Written byA43Tuesday, May 17, 2022 18:00

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/permainan-bahasa-anies-ganggu-pdip/
“Permainan Bahasa” Anies Ganggu PDIP?
Upaya dari PDIP – dan PSI – untuk memunculkan polemik terkait Jakarta 
International Stadium (JIS) tampaknya jauh dari kata usai. Kali ini, dua partai 
tersebut mempersoalkan penamaan JIS oleh pemerintahan Gubernur DKI Jakarta 
Anies Baswedan yang dianggap lebih baik bila menggunakan Bahasa Indonesia 
daripada Bahasa Inggris.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Speakin’ language only we know, you think it’s an accent” – Kendrick Lamar, 
“The Art of Peer Pressure” (2012)

Para pengguna media sosial (medsos) yang tergolong dalam kelompok usia milenial 
dan generasi Z akhir-akhir ini dimanjakan oleh konten-konten menggugah tawa 
terkait bahasa gaul yang digunakan oleh anak-anak Jakarta Selatan (Jaksel). 
Salah satunya datang dari akun @podcastkeselaje yang dibawakan oleh Oza 
Rangkuti.

Sebenarnya, sejumlah konten yang dibuat oleh Oza ini mudah dimengerti, yakni 
menjelaskan bagaimana makna dari kata dan frasa Bahasa Inggris yang biasa 
digunakan oleh anak-anak Jaksel. Anxiety, misalnya, disetarakan oleh Oza dengan 
bahasa umum lainnya, yakni deg-deg-an.

Terlepas dari benar atau tidaknya pemaknaan yang dilakukan oleh Oza dan timnya 
ini, tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena bilingualisme antara Bahasa 
Indonesia dan Bahasa Inggris di Jaksel bukan lagi rahasia. Mungkin, ini menjadi 
fenomena sosial yang ingin dikritik oleh akun tersebut.

Namun, fenomena bilingualisme ini tampaknya tidak hanya terjadi di kalangan 
kelompok usia milenial dan Generasi Z. Pasalnya, perdebatan penggunaan istilah 
dan kata Bahasa Inggris kini juga terjadi dalam diskursus politik.

Soal penamaan Jakarta International Stadium (JIS), misalnya, dijadikan sorotan 
oleh partai-partai politik seperti PDIP dan PSI. Mereka menganggap bahwa 
pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan seharusnya menamakan 
gelanggang olahraga tersebut dengan nama berbahasa Indonesia.

Persoalan penggunaan Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris ini ternyata tidak 
hanya berhenti di persoalan JIS. Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP 
Bambang “Pacul” Wuryanto, misalnya, menyebutkan bahwa frasa omnibus law yang 
biasa digunakan untuk merujuk ke Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker) 
perlu diganti ke Bahasa Indonesia.

Menurutnya, istilah yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat adalah “sapu 
jagat”. Selain itu, Bambang Pacul juga mengusulkan sejumlah istilah Bahasa 
Indonesia lainnya – seperti hukum lengkap, hukum komplit, pranata lengkap, dan 
pranata komplit. 

 
Perdebatan soal penggunaan istilah-istilah yang ada dalam Bahasa Indonesia yang 
dimunculkan oleh PDIP ini bukan tidak mungkin menimbulkan sejumlah pertanyaan. 
Mengapa mulanya perdebatan ini bisa muncul? Lantas, apa konsekuensinya terhadap 
dinamika politik di era kontemporer bagi Indonesia?

Skizofrenia Bahasa ala PDIP?
Dalam psikologi, terdapat gangguan yang dikenal sebagai skizofrenia 
(schizophrenia). Gangguan ini membuat penderitanya melihat realitas (kenyataan) 
secara abnormal – bisa berujung pada halusinasi dan delusi.

Namun, abnormalitas terhadap visi realitas seperti ini mungkin tidak hanya 
terjadi dalam bidang psikologi, melainkan juga bidang-bidang lain seperti 
bahasa. Allan Lauder – dengan mengutip Kartono – dalam tulisannya yang berjudul 
The Status and Function of English in Indonesia menyebutkan sebuah istilah 
terkait, yakni language schizophrenia (skizofrenia bahasa) atau exolinguaphobia 
(eksolinguafobia).
Skizofrenia bahasa ini terjadi akibat munculnya anggapan ancaman yang bisa saja 
datang dari bahasa asing. Semakin besar dominasi bahasa asing tersebut, 
dicemaskan semakin besar juga peluang nilai-nilai budaya dari bangsa asing 
tersebut turut tersalurkan.

Bakić Antonela dan Škifić Sanja dalam studi mereka yang berjudul The 
Relationship between Bilingualism and Identity in Expressing Emotions and 
Thoughts, menjelaskan bagaimana kemampuan bilingual bisa mempengaruhi identitas 
seseorang dalam mengekspresikan pikiran dan emosi. Bukan tidak mungkin, hal 
inilah yang juga terjadi pada individu-individu bilingual di Indonesia – misal 
fenomena bilingual ala Jaksel.

Namun, bagaimana ceritanya Bahasa Inggris bisa menjadi bahasa yang memiliki 
peran dan fungsi di masyarakat Indonesia? Mengapa bukan Bahasa Belanda yang 
merupakan bahasa yang lebih banyak digunakan di era kolonial Hindia Belanda?

Semua ini bermula dengan kemunculan Bahasa Melayu sebagai bahasa alternatif 
dalam edukasi dan administrasi di Hindia Belanda. Seiring berjalannya waktu, 
Bahasa Melayu yang distandarisasi menjadi Bahasa Indonesia kemudian menjadi 
bahasa nasional yang digunakan oleh para pejuang kemerdekaan Indonesia.

  
Scott Paauw dalam tulisannya yang berjudul One Land, One Nation, One Language 
menjelaskan bahwa Bahasa Indonesia sebenarnya berhasil diterapkan sebagai 
bahasa nasional – meski masyarakat Indonesia memiliki bahasa-bahasa daerahnya 
sendiri. Namun, bahasa nasional memiliki kegagalan dalam satu tempat, yakni 
pendidikan tinggi.

Ini terlihat dari minimnya konsep-konsep Bahasa Inggris di pendidikan tinggi 
yang gagal diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Alhasil, dengan sedikitnya 
padanan kata yang ada dalam Bahasa Indonesia, kata dan istilah dalam Bahasa 
Inggris lah yang akhirnya digunakan – membentuk identitas tersendiri bagi 
kalangan intelektual di Indonesia.

Tidak mengherankan apabila kalangan terdidik dan pengambil kebijakan akhirnya 
sering menggunakan istilah-istilah dalam Bahasa Inggris. Pada akhirnya, Bahasa 
Inggris memiliki fungsi dan tempat tertentu bagi masyarakat Indonesia – meski 
sebelumnya negara ini lebih lama dikolonisasi oleh Belanda.

Lantas, mungkinkah skizofrenia bahasa ala PDIP terhadap Anies ini memiliki 
dampak politik dalam jangka panjang? Bila benar kemungkinan itu ada, mengapa 
persoalan penggunaan bahasa saja bisa punya dampak demikian?

Anies vs PDIP, Hegemoni Bahasa?
Namun, persoalan bahasa sebenarnya bukanlah hanya soal kata atau frasa mana 
yang lebih familiar bagi masyarakat, melainkan juga bagaimana bahasa bisa 
mempengaruhi cara hidup masyarakat. Secara tidak langsung, bahasa meregulasi 
budaya – bila mengacu pada konsep circuit culture dari Stuart Hall. 

Mungkin, inilah mengapa bahasa kerap menjadi locus bagi perebutan pengaruh dan 
dominasi – bahkan termasuk dalam dimensi politik. Inilah mengapa bahasa yang 
dominan secara internasional – seperti Bahasa Inggris – kerap dilihat memiliki 
strata yang lebih tinggi.
Abolaji Samuel Mustapha dalam tulisannya yang berjudul Linguistic Hegemony of 
the English Language in Nigeria menjelaskan bahwa hegemoni linguistik 
(linguistic hegemony) adalah ketika kelompok-kelompok yang dominan menciptakan 
sebuah kesepakatan dengan meyakinkan kelompok-kelompok lain untuk menerima 
norma dan penggunaan bahasa mereka sebagai sebuah standar atau paradigma.

 
Inilah mengapa, ketika sebuah bahasa menjadi dominan, norma dan penggunaannya 
pun turut menjadi standar yang meregulasi cara berkomunikasi masyarakat. Tidak 
mengherankan apabila Bahasa Inggris yang dominan di kalangan terdidik menjadi 
standar yang umum bagi kelompok mereka.

Hal yang sama juga sebenarnya terjadi pada Bahasa Indonesia – khususnya di era 
pemerintahan Soekarno yang mendorong agar Bahasa Indonesia menjadi bahasa 
nasional. Penyaluran penggunaan bahasa ini akhirnya disalurkan lebih luas 
melalui pendidikan.

Hegemoni Bahasa Indonesia – dibandingkan bahasa-bahasa daerah masing-masing – 
tentu memiliki implikasi politik. Seperti apa yang umumnya diketahui, Soekarno 
merupakan sosok pemimpin yang ahli dalam menggunakan bahasa dalam pidato-pidato 
politiknya. 

Mengacu pada penjelasan David Samuel Latupeirissa dan rekan-rekannya dalam 
tulisan mereka yang berjudul On Political Language Ideology, Soekarno dianggap 
mahir dalam berorasi – yang mana akhirnya berimplikasi pada pandangan 
masyarakat, termasuk dalam politik. Kata “kita” dan “Indonesia” yang digunakan 
bergantian, misalnya, menjadi andalan Soekarno untuk mempengaruhi konsepsi 
masyarakat soal negara-bangsa ini.

Bukan tidak mungkin, bahasa-bahasa politik semacam ini menjadi perebutan di 
antara para aktor politik. Mengacu pada Latupeirissa dan rekan-rekannya, bahasa 
kerap digunakan untuk mencapai kekuatan (power) dan otoritas (authority).

Lantas, bagaimana dengan “permainan” bahasa yang terjadi antara Anies dan PDIP? 
Bukan tidak mungkin, berkaca dari penggunaan bahasa politik ala Soekarno, 
dominansi bahasa turut mempengaruhi aktor politik mana yang mendapatkan power 
dan authority. Hal ini bisa jadi berlaku bagi perdebatan soal bahasa yang 
terjadi antara Anies dan PDIP. 

Namun, itu semua kembali lagi kepada bahasa mana yang benar-benar bisa 
meregulasi budaya masyarakat. Lagipula, ini semua kembali pada seperti apa 
peran masing-masing bahasa – baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris – 
dalam masyarakat Indonesia. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/503EDA619B6E434892BC52CD8102B0EA%40A10Live.

Reply via email to