https://www.antaranews.com/berita/2883245/wall-street-dibuka-jatuh-data-suram-china-membebani-pasar?utm_source=antaranews&utm_medium=desktop&utm_campaign=category_home




Wall Street dibuka jatuh, data suram China membebani pasar

Senin, 16 Mei 2022 23:09 WIB

Ilustrasi: Para pialang sedang bekerja di lantai Bursa Efek New York, Wall 
Street, Amerika Serikat (ANTARA/Reuters)
New York (ANTARA) - Indeks utama Wall Street jatuh pada hari Senin pagi waktu 
setempat seiring data suram China menambah kekhawatiran terkait perlambatan 
ekonomi global dan pengetatan kebijakan agresif bank sentral AS, Federal 
Reserve (Fed).

Pasar saham China dan Eropa jatuh, ketika harga minyak turun karena data 
menunjukkan aktivitas ekonomi China menurun tajam pada April karena akibat 
COVID-19 berdampak besar pada konsumsi, produksi industri, dan lapangan kerja.

Sembilan dari 11 sektor utama Indeks S&P menurun pada perdagangan pagi, dengan 
saham teknologi dan kebutuhan konsumen masing-masing turun 1,6 persen dan 1,8 
persen.

Baca juga: Wall St ditutup menguat, tapi penurunan beruntun mingguan berlanjut

Perusahaan dengan pertumbuhan besar seperti Amazon.com, Alphabet Inc, Microsoft 
Corp, Apple Inc, Tesla Inc, dan Nvidia Corp tergelincir antara 1,1 persen dan 
2,6 persen. Sementara saham energi mengungguli dan naik 1,5 persen.

Wall Street ditutup naik tajam pada hari Jumat, namun Indeks S&P 500 dan Indeks 
Komposit Nasdaq masih mencatat penurunan mingguan terpanjang dalam lebih dari 
satu dekade.

"Investor hanya sedikit skeptis. Mereka hanya menguji untuk melihat apakah reli 
akan berlanjut atau turun kembali," kata Manajer Senior Portofolio Dakota 
Wealth Management, Robert Pavlik.

Baca juga: Wall St bervariasi, S&P ditutup melemah karena kekhawatiran inflasi

Investor khawatir kenaikan suku bunga agresif The Fed untuk mengatasi inflasi 
yang tinggi selama beberapa dekade dapat mendorong ekonomi AS ke dalam resesi, 
seiring konflik di Ukraina, gangguan rantai pasokan, dan lockdown terkait 
pandemi terbaru di China memperburuk situasi.

Data Senin menunjukkan aktivitas pabrik di negara bagian New York merosot pada 
Mei untuk ketiga kalinya tahun ini di tengah anjloknya pesanan dan pengiriman 
baru.

Indeks S&P 500 dan Indeks Komposit Nasdaq yang sarat teknologi telah jatuh 
masing-masing 16,2 persen dan 25,8 Persen sepanjang tahun ini, dengan 
saham-saham pertumbuhan terpukul di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga 
yang lebih besar dapat merusak arus kas mereka di masa depan.

Para pialang sekarang memperkirakan peluang hampir 86 persen terkait kenaikan 
50 basis poin oleh Fed pada Juni ini.

Baca juga: Wall Street ditutup jatuh menyusul data inflasi AS yang panas

Pada 09:49 pagi waktu setempat Indeks Dow Jones Industrial Average turun 231,10 
poin atau 0,72 persen menjadi 31.965,56. Indeks S&P 500 menurun 37,13 poin atau 
0,92 persen menjadi 3.986,76 dan Indeks Komposit Nasdaq jatuh 148,58 poin atau 
1,26 persen menjadi 11.656,42.

Fokus pasar saat ini adalah laporan penjualan ritel yang akan dirilis pada hari 
Selasa, setelah data inflasi dan sentimen konsumen yang mengkhawatirkan minggu 
lalu.

Perusahaan ritel seperti Walmart Inc, Home Depot, dan Target Corp, akan 
melaporkan hasil kuartalan mereka pekan ini.

Saham-saham yang turun melebihi jumlah yang naik untuk rasio 1,56 banding 1 di 
Bursa Efek New York (NYSE) dan rasio 1,42 banding 1 di Nasdaq.

Indeks S&P mencatat satu saham tertinggi baru dalam 52-minggu dan 29 terendah 
baru, sedangkan Indeks Nasdaq mencatat 10 tertinggi baru dan 60 terendah baru.

Pewarta: Risbiani Fardaniah
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220516221050.cefaf67f8eef7bb73ac950bf%40upcmail.nl.

Reply via email to