akhirnya era Presiden Joko 
Widodo (Jokowi).

Bahkan pada Pilpres 2019, terdapat cerita bahwa SBY dan Demokrat sudah 
memperlihatkan dukungan kepada Jokowi untuk berkompetisi. Tapi hal tersebut 
pupus, SBY “mengakui” hubungannya dengan Megawati yang berjarak menjadi alasan 
partainya sulit berkoalisi mendukung Jokowi.

Selain itu, sebagian kelompok juga memainkan isu lama yang membuat hubungan 
keduanya seakan sulit untuk disatukan, yaitu isu keterlibatan SBY pada 
Peristiwa Kudatuli (akronim dari Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli).

Peristiwa ini terjadi pada 27 Juli 1996. Dalam tragedi ini, Ketua Umum PDI 
hasil kongres Medan Soerjadi menyerbu dan menguasai Kantor DPP PDI yang 
dikuasai Ketua Umum PDI hasil kongres Surabaya, yaitu Megawati.

Kisah SBY dan Megawati ibarat kereta yang melintasi lorong gelap, selalu ada 
harapan di ujung lorong muncul secercah cahaya. Saat generasi berganti dari 
Megawati ke Puan kemudian dari SBY ke AHY, harapan munculnya cahaya tersebut 
kian terbuka.

Terdapat dua momen yang menjawab harapan bersatunya dua trah politik ini. 
Pertama, saat dilakukannya upacara pemakaman  Kristiani Herrawati (Ani 
Yudhoyono), berlanjut sampai Lebaran Idulfitri pada tahun 2019.

Kedua putra SBY, AHY dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) bertemu dengan Megawati 
bersama anak-anaknya, Puan Maharani dan Prananda Prabowo. Meski pertemuan itu 
hanya berlangsung singkat, pertemuan dua trah politik tersebut mendapat respons 
positif dari banyak orang.

Momen kebersamaan mereka itu terus menjadi perbincangan dan decak kagum. Jika 
keharmonisan seperti ini terus dijaga, Puan dan AHY digadang-gadang bisa 
menjadi duet maut di Pilpres 2024. Lantas, jika hal tersebut benar terjadi, 
maka seperti apa perubahan yang mungkin terjadi?


Puan Tidak Sindir AHY 
Puan-AHY Kemungkinan Terbaik?
Dalam politik semua hal dapat terjadi. Mengutip mantan Kanselir Jerman Otto von 
Bismarck, politik adalah seni dari kemungkinan-kemungkinan, sesuatu yang dapat 
dicapai dan juga politik merupakan seni untuk memilih yang terbaik bagi 
persoalan umat manusia.

Jika politik diumpamakan sebagai seni, maka politik tidak dapat dibatasi oleh 
kalkulasi eksakta yang kaku maupun dibatasi hanya dengan satu pilihan tunggal. 
Seni politik menandakan munculnya ribuan kemungkinan berdasarkan perspektif, 
momentum, dan berbagai variabel lainnya.

Pilihan-pilihan politik terejawantah secara multi dimensi. Dalam konteks ini, 
politik berbeda dengan seni, pilihan-pilihan multi dimensi politik terikat oleh 
satu hal, yaitu kepentingan. Jika esensi dari seni adalah idealisme, maka jiwa 
dari politik adalah kepentingan.

Dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi. Kemungkinan yang didasarkan pada 
kepentingan. Kemungkinan apa yang terbaik sesuai kepentingan. Bukti paling 
hangat atas premis ini dapat kita lihat pada momen pemilihan presiden di 
Filipina.

Dua klan politik terkemuka di Filipina, yang mempunyai perbedaan mencolok, 
akhirnya juga bersatu memimpin pemerintahan negara tersebut. Dua klan tersebut 
adalah klan Marcos yang diwakili Ferdinand Marcos Jr. alias Bongbong dan klan 
Duterte yang diwakili Sara Duterte-Carpio.

Menuju Pilpres 2024, hal sama bisa saja terjadi dalam politik Indonesia. Duet 
Puan dan AHY dapat menjadi kejutan politik yang menantang setiap pendapat umum, 
yaitu penilaian publik bahwa kedua trah ini tidak mungkin akan bersatu.

Puan dan AHY dapat menjadi pasangan yang ideal karena merupakan representasi 
dari berbagai komposisi, termasuk komposisi gender dan juga kombinasi dari 
latar belakang militer dan sipil. Kita tahu, masyarakat Indonesia suka 
memainkan wacana komposisi yang saling berpadu ini.

Duet mereka juga dapat menjadi simbol telah berakhirnya konflik antara trah 
politik Megawati dengan SBY. Dosa turunan dihapuskan oleh kedua pasangan ini. 
Bisa jadi dengan berakhirnya konflik ini dapat menjadi angin penyejuk panasnya 
konstelasi politik di Indonesia.

Penggabungan trah politik dari dua partai besar, di mana PDIP menjabat selama 
dua periode di era Jokowi, kemudian sebelumnya Partai Demokrat juga melakukan 
hal yang sama di era SBY. Duet Puan-AHY akan menjadi duet dua dinasti.

Well, memang sulit untuk menebak apa yang terjadi di masa depan, karena logika 
hanya mengantarkan kita dari pergerakan alfabet a hingga z. Tapi, imajinasi 
akan menerobos keluar dari batas logika untuk mengantarkan kita ke semua 
dimensi kehidupan. Dalam politik, imajinasi diperlukan sebagai nafas dari seni 
kemungkinan. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/EC4D97D134D24BC09A1458FDA3B12ABB%40A10Live.

Reply via email to