Written byR53Monday, May 16, 2022 22:56

https://www.pinterpolitik.com/celoteh/jokowi-dijutekin-biden/
Jokowi Dijutekin Biden?
Ketika mendarat di Washington DC, Amerika Serikat (AS), tidak ada pejabat 
tinggi AS yang menyambut Presiden Jokowi. Mungkinkah sang RI-1 tengah tidak 
dihiraukan atau dijutekin oleh Presiden AS Joe Biden?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Ada sebuah pembahasan menarik mengenai pejabat publik, yakni mengapa namanya 
“pejabat publik”. Dalam dimensi politik, khususnya komunikasi politik, 
disematkannya istilah “publik” setelah istilah “pejabat” ternyata tidak hanya 
bermakna mereka sebagai pelayan publik atau masyarakat luas.

Kata “publik” membuat sang pejabat seolah kehilangan tindak laku privatnya. 
Dalam komunikasi politik, setiap pernyataan, gestur, bahkan pakaian dari 
pejabat akan menjadi konsumsi publik. Mereka akan dinilai, diinterpretasi, 
bahkan dihakimi oleh masyarakat.

Lihat saja Presiden Joko Widodo (Jokowi), mulai dari sepatu hingga potongan 
rambutnya telah menjadi konsumsi publik. Tidak heran kemudian sang RI-1 
menjelma menjadi trendsetter, setiap apa yang dikenakannya menjadi tren baru. 
Sebut saja jaket bomber dan sepatu lokal yang langsung viral dan diserbu 
masyarakat usai dikenakan oleh Presiden Jokowi.

Tidak hanya di level individu, interaksi dengan pejabat lain, khususnya pejabat 
tinggi, juga menjadi perhatian yang tidak kalah menarik. Lagi-lagi, ini 
dirasakan oleh Presiden Jokowi ketika mengunjungi Amerika Serikat (AS) 
baru-baru ini.

Berbagai pihak, seperti pengamat politik Rocky Gerung, aktivis HAM Natalius 
Pigai, dan aktivis Forum Tanah Air (FTA) Chris Komari, menyoroti kenapa RI-1 
tidak disambut pejabat tinggi AS ketika mendarat di Washington DC. Tidak 
tanggung-tanggung, Rocky bahkan menyarankan agar Menteri Luar Negeri (Menlu) 
Retno Marsudi dipecat karena dinilai telah mencoreng citra bangsa.

Sementara Chris Komari, ia membandingkan kasus Presiden Jokowi dengan Perdana 
Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong yang justru disambut langsung oleh 
Presiden AS Joe Biden ketika mendarat di Washington.

Menurut Chris, tidak disambutnya Presiden Jokowi berkaitan dengan perang yang 
terjadi antara Rusia dengan Ukraina. Berbeda dengan Singapura yang mengikuti 
langkah AS dan Barat memberikan sanksi, Indonesia terlihat bermain aman dengan 
tidak ingin mencampuri konflik.
 
Dalam konteks ini, tidak heran kemudian beberapa pihak menyebut Presiden Jokowi 
sedang tidak dihiraukan alias dijutekin oleh Presiden Biden. Namun, anggapan 
ini tampaknya tengah dibantah oleh Presiden Biden sendiri.

Pasalnya, dalam sesi foto KTT Khusus ASEAN-AS, Presiden Jokowi tampak berfoto 
di samping Presiden Biden.  Catherine Wong dalam artikelnya di South China 
Morning Post, menjelaskan bahwa foto-foto di pertemuan tingkat tinggi antar 
negara biasanya menggambarkan situasi dan dinamika politik kekuasaan terkini. 

Posisi duduk dan berdirinya para pemimpin negara dipercaya mencerminkan 
kekuatan atau penting tidaknya negara tersebut. Pemimpin negara bisa dianggap 
penting bila berdiri di baris depan ketika tengah berfoto bersama. 

Dalam KTT G20 2016 yang dilaksanakan di Hangzhou, Tiongkok, misalnya, Presiden 
Rusia Vladimir Putin bisa jadi dianggap penting oleh pemerintah Tiongkok karena 
menempati posisi berfoto di baris depan. Padahal, dalam sesi foto KTT G20 2014 
di Australia, Putin ditempatkan di ujung luar ketika berfoto.

Bertolak dari tulisan Wong, bukan tidak mungkin Presiden Biden sebagai tuan 
rumah melihat Presiden Jokowi sebagai figur penting sehingga diajak berfoto di 
sampingnya.

Sebelumnya, konteks itu juga pernah disinggung oleh Rocky Gerung. Menurutnya, 
status Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar seharusnya menjadi 
perhatian Presiden Biden.

Well, entah apa pun yang terjadi, sebagai pejabat publik, tentu sudah menjadi 
konsekuensi tak terhindar bahwa segala tindak tanduk Presiden Jokowi akan 
menjadi perhatian dan mendapat interpretasi dari masyarakat luas. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E7AFB01F73F14AEFB9633D681164AAD3%40A10Live.

Reply via email to