Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT Buka Lembaran Baru 
Diplomatik Tiongkok
2022-05-16 11:34:33 
https://indonesian.cri.cn/2022/05/16/ARTIZPXNimMdZwPN1Y6mKbkh220516.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.1

 Tanggal 15 Mei 2018, Presiden Tiongkok Xi Jinping memimpin rapat perdana 
Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT. Rapat kali ini 
menandakan peresmian Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT 
yang ditetapkan oleh reformasi perombakan kabinet putaran baru, juga merupakan 
rancangan tingkat tinggi pekerjaan urusan luar negeri Tiongkok di era baru. 

Selama 4 tahun ini, menghadapi tantangan perubahan situasi internasional yang 
kompleks dan pandemi Covid-19 yang rumit, diplomasi berciri khas Tiongkok yang 
dipimpin oleh pikiran diplomatik Xi Jinping maju dengan berani, membuka 
lembaran baru di tengah perubahan situasi, dan terus mencapai kemajuan yang 
baru. 

Di depan rapat perdana Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT 
tahun 2018, Xi Jinping secara langsung memberikan instruksinya terhadap 
pekerjaan diplomatik era baru. Dia menekankan untuk memperdalam tata letak 
diplomatik, melaksanakan rencana aktivitas diplomatik utama, meningkatkan 
kesadaran risiko, dan dengan teguh memelihara kepentingan kedaulatan, keamanan 
dan pembangunan negara di masa kini dan masa mendatang.

Profesor Wang Yiwei dari Fakultas Hubungan Internasional Universitas Rakyat 
Tiongkok menyatakan, menghadapi perubahan zaman dan pandemi yang serius, dunia 
telah memasuki periode baru perubahan yang bergejolak. Tiongkok selalu dengan 
teguh mendorong globalisasi ekonomi berkembang menuju arah yang lebih terbuka, 
inklusif, menguntungkan, seimbang dan menang bersama. 

Sebagaimana pernyataan Presiden Xi, setiap negara hendaknya mempertahankan 
multilateralisme sejati, dengan teguh merobohkan tirai bukan membangun tirai, 
membuka diri bukan mengisolasi diri, dan bersinergi bukan melepaskan 
keterkaitan, dalam rangka mendorong pembentukan ekonomi dunia tipe terbuka. 

“Tiongkok telah mendorong terwujudnya RCEP sebagai zona perdagangan bebas 
terbesar di dunia. Sementara itu, Tiongkok juga mengajukan permohonan untuk 
bergabung ke dalam CPTPP, mengajukan prakarsa kemitraan digital, berpartisipasi 
dalam pembagian kerja global dan penyusuan aturan dengan kualitas tinggi dan 
standar tinggi, sehingga memiliki jaminan mekanisme yang lebih kuat,” ujar Wang.

Jauh pada tahun 2013, Xi Jinping sudah mengajukan inisiatif kerja sama ’Satu 
Sabuk dan Satu Jalan’ kepada regional dan seluruh dunia, di depan rapat perdana 
Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Pusat PKT dia kembali menekankan 
untuk mendorong pembangunan ‘Satu Sabuk dan Satu Jalan’ berkembang secara 
mendalam, mantap dan berjangka panjang. 

Selama beberapa tahun ini, kerja sama ‘Satu Sabuk dan Satu Jalan’ berkembang 
dengan mantap, dan menginjeksikan daya dinamik yang kuat bagi rehabilitasi 
ekonomi dunia. Profesor Wang Yiwei mengatakan, semakin banyak negara 
berpartisipasi dalam ‘Satu Sabuk dan Satu Jalan’ karena mereka telah melihat 
harapan yang disampaikan dari inisiatif tersebut. 

Sejauh ini telah tercatat 149 negara dan 32 organisasi internasional yang 
menandatangani 200 lebih MoU kerja sama dengan Tiongkok, telah membentuk sebuah 
rancangan baru globalisasi ekonomi, dan telah mendorong pembenahan global 
berkembang menuju arah yang lebih setara, rasional, berkelanjutan dan adil. 

Pada bulan September tahun lalu, di depan Sidang ke-76 Majelis Umum PBB, Xi 
Jinping mengajukan inisiatif Pembangunan Global, dalam rangka mengimbau 
berbagai negara memperhatikan kebutuhan pembangunan negara berkembang, dan 
mendorong pembangunan bersama seluruh dunia. 

Kemudian, untuk mendorong dunia keluar dari kesulitan keamanan, di depan sidang 
tahunan Forum Asia Bo’ao tahun 2022, Xi Jinping pun mengajukan inisiatif 
Keamanan Global. Profesor Wang Yiwei menyatakan, kedua inisiatif tersebut 
merupakan pengalaman pembenahan Tiongkok yang dibagikan kepada dunia, dan telah 
menunjukkan kecerdasan Tiongkok.

Berdasarkan informasi terbaru dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok, pada akhir 
bulan Mei mendatang, Tiongkok dan negara-negara ASEAN akan mengadakan 
konsultasi seputar Kode Etik LTS atau ‘CoC’ di Kamboja, kode etik tersebut akan 
menyediakan jaminan peraturan yang lebih tegas untuk ketenteraman jangka 
panjang di Laut Tiongkok Selatan. Profesor Wang menunjukkan, mendorong 
konsultasi ‘CoC’ merupakan sikap penting Tiongkok untuk dengan teguh memelihara 
kepentingan kedaulatan, keamanan dan pembangunan negara.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/95759062BE1D48088C57AC18394C0B17%40A10Live.

Reply via email to